Eksplorasi Gerak Tari Gedong Songo Bersama FSST Klaten dan BPCB Jateng

Dokumentasi BPCB Jateng/ Wahyu Kristanto

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah bersama Forum Silaturahmi Sanggar Tari (FSST) Klaten mengadakan eksplorasi Candi Gedong Songo pada Rabu, 29 Juni 2022. Program ini merupakan lanjutan dari program BPCB Mengajar yang diadakan oleh BPCB Jawa Tengah dalam rangka menyosialisasikan sekaligus mengajak masyarakat untuk mengenali, mencintai dan melestarikan cagar budaya berupa benda.

Berangkat dari Klaten kurang lebih pukul 07.00, dengan menempuh perjalanan 3,5 jam tim FSST Klaten beserta perwakilan BPCB Jateng sampai di halaman parkir candi Gedong Songo. Setelah beristirahat sejenak, rombongan kemudian diajak Wahyu Kristanto dan Ngatno, selaku perwakilan BPCB Jawa Tengah, berkeliling ke setiap gedong.

Selama dalam perjalanan, pengunjung dimanjakan dengan jajaran pegunungan indah di Jawa Tengah. Selama dalam perjalanan, yang pada hari itu tampak cerah, selain bisa menikmati suasana alam yang luar biasa indah dengan berbagai pemandangan puncak puncak gunung di sekitarnya – Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, Andong, Telomoyo dan tentu gunung Ungaran juga tampak puncak dari gunung Lawu yang berada jauh di Kabupaten Karanganyar, Pemandu dan pendamping juga menceritakan banyak hal tentang Gedong Songo mulai dari sejarah penemuan, penamaan, proses pemugaran dan pembangunannya, sampai dengan berbagai mitologi yang tersebar terkait Gedong Songo.

Ngatno menuturkan sejarah Gedong Songo yang disarikan dari berbagai sumber, Candi ini ditemukan secara bertahap. Pertama kali ditemukan oleh Loten pada 1740. Kemudian seorang bangsawan Belanda Thomas Stamford Raffles, menemukan tujuh buah candi pada tahun 1804 dan ia menyebutnya sebagai Gedong Pitu. Pada 1908, V Stein Callenfels dan tim secara intensif melakukan penelitian lebih lanjut dan berhasil menemukan dua bangunan lain.

Tahun 1928, candi ini mulai dilakukan pemugaran dan penataan kembali yang dimulai dari Candi atau Gedong Satu oleh Pemerintah Hindia Belanda. Secara berturut-turut, tahun 1930 dilakukan pemugaran candi dua, kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah Indonesia pada kurun 1977-1983 untuk candi empat dan candi lima. Sedangkan candi tiga merupakan merupakan satu-satunya candi yang belum dilakukan pemugaran sampai saat ini karena bangunannya masih kokoh. Pada 2009, dilakukan pemugaran dan penataan kembali secara total mulai candi satu sampai candi lima oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.

Gedong Songo merupakan candi peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra kisaran tahun 927 M. Hal ini berarti bahwa Gedong Songo dibangun dalam waktu yang hampir semasa dengan Candi Borobudur pada zaman Mataram kuno.

Nama Gedong Songo sendiri secara harfiah berasal dari bahasa Jawa yang bisa diartikan, Gedong merupakan bangunan candi dan Songo berarti Sembilan. Jadi diperkirakan jumlah candi ini kemungkinan berjumlah sembilan berdasarkan dari berbagai bukti yang ditemukan. Meskipun yang saat ini terlihat dan dibuka untuk wisatawan umum baru lima candi. Namun, tidak menutup kemungkinan jumlah candi ini lebih dari sembilan.

Makna lain, angka songo juga merupakan jumlah dari sumber nafsu yang ada pada manusia, yang oleh masyarakat Jawa sering diistilahkan dengan babahan hawa songo (sembilan lubang pada indra manusia sebagai sumber nafsu). Sembilan lubang tersebut adalah dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, satu lubang pada kelamin dan satu lubang pada dubur.

Secara filosofis untuk menuju kesempurnaan serta terbebas dari belenggu nafsu menuju Nirvana (surga), maka manusia harus bisa mengendalikan dan menaklukkan sembilan sumber nafsu tersebut (nutupi babahan hawa songo).

“Tafsir lain dari nama Gedong Songo yang juga beredar di masyarakat bermakna Dong Kosong Dong Ono (kadang kosong atau sepi, kadang ada atau ramai). Hal ini didasari pada suasana yang sering dirasakan oleh masarakat baik dari sisi pengunjung atau dari sisi mistis – terutama pada malam hari atau hari tertentu seperti Jumat Legi dan Minggu Kliwon,” jelas Ngatno.

Candi yang terletak di Dusun Darum, Semarang ini berada di ketinggian 1.200 hingga 1.400 Mdpl di atas lereng Gunung Ungaran, tentunya memiliki suhu yang sangat sejuk cenderung dingin.

Keberadaan candi yang letaknya di lereng Gunung Ungaran ini selain sebagai simbolisas tapakan untuk mencapai nirvana, juga terkait dengan kepercayaan masyarakat Jawa sebelum masuknya agama Shiwa (Hindu) dan Budha bahwa Gunung merupakan salah satu tempat tertinggi bersemayamnya para roh suci dan roh nenek moyang mereka pada waktu itu.

Dari hal tersebut, tidak mengherankan jika pada candi yang tergolong awal mula perkembangan Hindu ini juga terdapat beberapa gambaran akulturasi budaya antara kepercayaan masyarakat Jawa pra Hindu dengan ajaran Hindu. Seperti tergambar pada Parswadewata, yaitu persembahan kepada roh nenek moyang yang bersatu dengan Siwa, pada candi disimbolkan dengan Lingga-Yoni yang dikawal oleh tiga dewa Durga, Ganesha, dan Agastya.

Selain berbagai hal menarik yang dijabarkan diawal, hal menarik lainnya adalah posisi candi yang diyakini menggambarkan petunjuk arah angin. Namun, ada juga yang meyakini, posisi candi menggambarkan prosesi keagamaan yang dilakukan dari candi paling bawah hingga paling atas.

Mitos dan Legenda Candi Gedong Songo

Sebagaimana umumnya bangunan peninggalan “kuno”, Gedong Songo juga tidak lepas dari berbagai mitologi. Diantara mitologi yang beredar di masyarakat adalah adanya kaitan dengan cerira pewayangan antara Hanoman dan Dasamuka alias Rahwana ketika hendak menyelamatkan Dewi Sinta dari cengkeramannya.

Gunung Ungaran dipercaya juga sebagai tempat Hanoman mengubur hidup-hidup sang Dasamuka dalam perang besar memperebutkan Dewi Sinta. Sebelum merebut Dewi Sinta kembali, terjadi perang besar antara Dasamuka dengan bala tentara raksasanya melawan Rama yang dibantu pasukan kera pimpinan Hanoman. Cerita ini dikaitkan dengan keberadaan arca berwujud Kera di atas Candi Gedong Tiga dan juga di atas kawah air panas.

Bahkan, ada juga misteri yang tersembunyi di balik cerita tentang Gedong Songo yang mengaitkan bahwa Gunung Ungaran dan Candi Gedong Songo sebagai salah satu tempat Ratu Sima bersemedi.

Begitu sampai di Gedong Siji, setelah memberikan penjelasan terkait cerita dan ritual kulo nuwun oleh Ngatno, selaku kuncen Gedong Songo, tim dari seniman Klaten ini segera melakukan eksplorasi gerak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para pemandu. Eksplorasi tari yang dihasilkan berupa tarian sakral dan menggambarkan sifat-sifat angin sebagai unsur yang terdapat di Gedong Satu. Tarian ini juga menggambarkan bahwa segala sesuatu harus dimulai dengan sakral, sungguh-sungguh dan kulo nuwun (permisi) pada yang punya tempat.

Perjalanan dilanjut ke Gedong Dua dan Gedong Tiga. Pada Candi Dua banyak terdapat perwujudan makhluk-makhluk kahyangan yang diantaranya adalah patung perempuan bermahkota dengan posisi semedi ditengah segitiga yang merupakan simbol perjalanan menuju nirvana. Sedangkan di tangan kanan perempuan tersebut memakai gelang yang disebut Prabamandala pada lengan kanannya.

“Prabamandala merupakan lambang kesucian, yang tersirat bahwa mahkota seorang perempuan dalam mencapai kesempurnaan nirvana terletak pada bagaimana perempuan tersebut senantiasa menjaga kesuciannya,” tambah Ngatno.

Setelah dari Candi Dua menuju Candi Tiga, tim diajak mengunjungi Sumber Wening yang diyakini air pada sumber ini mengandung banyak unsur baik untuk kulit. Tim juga diajak menengok dua goa yang di istilahkan dengan Goa Lanang dan Goa Wadon.

Dokumentasi BPCB Jateng/ Wahyu Kristanto

Sesampai di Candi Tiga, setelah rehat dan menikmati keindahan jajaran gunung yang terlihat jelas, Ngatno dan Arif kembali menceritakan tentang berbagai hal tentang Candi Tiga yang kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi gerak tari oleh tim FSST Klaten. Dikarenakan pertimbangan waktu dan tenaga, eksplorasi tari sementara baru berhenti di Candi Tiga. Tim pun sebagian melanjutkan eksplorasi cerita pada Candi Empat dan candi Lima, sedangkan sebagian lain kembali ke wisma basecamp.

Sekitar pukul 15.00 tim FSST Klaten kemudian berpamitan kembali ke Klaten, untuk kemudian merumuskan gerakan-gerakan tari yang dirangkumkan dari hasil eksplorasi Gedong Songo.

Add Comment