Tapak Tilas Perjalanan Mistik Sunan Perwoto di Blanceran

Tempat Petilasan Sunan Perwoto. DOKUMEN PRIBADI

Petilasan merupakan istilah yang diambil dari bahasa Jawa dengan kata dasar “Teles” atau bekas yang merujuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau ditempati oleh seorang tokoh. Tokoh yang dimaksudkan bisa saja seperti tokoh penyebar agama, raja, dan tokoh-tokoh besar lainya.

Petilasan biasanya menjadi suatu tempat tujuan untuk melakukan ziarah dan melangsungkan upacara adat oleh masyarakat sekitar atau diwariskan. Tidak hanya itu, bahkan juga mewariskan tutur cerita turun-temurun kepada masyarakat. Membicarakan terkait dengan petilasan di Desa Blanceran terdapat Petilasan Sunan Prawoto, keberadaan petilasan tersebut lebih tepatnya di Dukuh Butuh, Desa Blanceran, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.

Dari adanya petilasan tersebut kini menurunkan tutur cerita kepada masyarakat tentang kisah perjalanan mistik Sunan Prawoto di daerah tersebut. Sunan Perwoto selalu disebut-sebut oleh masyarakat sekitar Dukuh Butuh, Desa Blanceran terkait dengan adanya petilasan yang berada di salah satu makam kawak di daerah tersebut.

Menurut masyarakat sekitar dipercaya bahwa petilasan tersebut pernah dijadikan tempat istirahat dari perjalanan seorang Sunan Prawoto. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman dan sudah menurunkan banyak generasi maka kisah turun-temurun tentang petilasan tersebut hampir punah dan banyak masyarakat yang kurang mengetahui kisah secara kronologisnya. Akan tetapi, kepercayaan tentang petilasan Sunan Prawoto tersebut masih melekat hingga saat ini.

Jika dirunut dari namanya ‘Sunan Prawoto’ merujuk pada pemimpin kerajaan Demak ke empat yaitu Sunan Prawoto atau yang memiliki nama lahir Raden Mukmin. Makamnya terletak di perbatasan Pati dengan Kudus yakni tepat di Kecamatan Sukolilo.

Rujukan atau keterkaitan tersebut berdasar pada cerita masyarakat sekitar yang mempercayai bahwa Petilasan Sunan Perwoto tersebut merupakan tokoh dari Sebrang Lor atau Demak, maka tokoh yang dimaksud merujuk kepada pemimpin Kerajaan Demak yang keempat.

Sunan Prawoto atau Raden Mukmin tersebut memerintah sejak 1546-1547. Naskah babad dan serat menyebut Raden Mukmin sebagai putra sulung raja Demak Trenggana. Sunan Prawoto lahir saat ayahandanya masih muda dan belum menjadi raja.

Secara keahlian, sebenarnya Sunan Prawoto tidak ahli dalam bidang politik, akan tetapi cenderung ke dalam bidang keagamaan. Maka dari itu, masa kekuasaan beliau tidak lama di Demak. Pada masa kekuasaanya, daerah bawahan Demak seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik berkembang bebas tanpa mampu di halanginya.

Menurut Babad Tanah Jawi, ia tewas dibunuh oleh Rungkut, orang suruhan dari Arya Penangsang. Setelah kematiannya, Arya Penangsang menggantikannya menjadi Raja Demak lalu memindahkan pusat pemerintahan ke Jipang.

Di masa inilah dikenal dengan istilah Demak Jipang. Disinilah bukti kelemahan di bidang politiknya, sebab dalam berkiprah beliau cenderung menggunakan pendekatan keagamaan. Kiprahnya semasa menjadi pemimpin Demak Bintara tahun 1546-1947 Sunan Prawoto yang kala itu memimpin dengan kekuatan spiritual keagamaan dan tidak kuat dengan keahlian politik maka segala kebijakan yang diturunkan tidak terlepas dari tuntutan sosial keagamaan.

Perjalanan mistis dan dakwah Sunan Prawoto tidak hanya meliputi wilayah Demak saja. Melainkan kala itu juga sering melakukan perjalanan-perjalanan. Dimungkinkan Petilasan Sunan Prawoto yang berada di Desa Blanceran tersebut menjadi saksi perjalanan beliau ketika melakukan perjalanan mistis atau dakwahnya.

Latar belakang daerah yang subur dan terdapat sumber mata air yang kini menjadi Sumur Kawak dimungkinkan oleh masyarakat bahwa Sunan Prawoto sempat beristirahat di Gedong Dukuh Butuh, Desa Blanceran. Terdapat bangunan semi kuno dan seperti makam yang ditutupi kain mori di lokasi tersebut. Hingga saat ini, lokasi tersebut masih dirawat oleh masyarakat dan disebut sebagai Petilasan.

Perjalanan yang berkelanjutan dari Demak, Pati, Alas Mentaok, dan kembali ke Pati lagi untuk menetap di Desa Prawoto Pati. Sunan Perwoto meninggalkan banyak jejak, misalnya petilasan yang ada di Desa Blanceran tersebut.

Petilasan Sunan Prawoto yang kini dianggap sebagai tempat keramat tersebut, masih sering dilakukan ziarah oleh orang tertentu baik dari Desa Blanceran sendiri maupun dari luar Desa Blanceran. Mereka mempercayai bahwa tempat tersebut memberkahi sehingga banyak yang berdatangan, baik hanya untuk berziarah atau bertirakat.

Sebab orang Jawa masih kental dengan warisan leluhurnya yang berupa bertirakat. Tirakat bisa diartikan banyak hal, misalnya datang di suatu tempat untuk berdiam diri, meditasi dan lain sebagainya. Selain itu, dapat diartikan juga sebagai bentuk prihatin seperti puasa, menjalani laku, atau ‘nglakoni’ dan lain sebagainya. Biasanya tirakat tersebut dilakukan oleh orang yang sedang memiliki hajat seperti kekayaan, jabatan, ujian, dan ilmu kebatinan.

Dari sisi lain dengan adanya bentuk kepercayaan dan keyakinan tirakat di tempat yang dianggap mistis tersebut sebenarnya dapat diambil nilai logisnya. Misalnya Petilasan Sunan Prawoto ini, datang untuk berziarah untuk mendoakan beliau, merenungi, dan mengingat kiprah beliau yang kala itu pernah menjadi pemimpin kerajaan dengan latar belakang ilmu agama yang kuat.

Akhirnya, dapat dijadikan motivasi dan contoh bagi kita untuk dapat diterapkan kepada diri kita selayaknya menjadi seorang pemimpin di keluarga maupun menjabat di pemerintahan. Disitulah sebenarnya makna dari tirakat secara logisnya walaupun dari sisi mistis dan kepercayaan orang Jawa masih terdapat banyak macam arti dan tradisi tirakat tersebut.

Selain itu, tempat tersebut menjadi saksi bahwa pernah ada tokoh agama dan tokoh besar kala itu yang pernah bersinggah dan beristirahat. Dengan demikian pasti ada sedikit atau banyak pengaruh positif terhadap lingkungan sekitar.

Bahan Bacaan:

Abimanyu, Soetjipto. 2013. Babad Tanah Jawi. Jogjakarta: Laksana.

Mudjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-Raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.

Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS

Narasumber:

Abu Bakar (Warga Desa Blanceran)

Suwarno (Sesepuh Desa Blanceran)

Suhardi (Warga Desa Blanceran)