Situs Petirtaan Kunden Sumberejo, Menjaga Identitas dan Warisan Masyarakat

Situs petirtaan Kunden yang berada di Desa Sumberejo, Klaten Selatan, Klaten. FB: Aku Wong Klaten

Relasi identitas komunitas dengan struktur arsitektur merupakan setting yang berpengaruh bagi proses kognitif manusia. Dalam komunitas arsitektur, dapat menunjukkan refleksi langsung dari apa yang dianggap sejarah sebagai pengetahuan penting untuk masa depan.

Oleh karena itu, menguji pentingnya bagaimana sebuah bangunan bersejarah dapat memiliki makna bagi identitas suatu daerah.

Memahami bagaimana revitalisasi sebuah situs atau bangunan bersejarah memegang peranan penting dalam mempertahankan ajaran sejarah bagi anggota masyarakat maupun wisatawan. Aspek bangunan apa yang paling penting bagi identitas daerah dan mengapa begitu penting untuk melestarikan sejarah bangunan ini.

Kita perlu juga memahami pentingnya fisik bangunan serta keterikatan emosional yang dirasakan psikologis lokal untuk melestarikan situs bersejarah. Sosiologi budaya dan sosiologi lingkungan serta teori memori kolektif dapat membantu agar lebih memahami pentingnya melestarikan situs sejarah untuk melestarikan identitas masyarakat.

Pada abad kesembilan belas, kesadaran akan nilai-nilai warisan pada dasarnya dikaitkan dengan nilai monumentalnya. Seabad kemudian, unsur pelestarian sosial menjadi bagian dari kesadaran ini, sedangkan kota bersejarah lebih dipahami dalam dimensi morfologis dan tipologisnya.

Saat ini, persepsi tentang nilai-nilai kota bersejarah telah berkembang untuk mencakup nilai-nilai simbolis, estetika tempat dan penggunaan ruang perkotaan yang mendefinisikan kota (atau situs) bersejarah sebagai warisan hidup. Tempat-tempat bersejarah, yang dianggap sebagai warisan perkotaan, sangat penting bagi daerah saat ini maupun di masa depan. Ciri-ciri pusaka daerah yang berwujud dan tidak berwujud merupakan sumber kohesi sosial, faktor keragaman dan pendorong kreativitas, inovasi dan regenerasi kota.

Perencanaan warisan adalah kombinasi dari pelestarian warisan dan perencanaan kota. Dimulai dengan anggapan bahwa masyarakat menjaga tempat-tempat bersejarah yang dihargai; signifikansi mereka memberikan alasan untuk mempertahankannya.

Pada saat yang sama, ada tekanan ekonomi dan sosial yang wajar untuk menghancurkan tempat-tempat bersejarah itu beserta latar belakangnya. Oleh karena itu, tujuan perencanaan warisan adalah untuk mengelola dan mengendalikan situasi dan perubahan ini secara bijaksana, bukan untuk mencegahnya.

Pelestarian bukanlah menentang pembangunan, melainkan menentang pembangunan yang tidak memuaskan. Bahkan, tidak menerima pembangunan yang tidak responsif terhadap konteks masyarakat saat ini dan warisan pentingnya. Namun, pelestarian harus mendukung pembangunan yang memadukan modern dan lama dengan cara yang tepat yang memperkuat keduanya.

Perencanaan warisan tidak bertujuan untuk membekukan tempat bersejarah pada waktunya. Namun, berusaha untuk mempertahankan pentingnya tempat bersejarah dalam konteks dunia nyata dari perencanaan dan pengembangan kota.

Pendekatan Heritage Urban Landscape (HUL) menganggap kota bersejarah sebagai lapisan signifikansi yang berasal dari fitur alam dan buatan manusia. Sementara pandangan kota bersejarah sebagai formasi kompleks selalu diintegrasikan ke dalam kebijakan konservasi, aspek lain (seperti hubungan dengan nilai geologis, simbolis atau spiritual tempat itu) biasanya lebih dikaitkan dengan lanskap budaya daripada dengan kawasan bersejarah, di mana aspek arsitektur selalu memainkan peran dominan.

Pendekatan HUL memperkenalkan gagasan yang lebih luas tentang “konservasi”. Ini dipahami bukan sebagai alat sederhana untuk melindungi benda-benda warisan yang dipilih, tetapi sebagai metode untuk mengelola proses perubahan di lingkungan perkotaan. Ini menganggap nilai warisan kota bersejarah sebagai warisan cara lingkungan perkotaan telah berkembang dari waktu ke waktu, dan mengasumsikan bahwa itu tidak dapat dilestarikan tanpa memastikan vitalitas lingkungan bersejarah, melalui fungsi, kegunaan, dan makna yang kompatibel dengan karakteristik spasial dan sosialnya.

Pendekatan HUL bergerak di luar pelestarian lingkungan fisik dan berfokus pada seluruh lingkungan manusia dengan semua kualitas berwujud dan tidak berwujud. Pendekatan HUL berusaha untuk meningkatkan keberlanjutan intervensi perencanaan dan desain dengan mempertimbangkan lingkungan binaan yang ada, warisan tak benda, keragaman budaya, faktor sosial ekonomi dan lingkungan bersama dengan nilai-nilai masyarakat setempat.

Untuk setiap situasi lokal, keseimbangan tercapai antara pelestarian dan perlindungan warisan perkotaan, pembangunan ekonomi, fungsionalitas, dan kelayakan hidup. Dengan demikian, kebutuhan penduduk saat ini terpenuhi sekaligus meningkatkan sumber daya alam dan budaya kota secara berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Melihat Arsitektur Petirtaan Kunden Sumberejo, Klaten

Petirtaan sering dipisahkan dengan candi, karena dianggap memiliki fungsi yang berbeda, meskipun demikian petirtaan dapat juga dikaitkan dengan bangunan pendharmaan seperti Candi Jalatunda dan Candi Gunung Kawi. Selain itu petirtaan dapat dikaitkan pula dengan replika Mahameru seperti Candi Tikus dan Candi Jalatunda.

Jika dikaitkan dengan fungsi candi maka petirtaan dapat berkorelasi terhadap fungsi pendharmaan dan kuil pemujaan. Oleh karena itu, petirtaan dapat dikatakan merupakan candi juga karena memiliki fungsi sebagaimana candi-candi pada umumnya. Petirtaan dapat ditegaskan merupakan salah satu tipe dari desain arsitektur candi yang pernah dibuat di Indonesia.

Petirtaan Kunden yang ada di Desa Sumberejo, Klaten Selatan, termasuk tipe bangunan yang berbentuk U, yang berdiri lepas tidak bersandar pada lereng bukit atau tanah dsb. Candi ini tidak mengandalkan pancuran yang dirancang untuk sarana menyalurkan air. Air dalam tipe ini dibiarkan langsung keluar dari bumi untuk memenuhi kolamnya. Seperti halnya tipe yang bersandar pada bukit tipe ini juga dapat dibedakan menjadi tipe kolam yang dangkal dan tipe kolam yang dalam.

Pada beberapa kasus, dinding background atau latar yang melingkari candi tersebut dapat berupa dinding yang tinggi atau hanya kolam yang terkesan tanpa dinding. Kolam tanpa dinding ini semestinya pada masa lalu berdinding dan mungkin pada saat ini ketika ditemukan sudah hancur sisi–sisinya, sehingga yang ditemukan hanya dalam wujud kolamnya.

Candi-candi yang bertipe seperti ini contohnya dapat dilihat pada petirtaan yang ditemukan di daerah Payak atau situs Payak, situs Kunden di Sumberejo, dan situs Cabean Kunti di Cepogo. Ketiga situs ini memiliki tipe bangunan yang sejenis, yakni karakternya berbentuk U dengan pengolahan pada dinding-dindingnya. Di tengah dinding latarnya biasanya ditemukan sebuah relung tempat patung, tetapi sayangnya patung-patungnya telah hilang yang tersisa hanya relung yang kosong.

Ketiga situs ini mempunyai kedalaman kolam yang dangkal tidak dalam, sehingga terkesan air hanya di permukaan saja. Ketiga situs ini memang terletak di tepi sungai. Situs Cabean dan Kunden terletak sangat dekat dengan tepian sungai, menunjukkan mungkin pada masa lalu sungai ini dapat merupakan sungai yang penting di kawasan itu dan airnya dapat berhubungan dengan air kolam pada situs ini.

Tipe bangunan situs Kunden ini identik dengan bangunan di Kunti dan Payak, dimungkinkan juga dibangun pada masa yang sama. Situs ini terletak di tepi sungai, dan saat ini bahkan ketinggiannya hampir sama dengan permukaan sungainya.

Situs ini juga cenderung polos dan memiliki satu relung di tengah dinding sebagai tempat untuk meletakkan patung, kemungkinan besar patungnya adalah Siwa seperti di Payak, tetapi telah hilang. Dengan melihat ketiga candi ini dimungkinkan pemujaan terhadap Siwa juga diwujudkan dalam bentuk arsitektur petirtaan seperti ini, tidak selalu dalam wujud candi-candi tipe menara.

Varian lain dari tipe ini adalah kolam yang dalam, sementara ketiga wujud di atas kolamnya sangat dangkal. Tipe-tipe dengan kolam yang dalam ini memungkinkan untuk melakukan ritual perendaman di dalam air dan pada saat ini digunakan untuk tempat berenang. Situs yang dianggap memiliki kolam dalam adalah Situs Umbul. Namun, situs ini dindingnya telah runtuh, sisa-sisanya berupa relief dan lain-lain dapat ditemukan di sekitar kolam ini.

Candi ini kaya akan relief seperti hewan, manusia dan tumbuhan diperkirakan menghiasi batu-batu disini. Dinamakan Umbul karena dari dasar kolamnya terkadang memunculkan gelembung-gelembung udara yang menyembul ke permukaan. Masyarakat Jawa menyebutkan istilah gelembung yang naik ke permukaan itu “mumbul” dan kemudian bangunan ini diberi istilah umbul.

Selain itu kolam ini sebenarnya merupakan sumber air panas dan ternyata air hangat di kolam ini mengandung kadar belerang yang relatif rendah sehingga tidak berbahaya bagi manusia. Berdasarkan gaya relief dan beberapa sisa-sisa lingga dan yoni (dalam keyakinan Hindu, lingga adalah simbol atma atau roh, sedangkan yoni adalah simbol shakti) menunjukkan bahwa candi ini merupakan candi bersifat Hindu yang dibangun pada masa Mataram Kuno.

Di dalam kolam terdapat beberapa batu datar terlihat seperti umpak (penyangga tiang pada bangunan berkonstruksi kayu) atau mungkin lingga dan elemen ini diduga pada masa lalu digunakan sebagai alas duduk untuk melakukan ritual perendaman atau “kungkum” dalam bahasa jawa.

Signifikansi Situs Bersejarah dalam Perencanaan Warisan

Pada pertengahan abad kedua puluh, konservasi warisan sebagian besar berkaitan dengan teknik menjaga sisa-sisa material monumen arsitektur.

Pada dekade pertama abad ini, pelestarian warisan telah menjadi praktik sosial yang menerima nilai-nilai yang bervariasi dan saling bertentangan dalam perjalanan untuk menciptakan tempat di mana orang dapat terhubung ke narasi yang bermakna tentang sejarah, budaya, dan identitas.

Saat ini, warisan kedaerahan adalah elemen manusia dan sosial budaya yang melampaui gagasan statis kelompok bangunan. Untuk menentukan strategi dan kebijakan pembangunan perkotaan, pentingnya struktur sejarah harus jelas sejak awal dan digunakan dalam pendekatan ini secara praktis.

Berbagai jenis nilai yang merupakan bagian intrinsik dari situs bersejarah, menunjukkan bahwa mereka memiliki karakter dinamis yang dapat membantu dalam mempromosikan keragaman sosial dan fungsional yang ada dalam struktur bersejarah.

Hal ini juga menunjukkan bahwa menentukan signifikansi struktur bersejarah adalah proses yang melibatkan berbagai pertanyaan untuk memahami dan mengenali, dan untuk membuat pernyataan dan penilaian. Dalam menentukan signifikansi situs bersejarah, perlu untuk menilai semua informasi yang relevan dengan pemahaman tentang tempat dan strukturnya.

Adalah penting bahwa pernyataan itu jelas dan bernas, mengungkapkan secara sederhana mengapa tempat itu bernilai dengan menyatakan kembali bukti fisik, dokumenter, maupun literasi. Oleh karena itu, perencanaan situs bersejarah memerlukan kemajuan dari identifikasi ke evaluasi dan dari evaluasi ke pengelolaan sebagai dasar kebijakan.

Identifikasi nilai dan penentuan signifikansi hanyalah sarana untuk tujuan yang lebih besar. Tujuan itu adalah pengelolaan perubahan dalam suatu tempat atau situs bersejarah dengan cara yang mempertahankan nilai-nilainya dan menghormati signifikansi budayanya.

Bahan Bacaan

Bandarin, F. & Van Oers, R. (2012). The Historic Urban Landscape: Managing Heritage in an Urban Century. Chichester: Wiley-Blackwell.

Kalman, H. (2014). Heritage Planning Principles and Process. New York: Routledge.

Pini, D. (2005). The Historic Urban Landscapes: A Comprehensive Approach to Conservation. ISLAMIC URBAN HERITAGE, 13.

Rahadhian dan Wibawa, F. (2015). Kajian Arsitektur Percandian Petirtaan di Jawa (identifikasi). Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN.

UNESCO World Heritage Center. (2013). New Life for Historic Cities: The Historic Urban Landscape Approach Explained. Paris.

Add Comment