Pertanian Terpadu lewat BUMDes Sumberejo Klaten

Hasil Panen Pertanian Modern di Klaten Tertinggi di Dunia. KLATENKAB

Sebagai lumbung pangan potensial di Jawa Tengah, Kabupaten Klaten memiliki hamparan persawahan sekitar 30.900 hektar dengan produksi sedikitnya 480.023 ton gabah kering giling pada 2021. Sebelumnya, pada tahun 2020, produksi berasnya 267.000 ton beras. Sedangkan kebutuhan konsumsinya 126.000 ton beras. Ada surplus beras 141.000 ton. Dengan kondisi seperti ini, Pemerintah Kabupaten Klaten menolak impor beras masuk Klaten.

Kekuatan produksi beras Kabupaten Klaten didukung tanah yang subur dengan produksi beras yang melimpah. Capaian ini haruslah didukung segenap pemerintah yang berkepentingan menjadikan Kabupaten Klaten mempertahankan potensinya sebagai lumbung pangan Jawa Tengah maupun nasional. Dengan demikian, setiap pembangunan dan arah kebijakan politik perlu menyadari lahan pertanian yang ada di Kabupaten Klaten.

Namun pada kenyataanya, orientasi pembangunan dan arah kebijakan politik yang seringkali menekankan pada pertumbuhan ekonomi kapitalistik dengan mengabaikan pemerataan kesejahteraan. Tidak hanya itu, seringkali pembangunan yang dilakukan mengorbankan ketersediaan lahan pertanian pangan. Hal ini membuat lahan pertanian pangan semakin terbatas.

Kondisi tersebut, apabila pemangku kepentingan tidak mempedulikan tentu akan mengancam ketahanan pangan. Lebih dari itu, lahan yang semula subur ditanami berbagai macam jenis pertanian agraris terancam akibat pembangunan yang tidak memperhatikan keberlanjutan kehidupan masyarakat sektor pertanian.

Alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Klaten yang masih terjadi hingga saat ini tanpa adanya pengendalian akan berimplikasi buruk terhadap kesejahteraan para petani yang notabene bekerja mengandalkan sektor pertanian. Alih fungsi penggunaan tanah dari lahan pertanian menjadi non pertanian di Kabupaten Klaten terjadi cukup masif.

Data BPS menunjukkan bahwa dalam waktu 5 tahun dari tahun 2010 (33.412 Ha) dan tahun 2015 (33.220 Ha) telah terjadi perubahan penggunaan lahan sawah sebesar 192 Ha (Kabupaten Klaten dalam angka Tahun 2010 & 2015).

Kondisi ini terus terjadi setiap tahun mengingat pembangunan kawasan industri di Kabupaten ini semakin meluas. Kondisi ini juga didukung lokasi strategis Kabupaten Klaten dengan aksesibilitas keberadaan jalan penghubung dua kota besar Yogyakarta-Surakarta. Gambaran ini cukup untuk menjadi incaran bagus para investor menanamkan modal pembangunan di Kabupaten Klaten.

Pengembangan sektor industri yang terus terjadi di Kabupaten Klaten seperti itu akan menimbulkan efek domino. Konservasi lahan pertanian dijadikan sebagai pemenuhan kebutuhan pendukung seperti pertokoan, jasa, rumah makan, dan sebagainya. Lahan pertanian semakin terdesak, pembangunan berbagai infrastruktur tidak dibarengi dengan kesadaran kebutuhan pertanian.

Diperlukan kesadaran masyarakat betapa pentingnya cadangan pangan terutama di saat-saat kondisi yang tidak menentu seperti sekarang. Kabupaten Klaten diuntungkan dengan pencapaian yang sudah dilakukan. Dengan berbagai permasalahan yang terus mengancam sektor pangan perlu membangun kesadaran masyarakat dan didukung arah kebijakan pemerintah.

Menyesuaikan Potensi Lahan Pertanian terhadap Tata Ruang

Tidak ada yang salah dengan pembangunan industri. Hal ini juga diperlukan setiap daerah menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan zaman. Namun, setiap pembangunan juga perlu kesadaran mengenai ketahanan pangan. Perkembangan industri yang pasti juga dipengaruhi kebutuhan masyarakat perlu dikelola dengan bijak.

Rencana tata ruang, merupakan rencana letak dari berbagai macam peruntukan tanah yang direncanakan dalam rangka memenuhi kebutuhan wilayah. Memang, keinginan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak sekali peruntukan yang harus ‘dibangun’ di atas tanah. Dan tentunya tidaklah mungkin semua jenis peruntukan tanah tidak dapat terakomodasi semuanya dalam rencana tata ruang.

Oleh karena itu, luas lokasi tanah pertanian yang ada saat ini jika memang diperuntukan untuk dibangun untuk kebutuhan industri perlu disesuaikan dengan peruntukannya. Harus disesuaikan prioritas mana yang mendesak dan benar-benar dibutuhkan.

Adanya peruntukan tertentu seperti tanah pertanian produktif sebagai lumbung beras Provinsi Jawa Tengah serta peruntukannya Taman Nasional Gunung Merapi, Kawasan rawan Bencana Alam Geologi dan adanya peruntukan Cagar Budaya yang tidak boleh dialihgunakan menyebabkan rencana tata ruang juga perlu dikaji lebih menyeluruh.

Belum lagi pembangunan jalan tol Jogja-Solo yang pastinya akan memerlukan lahan yang diambil dari lahan pertanian. Rencana tata ruang menjadi acuan dalam merumuskan, menentukan, mengendalikan penggunaan dan pemanfaatan ruang. Jangan sampai setiap alih fungsi lahan yang dijadikan peruntukan pembangunan menyebabkan ketahanan pangan di daerah tersebut terancam.

Setidaknya dengan adanya rencana tata ruang dapat disesuaikan dengan penggunaan tanah saat ini yang persentasenya berimbang. Rencana tata ruang Kabupaten Klaten yang semakin berkembang setiap tahunnya memang masih dapat dimaklumi karena kebutuhan akan infrastruktur untuk berbagai kepentingan.

Namun, hal itu juga tidak menutup upaya dalam mempertahankan ketahanan pangan melalui lumbung pangan di Kabupaten Klaten yang didukung luas lokasi lahan pertanian pangan yang ada saat ini. Mengingat sebagian besar Kecamatan di Kabupaten Klaten memiliki kondisi tanah yang subur, memiliki sistem irigasi teknis yang baik serta produktivitas padi yang dihasilkan sangatlah tinggi.

Pertanian Terpadu lewat BUMdes Sumberejo

Swasembada pangan menjadi program pembangunan pertanian yang strategis karena memiliki dampak luas. Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup, mutu bahan pangan yang baik, serta nilai gizi yang tinggi memiliki dampak luas pada perekonomian dan mutu sumber daya manusia.

Pertanian terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan. Dengan pertanian terpadu diharapkan dapat sebagai salah satu solusi alternatif bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan & konservasi lingkungan serta pengembangan desa secara terpadu.

Selain itu, kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang petani berupa pangan, sandang, dan papan akan tercukupi dengan sistem pertanian berbasis pertanian terpadu. Tidak hanya itu, pertanian dan perikanan diharapkan mampu mencukupi kehidupan jangka pendek, sedangkan hasil peternakan dan perkebunan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan jangka menengah.

Penjualan hasil kebun dan hasil hutan rakyat sekarang dipercaya mampu mencukupi kebutuhan membayar biaya sekolah, rumah sakit, hajatan sunatan, mantenan dan kebutuhan jangka panjang lain. Dengan demikian, sistem pertanian terpadu mampu memberikan pendapatan harian, bulanan, tahunan maupun dekade-an bagi petani.

Desa Sumberejo yang terletak di sebelah kota Klaten bagian selatan posisi wilayah masuk Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Desa yang pada tahun 2017 lalu telah meresmikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pertanian terpadu yang dikelola oleh Kelompok Tani Sedyo Mukti ini memiliki beberapa keunggulan di bidang perikanan, peternakan (kambing/kelinci) dan sektor pertanian meliputi sayur serta buah-buahan.

Dengan potensi alam yang dimiliki Desa Sumberejo mempunyai keunggulan penguatan ekonomi masyarakat dengan ditopang dari dana Ekolir (ekonomi bergulir) hingga ratusan juta rupiah. Untuk itu, Desa Sumberejo semakin meyakinkan langkah menuju desa Agro Wisata.

Masyarakat desa ini sejak beberapa tahun kebelakang sudah mulai menggeluti penanaman padi sawah dengan memanfaatkan lahan sekitar 4 ha yang berada di desa tersebut yaitu di sekitar lahan BUMDes. Pada tahun 2017 lalu Desa Sumberejo mulai sudah merasakan panen raya dan di tahun tersebut diproyeksikan sebagai satu di antara desa yang memiliki potensi besar di bidang pertanian tanaman pangan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten setelah pengelolaan lahan dilakukan pihak BUMdes.

Pada tahun yang sama, untuk pengelolaan lahan sawah pemerintah desa juga turut memberikan bantuan untuk peningkatan lahan yang bersumber dari APBDesa (dana desa). Oleh karena itu Pemerintah Desa Sumberejo mengambil langkah sigap dengan menjadikan sektor pertanian tanaman pangan ini fokus utama sebagai andalan dari desa setempat.

Saya sendiri sebagai masyarakat pada umumnya dan Kepala Desa Sumberejo akan mengajak pemerintah provinsi, kabupaten, hingga kecamatan, untuk tetap membangun sinergitas yang baik dalam mengembangkan potensi tanaman pangan. Bahkan juga mengajak masyarakat agar memanfaatkan petak sawah yang ada untuk dikembangkan dan diurus dengan benar.

Keberhasilan BUMDes dalam mengelola pertanian yang ada di Sumberejo saya optimistis dengan ketahanan pangan warga Sumberejo. Selain mampu memenuhi kebutuhan beras untuk warga di dalam desa, saya pun yakin melalui tanaman pangan ini dapat meningkatkan penguatan ekonomi masyarakat desa sendiri sehingga nantinya mampu menjadi satu di antara desa yang melakukan swasembada pangan.

Dengan demikian, kebutuhan dan ketersediaan tanaman pangan ini di Klaten Selatan tetap stabil. Tentu saja, pengelolaan pertanian terpadu BUMDes diikuti dengan kesadaran masyarakat akan potensi dan ketahanan pangan di Sumberejo. Dalam rangka peningkatan pendapatan petani, selain teknologi budidaya juga perlu diterapkan teknologi pascapanen. Tentu saja semuanya tidak berarti bila harga gabah tidak kondusif. Karena itu, petani tidak menginginkan adanya impor pada saat-saat ini karena kenyataannya stok terus terisi. Impor bagi petani merupakan ancaman, karena jerih payahnya habis begitu saja ketiga harga jatuh.

Bahan Bacaan

Slamet Muryono dan Westi Utami. 2020. Pemetaan Potensi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Guna Mendukung Ketahanan Pangan. BHUMI: Jurnal Agraria dan Pertanahan.

Swasembada Pangan Suatu Keharusan. https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=2496

Add Comment