Plawikan Berkemajuan

PLAWIKAN MAPAN – Kepala Desa Plawikan, Jogonalan, Klaten, Lilik Ratnawati, di Kebun Sayur Ketahanan Pangan ‘Seger Sehat Migunani’ RT 01 RW 08. PEMDES PLAWIKAN

Saya pikir menarik, menghubungkan Muktamar Muhammadiyah dengan desa. Saya kini mengemban amanah sebagai Kepala Desa, sementara saya adalah alumnus SMP Muhammadiyah 1 klaten, SMU Muhammadiyah 1 klaten, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tiga almamater saya tersebut tentu saja telah membentuk kapasitas pribadi saya yang pada masa selanjutnya, saya dedikasikan pada kepemimpinan Desa Plawikan.

Menjadi kepala desa perempuan di usia muda merupakan tantangan tersendiri. Karena, amanah ini harus dipertanggungjawabkan dalam implementasi, perbuatan yang bijak, serta menjunjung keadilan. Mengupayakan hal-hal positif, sebagaimana tujuan pembangunan desa untuk NKRI dan mengamalkan sunnah Nabi Muhammad dalam kepemimpinan.[1]

Latar belakang pendidikan merupakan hal penting. Pendidikan kemuhammadiyahan memotivasi saya untuk berpendidikan tinggi, karena pentingnya keilmuan serta untuk menelurkan berbagai inovasi terbaik bagi desa tempat saya mengabdi. Banyak hal yang perlu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan atau mengupayakan hal terbaik. Desa perlu dipimpin oleh sosok yang paham tata-kelola, open minded, dan tanggap terhadap pembaruan.

Saya sering meyakinkan banyak orang bahwa seorang perempuan tidak perlu khawatir akan potensi yang dimiliki. Sebagai seorang perempuan, saya percaya, saya memiliki keistimewaan. Potensi inilah yang harus dikembangkan. Salah satu caranya dengan terus belajar mengasah kemampuan. Selain berupaya meraih pendidikan tinggi, saya mencoba banyak kegiatan dan berbaur dengan penduduk.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 73, “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.”

Jadi, manusia pada dasarnya memiliki potensi sebagai pemimpin. Manusia itu pemimpin yang harus mampu memimpin diri sendiri. Bila telah berhasil, secara tidak langsung bisa menjadi pemimpin orang banyak yang memberi pengaruh positif terhadap lingkungan.

Bekal pengetahuan inilah yang membuat saya lebih mantap menatap masa depan dan peluang diri untuk berbuat baik, serta membuat berbagai inovasi terbaru agar desa menjadi lebih baik dan berdampak bagi warga.

Dalam hal kepemimpinan, figur Nabi Muhammad SAW menjadi teladan. Sifat kepemimpinan Nabi Muhammad di antaranya keteladanan, komunikasi yang efektif, dekat dengan umatnya, suka bermusyawarah, memberikan pujian kepada orang lain karena suatu kebaikan.[2]

Setiap orang memiliki kesempatan sama untuk menjadi yang terbaik dalam versi mereka, sesuai dengan syariat agama. Tidak terkecuali saya pribadi yang saat ini menjadi kepala desa, amanah dari warga Desa Plawikan. Mayoritas orang menyebut saya sebagai ‘Kepala Desa Millennial’, karena umur yang lebih muda dari pemimpin sebagaimana lumrahnya, yakni di atas umur saya.

Selain itu, karena sikap saya yang suka sharing dengan anak muda atau dengan siapa pun, juga tanggap terhadap harapan dan keinginan warga untuk kemajuan desa. Hal-hal inilah yang membuat saya semakin antusias mendukung implementasi program desa.

Saya percaya bahwa jabatan Kepala Desa Plawikan merupakan anugerah terindah bagi saya untuk dapat melakukan berbagai inovasi serta menjawab kekurangan, dengan pembangunan yang nyata. Beberapa hal yang saya implementasikan dalam pembangunan desa, di antaranya pendataan desa, penyusunan tata ruang desa, penyusunan Raperdes, peningkatan pengelolaan informasi desa, peningkatan penyelenggaraan perencanaan desa, pelaksanaan monitoring dan evaluasi, peningkatan tata ruang kantor dan penataan lingkungan kantor, serta peningkatan pelayanan kepada warga.

Bentuk kerja dalam melayani desa dikemas dengan rangkaian strategi dan langkah-langkah pembangunan kesejahteraan warga melalui ekonomi serta kerukunan antar-warga. Dari berbagai pengalaman yang telah saya lalui, saya menyadari bahwa seorang pemimpin tidak hanya memiliki kecakapan pengelolaan, tetapi harus mampu menjadi teladan dan menjadi pendidik bagi seluruh anggota di organisasi yang dipimpin.

Plawikan Mapan

Salah satu impian besar saya selama menjabat di Desa Plawikan adalah membawa daerah ini lebih baik, sejahtera, dan berdikari. Saya cukup antusias membangun desa dengan semangat kebersamaan antar-warga.

Serangkaian program sosial direlevansikan dengan ketahanan pangan, dan peningkatan ekonomi warga agar lebih baik, meski di masa pandemi. Melalui kegiatan budidaya sayur, perikanan, dan peternakan, agar menguatkan ketahanan pangan dan ekonomi warga. Melalui ketahanan pangan, pengeluaran belanja semakin berkurang, karena warga memiliki persediaan sayur mayur serta hasil budidaya dan ternak.

Sementara, untuk menjaga solidaritas antar-warga, saya berinisiatif untuk membuat ajang perlombaan yang terdiri dari Kelompok Wanita Tani (KWT) dari berbagai RT. Bagi kelompok-kelompok yang terpilih akan mendapat bantuan dana senilai Rp5 juta dari pemerintah desa. Hal ini sesuai Perpres Nomor 104 Tahun 2021 bahwa program ketahanan pangan dan hewani, paling sedikit 20 persen dari alokasi dana desa. Melalui program ketahanan, saya berusaha membangun kerukunan dan kebhinekaan antar-warga, sebagaimana nilai-nilai Pancasila.

Pada kesempatan event perlombaan ketahanan pangan, semua warga antusias untuk mengikutinya. Kebhinekaan yang tumbuh dan semakin kuat ini harus terus terjalin dan pemerintah harus mendukungnya. Sebagai pemimpin, saya harus siap mengatasi dan mencari solusi bersama, demi kebaikan dan pembangunan desa yang berkelanjutan.

Untuk menjaga kerukunan tetap terjalin, pemerintah desa bersepakat mengadakan event desa sebulan sekali yang dikemas dengan berbagai kegiatan, seperti senam sehat, bazar kuliner. Tujuannya agar warga berwisata di daerah sendiri tanpa harus ke luar daerah.

Saya menyadari, memilih jalan menjadi kepala desa perlu sadar akan tupoksi-tupoksi yang harus dijalankan.  Pertama, memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa sesuai dengan kewenangan desa. Kedua, melaksanakan pembangunan desa. Ketiga, pembinaan warga desa. Keempat, pemberdayaan warga desa.

Dengan kesempatan berharga ini, saya memiliki beberapa komitmen. Pertama, menciptakan tata kelola pemerintahan desa yang mudah, cepat, gratis, dan bermartabat, sesuai kewenangan desa dan sesuai aturan hukum.

Kedua, dalam rangka menghindari sekat dengan warga yang dilayani maka dalam melakukan pelayanan, saya dan perangkat desa memerankan diri sebagai abdi dan pelayan warga yang baik dan benar. Ketiga, obsesi dan komitmen kades adalah pelayanan prima (Excellent Service) dengan Do The Best, Fast, and Right.

Berdasarkan ketiga komitmen tersebut, optimisme kerja pun terus tumbuh untuk membangun Desa Plawikan yang lebih baik lagi, atau bahkan dapat menjadi desa percontohan akan hal-hal positifnya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah mengajak perangkat desa untuk maju bersama mengikuti event-event desa di mana tujuannya mengajak mereka untuk menaklukkan berbagai tantangan agar ikut bekerja nyata dalam pengabdian.

Atas segala kerja sama itu, Desa Plawikan akhirnya mendapatkan prestasi sebagai juara ‘Satgas Jogo Tonggo’ tahun 2021 lalu dari ribuan peserta (desa) lainnya di Jawa Tengah. Prestasi ini merupakan hasil kerja sama seluruh warga desa yang berkomitmen dan kompak ikut membangun desa. Di samping itu, prestasi lainnya pun juga diboyong oleh Desa Plawikan sebagai desa dengan ‘Administrasi Terbaik’.

Begitulah. Sebagai Kepala Desa, saya harus terus tanggap terhadap apa yang kurang dan harus siaga untuk membenahi ketertinggalan. Namun, melalui program desa, baik sosial, pendidikan, dan ekonomi, di mana fokusnya pada ketahanan pangan, ekonomi akan terkelola dengan baik, bahkan bisa menggeliatkan UMKM. Keuntungannya justru wargalah yang akan menikmatinya. Dari hal itulah kesejahteraan dapat tumbuh secara merata di lingkup desa.

Saya menyebutnya dengan Plawikan Mapan, buah dari konsepsi saya tentang kepemimpinan desa yang berkemajuan. Selamat ber-Muktamar, warga Persyarikatan. Semoga Muhammadiyah terus melahirkan sumber daya manusia berkualitas, untuk kepemimpinan nasional yang semakin mumpuni.

 

[1] Al-Hasyimi dan Abdul Mun’im. 2009. Akhlak Rasul Menurut Bukhari Muslim. Jakarta: Gema Insani.

[2] Imron Fauzi. 2012. Manajemen Pendidikan Ala Rasulullah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. h. 217–300.