Masyarakat Petani Pembelajar

Citra Drone Pertanian Polanharjo, Klaten. DOKUMEN PRIBADI

Ini merupakan cerita saya ketika momen mudik lebaran silam. Meskipun waktunya sudah relatif lama, tapi saya pikir masih relevan untuk menjadi bahan renungan. Apalagi ini menyangkut isu pangan yang pada momen forum G20 nanti bulan November di Bali menjadi isu prioritas.

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, ditambah lagi kondisi peperangan di Ukraina dan pelarangan ekspor, membuat lonjakan kelaparan global yang semakin mengkhawatirkan. Hal ini tentu perlu penyikapan yang komprehensif baik dari masyarakat maupun pihak pemerintah sehingga kondisi yang lebih buruk tidak menimpa rakyat Indonesia.

Kembali ke cerita momen mudik lebaran. Saya menemukan kondisi masyarakat di kampung halaman yang kurang greget di dalam sektor pertanian. Hal yang membuat saya miris adalah ketika melihat masyarakat desa yang tidak mampu memanfaatkan kebun atau halamannya dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Kekhawatiran saya selanjutnya adalah tentang pola konsumsi masyarakat yang semakin tidak bervariasi. Saat ini masyarakat kita dihadapkan kepada rasa tidak percaya diri untuk mengonsumsi bahan-bahan makanan yang ada di lingkungan sekitarnya. Masyarakat cenderung terjebak kepada keinginan untuk mengonsumsi bahan makanan yang serba instan. Alhasil, mereka sering terjebak dengan harga bahan makanan yang tidak stabil.

Masyarakat Desa Tahun 1990-an

Hal ini berbeda sekali dengan kondisi ketika di tahun 1990-an dimana desa kami belum ada listrik atau awal adanya listrik masuk desa. Di masa itu, saya masih melihat keseriusan masyarakat dalam bidang pertanian. Meskipun waktu itu saya masih kecil, namun masih ingat ketika masyarakat desa saling bertukar benih padi atau palawija misalnya.

Saat itu, dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat terbiasa dengan memaksimalkan halaman atau kebunnya. Kami terbiasa memasak bahan makanan yang diambil dari kebun atau halaman rumah. Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan protein, masyarakat terbiasa memanfaatkan belakang rumahnya dengan memelihara ayam kampung atau kambing.

Tentu saja, saat ini memang ekonomi terasa sudah lebih maju. Ini terlihat dari bentuk rumah yang bagus-bagus. Orang-orang desa saat ini hampir semuanya sudah mengenal perantauan dan bergantung hidup di kota-kota. Itulah sebabnya mereka sudah tidak fokus lagi untuk mengusahakan pertanian di desa.

Bagi mereka, bertani tidak bisa menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Oleh karena itu, orang-orang di kampung kami, menanam padi atau palawija bertujuan hanya sekedar agar tanahnya tidak terbengkalai saja sehingga nilai jualnya akan rendah. Halaman rumahnya pun saat ini banyak yang di plester tembok dengan tujuan agar tidak berdebu dan ditanami rumput.

Jika waktunya ba’da isya atau pagi-pagi, orang-orang di tahun 1990-an dulu terbiasa dengan makanan hasil pertanian sambil mengobrol atau mendengarkan radio. Saat ini, orang-orang lebih terbiasa dengan makan mie instan sambil menonton televisi. Seperti rebusan singkong atau ubi hampir tidak lagi diminati. Disamping proses memasaknya dianggap lama, rasanya juga sepertinya sudah tidak cocok dengan lidah orang desa sekarang.

Masyarakat Desa Pasca Tahun 1990-an

Kondisi masyarakat desa yang demikian memang sudah menjadi konsekuensi dari kemajuan teknologi, dimana saat ini iklan sudah sampai ke rumah-rumah masyarakat desa melalui televisi dan handphone. Selain itu, aktivitas mobilisasi masyarakat desa ke kota juga telah membawa dampak perubahan yang besar, dimana mereka yang pernah tinggal di perkotaan, ketika pulang kampung, bukan saja membawa uang, tapi juga membawa gaya hidup.

Kualitas cara pandang masyarakat desa terhadap pertanian kian hari memang kian mengalami penurunan. Jika dulu kakek saya mengajarkan banyak menanam pohon untuk generasi selanjutnya, maka saat ini saya melihat banyak tanaman yang ditebang tanpa menanam penggantinya. Tanaman peninggalan orang tua dulu banyak yang ditebang karena alasan daunnya mengotori halaman. Akhirnya, ketahanan ekonomi masyarakat desa pun menjadi rapuh karena hampir sepenuhnya menggantungkan perekonomiannya ke kota.

Situasi masyarakat pedesaan yang tidak terlalu greget di sektor pertanian, harus mulai diperhatikan sebelum situasinya menjadi lebih buruk di masa depan. Mengingat berdasarkan laporan BPS per Maret 2022, kemiskinan di pedesaan mencapai 14,34 juta jiwa. Data tersebut menyiratkan kepada kita tentang pentingnya membangun kemandirian bagi masyarakat pedesaan.

Tidak dapat dipungkiri, salah satu penyebab masyarakat desa kurang greget untuk bekerja pada sektor pertanian on farm adalah karena rata-rata kepemilikan lahan pertanian di Indonesia yang hanya sekitar 360 meter persegi. Bagi mereka, dalam hal menaikkan pendapatan, lebih logis merantau ke kota. Di kota, orang digaji per hari atau per jam. Jika ingin menambah gaji, berarti tinggal menambah jam kerja dengan mengambil beberapa pekerjaan. Sangat jauh berbeda dengan usaha di bidang pertanian yang walaupun sudah berbagai cara dilakukan, tetap saja ada untung atau ruginya. Jikapun untung, hasilnya tidak seberapa.

Oleh karena itu, di daerah saya, istilah merantau identik dengan kata ngala duit (bahasa Sunda), yang artinya mengambil atau panen uang. Bukan lagi mencari uang. Pemilihan kata tersebut seolah menyiratkan bahwa di kota itu sangat mudah mendapatkan uang. Oleh sebab itu, hampir sebagian besar masyarakat desa yang baru lulus SD, SMP, atau SMA merantau ke kota dengan tujuan mendapatkan uang secara banyak dan cepat.

Pada momen mudik inilah mereka yang merantau ini biasanya saling menunjukkan keberhasilannya selama merantau di kota. Bagi mereka yang di perantauannya sedang bersekolah, pasti tidak akan dilirik. Karena stigma dari standar kesuksesan di masyarakat desa saat ini adalah uang. Buat apa pendidikan tinggi kalau tidak banyak uang!

Masyarakat Pembelajar

Pandangan masyarakat yang sudah sangat materialistis ini sangat saya rasakan. Setidaknya selama 13 tahun terakhir selama saya mengenyam studi di perguruan tinggi dari tingkat sarjana sampai doktor saat ini. Setiap pulang kampung, tidak ada yang secara serius menanyakan keilmuan yang saya dapatkan di perantauan.

Kondisi demikian, akhir-akhir ini saya mulai dapat memahaminya setelah beberapa kali mengikuti seminar neurosains oleh dr. Ryu Hasan. Saya merasa tersentak ketika dr. Ryu menyatakan bahwa “mana ada manusia yang berubah karena nasihat?”. Pada dasarnya otak manusia hanya untuk menyukai kenyamanan, bukan untuk dapat membedakan benar-salah atau baik-buruk. Mungkin hal itulah yang menyebabkan masyarakat di desa saya tidak pernah menanyakan keilmuan yang saya miliki. Karena mereka pada dasarnya tidak memerlukan nasihat.

Jika kita pandang secara positif tentang sisi materialistis masyarakat, ini menyiratkan tentang kehausannya atas tauladan atau contoh kisah sukses petani yang memiliki lahan kecil namun dapat berhasil. Karena berbagai kesibukan di perantauan, saya pribadi mengakui bahwa selama ini tidak sanggup memenuhi harapan tersebut. Namun sekiranya ada niat baik dari masyarakat, setidaknya saya bisa membantu mendatangkan para ahli yang kompeten atau hanya sekedar bertukar wawasan tentang meningkatkan nilai tambah dari hasil pertanian atau tentang smart farming yang saat ini sedang hangat diperbincangkan.

Namun demikian, untuk membangkitkan kemajuan di masyarakat memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan kerja keras dari pihak pemerintah daerah maupun masyarakat yang sudah terlebih dahulu melek dengan kondisi tantangan zaman ke depan. Untuk menghadapi situasi krisis pangan yang sudah di depan mata, tidak bisa lagi kita menunggu musibah tersebut menimpa masyarakat serta berharap masyarakat akan berubah akibat dari kesengsaraan. Bung Karno pernah berkata bahwa masyarakat berubah bukan disebabkan karena kesengsaraan yang menimpanya, melainkan karena adanya pendidikan.

Harus diakui, saat ini pendidikan informal di masyarakat pedesaan hanya didominasi oleh bidang keagamaan. Sementara dalam hal pendidikan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, masyarakat senantiasa otodidak. Bidang pertanian yang selama ini dekat dengan masyarakat, sangat tepat untuk menjadi perantara masyarakat dalam mempelajari bagaimana meningkatkan kualitas ekonominya.

Oleh karena itu, selain pemerintah daerah yang harus memiliki political will yang strategis, perlu adanya kerendahhatian dari pihak masyarakat untuk terus mau belajar. Jika kondisi masyarakat pembelajar ini dapat diciptakan di tingkat desa, maka tentu hal ini akan berpotensi untuk menciptakan banyak kawasan ekonomi baru bagi masyarakat.

 

Penulis:

Qiki Qilang Syachbudy (Mahasiswa Doktoral Ilmu Ekonomi Pertanian IPB University)

Add Comment