Desa Blanceran: Sejarah Merger Dua Desa Menjadi Satu

Kantor Desa Jatiwiro Sebelum Merger. DOKUMEN PRIBADI

Penggabungan dua instansi atau lebih digabungkan menjadi satu instansi saja disebut merger. Dalam konteks bahasan pada tulisan ini merger yang dimaksud merujuk pada penggabungan antara dua pemerintahan desa menjadi satu pemerintahan desa.

Namun, sebelum masuk pada inti pembahasan tentang penggabungan dua desa, kita perlu menarik benang merah tentang pengertian desa dahulu. Membicarakan tentang desa, dalam sejarah perkembangan manusia desa dipandang sebagai organisasi yang pertama sebelum lahirnya organisasi kekuasaan yang lebih besar misalnya kerajaan, kekaisaran, maupun negara-negara modern sekarang ini.

Membicarakan desa sekurang-kurangnya terdapat dua pengertian. Pertama adalah pengertian tentang sosiologis, yang menggambarkan suatu bentuk kesatuan masyarakat atau komunitas penduduk yang bertempat tinggal dalam suatu lingkungan dimana mereka saling mengenal dengan baik dan memiliki corak kehidupan yang reality homogeny serta banyak bergantung pada alam (local wisdom). Dalam hal ini, desa diasosiasikan dengan kehidupan yang masih menggantungkan kepada alam.

Dalam pengertian ini, Sebenarnya menggambarkan masyarakat desa masih menerapkan hidup sederhana yang pada umumnya hidup dari pertanian, ikatan sosial, adat, dan tradisi yang kuat. Sedangkan pengertian yang kedua adalah desa sebagai suatu organisasi pemerintahan atau organisasi kekuasaan yang secara politis memiliki wewenang tertentu karena merupakan bagian dari pemerintahan pusat di suatu negara.

Sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum, maka desa memiliki wewenang dalam lingkungan wilayahnya untuk mengatur dan memutuskan sesuatu untuk kepentingan masyarakat hukum yang bersangkutan. Berangkat dari pengertian tersebut, maka dalam tulisan ini dapat menggambarkan sejarah merger dan berdirinya Desa Blanceran. Secara geografis dan administratif, Desa Blanceran merupakan salah satu dari 401 Desa di Kabupaten Klaten dan memiliki luas wilayah 165,2865 Ha.

Secara topografis terletak pada ketinggian 154,53 meter diatas permukaan air laut. Posisi Desa Blanceran yang terletak pada bagian utara Kabupaten Klaten sisi Utara berbatasan langsung dengan Desa Glagahwangi, Polanharjo; Sisi selatan Desa Meger, Ceper; Sisi barat Desa Kunden, Karanganom; dan sisi timur Desa Klepu, Ceper.

Pada mulanya Desa Blanceran merupakan wilayah Kasunanan Surakarta, karena Kabupaten Klaten masih masuk Kadipaten Surakarta Hadiningrat kala itu. Menurut cerita yang masih turun temurun dan berkembang di masyarakat bahwa kata Blanceran memiliki dua kata yang dapat diartikan yakni ‘Blater’ dan ‘Moncer’.

‘Blater’ artinya ramah dan mudah bergaul, sedangkan ‘Moncer’ artinya berpakaian rapi dan necis. Saat ini tutur asal usul penamaan desa masih diwariskan kepada masyarakat. Sehingga memiliki arti kumpulan orang-orang yang ramah, mudah bergaul, serta berpenampilan menarik.

Desa Blanceran awalnya terdiri dari dua pemerintahan desa yang disatukan pada tahun 1944. Dua pemerintahan yang disatukan tersebut ialah Desa Jatiwiro dan Desa Blanceran.

Sebelum Proses Merger Desa Blanceran

Pada masa Revolusi, sekitar tahun 1944-1950 an Desa Blanceran dilakukan penggabungan antara Desa Jatiwiro dengan Desa Blanceran. Sebelum dilakukan penggabungan tersebut Desa Jatiwiro terdiri dari Dukuh Jatiwiro, Wates, Butuh, dan Delanggon pada masa itu dipimpin oleh lurah yang bernama Wongso Niti dan sekretaris desa Sulendro.

Sedangkan Desa Blanceran yang terdiri dari Dukuh Petung, Blantjiran, dan Gemamol. Kala itu dipimpin oleh lurah yang bernama Wiro Redjo dan sekretaris desa yang bernama Sastro Siswoyo. Dua desa tersebut saling berseberangan jalan.

Desa Jatiwiro ada di selatan jalan dan Desa Blanceran berada di utara jalan. Di Desa Blanceran kala itu juga pernah dipimpin oleh lurah yang bernama Sopo Kuwi yang menjabat sebelum merger dilakukan. Kedua desa tersebut hanya dipisahkan oleh jalan raya Karanganom.

Proses Merger Desa Blanceran

Pada tahun 1948 pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948 yang berisi tentang pembagian daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. Dengan mengacu undang-undang tersebut dimungkinkan sekitar tahun 1944-1950 an dilakukan merger atau penggabungan antara Desa Blanceran dengan Desa Jatiwiro.

Dahulu lokasi kantor Desa Blanceran berada di Dukuh Petung, sedangkan lokasi kantor Desa Jatiwiro berada di sebelah utara kantor desa yang saat ini, tepat di pinggir jalan raya. Bangunan kantor Desa Jatiwiro masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Latar belakang dilakukan merger Desa Blanceran tersebut merupakan satu ide ketika pemilihan kepala desa yang hampir bersamaan di kedua Desa tersebut dan diusulkan untuk dijadikan satu. Kala itu pada akhir masa jabatan lurah sopo kuwi di Desa Blanceran dan lurah wongso niti di Desa Jatiwiro.

Walaupun lokasi kantornya bertempat di Jatiwiro, nama kelurahan di sepakati Desa Blanceran dengan dasar untuk proses persatuan. Sehingga menyatukan Desa Blanceran dengan Desa Jatiwiro sampai saat ini..

Setelah itu kesepakatan kedua desa didukung dari pemerintah kecamatan dan kabupaten Klaten. Merger Desa Blanceran dilakukan dalam tahun tersebut. Pemilihan kepala desa kemudian dilakukan dengan pertama kali dimenangkan oleh Wiryo Sumitro. Kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh Dwijo Martono.

Pada tahun 1952 dilakukan pemilihan kepala desa dengan calon yaitu Raden Gito Wiryono dari Desa Jatiwiro melawan Abdul Subali dari Blanceran. Ada satu cerita keunikan di sini tentang proses pemilihan dan peristiwa pasca pemilihan.

Pemilihan kepala desa pasca kemerdekaan yang seharusnya sudah menggunakan konsep pemilihan tertutup melalui kartu suara, akan tetapi pada pemilihan ini masih menerapkan metode pemungutan suara dilaksanakan dengan menggunakan lidi yang diberi tanda khusus yang dibuat dari bambu yang diletakkan didalam bilik tertutup.

Jumlah bumbung dengan simbol disesuaikan dengan jumlah calon yang ada. Pada masing-masing bumbung ditandai dengan simbol berupa hasil bumi atau palawija, misalnya padi, jagung, kedelai, dan seterusnya.

Kemudian pasca pilkades ada peristiwa yang menarik dari calon yang bernama Abdul Subali selama masa kampanye selalu bersemboyan “aku kalah, aku ora muleh ora bali”. Lantas setelah Raden Gito Wiryono dinyatakan menang, maka Abdul Subali menjalani apa yang sudah dikatakan olehnya yakni pergi ke luar kota hingga saat ini tidak kembali.

Kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh Raden Gito Wiryono. Beliau merupakan seorang Raden dari trah Kasunanan yang kemudian menjadi lurah di Desa Blanceran. Masa jabatan Raden Gito Wiryono, terbilang paling lama dibandingkan lurah-lurah yang lainnya. Pada masa jabatanya mampu menyatukan dukuh utara jalan dengan selatan jalan. Semasanya menjabat beliau mendiami rumah yang satu pekarangan dengan kantor Desa.

Begitulah sedikit warisan dalam bentuk cerita yang diturunkan oleh masyarakat mulai dari kalangan sesepuh tentang berdirinya Desa Blanceran yang mulanya berangkat dari dua desa yang di merger. Sangat menarik proses merger yang dilakukan oleh yang terdahulu, mulai dari pengambilan filosofi nama yang digunakan maupun makna persatuan yang diwariskan kepada anak cucunya.

Sekarang Desa Blanceran terdiri dari tujuh dukuh diantaranya Blanceran, Gemamol, Petung, Jatiwiro, Wates, Dlanggon, dan Butuh. Kemudian setelah estafet kepemimpinan dari masa ke masa terus berganti maka perkembangan zaman terus berdinamika disepanjang eranya.

Setelah Raden Gito Wiryono, diteruskan oleh lurah Chotim dari Gemamol, kemudian Ngadino, Warsodo dari gemamol dan yang saat ini ialah Bambang Hery Novianto. Prinsip persatuan yang telah ditanamkan dari setiap pemimpin desa tersebut semestinya mampu diaplikasikan oleh masyarakat Desa Blanceran hingga akhir zaman.

Bahan Bacaan:

Saparin, S .1974. Tata pemerintahan dan administrasi pemerintahan desa. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Dirdjokusumo, M, S. 1959 . Tugas dan kewadjiban kepala desa berdasar H. I. R. Jakarta: Fadjar.

Narasumber:

Suhardi (Putra penjaga rumah Raden Gito Wiryono)