BUMDes Ponggok Maksimalkan Potensi Wisata untuk Kemandirian Masyarakat

Umbul panggok merupakan salah satu destinasi wisata di Desa Panggok. Ponggok.desa.id

Desa Ponggok yang terletak di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten merupakan salah satu desa yang dijadikan sampel keberhasilan karena telah mampu mengubah posisi desa dari yang dulunya merupakan desa tertinggal, kemudian berubah menjadi desa maju. Penghasilan desa ini yang hanya Rp. 80 juta per tahun menempatkannya menjadi salah satu desa termiskin. Ditambah lagi disebut sebagai desa tertinggal dari segi pembangunan infrastruktur

Semenjak Junaedhi Mulyono menjabat sebagai Kepala Desa tahun 2006, desa ini mengawali perubahan dengan melakukan pengembangan potensi desa. Usaha dalam pengembangan Desa Ponggok dimulai dengan mengajukan permintaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) supaya meneliti masalah dan menemukan potensi desa. Kegiatan ini kemudian menjadi permulaan perkembangan Desa Ponggok yang diarahkan menuju kemandirian ekonomi.

Adanya keterbatasan pemerintah Desa Ponggok kemudian membuat Pemdes memerlukan gagasan dan kerjasama dengan para stakeholder yang ada di Kabupaten Klaten. Strategi pengelolaan potensi desa kemudian mulai dijalankan oleh pemerintah desa dengan pembentukan BUMDes Tirta Mandiri, yang didasarkan pada Peraturan Desa Ponggok No 6 Tahun 2009.

Dengan memaksimalkan pengelolaan potensi wisata Umbul Ponggok, dan potensi desa lainnya, yang kemudian dikembangkan seperti minapolitan dan mengembangkan UMKM yang secara langsung berdampak positif atas penghasilan desa.

Strategi bisa dikatakan berhasil karena dapat membawa Desa Ponggok sebagai desa percontohan dengan penerapan BUMDes terbaik di Indonesia yang mampu menghasilkan 10,3 miliar tahun 2016 dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Pada 24 Agustus 2017, Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan berkunjung ke Desa Ponggok dan bangga dengan keberhasilan Pemerintah Desa Ponggok dalam mengelola dana desa. Terhitung mulai tahun 2015, Desa Ponggok mendapatkan dana desa dan sudah melaksanakan berbagai pembangunan demi memajukan desa, seperti pembangunan infrastruktur, pembangunan lingkungan yang baik, pengadaan air bersih dan meningkatkan mutu sumber daya manusia.

Sri Mulyani mengatakan dapat kita lihat bagaimana Desa Ponggok mampu membangun dirinya. Membuat usaha untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat dibawah kepemimpinan Bapak Junaedhi adalah prestasi yang luar biasa membanggakan. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada seluruh pihak yang sudah mendukung sampai akhirnya desa ini sampai pada posisi ini.

Desa Panggok ini sudah tiga tahun menerima dana desa dari pemerintah. Desa ini dapat dijadikan contoh desa yang berhasil mengelola dan menerapkan dana desa dengan amat baik. Kalau semua desa di Indonesia dapat seperti ini, tentu tidak ada kemiskinan. Ketidakseimbangan juga akan semakin sedikit sehingga semua lapisan masyarakat bisa merasakan pertumbuhan ekonomi.

Berikutnya Sri Mulyani menyampaikan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) sedang membuat perincian jumlah dana desa yang disalurkan ke tiap desa. Melalui perincian nanti desa yang sudah mandiri diberikan lebih sedikit bantuan dari desa yang belum mandiri, agar mereka mampu menyusul ketertinggalannya.

Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Badan Perencanaan Nasional (Bappenas), dan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes) akan melakukan penilaian dana desa supaya dana ini mampu dimanfaatkan sesuai dengan yang sudah ditetapkan untuk memperbaiki kemiskinan dan ketidakseimbangan maka bisa terwujudnya keadilan sosial terhadap seluruh rakyat Indonesia.

“Terakhir, keberhasilan pembangunan adalah keberhasilan bersama, pemerintah di bawah Jokowi-JK, akan melakukan daya dan instrumen dalam mewujudkan kesejahteraan. Andai rakyat bersama bekerja secara baik dan damai, saya yakin Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera dapat dicapai,” ujar Mulyani.

Peran BUMDes dalam Meningkatkan Penghasilan Masyarakat Desa

Jumat 8 April 2021, Komisi A DPRD Jawa Tengah juga melakukan kunjungan ke Desa Ponggok Kabupaten Klaten untuk meninjau perkembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Muhammad Saleh mengatakan Desa Ponggok ini dikagumi di tingkat nasional tentang pengelolaan BUMDes.

Dia menambahkan dengan acara ini dapat memberikan satu wacana dan satu masukan serta menginspirasi temen-temen Anggota DPRD di dapilnya masing-masing. Desa Ponggok ini sebagai percontohan dalam pengelolaan BUMDes yang baik di Jawa Tengah dan Tingkat Nasional.

Tim dari Komisi A DPRD Jawa Tengah sudah pernah mengunjungi Desa Pujon Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur dan Tebing Breksi di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami menemukan di kedua tempat itu terinspirasi dari Desa Ponggok.

Saleh mengatakan akibat pandemi covid-19 terhadap BUMDes Ponggok. Saleh mengatakan akibat pandemi covid-19 terhadap BUMDes Ponggok mengalami penurunan pendapatan ditandai dengan sebagian tempat yang terasa seperti di Tebing Breksi pada 2019 bisa menghasilkan PAD Rp. 1,2 miliar tetapi sewaktu pandemi ini cuman dapat Rp. 400 juta. Penurunan pendapatan juga terjadi di Desa Pujon, ketika belum ada pandemi penghasilannya tinggi.

“Kami juga sadar sebagian tempat seperti dapil saya Pemalang sudah mati. Sebab lagi bersemangat dalam pengelolaan wisata, datang pandemi langsung keteter. Waktu itu tidak ada perawatan akibat pemasukan pengunjung yang tidak ada,” tutur Saleh.

Junaedhi Mulyono selaku Kepala Desa Ponggok mengatakan waktu memulai pembangunan desa dilakukan dahulu penggalian potensi dan masalah yang ada di Desa. Dalam hal pengelolaan Desa yang paling utama yaitu penggalian dan perencanaan maka dapat ditemui permasalahan yang ada di Desa. Misal tingkat kemiskinan dan permasalahan lainnya dimuat ke profil dan monografi Desa.

Dia menambahkan dimana ada kawasan kumuh, kemiskinan letaknya dimana saja, UMKM ada dimana dan seluruh itu harus digambarkan. Alhamdulilah, sekarang Ponggok ini sudah memakai digital dan kami membuat aplikasi Desa Pintar. Oleh karena itu, big data atau One Map Policy pembangunannya bisa dari Desa.

Saat ini seluruh Desa beramai-ramai membentuk BUMDes. Sebab, dana Desa dari Kementerian Desa juga mengarah dalam membuat BUMDes. Akan tetapi, kebanyakan belum tahu tujuan membuat BUMDes itu. BUMDes berkecimpung di bidang apa , fokus usahanya kemana, makanya mereka jadi meniru-niru.

Junaedhi mengatakan penghasilan BUMDes yang terdiri dari 11 unit usaha menyentuh angka Rp. 16,2 miliar kotor sebelum pandemi. Akan tetapi, sewaktu pandemi turun drastis ke angka Rp. 5,1 miliar. Terlebih banyak pengurangan aset, menilik setnya dikelola di bidang wisata air.

“Hampir 40 persen kemarin fasilitas kami hancur tambah Junaedhi. Penyebab minusnya BUMDes kemarin itu karena terkendala beberapa barang akibat rusak. Sekarang Alhamdulillah sudah mulai memulih dan secara perlahan bidang penghasilan sudah mengalami peningkatan ke normal lagi sebab pembatasan sudah mulai dibuka,” tambah Judaedhi.

Bahan Bacaan

Ferni Enggraini (2020). ‘Peran Kelembagaan Pemerintah Desa dalam Memajukan Desa Ponggok-Polanharjo, Klaten’. Jurnal Kemendagri. https://jurnal.kemendagri.go.id/index.php/mp/article/view/693/425. Diakses pada 27 Juli 2022.

DPRD Jawa Tengah. ‘Dipantau, Perkembangan BUMDes Ponggok Klaten selama Pandemi’.

https://dprd.jatengprov.go.id/2022/04/08/dipantau-perkembangan-bumdes-ponggok-klaten-selama-pandemi/. Diakses pada 26 Juli 2022.

Website Kementerian Keuangan. ‘Desa Ponggok, Bukti Keberhasilan Dana Desa’.

https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/desa-ponggok-bukti-keberhasilan-dana-desa/. Diakses pada 26 Juli 2022.