UMS, Kronik Dedikasi Kemuhammadiyahan Mohammad Djazman Al-Kindi

Djazman Al-Kindi bersama istri tercinta, Elida Djazman. SUDIBYO MARKUS

Muktamar Muhammadiyah ke-48 dan ‘Aisyiyah digelar di Surakarta, 18-20 November 2022. Jauh-jauh hari, pada Rabu (31/7/2019), panitia meluncurkan logo muktamar dalam soft opening di halaman Gedung Siti Walidah, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jalan Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, berharap, muktamar bisa terselenggara dengan baik, penuh kebersamaan dan semangat, untuk memajukan bangsa dan kehidupan di ranah semesta atau global.

Dipilihnya Solo sebagai tempat berlangsungnya muktamar, menurut Haedar, sebagai gambaran perpaduan antara budaya dengan kemajuan Muhammadiyah melalui UMS. Kini, UMS menempati peringkat 10 dunia bersama 166 perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Budaya, sambungnya, menjadi tempat Muhammadiyah berpijak, agar nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, kemanusiaan, dan kepedulian tetap menjadi landasan kolektif sebagai bangsa.

Muhammadiyah dan UMS memang punya hubungan khusus, meski belum banyak ditulis atau diceritakan. Keeratan hubungan ini tampak kentara bila dipotret dari sudut pandang kiprah pendiri UMS, Mohammad Djazman Al-Kindi. Putra penghulu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Wardan Diponingrat, tersebut lahir di Yogyakarta, pada 6 September 1938.

Pada 1979, ketika menjabat Rektor IKIP Muhammadiyah Surakarta, Djazman memprakarsai berdirinya UMS, dengan menggabungkan IKIP Muhammadiyah Surakarta dan Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Surakarta. Hasilnya, UMS resmi berdiri pada 1981.

Djazman kemudian membangun basis kaderisasi, pondok perkaderan Hajjah Nuriyah Shabran. Mahasiswanya berasal dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) seluruh Indonesia dengan seleksi khusus, seputar keislaman, kemuhammadiyahan, dan bahasa arab. Umumnya, dari kalangan kurang mampu.

Shabran, ketika itu, menjadi pilot project pusat pengaderan ulama mujtahid dan mujahid dakwah Muhammadiyah, bersama Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Yogyakarta. Pada masa selanjutnya, lahirlah pondok-pondok pesantren Muhammadiyah dan pesantren formula baru yang dikenal dengan Muhammadiyah Boarding School (MBS) di tingkat pendidikan menengah (SLTP-SLTA), dari Sabang hingga Merauke, lebih dari 130 pesantren.[1]

Muhammadiyah memerlukan kaderisasi ulama mumpuni yang berkesinambungan. Ulama yang dimaksud tidak sekadar cerdik cendekia dalam keislaman. Ulama Muhammadiyah haruslah seorang ahli ilmu agama sekaligus mujahid dakwah dan pembimbing umat. Kaderisasi ulama Muhammadiyah menyeimbangkan, mengelola, dan memadukan produk-produk kader ulama lulusan pusat pendidikan tinggi di Dunia Islam, khususnya Timur Tengah, dan produk kader ulama cendekiawan dan teknolog hasil pendidikan tinggi di Dunia Barat.[2]

Pada 1986, sosok pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini juga berperan penting pada lahirnya Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (MPTPP) PP Muhammadiyah yang sebelumnya bernama Majelis Pendidikan dan Pengajaran (MPP). Djazman diamanahi sebagai ketua periode pertama, 1986-1990.

Mafhum adanya bila UMS, melalui pribadi Djazman Al-Kindi, sebenarnya berkontribusi penting pada kokohnya Muhammadiyah hingga sekarang. Djazman, Muhammadiyah, dan UMS adalah tiga hal yang manunggal.

Haedar Nashir, dalam karyanya berjudul Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, mengutip pendapat Djazman untuk mendeskripsikan sosok Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Bagi Djazman, kekhasan Kiai Dahlan terletak pada kearifannya untuk melihat agama pada aspek praktikalnya sampai ke detail, dan tidak ada interpretasi teoretis yang tidak siap untuk menjadi pedoman atau petunjuk bagi seseorang untuk beramal. Djazman menyebut Kiai Dahlan sebagai manusia amal (man of action).[3]

Ahmad Syafii Maarif, menyampaikan kedekatannya dengan Djazman Al-Kindi dalam autobiografinya, Titik-titik Kisar di Perjalananku. Syafii menulis, meski berseberangan dengan Djazman pada beberapa momentum penting perjalanan Muhammadiyah, persahabatan mereka tetap utuh, tak berubah, sampai Djazman wafat.[4]

Monumen Kaderisasi

Dari sekian kiprahnya yang luar biasa, domain ‘kaderisasi’ sebenarnya menjadi ruh gerakan Djazman Al-Kindi. Untuk tetap bertahan dan peka zaman, Muhammadiyah harus terus-menerus membenahi kualitas perkaderannya. Programnya bisa bermacam-macam, tapi output-nya, kepemimpinan Muhammadiyah di setiap lini haruslah terus ada dan bertumbuh.

Realitas zaman yang semakin menggoda, lantaran Muhammadiyah memang memiliki koneksi kuat pada kekuasaan dan modal, harus dibersamai dengan konsistensi kaderisasinya. Kaderisasi yang bisa jadi melahirkan dinamika dan beberapa halnya, ‘perseteruan’. Namun semua itu untuk kebaikan bersama, Muhammadiyah yang berguna bagi bangsa dan semesta.

Pak Djazman berpandangan, pendidikan harus menyatu dengan perkaderan, sebagaimana Ki Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah, yakni sebagai tempat pencerdasan umat sekaligus melahirkan kader-kader penerus kelangsungan Persyarikatan. Pendidikan adalah perkaderan, dan di saat yang sama, perkaderan adalah pendidikan. UMS, di tangannya, merupakan tempat pengkajian ilmu serta tempat membina kader-kader Muhammadiyah.[5]

Mohammad Rusdi, pendiri Komunitas Surya Cita Literasi Kabupaten Brebes, dalam tulisannya berjudul ‘Amal Usaha dan Efektivitas Perkaderan Muhammadiyah’ menuturkan kegundahannya akan kaderisasi Persyarikatan, setelah melewati usia seabad. Banyaknya sekolah Muhammadiyah di sebuah daerah, tidak menjamin lahirnya kader Persyarikatan. Pendidikan dan perkaderan tidak lagi manunggal. Pendidikan kini lebih menonjol, ketimbang perkaderannya.[6]

Setiap masa tentu saja memiliki persoalan perkaderan sendiri-sendiri. Namun pada prinsipnya, perkaderan tidak dapat dilepaskan dari praktik pendidikan Muhammadiyah. Apabila salah satunya bermasalah, akan berdampak luas pada sisi lainnya. Artinya, pemikiran Djazman Al-Kindi ternyata tidak habis dimakan zaman. Ia mampu membaca kebutuhan masa depan Muhammadiyah.

Djazman menata institusi pendidikan yang ia tangani, jengkal per jengkal. Seorang kawan pernah berkisah, semasa menjadi Rektor UMS, ia sering ber-kongkow ria bersama aktivis mahasiswa di Griya Mahasiswa. Kawan lain bercerita, Pak Djazman sering kali ke sana ke mari hingga ke luar kota untuk urusan UMS dan Muhammadiyah, hanya dengan menaiki angkutan umum.

Sebuah inspirasi penting bagi saya, terutama, seorang alumnus UMS penikmat kebaikan, buah karya Djazman. Saya hanya berkesempatan memandangi foto-foto bersahajanya di Perpustakaan UMS dan berdoa yang terbaik baginya.

Suatu ketika, saya sowan kepada Guru Besar Bidang Humaniora FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta, Ali Imron Al-Ma’ruf. Menurut Prof Ali Imron, “Pak Djazman adalah sosok luar biasa. Tanpa beliau, UMS tidak akan pernah ada.” Dalam kisah-kisah yang dituturkan, terasa sungguh emosional. Sosok Pak Djazman bukan hanya dikenang sebagai pemimpin yang sangat dihormati, tapi juga teman kerja yang menyenangkan. Teman di kala senang, dan tetap teman di kala susah.

Kini, puluhan ribu mahasiswa mengenyam pendidikan di UMS. Mereka datang dari segala penjuru Tanah Air. Sebagian bahkan dari luar negeri. Tujuan mereka bisa jadi berbeda-beda, tapi bagaimanapun, UMS mereka anggap sebagai tempat yang tepat untuk belajar. Dari sekian banyak itu, ada juga yang lantas mewarisi cita-cita Pak Djazman untuk tetap tidak memisahkan pendidikan dan perkaderan Muhammadiyah. Sebuah cita-cita penopang bangsa dan negara, karena dari sanalah kepemimpinan terbaik akan lahir.

Matur nuwun, Pak Djazman. Semoga UMS dan Muhammadiyah turut menjadi amal jariyahmu. Semoga kami dapat menjadi pengikutmu yang baik, dengan terus mengingat semangatmu, juga meniru langkah dan aksimu untuk kebaikan umat Islam, bangsa Indonesia, dan dunia.

[1] Syamsul Hidayat dalam Abd Rohim Ghazali, dkk (ed.). 2015. Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan. Surakarta: Muhammadiyah University Press. h. 224-226.

[2] ibid.

[3] Haedar Nashir. 2016. Muhammadiyah Gerakan Pembaruan. Cet. 2. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah. h. 143.

[4] Ahmad Syafii Maarif. 2006. Titik-titik Kisar di Perjalananku: Otobiografi Ahmad Syafii Maarif. Cet. 2. Yogyakarta: Penerbit Ombak. h. 239.

[5] Dartim Ibnu Rushd dan Joko Suryanto. ‘Djazman Al-Kindi: Pendidikan dan Perkaderan’. Jurnal Tajdida LPIK UMS. Vol. 14. No. 2. Desember 2016.

[6] Dalam Ahmad Faizin Karimi dan David Efendi (ed.). 2021. Membaca Muhammadiyah: Esai-esai Kritis tentang Persyarikatan, Amal Usaha, dan Gerakan Dakwahnya. Gresik: Caremedia Communication. h. 192.