Kahuman, Desa Tertua di Indonesia Simpan Berbagai Bukti Sejarah

klatenkab.go.id.

Sejak abad ke-7 di Jawa Tengah banyak berdiri pemerintah kerajaan Hindu-Budha. Menurut naskah prasasti Canggah tahun 732, kerajaan Hindu pertama ada di Medang Kamulan, Jateng, yang dipimpin oleh Raja Sanjaya. Dibawah pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, ia membangun Candi Roro Jonggrang atau Candi Prambanan. Sedangkan kerajaan Budha meninggalkan bukti sejarah berupa candi-candi seperti Candi Borobudur, Candi Kalasan, dan Candi Sewu.

Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah tahun 2021 terdapat 191 cagar budaya yang telah dilestarikan. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 menjelaskan yang termasuk cagar budaya yaitu warisan budaya yang bersifat kebendaan berupa benda, bangunan, struktur, situs, maupun kawasan yang perlu dilestarikan dan mempunyai nilai penting sejarah serta ilmu pengetahuan.

Kabupaten Klaten merupakan salah satu daerah saksi bisu sejarah. Banyak peninggalan pengaruh Hindu-Budha yang dapat kita temui di daerah ini. Hasil inventarisasi ada 132 situs yang terdata di wilayah Klaten, salah satunya ada di Desa Kahuman.

Kahuman, desa yang ada sejak IX Masehi ini acap kali dikenal oleh warga sekitar dengan nama ‘Ngupit’. Meskipun tanpa administrasi, nama desa ini telah melegenda sejak lama. Pasalnya, yang disebut daerah Ngupit adalah Desa Kahuman dan Desa Ngawen. Kata ‘Ngupit’ sendiri diambil dari Prasasti Upit peninggalan zaman Medang setelah kerajaan Mataram Kuno.

Berdasarkan sumber literatur Jurnal Berkala Arkeolog, Prasasti Yupit ditemukan dua kali. Pertama, ditemukan pada tahun 1989 di Dusun Sogetan dengan tinggi 72 cm. Kemudian prasasti kembali ditemukan di Dusun Sorowaden pada 1991 yang memiliki ukuran lebih tinggi yakni 85 cm.

Kedua prasasti itu ditemukan dengan keadaan rusak, tapi ukiran aksara yang ada masih terlihat jelas. Dalam tubuh keduanya terdapat tulisan Kawi bahasa Jawa Kuno yang bermakna sama yakni Yupit sebagai Sima.

Pada umumnya, prasasti ada untuk penetapan tanah sebagai Sima atau daerah pardikan yang kelola tanahnya dipegang oleh rakyat tanpa dipungut pajak. Selain itu prasasti juga sebagai anugerah dari raja yang telah berjasa kepada kerajaan atau sebagai anugerah raja untuk kepentingan suatu bangunan suci .

Sebagai salah satu cagar budaya bergerak, yakni saksi sejarah yang masih bisa dipindahkan, BPCB Jawa Tengah menyimpan prasasti ini sejak tahun 1980-an. Namun, kita dapat temui replikanya di belakang kantor Desa Kahuman. Prasasti ini menunjukkan bahwa Desa Ngupit (Kahuman, Ngawen) sudah ada selama 1.155 tahun dan menjadi desa tertua di Indonesia.

 

Masjid Sorowaden dengan Arsitektur Kuno

Pada abad 16 setelah runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, sejak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Selain Prasasti Upit sebagai salah satu bukti sejarah. Menurut beberapa sesepuh Desa Kahuman, di daerah ini juga ditemukan beberapa bukti sejarah lain seperti batu-batu candi dan masjid.

Data Kemendagri pada Juni 2021, 86,88% penduduk di Indonesia beragama Islam. Peradaban Islam di Indonesia juga dapat ditemukan di desa Kahuman. Kahuman yang ada sejak zaman Mataram Islam ini konon diambil dari kata ‘kaum’ diartikan bahwa di dalamnya banyak masyarakat yang mulai mengenal Islam.

Mulanya, Kahuman merupakan kawasan Hindu-Budha. Namun, dilihat dari pendiri desa yang konon disebutkan Kiai Sorowadi salah satu pengikut Ki Ageng Gribig. Desa Kahuman kemudian diartikan sebagai kampungnya orang-orang kaum muslimin. Bukti sejarah lainnya juga dapat dilihat dari adanya makam Kiai Sorowadi di dekat masjid.

Kahuman menyimpan bukti lain berupa bangunan masjid. Lokasinya tidak jauh dari tempat ditemukannya Prasasti Upit, terdapat Masjid Sorowaden. Masjid dengan gaya arsitektur kono ini usianya diperkirakan tidak terpaut jauh dengan usia Desa Ngupit.

Di dalam masjid dapat kita temui ornamen-ornamen kuno yang membuat masjid ini masih terlihat asli, meskipun ada beberapa bagian yang sudah direnovasi. Masjid dengan atap limasan ini lebih mirip seperti rumah-rumah orang Jawa zaman dahulu. Terdapat empat pilar dari kayu jati sebagai penyangga di dalam masjid.

Selain itu, bagian pelataran masjid yang merupakan bangunan tambahan dari Masjid Sorowaden ini juga dihiasi oleh tiang-tiang yang ukurannya lebih kecil dari penyangga utama. Bagian depan masjid juga terdapat sumur tua dan katrol untuk mengambil air wudhu para jamaah.

Keberadaan Masjid Sorowaden ini menunjukkan bahwa ajaran agama Islam telah lama hadir di Klaten. Selain masjid, di dekat penemuan Prasasti Upit juga banyak ditemukan batu-batu berbentuk candi yang menjadi pelengkap saksi bisu berdirinya sebuah kerajaan di Kabupaten Ngawen. Beberapa di antaranya adalah batu candi berundak empat dan beberapa lainnya juga ditemukan tak jauh dari letak Masjid Sorowaden.

Sumber:

Potret Cagar Budaya di Indonesia. (2020). Tangerang Selatan: Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Laporan Kinerja BPCB Jawa Tengah Tahun 2021, 18 Juli 2022, https://bpcbjateng.id/page/laporan-kinerja.

Sejarah Provinsi Jawa Tengah, 18 Juli 2022, https://jatengprov.go.id/sejarah/.

Supraptiningsih. 1994. Tinjauan Ulang Prasasti Yupit. Berkala Arkeolog, Volume 14 No. 2, 1994, 203-206.

Wawancara dengan Cak Ipink, pemerhati sejarah Desa Kahuman, Ngawen Klaten pada 4 Juni 2022 Pukul 11.00 WIB.