Pasar Tradisional, Pusat Niaga serta Wisata Budaya

Pasar Gede Solo, pusat perdagangan pertama di Kota Solo sejak masa kolonial. PEMKOT SOLO

Pasar tradisional merupakan bagian dari aktivitas perkotaan. Dalam masyarakat Jawa, pasar tradisional tidak sekadar tempat jual beli, tetapi juga sebagai tempat interaksi sosial budaya serta kegiatan rekreasi.

Pasar tradisional berada di area tertentu yang terkadang jika kita jumpai, terdapat pasar dengan atau tanpa bangunan tempat kegiatan jual beli berlangsung. Di pasar tradisional, penjual dan pembeli bertemu di tempat yang telah ditentukan dan untuk jangka waktu tertentu dengan interval tertentu.

Tak hanya itu, pasar juga melibatkan pertukaran barang dan jasa yang kemudian tumbuh dan berkembang di dalam kota.

Tidak dapat dimungkiri bahwa perkembangan pasar tradisional erat kaitannya dengan kegiatan ekonomi yang juga mendorong perkembangan kota. Pasar tradisional juga berkontribusi terhadap pertumbuhan fasilitas perbelanjaan.

Selain itu, yang menjadi ciri khas pasar tradisional, adalah dapat memupuk hubungan persahabatan antara penjual dan pembeli.

Keberadaan pasar tradisional sangat terkait dengan keberadaan aset sosial, termasuk norma, kepercayaan, dan sistem tawar-menawar yang dapat memperkuat jaringan dan loyalitas pembeli pasar tradisional.

Namun sayangnya, sebagai daya tarik wisata budaya di Kota Solo, berbagai aktivitas yang ada di pasar tradisional belum teridentifikasi secara jelas, pun dengan penataan ruangnya. Selain itu, peran pasar tradisional dalam perkembangan Kota Surakarta sebagai Kota Wisata Budaya masih tampak samar.

Pasar tradisional kerap dianggap memiliki kesan kotor, becek, tidak tertata dengan baik, keamanan yang kurang, petugas yang kurang sopan dalam memberikan pelayanan, atau kurangnya informasi mengenai kualitas barang dagangan.

Pandangan negatif tersebut mempengaruhi operasional, pengembangan, dan keberlanjutan pasar tradisional. Oleh karena itu, revitalisasi pasar tradisional perlu dilakukan agar tetap kompetitif.

Identitas dan penataan ruang merupakan aspek fundamental dalam pengembangan pasar tradisional di perkotaan, khususnya Surakarta. Saat ini terdapat 44 pasar tradisional di Surakarta dan 28 di antaranya telah direvitalisasi.

Di Surakarta, belum ada perencanaan yang komprehensif untuk menjawab permasalahan yang dihadapi pasar tradisional dalam rangka penataan ruang berbasis branding pariwisata Indonesia yaitu Wonderful Indonesia.

Padahal, Surakarta menempati lima besar tempat sebagai destinasi wisata budaya paling terkenal di Indonesia. Penataan ruang pasar tradisional yang komprehensif dapat dilakukan berdasarkan kajian mengenai ruang pasar tradisional dalam konstelasi perkotaan.

Penataan Ruang Pasar Tradisional

Secara makro, pasar tradisional merupakan bagian dari struktur dasar khas kota-kota Jawa dan terletak di kawasan pusat kerajaan yang disebut Negaragung (pusat kota yang bersifat keramat) atau dalem (pusat). Sedangkan bagian kerajaan yang terletak di pinggiran disebut mancanagara.

Pasar tradisional terletak di antara keraton (istana Jawa), alun-alun (alun-alun kota dalam bahasa Jawa) dan masjid. Pasar-pasar ini berperan penting dalam meningkatkan sistem kerja, pola pikir, dan kualitas produksi.

Keraton terletak di selatan alun-alun, masjid di barat alun-alun, pasar di timur laut alun-alun. Komponen utama sebuah kota di kerajaan Mataram Islam adalah benteng dan jagang, cepuri dan baluwarti, masjid alun-alun keraton. Tata ruang pasar tradisional tidak hanya mengacu pada makna fisik dalam struktur ruang primer kota, tetapi juga pada fungsi politik sebagai elemen pengendali mobilitas sosial.

Masyarakat tradisional yang tinggal di suatu lokasi tertentu secara turun temurun memiliki pengetahuan praktis untuk dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Kearifan lokal telah ada sejak zaman prasejarah hingga saat ini. Ini berkembang menjadi budaya. Secara umum, budaya lokal diartikan sebagai budaya di suatu wilayah tertentu, berdasarkan kelompok etnis yang tinggal di sana.

Keberadaan Pasar Tradisional di Konstelasi Surakarta

Pasar tradisional tertua di Surakarta adalah Pasar Gede yang dibangun pada tahun 1930, sebagai pusat perekonomian pada masa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pasar terbesar adalah Pasar Notoharjo (17,276 m2) yang dibangun pada tahun 2006, sebagai tempat relokasi pedagang informal yang dulunya menempati kawasan Banjarsari. Sementara itu, Pasar Klewer memiliki jumlah kios terbanyak (2.069 kios).

Konsep kota wisata yang diterapkan oleh pemerintah Surakarta didasarkan pada Solo Spirit of Java. Penataan ruang pasar tradisional digunakan untuk mengoptimalkan fungsi ekonomi pasar tradisional.

Hasil aspek fisik penataan ruang pasar tradisional di Surakarta dapat diketahui bahwa unsur-unsur ekonomi, pembentukan Central Business District (CBD), pola pergerakan dan pengaruh lingkungan sekitar telah ada pada pasar tradisional yang direvitalisasi selama kurun waktu 2000-2012.

Penataan ruang pasar tradisional merupakan komponen yang memajukan proses pengembangan ruang kota menuju kota wisata budaya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penataan ruang pasar tradisional berfungsi sebagai katalis perkotaan menuju kota wisata budaya.

Selain itu, penataan ruang pasar tradisional berfungsi sebagai upaya untuk mendongkrak image branding Surakarta sebagai kota wisata budaya, baik secara fisik maupun non-fisik.

Pasar tradisional di Surakarta didominasi oleh keberadaan Pasar Gede, yang tidak hanya berfungsi sebagai pasar tradisional tertua, tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi dan budaya. Dapat dikemukakan bahwa secara fisik dan non-fisik, penataan ruang pasar tradisional memiliki peran sebagai katalis perkotaan menuju terwujudnya kota wisata budaya.

Dengan kata lain, penataan ruang pasar tradisional dapat dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan citra dan branding Kota Surakarta baik secara fisik maupun non-fisik.

Bahan Bacaan

Adrisijanti, I. (2000). Arkeologi perkotaan Mataram Islam (1st ed.). Yogyakarta, DI Yogyakarta, Indonesia: Penerbit Jendela.

Aliyah I, dkk. (2017). Spatial Planning of Traditional Markets as Cultural Tourist Spots in Surakarta. Pertanika Journal 25:11-20. Universiti Putra Malaysia Press.

Andriani, M. N., & Ali, M. M. (2013). Kajian Eksistensi Pasar Tradisional Kota Surakarta. Jurnal Teknik PWK versitas Diponegoro, 2(2), 252-269.

Jano, P. (2006). Public and private roles in promoting small farmers’ access to traditional markets. Buenos Aires: IAMA.

Pamardhi, R. U. (1997). Planning for traditional Javanese markets in the Yogyakarta region. University of Sydney.