Literasi Digital untuk Cegah Perundungan Siber

Kementerian Kominfo harus memiliki strategi komprehensif dari hulu hingga ke hilir untuk mencegah perundungan daring. KOMINFO

Tentu kita tak asing lagi dengan istilah bullying, di mana seseorang menyakiti orang lain dengan ucapan maupun tindakannya. Fenomena bullying sering ditemui di mana-mana, seperti di lingkungan sekolah, lingkungan kerja, dan lain-lain. Namun, dengan kemajuan teknologi bullying dilakukan di media sosial dan perilaku tersebut dikenal dengan cyberbullying.

Cyberbullying sendiri merupakan bentuk perundungan yang dilakukan secara online baik melalui pesan teks, gambar, maupun jejaring sosial. Menurut Nurjanah (2014), cyberbullying adalah perilaku agresif, intens, berulang yang dilakukan oleh individu dan perorangan dengan menggunakan bentuk-bentuk pemanfaatan teknologi dan elektronik sebagai media untuk menyerang orang tertentu.

Hasil riset Polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengatakan ada sekitar 49 persen netizen yang pernah menjadi sasaran bullying di media sosial. Salah satu jenis cyberbullying yang marak di Indonesia adalah jenis flaming (amarah).

Flaming merupakan tindakan seseorang dengan mengirimkan pesan teks atau komentar di platform media sosial yang berisikan kata-kata frontal dan penuh amarah yang menyinggung orang lain. Hal ini sering kita jumpai di media sosial, di mana seseorang menghina atau menjatuhkan orang lain dengan bahasa yang kasar. Tak berhenti di situ, fenomena flaming ini banyak berpengaruh negatif bagi korban. Sama halnya dengan perundungan berbasis online lainnya, flaming memiliki daya kuat untuk menyakiti korban.

Sering kali flaming merupakan hasil ketika ada perbedaan pendapat yang memanas tentang suatu topik, dan itu telah berubah menjadi pertengkaran kekanak-kanakan. Hal ini bisa ditemukan ketika ada perdebatan atau diskusi dengan topik hangat yang tengah terjadi, misalnya pemilihan presiden, atau hal apapun yang berbasis politik dan agama.

Ketika seseorang bertentangan dengan pendapat orang lain, ia bisa saja menjatuhkan dengan berbagai kalimat hujatan maupun hinaan melalui sosial media. Kalimat-kalimat yang dilontarkan biasanya frontal dan menjatuhkan orang lain. Perbedaan-perbedaan tersebut salah satu pemicu munculnya fenomena flaming.

Media sosial menjadi pilihan utama bagi flamer untuk melakukan aksinya dalam melontarkan kalimat-kalimat frontal berbasis negatif. Hal ini dikarenakan, sebagian besar seseorang menggunakan akun anonim maupun akun palsu untuk menyerang orang lain. Identitas asli para flamer dapat terlindungi dan mereka bebas melancarkan aksinya.

Tak berhenti di situ saja, media sosial memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat milenial saat ini sehingga sangat berdampak bagi korban. Dampak flaming tergolong dahsyat dan kejam karena mampu merusak mental psikologis seseorang. Flaming di media sosial meninggalkan jejak digital seperti tulisan, video dan foto.

Etika Bermedia Sosial

Maraknya flaming saat ini membuktikan kurangnya etika bermedia sosial di kalangan masyarakat. Budaya dan norma yang berlaku di Indonesia seakan tak dihiraukan. Padahal, flaming yang tergolong dari cyberbullying terdapat dalam undang-undang hukum pidana dan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Sehingga tindakan-tindakan tersebut termasuk pelanggaran hukum dan dapat dikenai sanksi yang berlaku. Namun, tetap saja hal tersebut masih ada hingga saat ini bahkan semakin marak di media sosial.

Sedangkan dampak dari flaming ini lebih buruk ketimbang perundungan biasa. Hal ini dikarenakan flaming di media sosial meninggalkan jejak digital dengan jangkauan luas. Orang yang tidak kenal pun bisa saja ikut berkomentar dan terbawa melakukan flaming pada korban. Komentar atau postingan negatif memang dapat membuat orang lain ikut-ikutan.

Pelaku flaming akan semakin banyak dan korban bisa saja merasa tersudutkan akan hal itu. Sering kali kita melihat trending topic di media sosial memang terkait dengan isu-isu sensitif. Dengan isu-isu sensitif tersebut pasti banyak ditemukan komentar atau postingan yang berapi-api dan menimbulkan provokasi. Tak dapat dipungkiri berbagai serangan berbasis digital yang menyudutkan orang lain bisa disebut dengan provokasi dan pelakunya pun disebut dengan provokator.

Dengan adanya fenomena flaming, saat ini banyak korban yang psikis atau mentalnya terganggu. Tak jarang juga banyak yang menarik diri dari media sosial karena tidak kuatnya menghadapi cacian dan hinaan. Hal ini jelas memiliki dampak negatif yang besar, mengingat seharusnya semua orang memiliki hak bermedia sosial dengan tenang.

Semakin kesini, banyak orang yang seakan apatis dengan orang lain, sehingga dengan mudah mereka melontarkan kalimat-kalimat cacian dan hinaan. Sudah jelas, fenomena ini tidak baik, merugikan, menyudutkan, dan berdampak negatif bagi korban.

Komentar-komentar negatif menjadi hal yang biasa di tengah pesatnya informasi saat ini. Jagad media sosial menjadi tidak ramah dan etika berkomunikasi menjadi liar. Padahal, penggunaan media sosial seharusnya mempermudah kehidupan bagi penggunanya.

Namun, fakta di lapangan memang tak selalu beriringan dengan tujuan awal. Media sosial yang merupakan ruang publik menjadi ruang yang ditakutkan bagi korban flaming, bahkan menimbulkan trauma tersendiri. Dahsyatnya dampak dari flaming ini nyata, sehingga perlu diwaspadai saat ini.

Perlu menjadi kesadaran bersama untuk bijak dalam bermedia sosial. Etika dalam bermedia sosial harus diperhatikan, norma-norma yang ada tak seharusnya ditinggalkan di tengah gempuran informasi dan kemajuan teknologi saat ini. Semua yang dilakukan di media sosial bisa terekam dalam dunia digital.

Hal ini perlu diwaspadai, komentar maupun postingan negatif akan berakibat fatal, entah saat ini atau suatu saat nanti. Seharusnya, dengan kemajuan teknologi saat ini menjadikan masyarakat menjadi sadar dan cerdas dalam bermedia sosial. Bijak dalam menyikapi dan menyebarkan informasi di media sosial menjadi kunci penting dalam menghindari fenomena flaming.

Penulis: Anisa Yuliana

*) Mahasiswa Jurusan llmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta