Menyambut Muktamar Super Smart Muhammadiyah

JELANG MUKTAMAR – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (16/9/2022). SETKAB

Tidak lama lagi, Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah akan digelar. Tepatnya pada 18-20 November 2022. Pada 18 November ada Sidang Tanwir, lalu malam harinya dihelat Mangayubagyo di Edutorium UMS dan Pembukaan pada 19 November 2022 di Stadion Manahan.

Muktamar kali ini bersinggungan dengan realitas Revolusi Industri 4.0 yang telah berhasil mengubah peradaban global. Realitas yang telah menyelimuti dunia ini dengan ideologi kapitalisme dan sains-teknologinya, lalu semakin membangun kultur budaya raksasa yang non-transenden dan non-imanen, serta jauh dari nilai-nilai agama yang menyelimuti seluruh pelosok bumi.

Khalayak luas yang belum benar-benar paham apa itu era digital, kini harus bersanding dengan Era Society 5.0. Masyarakat 5.0 (Society 5.0) atau Masyarakat Super Pintar (Super Smart Society) berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem integrasi dunia maya dan ruang fisik.

Industri 4.0 hanya berfokus pada inovasi manufaktur dan peningkatan produktivitas melalui Information and Communication Technology (ICT) dan Internet of Things (IoT).[1] Bagaimana dengan Masyarakat 5.0? Konsep komprehensif ini berupaya memecahkan berbagai masalah sosial dengan mengubah kondisi masyarakat melalui transformasi digital seperti ICT dan IoT.[2]

Muhammadiyah selalu peka zaman. Memasuki era digital dan Revolusi Industri 4.0, Muhammadiyah tidak henti-hentinya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan amal usaha pendidikan. Muhammadiyah terus menyehatkan masyarakat dengan layanan rumah sakit dan klinik di seluruh penjuru Tanah Air. Muhammadiyah melakukan pemberdayaan sosial ekonomi melalui panti asuhan, Lazismu, dan gerakan sosial ekonomi lain.

Gerakan pembaruan Muhammadiyah pun sungguh sigap dengan situasi ini. Muhammadiyah telah menyiapkan kontribusi strategis pada berbagai generasi yang kini banyak mengalami kehausan akan spiritualitas. Bukan hanya untuk yang tua, tapi juga untuk generasi muda. Terlebih, persoalan umat Islam di Indonesia, identik dengan persoalan umat Islam di seluruh penjuru bumi.

Dakwah digital, misalnya, digarap Muhammadiyah dengan serius. Munculnya laman-laman media dakwah digital yang dibuat oleh jejaring komunitas Muhammadiyah menggambarkan kesiapan tersebut. Saat pandemi Covid-19, dakwah digital menjadi sangat relevan, karena dapat menjangkau umat, bahkan pada skala yang lebih luas.

Era Society 5.0 yang mempersyaratkan tiga kemampuan utama setiap individu, yaitu creativity, critical thinking, serta communication and collaboration, direspons Muhammadiyah dengan optimalisasi lembaga pendidikan pada kesiapan lulusan yang memiliki keterampilan dasar teknologi digital dan mindset atau pola pikir kreatif. Prasyarat kompetensinya berfokus pada kemampuan problem solving, kolaborasi, berpikir kritis, dan kemampuan kreativitas.

Pendidikan Muhammadiyah mewujudkan masyarakat yang cerdas, berkarakter, dan manusiawi, dengan empat kompetensi wajib, yaitu knowledge, skills, attitude, dan value. Knowledge dan skill berhubungan erat dengan kompetensi, sementara attitude dan value berkaitan dengan pembentukan karakter.

Jadi, era Society 5.0 sebagai sebuah konsep yang mendefinisikan bahwa teknologi dan manusia akan hidup berdampingan dalam rangka meningkatkan kualitas taraf hidup manusia secara berkelanjutan, tidak lantas membuat Muhammadiyah menjadi mati gaya.

Dakwah 5.0

Penduduk bumi, termasuk Indonesia, dan termasuk umat Islam Indonesia, kini didominasi budaya raksasa yang non-transenden dan non-imanen. Situasi ini mengharuskan dakwah pembaruan Muhammadiyah yang terus relevan.

Dengan begitu, Islam yang rahmatan lil alamin dapat membuktikan kebenaran nilai-nilai dan petunjuknya, kemudian mampu menyentuh dan mengikat keyakinan dan nilai-nilai religiusitas, sekaligus menjadi pedoman kehidupan. Bukan saja bagi umat Islam, namun juga seluruh umat manusia.

Apa yang telah dipunyai oleh umat Islam kini, belum mampu menyentuh dan mengikat keyakinan dan nilai-nilai religiusitas mayoritas masyarakat Islam. Sebab, hingga saat ini, dakwah yang dilakukan oleh penyeru-penyeru Allah belum menembus tiap-tiap keluarga Muslim secara langsung dalam persaudaraan Islam.

Metode dakwah Muhammadiyah pada era Society 5.0 terasa kontekstual, ketika teknologi harus bersanding dengan manusia berkarakter. Teknologi, bila tanpa sumber daya manusia yang baik, tidak akan bermanfaat luas. Manusia yang baik lahir dari pendidikan akhlak yang baik.

Berhadapan dengan budaya raksasa yang non-transenden dan non-imanen, berikut manusia-manusia yang kering spiritual, membawa Muhammadiyah pada babak baru dakwah yang ‘mengerti’. Cara berpikir sains modern yang cenderung menafikan Tuhan tidak serta-merta dimusuhi. Terlebih, pada era ini, hampir di seluruh sendi kehidupan benar-benar dipengaruhi atau bertumpu pada aplikasi sains. Pun demikian dengan teknologi.

Era Society 5.0 yang mau tidak mau memperhadapkan Muhammadiyah pada Super Smart Society, mensyaratkan kontekstualisasi. Sebuah jalan dakwah strategis yang tentu saja tidak terlepas dari garis pembaruan Islam Muhammadiyah.

Dakwah Muhammadiyah pada kenyataannya juga sulit berpisah dengan Nahdlatul Ulama (NU). Mengapa demikian? Karena, Muhammadiyah-NU mewakili arus utama Islam Indonesia. Dalam situasi geopolitik dunia yang tidak menentu, kolaborasi Muhammadiyah-NU menjadi pilihan terbaik dalam perdamaian dan praktik demokrasi. Isu-isu global seputar kekerasan, ekstremisme, sektarianisme, dan kekacauan, membutuhkan kehadiran Islam Indonesia yang mampu menjadi juru damai, dan direpresentasikan oleh Muhammadiyah dan NU.[3]

Betapa penting mempertahankan kolaborasi Muhammadiyah-NU dalam berbagai sendi kehidupan berbangsa, untuk kemaslahatan dunia. Wajah dunia yang kini semakin dinamis dan sulit diterka. Wajah dunia yang membutuhkan khazanah keislaman cukup. Islam yang rahmatan lil alamin. Mari bermuktamar, warga persyarikatan.

[1] Schwab, Klaus. 2016. Revolusi Industri Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

[2] Srinivasa, KG., GM. Siddesh, SR. Manisekhar (ed). 2022. Society 5.0: Smart Future Towards Enhancing the Quality of Society. Singapore: Springer. p. 1.

[3] Muhammad Najib Azca, dkk. 2021. Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. h. 253.

2 thoughts on “Menyambut Muktamar Super Smart Muhammadiyah

Comments are closed.