Latar Belakang Dunia Muram Kafka

Google Books

Judul buku : The Trial (Proses)

Pengarang : Franz Kafka

Penerjemah : Sigit Susanto

Penerbit terjemahan : Gramedia Pustaka

Tahun terbit terjemahan : 2016 Cetakan pertama

Tebal buku : 251 halaman

 

 

Tujuh bulan sudah kita menghadapi masa pandemi. Semenjak itu pula kita tak bisa lepas dari berita kenaikan kasus corona yang membanjiri media sosial. Di awal pandemi, kegiatan kerumunan sempat ditiadakan atau ditangguhkan, kini mulai disesuaikan dan media digital menjadi piranti kita yang vital. Selama terkurung di rumah, muncul banyak ide, hobi, kegiatan baru untuk menjaga kewarasan. Diskusi daring bersama dokter, konsultasi ke psikiater, kembali bercocok tanam, bersepeda, balap lari, membaca buku, dll.

Membaca buku adalah cara saya menggunakan waktu di sela-sela perkuliahan online dan kegiatan organisasi. Terutama buku sastra, khususnya cerpen, saya memilih cerpen karena bisa dibaca sekali duduk, bukan tulisan panjang ratusan halaman yang kadang butuh konsistensi lebih untuk membacanya. Bagi saya, membaca sastra dapat menghibur diri, melihat realitas orang di belahan dunia lain, ekspresi dan imajinasi seseorang, yang tak pernah terungkap atau muncul di pemberitaan media massa.

Ada sastrawan yang membikin saya tak pernah berhenti penasaran. Adalah Franz Kafka (1883–1924), novelis abad 20 dari Praha yang memberikan corak unik di setiap karyanya. Karya Kafka mencirikan aliran modernisme, surealisme, dan ekspresionisme. Kafka juga merupakan lambang absurditas. Tokoh-tokoh Kafka adalah tokoh-tokoh yang memburu masalah, dipenuhi petualangan yang mengkhawatirkan dan kita pembacanya disarankan untuk tidak melakukan pemihakan.

Cukup hanya dengan menyaksikan bagaimana para tokoh itu, yang ketakutan dan gigih, alih-alih menghindari masalah, malam memburu masalah-masalah dan menganggap masalah-masalah yang ditemukannya dan menimpa dirinya, sebagai hal yang wajar. Maka cara terbaik menafsirkannya adalah dengan spontanitas yang begitu saja, dengan tidak membangkit-bangkitkannya, masuk ke dalam karya tanpa rencana dan tidak mencari alur-alurnya yang tersembunyi.

Cerita itu digambarkan pada novel The Trial (Proses) dan beberapa cerpennya yang telah saya baca. Dari semua itu saya dapat menyimpulkan karya Kafka selalu bertemakan keterasingan, ketakutan, kebingungan. Kita tak perlu mempertanyakan mengapa tokoh utama, Joseph K, dijemput petugas pengadilan tanpa tuduhan. Atau bagaimana K, tanpa alamat, mencari-cari pengadilan, agar mengetahui undang-undang apa yang menyebut kesalahannya. Sehingga setiap membaca karya Kafka ialah menjemukan yang kita dapatkan. Tumpukan permasalahan di karya Karya dihadirkan tidak untuk dimengerti.

Lain hal lagi yang membuat saya terus mengulik Kafka, Kafka kerap menerapkan inisial di tokoh-tokohnya. Tentamennya untuk membakar karyanya dianggap kalau Kafka bukanlah pribadi yang percaya diri. Bahkan Kafka sempat memusnahkan karyanya sendiri. Seluruh karya Kafka yang dapat kita baca hari ini ialah bersumber dari catatan harian dan imajinernya, di balik produktivitas Kafka dalam menulis, ketakutannya, serta permintaan untuk memusnahkan tulisannya, lalu sebenarnya karya Kafka untuk siapa?

Alih-alih membaca karya Kafka yang akan membawa kita pada persoalan rumit, kita justru lebih tertarik untuk memahami kepribadian atau diri Kafka. Apa yang melatarbelakangi Kafka hingga menggambarkan semua kepribadiannya, kecenderungan hidupnya, pandangannya, kegelisahannya, kecanggungannya, kesepiannya, kecemasannya, detail-detail kecil dari kesehariannya, seakan tercermin kuat, atau terwujudkan secara khas dalam karya-karyanya.

Marcel Reich-Ranicki, kritikus sastra kelas wahid di Jerman, berpendapat; “Karya Kafka adalah penggambaran sebuah perlawanan dengan rasa takut; takut akan penghinaan dan ketidak mandirian, takut akan siksaan dan kekejaman, takut akan Ayahnya dan keluarganya, takut akan kelemahan dan impoten, takut karena tidak memiliki tanah air dan perkumpulan, takut akan nasib bangsa Yahudi, takut akan kematian dan juga kehidupan.” Bagi saya, novel Proses menumbuhkan sifat empati kepada pembaca. Sifat empati diperlukan untuk duduk bersama saling memahami keberagaman peran manusia.

Novel Proses ini ditulis dengan paragraf yang padat, penuh aforisme, serta banyak dialog dengan penuh muatan psikologis, berliku dan penuh tanda tanya. Namun, cerita Kafka sangat bertautan dan relevan mencerminkan kondisi modern seperti saat ini. Dalam proses mencari kebenaran, kita justru dihadirkan pada situasi labirin, penuh lorong-lorong. Sehingga untuk menjangkaunya, semakin menjauh dari kebenaran sejati. Hukum dan keadilan semakin sulit diakses. Manusia bahkan menjadi terasing dan terisolir. Apa yang dianggap normal dan rasional telah membangun sebuah kekuasaan yang jauh dari kehidupan: kedap dan tak transparan.

Surakarta, 4 Oktober 2020