Bermuhammadiyah dari Pedalaman Kalimantan

SEMANGAT – Kamanto, Ketua PCM Singkup, Ketapang, dalam sebuah kegiatan Muhammadiyah. WULAN RAHAYU

Di antara perkebunan kelapa sawit yang luasnya berhektare-hektare di pedalaman Kalimantan, saya menemukan gerakan akar rumput Muhammadiyah yang begitu masif.

Saat saya berkunjung ke sana, terlihat sekumpulan ibu-ibu paruh baya bersimpuh, di tangan mereka masing-masing membawa Al-Qur’an dan alat tulis berupa buku catatan dan pulpen. Mereka membaca beberapa ayat beserta terjemahannya, kemudian mendengarkan penjelasan dari pengajar ngaji yang memandunya. Delapan ayat mereka baca sehingga menarik benang merah atas tema yang sedang dipelajari bersama.

Saya takjub, ibu-ibu yang sudah lanjut usia melafazkan ayat Al-Qur’an dengan lancar. Sebuah pemandangan yang berbeda dari pengajian pada umumnya.

Untuk mencapai ke desa tempat pengajian ibu-ibu tersebut, saya menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari tempat tugas. Melewati jalan tanah yang berlumpur dan berbatu. Jalanan diapit jejeran pohon sawit yang beraturan dan tanaman liar hulu Kalimantan yang tumbuh dengan lebatnya. Nama desa tersebut adalah Desa Sukasari, Kecamatan Singkup, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Saya sengaja ke sana untuk menemui seorang pegiat organisasi Muhammadiyah yang tengah memandu pengajian ibu-ibu tersebut. Namanya Pak Kamanto, Ketua Cabang Muhammadiyah Kecamatan Singkup, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Seorang paruh baya yang bersemangat membangun organisasi dengan cerita penuh perjuangan. Dialah salah satu tokoh yang menggerakkan roda organisasi Muhammadiyah di desa tersebut selama 23 tahun hingga sekarang.

“Saya bukan lahir dari orang tua Muhammadiyah, tahu Muhammadiyah ya sejak saya pindah ke Kalimantan ini. Sejak saat itu, saya tertarik dan bergabung dengan organisasi ini. Karena, pada saat itu, saya sedang mencari pemahaman Islam seperti apa, dan saya menemukannya di Muhammadiyah,” ungkapnya saat ditemui di mushola Desa Sukasari.

Satu hal yang menjadi daya ketertarikannya di Muhammadiyah adalah karena kajian Al-Qur’an mudah diterima dan dipahami. Saat itu, mengkaji Al-Qur’an itu hingga kini dilanggengkan kegiatannya bersama jamaahnya. Menurutnya, mengkaji kitab Al-Qur’an beserta artinya memberikan pemahaman yang lebih utuh sehingga jamaah pengajian bisa membaca makna dan tidak taklid terhadap agama. Apa yang dilakukan Pak Kamanto sesuai dengan fokus gerakan Muhammadiyah akar rumput hasil Muktamar Satu Abad yakni menghidupsuburkan aktivitas ke-Islaman bagi warga umat di tingkat bawah.[1]

Kegiatan ngaji Al-Qur’an yang menjadi ruh kegiatan Muhammadiyah menjadi salah satu cara memajukan ajaran Islam dalam berbagai aspek. Misalnya, aspek ibadah, akidah, dan akhlak, bahkan dalam bidang muamalah duniawiyah. Haedar Nashir mengungkapkan bahwa Muhammadiyah tingkat bawah menjadi markas pergerakan pembinaan ke-Islaman yang benar, bernas, dan berkemajuan. Dan hal tersebut telah dilaksanakan Pak Kamanto melalui kegiatan utama pengajian yang dikembangkan sesuai dengan kondisi setempat. Pengajian yang berbasis di mushola menjadi salah satu penanda hidup suburnya gerakan Muhammadiyah.

Selain kegiatan pengajian ibu-ibu Aisyiyah pada hari Jumat, kegiatan di tingkat Cabang berupa pengajian anak-anak setiap malam hari, kajian Al-Qur’an untuk bapak-bapak pada hari Ahad, dan pertemuan Pengurus Cabang sebulan sekali untuk musyawarah program. Kegiatan akar rumput yang cenderung taktis justru memberikan dampak langsung terhadap masyarakat. Kegiatan dakwah Islam tersebut rutin dilakukan sebagai bagian dari membangun kesadaran dalam beragama.

Basis lokal gerakan Muhammadiyah pada ranting atau tingkat desa maupun tingkat cabang menjadi kekuatan Muhammadiyah berkibar di ranah global bahkan internasional. Bagaimanapun jelajah seluas apa pun yang Muhammadiyah lakukan tidak akan kuat tanpa gerakan akar rumputnya. Jika kegiatan organisasi di pedesaan hidup maka Muhammadiyah bersama seluruh komponennya akan menjadi pilar yang kokoh dan strategis.[2] Jika gerakan tingkat bawah lemah bahkan mati maka gerakan Muhammadiyah pun akan ikut rapuh.

Jamaah Muhammadiyah di Sukasari yang jumlahnya sekitar 30-an dan termasuk kaum minoritas, tidak membuat Pak Kamanto dan pengurus kehilangan semangat dalam memberdayakan anggotanya. Sebab, setiap anggota menjadi pelaku yang aktif dan penting dalam mempercepat gerak langkah dakwah Muhammadiyah.

“Walaupun sedikit anggotanya, tetapi istiqomah dalam gerakan positif dan produktif sehingga Muhammadiyah dapat memberikan maslahat bagi umat,” tambah Pak Kamanto yang merupakan orang asli Semarang.

Apa yang disampaikan pria yang lahir pada 24 Mei 1966 tersebut selaras dengan pernyataan Haedar Nashir dalam bukunya Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah: Agenda Strategis Abad Kedua bahwa siapa pun dan apa pun latar belakang anggota Muhammadiyah, memiliki andil yang besar dalam melakukan dinamisasi gerak organisasi, sehingga setiap anggota dengan setiap bidang kemampuannya dapat mereaktualisasi nilai-nilai gerakan dan mengembangkan pemikiran untuk kebermanfaatan masyarakat.

Gerakan Pengembangan Pendidikan dan Ekonomi Umat

Selain gerakan dalam bidang dakwah dan kaderisasi melalui pengajian, Muhammadiyah Cabang Singkup juga memiliki beberapa aset yang dapat mengepakkan sayap pemberdayaan masyarakat. Aset tersebut berupa Taman Kanak-kanak yang bergerak dalam bidang pendidikan.

“Selain kegiatan pengajian dan pertemuan, kami juga memiliki aset berupa sekolah yakni TK ABA, sehingga Muhammadiyah bisa dirasakan kehadirannya dalam bidang pendidikan karena muridnya tidak hanya dari keluarga Muhammadiyah, tetapi juga dari masyarakat majemuk pada umumnya,” imbuh lelaki berusia 58 tahun tersebut.

Muhammadiyah di Sukasari juga memiliki kebun sawit yang dapat digunakan untuk menunjang program. Baitul Maal yang telah berjalan saat ini digunakan untuk santunan kaum dhuafa, fakir miskin, masyarakat yang sakit, maupun guru ngaji.

Pada bulan ini, pengurus juga telah menggagas terbentuknya Lazismu, dan ke depannya, Pak Kamanto memiliki cita-cita membuat badan usaha Muhammadiyah, baik dalam bentuk koperasi maupun minimarket. Rencana itu sebagai bagian dari mengejawantahkan khittah Muhammadiyah untuk terus berkontribusi kepada masyarakat dan mengembangkan ekonomi umat sehingga anggota dapat berdaya dan mandiri ekonominya.

“Muhammadiyah itu harus mewarnai dan berdampak dalam kemasyarakatan, hadir dalam membangun generasi penerus dan perekonomian umat,” jelas bapak satu anak tersebut.

Muhammadiyah dengan ekonomi adalah dua hal yang selaras, karena Muhammadiyah harus mampu mengintegrasikan urusan dakwah dengan urusan sosial kemasyarakatan, urusan akhirat dengan urusan duniawi, atau urusan spiritual dengan urusan materiil. Keseimbangan tersebut mampu mengukuhkan pesan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut telah dicontohkan pendiri Muhammadiyah. K.H. Ahmad Dahlan selain sebagai pendakwah ke-Islaman dan pendidikan, juga seorang saudagar yang melakukan kegiatan dakwah sambil berdagang dari kota ke kota lain untuk membiayai kebutuhan keluarga maupun kebutuhan dakwah.[3]

Muhammadiyah, di tangan Pak Kamanto yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa Sukasari pada tahun 2010 sampai dengan 2016 itu, menjadi berkembang hingga kini. Sebagai tokoh yang cukup berpengaruh dalam masyarakat, membuat Muhammadiyah mendapat tempat di masyarakat Sukasari yang majemuk.

Namun, pada awalnya, perjuangan Pak Kamanto membangun Muhammadiyah begitu pelik. Pada tahun 1996, saat pertama kali ia bergabung dan berikhtiar menggiatkan Muhammadiyah di Singkup, ia harus mendatangi dari pintu ke pintu, mengajak tetangga dan masyarakat sekitarnya untuk ngaji Al-Qur’an.

Berkat perjuangannya, kini masyarakat, khususnya di Jalur 8 Desa Sukasari, turut serta dalam kegiatan Muhammadiyah. Salah satu gerakan saat itu adalah pembangunan mushola. Dalam pembangunannya, Muhammadiyah mendapatkan banyak bantuan dari para simpatisan maupun dari organisasi ke-Islaman lain yang terbesar di sana, yakni Nahdlatul Ulama, sehingga hubungan Muhammadiyah dengan NU maupun dengan masyarakat lainnya begitu rekat.

“Hubungan dengan NU maupun dengan suku asli Dayak dan Melayu sangat baik. Jika dengan NU, kami bekerja sama dalam pengurusan jenazah bersama. Dengan masyarakat lainnya juga, bergotong royong dalam hajatan atau lingkungan bersama sehingga tidak ada pembedaan dalam masyarakat,” imbuh Pak Kamanto.

Muhammadiyah dari kacamata masyarakat tidak sekadar memberikan kemaslahatan dalam bidang dakwah, perkaderan, pendidikan, dan ekonomi umat, tetapi juga hubungan harmonis dan selaras dengan stakeholder lainnya.

Pak Kamanto juga menjadi salah satu yang cukup diperhitungkan, tidak hanya di wilayah Singkup, namun hingga Kabupaten. Bahkan beliau pernah mewakili Kabupaten dalam Rapimda Provinsi di Pontianak.

Tak Pernah Berhenti Belajar

Pertemuan dengan Pak Kamanto menjadi salah satu pembelajaran bahwa pendidikan seseorang tidak menjadi tolok ukur berkembangnya pikiran. Pak Kamanto yang hanya lulusan SMP saat itu senyatanya memiliki wawasan yang luas. Hal itu karena Pak Kamanto seorang pembelajar, beliau begitu senang belajar dan menjadikan belajar sebuah kebutuhan.

“Saya senang belajar, belajar apa saja, ya terutama belajar Al-Qur’an karena dalam Al-Qur’an mencakup semua aspek,” ungkapnya.

Haus terhadap ilmu pengetahuan dan tak berhenti belajar dengan pemikiran terbuka menjadi salah satu ciri kader Muhammadiyah, yang pada akhirnya, menjadi kader yang terdidik dan dapat menurunkan didikannya, baik ke keluarga maupun masyarakat.

Sebagai seorang guru, saya banyak belajar bahwa setiap orang bisa menjadi guru kehidupan. Pak Kamanto, misalnya, yang tidak mengenyam pendidikan keguruan namun pawai sebagai pengajar ngaji. Karena sebanyak apa pun pengalaman dalam berkarier maupun di masyarakat, seseorang seharusnya tidak merasa hebat dan terjebak dalam konsepsi competency trap,[4] sehingga manusia akan terus tumbuh dan berkembang, baik dalam pemikiran maupun tindakan, dan yang lebih penting, dalam berkontribusi kepada umat.

Perjalanan ke Desa Sukasari sore itu menjadi hikmah tersendiri bagi saya. Silaturahim sekaligus menemukan gerakan Muhammadiyah di akar rumput yang, walaupun dalam skala kecil, tetapi bisa memberikan dampak yang banyak.

Semoga apa yang diperbuat dan dikerjakan Pak Kamanto dan pengurus lainnya menjadi ladang ibadah, dan Muhammadiyah pun semakin hadir dan dirasakan kebermanfaatannya oleh masyarakat, karena Muhammadiyah akan selalu memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta.

[1] Haedar Nashir. 2019. ‘Menghidupkan Ruh Ke-Islaman di Basis Gerakan’. Suara Muhammadiyah. https://suaramuhammadiyah.id/2019/12/05/menghidupkan-ruh-keislaman-di-basis-gerakan/. Diakses pada 29 Oktober 2022.

[2] Haedar Nashir. 2015. Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah: Agenda Strategis Abad Kedua. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

[3] Imamul Hakim. 2022. ‘Model Gerakan Ekonomi Muhammadiyah Pasca Muktamar Ke-47’. Jurnal Sinar Manajemen.

[4] Asrul Right. 2020. Grow with School. Surakarta: Dio Media.