Digitalisasi untuk Penguatan Ketahanan Desa Sumberejo

Ketahanan pedesaan itu mengacu pada kemampuan desa untuk mengatasi kerentanan ekonomi, ekologi, dan budaya komunitas desa. FOTO: PEMKAB KLATEN

Revolusi Industri 4.0 telah lama digaungkan di Indonesia. Dinamika digital ini menjadi landasan Revolusi Industri 4.0 semakin meluas dan merambah ke pelosok desa dan pedesaan.

Jika kita mengacu pada konstruksi teritorial pemerintahan, demi membangun ketahanan pedesaan, idealnya kawasan pedesaan menjadi titik awal dimulainya era revolusi digital. Perubahan itu ditandai dengan semakin mobile-nya internet, semakin efisien pekerjaan dengan penggunaan mesin dan kecerdasan buatan.

Dengan bertumpu pada kekuatan digital, desa dapat menganalisis ketahanan wilayahnya, memantau berbagai aspek ekonomi, sosial dan budaya. Pemahaman modal alam seperti itu diperlukan guna mendorong dinamika masyarakat yang tangguh. Desa Sumberejo, tengah melakukan upaya tersebut.

Desa memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan daerah, atau hak tradisional yang diakui dan dihormati. Dalam hal itu termasuk pemerintah desa, perangkat desa, dan penduduk di desa yang tinggal. Mereka mengelola potensinya, hidup dan bekerja, atau melakukan kegiatan sehari-hari di desa.

Jika kita melihat secara khusus pada penduduk pedesaan, penduduk desa akan ditinggalkan karena lebih memilih bekerja dan tinggal di perkotaan. Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2015-2045 Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 (BPS, 2018) menginformasikan bahwa persentase penduduk perkotaan pada tahun 2025 diperkirakan sebesar 60,0%.

Selanjutnya pada tahun 2035 sekitar 66,6%, dan pada tahun 2045 diperkirakan 72,9% penduduk akan tinggal di perkotaan. Jika jumlah desa diasumsikan bertambah, maka akan terjadi pula migrasi penduduk dari kelurahan dengan peningkatan yang signifikan. Diperkirakan pada tahun 2045 hanya 27,1% penduduk yang akan tinggal di pedesaan. Artinya ada transfer human capital dari desa ke kota.

Saat ini, kawasan perkotaan dipandang mampu menjadi sarana pembentukan pola pikir, pola tindakan, pola sikap, pola usaha, dan gaya hidup terencana dengan imajinasi berbasis kekayaan alam, budaya, dan keunggulan daerah. Kota dianggap mampu memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk meningkatkan kapasitas individu dan mengembangkan pra-profesionalisme warganya dengan dinamika perkembangan dan kemajuan teknologi.

Akumulasi dari berbagai potensi sumber daya alam, karakteristik wilayah, kehidupan sosial budaya, sumber daya manusia, dan produktivitas dapat menjadi ketahanan suatu wilayah. Di pedesaan, ketahanan berkaitan dengan jumlah, sebaran, situasi, kondisi, dan keadaan desa di Indonesia. Keberadaan sumber daya manusia akan menentukan potensi pemerintahan desa untuk menghasilkan barang atau jasa.

Lantas, modal manusia menjadi seperangkat pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, kemampuan, dan integritas yang dimiliki oleh sumber daya manusia. Hal ini diterapkan secara profesional untuk menciptakan nilai dalam sistem ekonomi global dan aset sosial dikalikan dan dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas, kepuasan, dan kinerja organisasi.

Dapat diartikan bahwa produktivitas di suatu daerah sangat ditentukan dan bergantung pada kapasitas sumber daya manusia (human capital), tingkat literasi, kreativitas, dan inovasi.

Pengetahuan dan keterampilan pada manusia secara langsung akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kemampuan ekonomi untuk mengembangkan dan mengadopsi teknologi baru. Human capital memiliki kontribusi positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

Saat ini, di era digital, desa dan komunitasnya dihadapkan pada kemajuan teknologi yang pesat dan gelombang digitalisasi. Perubahan global ini menuntut desa untuk bertransformasi dan beradaptasi.

Fahmi & Sari (2020) dalam studi Rural Transformation, Digitalisation and Subjective Wellbeing mengidentifikasi bahwa transformasi dan digitalisasi pedesaan telah menyebabkan peningkatan kepuasan dan kebahagiaan hidup, terutama bagi mereka yang terlibat langsung dalam produksi, yang memiliki kesempatan untuk memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan menggunakan keterampilan mereka untuk strategi penghidupan di desa.

Desa Sumberejo harus memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan keadaan eksternal yang berubah sedemikian rupa sehingga standar hidup yang memuaskan dapat dipertahankan. Di mana perspektif ketahanan pedesaan itu mengacu pada kemampuan desa untuk mengatasi kerentanan ekonomi, ekologi, dan budaya komunitas desa.

Maka dari itu, desa perlu merangkul teknologi digital. Digitalisasi sangat mendesak bagi desa, pemerintah desa, dan masyarakat desa untuk memperhatikan kondisi geografis dan kontur topografi desa. Ini juga mendukung pentingnya akses internet bagi masyarakat pedesaan karena membantu mengurangi kemiskinan.

Akses internet ditentukan oleh fitur human capital, akses internet yang terbatas bagi masyarakat cenderung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi. Akses internet berdampak pada pengentasan kemiskinan, di mana akses universal terhadap layanan internet berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan penduduk suatu negara.

Digitalisasi desa dan desa semakin mendukung keberlanjutan bisnis rumah pedesaan terpencil dan ketidaksetaraan digital. Hal ini dapat diartikan bahwa desa digital masih menjadi kebutuhan dan harapan masyarakat yang belum terlayani secara digital.

Akibatnya, pembatasan penggunaan teknologi informasi pedesaan memperkuat normalisasi pendekatan yang sangat teknokratis terhadap pembangunan pedesaan. Orang-orang menggunakan teknologi digital untuk membangun praktik sosial dan ekonomi alternatif yang mengandalkan platform digital untuk membangun ketahanan desa.

Dalam revolusi industri 4.0, perhatian dan penerapan teknologi harus diberikan kepada desa dan pinggiran kota lainnya. Sebab, perkembangan teknologi dan dinamika digitalisasi secara fundamental dan komprehensif akan merombak pola kehidupan masyarakat.

Hambatan Fisik dan Budaya

Teknologi digital harus disiapkan dengan membahas hambatan fisik dan budaya di pedesaan agar tidak tertinggal di masa revolusi industri 4.0. Dengan digitalisasi dan keuntungan difusi teknologi digital dapat memudahkan jangkauan layanan di pedesaan, di mana penduduk desa dapat beradaptasi melalui peningkatan penggunaan smartphone untuk mengakses layanan kesehatan di daerah pedesaan.

Digitalisasi semakin bermakna bila disandingkan dengan berbagai kepentingan, terutama pemenuhan kebutuhan hidup yang terhubung lintas batas ruang dan waktu serta dapat dilakukan dengan cepat, murah, dan mampu menjangkau pelosok pedesaan.

Pentingnya digitalisasi merupakan implikasi dari perubahan tuntutan pelanggan di dunia digital dalam konteks pariwisata. Potensi perubahan kebutuhan pelanggan yang teridentifikasi termasuk layanan digital, pemasaran digital, penambangan data, dan komunitas perjalanan online.

Pada hakikatnya, Desa Sumberejo membutuhkan ketahanan khusus untuk memberikan penghidupan bagi masyarakat sesuai dengan karakteristik wilayah desa tersebut. Di sinilah pentingnya membentuk kembali peran dan fungsi perdesaan sebagai tempat yang didukung oleh kapasitas komunitasnya yang kuat.

Desa Sumberejo secara geografis terletak di daerah dataran rendah. Lokasinya dapat dibilang relatif dekat dengan ibu kota kabupaten Klaten. Keberadaannya memicu keingintahuan pemerintah Desa Sumberejo serta masyarakat untuk mengelola ketahanan desa serta memperkenalkan dan mempopulerkan potensinya ke seluruh dunia.

Di Desa Sumberejo, penerapan digitalisasi berdampak ganda, terutama bagi pengembangan dan pengelolaan potensi pertanian dan peternakan, promosi pariwisata, dan pemasaran berbagai produk pangan unggulan pedesaan.

Penerapan pemerintahan desa digital juga mempermudah pengelolaan ketahanan desa. Saya percaya bahwa cara yang paling praktis, efektif, ekonomis, dan efisien untuk mengelola ketahanan desa adalah menjadi “Desa Digital”. Sering kali desa wisata tertinggal, sehingga literasi, kreativitas, dan inovasi harus dihadirkan.

Pengembangan desa wisata membutuhkan akses internet dan digitalisasi, yang dikemas khusus untuk pariwisata. Digitalisasi kegiatan pariwisata akan mempercepat kemajuan pariwisata di desa. Sangat penting untuk mengidentifikasi atribut citra destinasi online yang terkait dengan imajinasi pariwisata dan daerah pedesaan. Artinya melalui desa digital, manfaat akan diperoleh dalam pendidikan untuk mengoptimalkan potensi desa.

Namun, pemerintah desa juga harus melakukan literasi digital agar pengaruh digital dapat terjadi untuk mendorong keunggulan desa. Dinamika ini menginspirasi mereka untuk mendigitalkan proses administrasi, pelayanan publik, dan pemerintahan di kedua desa secara digital.

Tujuannya, untuk memperkenalkan dan mensosialisasikan potensi dan keberadaan Desa Sumberejo. Jika dilihat secara geografis, keberadaan desa Sumberejo tentunya memiliki keunggulan dalam aksesibilitas dan konektivitas untuk menghubungkan masyarakat pedesaan dengan desa di sekitarnya.

Keadaan ini mencerminkan keberadaan desa digital semakin mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di desa tersebut, meskipun hasilnya tidak dapat dirasakan secara langsung, di mana semua bentuk usaha masih memiliki jalan panjang untuk memfasilitasi komunikasi dan interaksi yang efektif dengan publik sasaran mereka.

Oleh karena itu, keberadaan internet dan tingkat kematangan e-commerce menjadi keniscayaan di era digital.

Desa digital menjadi solusi penguatan ketahanan desa. Desa digital akan membentuk kemampuan untuk memitigasi, mengantisipasi, mengadaptasi, menyerap, mengadaptasi, dan mempercepat perubahan global lintas negara. Sebab, melalui digitalisasi, aksesibilitas desa akan semakin terbuka, terkoneksi dengan dunia, bahkan tanpa pembatasan akses.

Situasi ini memungkinkan terjadinya transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, interaksi sosial, dan komunikasi antar warga dunia baik melalui dunia maya maupun dalam kenyataan yang sebenarnya. Desa digital membentuk modal manusia dan menjadikannya faktor penentu utama dalam menciptakan ketahanan desa.

Ketersediaan sumber daya manusia yang memadai dan merata di desa merupakan faktor penarik bagi ketahanan ekonomi, terciptanya pertumbuhan yang berkualitas, pengembangan sumber daya manusia, dan peningkatan pendapatan, yang akan mengurangi ketimpangan pendapatan di antara penduduk desa.

Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dapat bersama-sama menjadwalkan Desa Digital, yang mewajibkan pemerintah kabupaten atau kota untuk menerapkan minimal sepuluh Desa Digital di wilayah daerahnya masing-masing.

Melalui kebijakan yang demikian, pemerintah telah menginisiasi desa digital yang partisipatif-responsif terhadap dinamika digitalisasi dan digitalisasi untuk mempercepat pembangunan inklusif, memperkuat ekonomi pedesaan, mengantisipasi bencana, dan melestarikan lingkungan berbasis digital.

Begitu juga bagi Pemerintah Provinsi, perlu memfasilitasi pelaksanaan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang difokuskan pada penguatan literasi digital baik bagi aparatur provinsi, kabupaten/kota, maupun desa. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten/Kota harus menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan pendampingan dalam implementasi desa digital dan digitalisasi desa.

Digitalisasi semakin dipercepat ketika Pemerintah Desa memperkenalkan pentingnya digitalisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa kepada desa lain. Demikian pula Pemerintah Desa Sumberejo dapat membangun sinergi dan kerjasama untuk meningkatkan literasi digital pedesaan yang bermanfaat bagi kemakmuran desa.

Menuju dunia usaha khususnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan industri yang beroperasi di pedesaan untuk membantu merangsang, mendorong dan mempercepat literasi digital serta proses digitalisasi pembangunan Pemerintah dan Desa, termasuk penyiapan infrastruktur elektrifikasi, telekomunikasi, dan konektivitas transportasi dan jaringan jalan antar-desa.

Terakhir, upaya untuk mengukur manfaat dan dampak desa digital perlu dilakukan melalui pengkajian yang lebih mendalam dengan melihat sosiologis, ekologis, human capital, manajerial governance, literasi digital, inklusi digital, kendala geografis, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Bahan Bacaan

BPS-Statistik Indonesia. (2018). Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045 Hasil SUPAS 2015 (Revisi). BPS-Statistik Indonesia.

Fahmi, F. Z., & Sari, I. D. (2020). Rural transformation, digitalisation and subjective well being: A case study from Indonesia. Habitat International, 98, 102150.

Manoby, Afriyanni, Fitri, Pranasari, Setyaningsih, Rosidah, Saksono. (2021). Jurnal Bina Praja, 13(1), 53–63

Add Comment