Suharlan, Tanam Nilai Keagamaan sebagai Aset Masyarakat Sumberejo

Melalui kegiatan keagamaan, masyarakat lebih meningkatkan kesadaran beragamanya dalam aspek wawasan dan pengetahuan, serta peningkatan aspek sikap. PEMKAB KLATEN

Kondisi sosial budaya dan geografis Indonesia sangat kompleks, beragam, dan luas. Hal ini menandakan bahwa Indonesia negara multikultural. Sebagai negara yang majemuk dan heterogen, Indonesia memiliki potensi kekayaan multietnis, multikultural, dan multiagama untuk membangun negara multikultural yang signifikan.

Terlebih, konsep toleransi antarumat beragama telah dimasukkan ke dalam konstitusi negara. Sebab itu, negara perlu mencerminkan ide-ide dari berbagai pemeluk agama sehingga dapat mengamalkan dan mengembangkannya di berbagai bidang pembangunan.

Pengembangan toleransi antarumat beragama saat ini sangat penting. Di tingkat pemerintahan desa, yang merupakan ujung tombak pembangunan, perlu mengupayakan kehidupan yang damai dan rukun demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan agama, kerja sama adalah partisipasi aktif bergabung dengan pihak lain dan memberikan empati dan simpati kepada kelompok lain (Balitbang Diklat Kementerian Agama RI, 2019).

Dari beberapa pengertian toleransi, dapat disimpulkan bahwa toleransi adalah kesediaan untuk menerima perasaan, perilaku, kebiasaan, atau keyakinan yang berbeda dengan keyakinan sendiri, dan kemampuan untuk menerima pengalaman orang lain, atau kemampuan untuk menerima dan pengalaman.

Tinggi rendahnya toleransi suatu daerah tidak lepas dari pengaruh dan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat. Hal ini disebabkan cara pandang masyarakat terhadap aktor sosial sebagai penggerak agama dan masyarakat.

Tokoh agama dan masyarakat berperan sebagai penafsir nilai-nilai agama dan sosial serta agen perubahan arah dan tujuan pesan-pesan kerukunan yang mereka sampaikan.

Suharlan, Kepala Desa Sumberejo pada periode 1993-2001, menganggap bahwa pluralitas dan nilai-nilai agama masyarakat harus dikelola, dibingkai, serta dimaknai sebagai aset Desa Sumberejo. Bagi lurah asal Dukuh Gudang itu, cara pandang terhadap nilai-nilai agama merupakan suatu yang berperan sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat yang menghasilkan keharmonisan.

Suharlan dalam masa kepemimpinannya menggerakkan literasi dan promosi, serta memberikan panutan akan pentingnya toleransi antarumat beragama. Ia berpikir toleransi sangat penting di kehidupan sosial Sumberejo untuk memberikan hasil positif yang dapat diterapkan di bidang lain.

Tercatat bahwa pada periode lurah ke-enam Sumberejo itu, beberapa program kajian keagamaan digalakkan bersama warga Sumberejo. Kegiatan keagamaan itu bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, menguatkan kohesi sosial, ketahanan masyarakat, peningkatan kesetaraan sosial dan penghormatan terhadap keragaman.

Dengan pendekatan yang dirancang dengan baik, Suharlan menggabungkan tiga komponen penting dalam membangun ketahanan di Sumberejo: peningkatan ekonomi, mekanisme sosial pembangunan perdamaian, dan pemberdayaan perempuan.

Pada saat yang sama, kepemimpinan Suharlan mendorong agar mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian ke dalam kebijakan Desa Sumberejo. Upaya bersama ini semakin diperkuat dengan banyaknya pengajian dan tokoh-tokoh agama kondang yang datang ke Sumberejo.

Suharlan berpikir, kerukunan umat beragama merupakan syarat yang harus diusahakan agar Sumberejo menjadi tempat di mana semua warganya selalu dapat hidup damai. Dianggap sebagai salah satu aset kunci yang paling signifikan adalah persatuan dan harmoni Desa Sumberejo.

Bahkan rencana pembangunan yang efektif pun memerlukan persatuan dan keselarasan. Harapannya, ada transformasi yang berdampak pada aspek material dan nonmaterial di kehidupan masyarakat Sumberejo. Dalam proses pembangunan berbasis masyarakat, tercapai peningkatan kualitas hidup yang diinginkan.

Pembangunan keagamaan menciptakan kerukunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan kualitas pelayanan dan pemahaman agama dan kehidupan beragama, meningkatkan rasa saling percaya dan kerukunan masyarakat.

Kerukunan lantas membantu membangun kehidupan masyarakat yang toleran dan seimbang secara berkesinambungan. Perkembangan suatu masyarakat akan mengalami hambatan apabila muncul suatu konflik yang tak terselesaikan.

Terlebih, pencapaian hasil di masyarakat atau kelompok akan sulit karena setiap upaya atau kemajuan pembangunan memerlukan dukungan kolektif dari semua kalangan masyarakat. Namun, jika pembangunan itu efektif, masyarakat akan menghargai dan mempertahankannya.

Toleransi termasuk dalam ranah kearifan lokal yang memiliki akar budaya yang dalam. Tujuan program-program pemerintahan era Suharlan adalah agar masyarakat dapat hidup berdampingan dengan mengamalkan prinsip-prinsip kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan di bidang ekonomi, sosial dan politik.

Kerukunan Beragama sebagai Budaya Sumberejo

Peran masyarakat dan tokoh agama sangat penting dalam kontribusinya dalam menciptakan kerukunan dan perdamaian dalam kerangka toleransi beragama. Seperti harapan seluruh pihak, nilai-nilai keagamaan yang didapat dari berbagai kajian, dapat menjadi modal sosial yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat Sumberejo.

Di antara umat yang berbeda agama dan kepercayaan, jika toleransi telah dijadikan sebagai gaya hidup dan budaya, maka dapat dipastikan kerukunan umat beragama akan terjamin dan kondisi akan menjadi kondusif. Di sisi lain, jika ada saling curiga dan masih ada konflik antar agama, maka akan terjadi ketegangan sosial.

Sebagai umat beragama, kita sadar dan memahami bahwa pada hakikatnya manusia menginginkan kehidupan yang rukun dan damai, tidak hanya dalam lingkungan tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam isi penyampaian pesan-pesan keagamaan yang dihadirkan, Suharlan memberikan kesejukan dan pencerahan bagi masyarakat dengan mengedepankan pesan-pesan keamanan, kenyamanan, dan ketenteraman, berkontribusi terhadap berkembangnya keberagaman agama di Sumberejo.

Oleh karena itu, selain penyampaian pesan, pemerintah desa periode Suharlan memperhatikan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam mengkoordinasikan berbagai elemen masyarakat dan memahami karakter umat yang berbeda agama.

Dengan budaya yang berkembang di Sumberejo, Suharlan mengadakan pelbagai kegiatan bernilai keagamaan yang kemudian dituangkan pada kebijakan pemerintah desa Sumberejo yang dipimpinnya. Budaya itu terdiri dari banyak elemen, tetapi lima hal penting yang berhubungan langsung: sejarah, agama, nilai-nilai, organisasi sosial, dan bahasa.

Budaya adalah kumpulan ide, praktik, dan pengalaman mendasar dari sekelompok orang yang diturunkan secara simbolis dari generasi ke generasi melalui proses pembelajaran. Kebudayaan terdiri dari kepercayaan, norma, dan sikap yang digunakan untuk memandu perilaku dan memecahkan masalah manusia.

Pemerintah Desa Sumberejo sebagai sebuah lembaga memiliki peran kunci dalam menciptakan kesejahteraan di desa. Peran masyarakat dan tokoh agama sangat penting dalam berkontribusi terhadap terciptanya kerukunan dan perdamaian dalam kerangka toleransi beragama, yang menjadi harapan seluruh warga Sumberejo.

Sebab, seperti kita ketahui, peran pemuka agama dalam kehidupan spiritual memberikan rasa aman dan nyaman dalam masyarakat. Di antara umat yang berbeda agama dan kepercayaan, jika toleransi telah dijadikan sebagai gaya hidup dan budaya, maka dapat dipastikan kerukunan umat beragama akan terjamin dan kondisi akan menjadi kondusif.

Sebagai umat beragama, kita tentu menyadari dan memahami bahwa pada hakikatnya manusia menginginkan kehidupan yang rukun dan damai, tidak hanya dalam lingkungan tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat di Sumberejo.

Suharlan telah membawa Sumberejo memberikan pesan-pesan kerukunan yang tercipta dengan kerja sama antarwarganya dan memberikan contoh yang baik tentang kehidupan yang harmonis.

Berbagai upaya dari program-program Suharlan yang dapat dicontoh antara lain bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya hidup selaras dengan strategi pembangunan, seperti memberikan pengetahuan, membangun motivasi, dan membangun keterampilan dalam kehidupan bermasyarakat untuk mewujudkan Sumberejo yang rukun dan maju.

Bagi Suharlan, kunci untuk menjaga kerukunan masyarakat adalah respons yang cepat terhadap peristiwa-peristiwa penting. Tidak kalah pentingnya adalah fasilitasi pemerintah terhadap masyarakat dengan prinsip keadilan agar tidak timbul konflik yang berarti.

Komunikasi partisipatif yang dilakukan Suharlan di tingkat desa, mengajak masyarakat Sumberejo untuk terus membangun keselarasan dengan berbagai strategi yang diterapkan. Jika toleransi sudah terwujud, maka akan tercipta kerukunan, menjadi modal pembangunan bangsa.

Kerukunan umat beragama merupakan kondisi yang harus diperjuangkan jika ingin pembangunan Sumberejo yang senantiasa memberikan kedamaian bagi seluruh warganya. Aset esensial tersebut meliputi persatuan dan kerukunan desa. Tanpa persatuan dan keselarasan, sebaik apapun rencana pembangunan akan sia-sia.

Tujuan pembangunan adalah perubahan menyeluruh yang meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat, baik material maupun non material. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan untuk berlatih peduli terhadap sesama, tanpa membedakan suku, agama, ras, atau latar belakang lainnya.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah menggali dan mengimplementasikan kearifan lokal dalam pergaulan dengan sesama yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Dan Sumberejo kaya akan nilai-nilai kearifan lokal itu.

Bahan Bacaan

Littlejohn, S. W., & Domenici, K. (2007). Communication, Conflict, And The Management Of Difference. Long Grove, Illinois: Waveland Press, Inc

Salim, A., & Andani, A. (2020). Kerukunan Umat Beragama; Relasi Kuasa Tokoh Agama Dengan Masyarakat Dalam Internalisasi Sikap Toleransi Di Bantul, Yogyakarta. Arfannur: Journal Of Islamic Education, 1(1)

Samovar, L. A., Porter, R. E., & McDaniel, E. R. (2010). Communication Between Cultures (7th Ed.), Boston, MA: Wadsworth Cengage Learning

Add Comment