Semarakkan Muktamar ke-48, Pabelanesia Bincang Buku ‘Menjadi Muhammadiyah’

GAYENG – Bincang Buku ‘Menjadi Muhammadiyah’ menggagas banyak hal tentang eksistensi Muhammadiyah. PABELANESIA

PABELAN, Kartasura | Anda penggembira Muktamar Muhammadiyah ke-48? Atau Anda bukan warga Persyarikatan, tapi turut sumringah lantaran perhelatan Muktamar digelar di Surakarta? Atau Anda seorang pimpinan Muhammadiyah dan berandil secara organisasi saat Muktamar?

Ya, Muktamar Muhammadiyah kali ini terasa semakin sakral dan strategis. Beberapa agenda strategis telah dirumuskan dan direkomendasikan jauh hari sebelum Hari H Muktamar. Ada yang resmi dilaksanakan organisasi Muhammadiyah. Tidak sedikit pula forum-forum lain yang turut menyemarakkan Muktamar.

Salah satunya, Bincang Buku Menjadi Muhammadiyah yang diadakan Pabelanesia, Rabu (16/11/2022), di Multazam Hotel. Diskusi ini menghadirkan beberapa narasumber kompeten, di antaranya Agus Sumiyanto (Wakil Ketua MPK PP Muhammadiyah 2010-2022), Umar Jahidin (Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah), Wawan Kardiyanto (Akademisi ISI Surakarta), dan Agus Yuliawan (Direktur Eksekutif Induk Baitut Tamwil Muhammadiyah). Berperan sebagai moderator, Galang Taufani (akademisi Fakultas Hukum UMS).

Forum juga menghadirkan Bagus Sigit Setiawan, seorang intelektual muda Nahdlatul Ulama, penulis buku Santri Surakartan. Sekira 50 hadirin memadati Ruang Abdullah Multazam, dengan berbagai latar belakang, mulai dari alumni LPM Pabelan UMS, alumni UMS, hingga aktivis mahasiswa. Acara bermula pukul 15.00 dan berakhir pada 18.00.

Acara dibuka dengan sedikit penjelasan dari penyelenggara. Pendiri Pabelanesia, Arif Giyanto, menjelaskan, Bincang Buku Menjadi Muhammadiyah dimaksudkan untuk menyemarakkan Muktamar ke-48. Meski nuansa perbincangannya santai, karena lebih mirip temu kangen, tetapi rekomendasi yang lahir dapat menjadi sumbangsih berarti.

“Awalnya, Pabelanesia lahir untuk membersamai literasi alumni LPM Pabelan UMS. Pada tahap selanjutnya, Pabelanesia sadar bahwa UMS adalah bagian penting sejarah Pabelan. Sekup alumni UMS lantas menjadi sangat penting,” tutur Pemimpin Umum LPM Pabelan 2002 itu.

Muktamar Muhammadiyah ke-48, sambungnya, adalah muktamar kelas dunia, dengan tuan rumah UMS yang tengah berikhtiar menuju World Class University. Telah selayaknya, alumni UMS dapat mewarnai kepemimpinan daerah, nasional, bahkan dunia.

Menjadi Muhammadiyah dapat dipandang sebagai inisiasi gerakan perubahan yang inklusif berbahan bakar SDM-SDM lulusan UMS. Bukan sesuatu yang sudah jadi, tapi akan terus berubah sesuai dinamika realitas yang ada,” ujar Chairman Pandiva Media Network tersebut.

Ulasan Strategis

Narasumber pertama, Agus Sumiyanto, menyampaikan kekhasan perkaderan Muhammadiyah yang kini semakin dirasakan manfaatnya. Faktor ideologi kader dan intelektualitas menjadi kekuatan utama eksistensi Muhammadiyah. Wawasan dan keilmuan pada masanya dapat menemukan momentumnya sendiri, karena berguna bagi khalayak luas.

Umar Jahidin, sebagai pembicara kedua, mengurai persoalan internal Muhammadiyah yang kurang memerhatikan pilar ketiga, ekonomi, dibanding pendidikan dan kesehatan. Muktamar diharapkan dapat menemukan sosok yang diharapkan banyak berkiprah pada sektor ekonomi nasional secara lebih baik.

FOTO BERSAMA – Penyelenggara, pembicara, moderator, dan reviewer berfoto bersama. PABELANESIA

Agus Yuliawan mengisahkan perjalanan Baitut Tamwil Muhammadiyah yang sungguh potensial untuk memperkuat basis perekonomian warga Persyarikatan. Sayangnya, justru banyak pihak non-Muhammadiyah yang intens bekerja sama dengan BTM daripada warga Muhammadiyah.

Wawan Kardiyanto menilik minimnya kader-kader pemikir intelektual tingkat nasional dan internasional yang dimiliki Muhammadiyah. Selain itu, pentingnya penguatan sains dan lembaga-lembaga observasi di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Reviewer, Bagus Sigit Setiawan, mengapresiasi Muhammadiyah yang pada kenyataannya banyak menginspirasi warga NU. Dua ormas senior di Indonesia ini, dapat terus bersama-sama menjaga Republik dari rongrongan dengan kelebihan masing-masing.

Menarik, bukan? Diskusi ini baru pembuka. Jadi, seberapa Muhammadiyah kah, Anda?