Semangat Gotong Royong dalam Sejarah Kepemimpinan Sumberejo

Pembangunan desa membutuhkan semangat gotong royong. PEMKAB KLATEN

Sejarah Desa Sumberejo memiliki nilai budaya yang beragam, yang turun-temurun diwariskan generasi ke generasi. Salah satunya adalah nilai budaya gotong royong yang menjadi salah satu identitas Sumberejo.

Sebuah nilai yang mengakar kuat dalam kehidupan di Sumberejo. Budaya yang tak pernah lepas dari kepemimpinan Sumberejo masa ke masa. Ia menjadi dasar solidaritas sosial masyarakat Sumberejo.

Dengan cara ini, pembangunan di Sumberejo dapat dilakukan dengan cepat. Salah satunya ialah pembangunan saluran irigasi untuk pertanian di masa kepemimpinan Parto Suparmo. Lurah ketiga Sumberejo yang menjabat pada 1948-1963. Parto Suparmo dikenal mampu membangun budaya musyawarah warga Sumberejo. Pengelolaan dan penggunaan lahan Desa Sumberejo, mampu ia musyawarahkan dengan baik pada warga Sumberejo.

Dewasa ini, dengan semakin intensifnya penggunaan teknologi modern akibat industrialisasi, telah menghasilkan ekses dari hubungan antarmanusia, termasuk warga Sumberejo. Kemungkinan, mereka mampu bekerja sendiri dengan teknologi modern, kemudian memengaruhi masyarakat Sumberejo untuk mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Saya tak ingin dengan adanya teknologi itu, lantas menurunkan tradisi lama dalam bergotong royong, terutama menyangkut kepentingan Sumberejo.

Warga Sumberejo tetap harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Demi persatuan warga Sumberejo, tak boleh jika kita beralih dari hegemoni kelompok, dan malah berbalik saling mengalahkan dengan mengandalkan teknologi modern untuk melakukan perilaku individualistis.

Kita tidak bisa mengesampingkan nilai-nilai moral atau etika yang semula terkandung dalam semangat gotong royong, yang membuat Sumberejo tetap berdiri hingga saat ini. Kita perlu melihat sudut pandang yang lebih rinci tentang bagaimana gotong royong sebagai nilai budaya dan semangat kebersamaan muncul di Sumberejo.

Seperti yang telah dicontohkan Sastro Sudiyono, lurah Sumberejo yang menjabat pada tahun 1963-1985. Sastro Sudiyono dalam merintis kesenian Desa Sumberejo, selain bakat yang dimilikinya, tentu ia juga mampu menyatukan Sumberejo dengan semangat gotong royong warganya.

Maka tak heran jika di Sumberejo banyak diadakan acara kesenian, klonengan atau karawitan, serta mengadakan wayang orang, ketoprak, dan drama. Sebab, kemauan, inisiatif, dan ruh semangat untuk aktif berpartisipasi itu sendiri merupakan seni dalam kehidupan bermasyarakat.

Sastro Sudiyono yang menjabat pada masa-masa geger peristiwa G30S/PKI itu, juga membentuk kesebelasan sepakbola yang diperkuat dari tiga desa sekaligus. Olahraga sangat maju, diantaranya sepakbola, tenis meja, bulu tangkis dan bola voli.

Selain menjadi nilai budaya yang kuat, sikap gotong royong itu juga telah membantu membentuk sejarah Sumberejo dan bagaimana hal itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Berkat sikap gotong royong pula, upaya mempersatukan keberagaman atau multikultural di Sumberejo dapat terjalin dengan kuat.

Ada beberapa, apakah itu semangat, prinsip, atau nilai budaya gotong royong yang telah diperkenalkan untuk menjadi dasar dari cara hidup Sumberejo. Dengan gotong royong, masyarakat Sumberejo dapat menikmati hidup rukun di antara multi-budaya dan beragam latar belakang warganya.

Gotong Royong adalah Ruh

Dalam gotong royong, masyarakat didorong untuk memiliki semangat saling membantu, sehingga setiap orang dapat mengoptimalkan kemampuannya untuk mengembangkan diri dan kehidupan sosialnya. Dengan cara pandang seperti ini, semangat kerja gotong royong menjadi bahan utama solidaritas sosial, kemanusiaan dan persatuan.

Gotong royong merupakan warisan yang tidak dapat dipisahkan dari setiap bangsa. Kebudayaan membentuk suatu ciri khas yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lainnya. Gotong royong merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia yang banyak mengandung nilai-nilai positif.

Oleh karena itu, selain menjadi semangat warga negara Indonesia untuk kebersamaan, gotong royong juga merupakan nilai budaya. Sebagai nilai budaya, telah melekat sangat dalam pada masyarakat Indonesia dan memiliki variasi peruntukannya.

Dengan segala varian di atas, gotong royong menjadi nilai luhur yang diagungkan bagi hubungan antar-manusia karena mengedepankan kebersamaan, toleransi, kepedulian, dan rasa hormat yang tinggi terhadap sesama. Hal ini terutama bermanfaat ketika memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang dapat memengaruhi identitas Sumberejo.

Gotong royong sebagai nilai budaya yang luhur, harus tetap dan terus menjadi bagian dari kehidupan yang menjunjung tinggi kemanusiaan karena di dalam gotong royong setiap pekerjaan dilakukan secara bersama-sama tanpa memandang posisi dan status seseorang, di mana keterlibatan kerja dipandang sebagai suatu proses yang harus dilakukan sesuai dengan harapan kerja kelompok.

Sebagai nilai budaya, gotong royong menekankan pentingnya kerja keras bersama, dengan menunjukkan kepedulian satu sama lain sebagai cara untuk mendukung kolektivisme, kolaborasi dan kerjasama..

Oleh karena itu, ia tidak dapat dipisahkan dari aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia karena secara tradisional, sebagian besar masyarakat Indonesia sangat bergantung pada tetangga dan keluarga.

Gotong royong di Sumberejo dapat dipahami sebagai bukti kepedulian yang terus tumbuh dan berkembang untuk hidup terus menerus dalam solidaritas kemanusiaan karena berfungsi membangun dan menanamkan rasa solidaritas dan kesetaraan antar-manusia.

Solidaritas sosial gotong royong itu lah yang kemudian berdampak signifikan terhadap proses pembangunan di sejumlah sektor di Sumberejo.

Gotong royong merupakan bentuk partisipasi aktif dari setiap individu untuk terlibat dalam memberikan nilai tambah atau nilai positif pada setiap objek, masalah atau kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Partisipasi aktif dapat berupa dukungan material, finansial, fisik, mental, spiritual, keterampilan, pemikiran atau nasihat yang membangun.

Partisipasi aktif dalam proses gotong royong muncul dari rasa kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang berarti. Gotong royong hanya dapat terjadi jika orang-orangnya tulus terlibat dalam berbagai kegiatan yang diadakan di komunitasnya.

Sumberejo kerap menjadi rujukan dan tak jarang tamu antar-daerah berdatangan untuk pelbagai kegiatan. Maka dari itu, beberapa warga desa kompak untuk terlibat menghiasi Desa Sumberjo, membuat tonil-tonil, membuat gambar untuk pentas, dan aktif di perlombaan seni lainnya.

Gotong Royong sebagai Integrasi Sosial

Gotong royong juga merupakan bentuk integrasi sosial yang banyak dipengaruhi oleh rasa kebersamaan antar-warga yang dilakukan secara sukarela. Gotong royong yang mempraktikkan hidup sukarela dengan membantu seluruh anggota masyarakat sesuai dengan batas kemampuannya merupakan salah satu cara untuk menunjukkan keterpaduan dan kepedulian masyarakat terhadap masyarakat terdekatnya.

Sikap melakukan bakti sosial yang terintegrasi dengan tindakan sukarela individu ini pernah digalakkan Sastro Sudiyono, yang saat itu belum ada dana desa. Maka dalam rangka memenuhi pembangunan Sumberejo yang optimal, ia menarik iuran warga, terutama yang dianggap mampu, untuk menghidupkan kas desa dan memajukan Sumberejo.

Tanpa kebersamaan, tidak ada gotong royong. Dalam gotong royong, kebersamaan harus dilandasi aksi sosial dan solidaritas sosial. Dengan kebersamaan dalam gotong royong maka semuanya akan bersinergi untuk mencapai misi yang telah disepakati, oleh karena itu merupakan strategi dalam pola hidup bersama.

Dalam iuran itu dapat menggambarkan usaha, amal, kerja bersama, perjuangan membantu tanpa paksaan dan kerja keras untuk kemaslahatan, kebaikan dan kebahagiaan semua pihak yang terlibat yang bertujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan dari kepentingan bersama.

Gotong Royong di Medan Perang Bendogantungan

Bukti sejarah mengatakan sejak masa lampau gotong royong yang dilakukan bangsa Indonesia terdapat dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Ikrar yang menyatakan Indonesia sebagai bangsa yang bersatu padu dalam bahasa dan tanah air, sebenarnya adalah janji dari bangsa Indonesia untuk selalu kompak dan saling tolong menolong berdasarkan prinsip gotong royong, tanpa membedakan agama, suku, ras, dan latar belakang lainnya.

Sejarah juga mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dicapai dengan gotong royong seluruh rakyat Indonesia (Pranowo, 2010) dengan mengorbankan nyawanya dengan gotong royong mengusir penjajah (Widadi, 2012). Hal ini dilakukan untuk mewujudkan impian komunal untuk merdeka (Soepandji, 2013) dari penjajah.

Sumberejo juga mengandung semangat gotong royong, melalui Bendogantungan, diceritakan sebagai tempat pertempuran sengit Tentara Pelajar dengan tentara Belanda. Pertempuran berlangsung pada rentang waktu bulan Juli 1949. Beberapa tokoh Tentara Pelajar Klaten gugur, di antaranya Saudara Sunadi.

Tidak hanya di Bendogantungan, peristiwa pertempuran sengit juga terjadi di Mudal Gunungan dengan gugurnya Saudara Soedibyo, sampai dengan dipatuhinya Perintah Gencatan Senjata dari Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, pada tanggal 3 Agustus 1949.

Setiap pertempuran di atas telah membuktikan kepada dunia bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia bukan sembarang pernyataan, melainkan pernyataan yang didukung oleh solidaritas sosial yang kuat, yang diwujudkan dalam nilai budaya gotong royong.

Gotong royong telah dipersepsikan oleh para pemimpin Desa Sumberejo dan tokoh-tokoh lainnya di Sumberejo. Mereka memberikan sumbangsih yang lebih jelas tentang apa itu gotong royong bagi masyarakat desa, sehingga lebih mudah dipahami dan dipraktikkan oleh generasi mendatang.

Gotong royong tidak hanya merupakan semangat kebersamaan untuk kerukunan sosial Sumberejo, tetapi juga merupakan nilai budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada sesama.

Saling pengertian yang baik setiap warga desa untuk mencapai persatuan dalam keragaman multi-budaya Sumberejo tidak dapat terjadi secara harmonis, jika warga desa tidak mengetahui secara jelas konsep dan sejarah gotong royong.

Melalui sikap-sikap yang gotong royong yang telah diejawantahkan para pemimpin dan warga desa, mudah-mudahan generasi penerus Desa Sumberejo selalu dapat menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan.

Bahan Bacaan

Simarmata, N., Kwartarini, W., Bagus, R. Bhina, P. (2020). Gotong Royong in Indonesian History. Proceeding of The 10th International Conference of Indigenous and Cultural Psychology 2019. Digital Press Social Sciences and Humanities 5.