Cyberbullying dalam Perspektif Komunikasi Masyarakat Madani

Ilustrasi Cyberbullying. UNICEF

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan, yang memiliki dua sifat sekaligus dalam hidupnya. Kedua sifat tersebut, adalah sifat individual dan sifat sosial. Sebagai makhluk individual, manusia merupakan pribadi yang mengedepankan kemampuan diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebijakan untuk mengedepankan kemampuan diri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, dalam perjalanannya ternyata tidak berhasil untuk menyelesaikan semua kebutuhan. Kondisi demikian, pada akhirnya menuntut manusia untuk bekerjasama dengan manusia lain.

Proses kerja sama yang terjadi antara manusia satu dengan manusia lain inilah, yang kemudian menghadirkan komunikasi sebagai salah satu sarana penghubung dalam interaksi. Kata komunikasi merupakan terjemahan dari kata communication dalam Bahasa Inggris, yang secara etimologis berasal dari kata communicare dalam Bahasa Latin dan berarti berbagi atau melakukan aktivitas penyampaian informasi melalui pertukaran pikiran, pesan, atau informasi melalui ucapan, visual, sinyal, tulisan, dan perilaku.

Dalam literatur lain, dijelaskan bahwa komunikasi berasal dari kata tawashul dan isttishal dalam Bahasa Arab. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan atau berita, antara dua orang atau lebih dan bertujuan agar pesan atau informasi tersebut dapat dipahami. Selain bertujuan untuk menyampaikan informasi maupun pesan, komunikasi pada dasarnya juga merupakan sebuah metode yang dipergunakan untuk menyamakan persepsi, pikiran, dan rasa antar manusia.

Besarnya pengaruh komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan manusia, menjadikan komunikasi sebagai tindakan yang tidak dapat dihindarkan. Cangara bahkan menyatakan bahwa sepanjang seorang manusia ingin hidup, maka ia perlu untuk melakukan komunikasi. Perlu diketahui bersama, bahwa metode atau cara komunikasi saat ini turut serta mengalami perkembangan yang signifikan.

Signifikansi perkembangan metode komunikasi yang demikian, tentu tidak dapat dilepaskan dari berbagai macam perkembangan yang ada saat ini. Komunikasi yang pada awalnya identik dengan penyampaian informasi atau pesan melalui pembicaraan maupun isyarat secara langsung, mulai mengalami perubahan dengan adanya komunikasi melalui bahasa digital.

Bahasa digital, adalah bentuk komunikasi yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai sarananya. Bahasa digital, juga disebut dengan metode komunikasi yang menggunakan media digital saat ini (seperti WhatsApp, Line, dan lain sebagainya). Kehadiran teknologi digital dalam bentuk Revolusi Industri 4.0 dan pengembangan metaverse.

Hadirnya bahasa digital sebagai salah satu bentuk komunikasi yang digunakan oleh manusia, memiliki konsekuensi tersendiri dalam penggunaannya. Konsekuensi tersebut, setidaknya berupa dampak, peralatan, metode, dan berbagai hal lainnya.

Munculnya cyberbullying dalam beberapa tahun terakhir, merupakan salah satu konsekuensi atas berlakunya komunikasi digital. Cyberbullying adalah salah satu bentuk kejahatan yang terjadi di dunia maya, dengan cara menyebarkan ketakutan yang mengintimidasi seseorang melalui penggunaan bahasa digital (bisa berupa pesan, gambar, emoticon, dan berbagai bahasa digital lainnya). Secara sederhana, cyberbullying merupakan tindak kejahatan bullying atau perundungan yang dilakukan secara digital.

Cyberbullying merupakan salah satu dampak negatif yang ada dalam komunikasi digital dan merupakan bentuk kejahatan modern daripada yang pernah ada sebelumnya. Permasalahan cyberbullying tentu tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena cyberbullying cenderung dapat dilakukan secara lebih terbuka melalui platform media sosial yang ada.

Sebagai salah satu kejahatan digital yang berpotensi besar untuk dilakukan secara terbuka, cyberbullying tentu harus mampu ditangani lebih baik dibandingkan dengan bullying yang terjadi secara langsung. Dengan kata lain, permasalahan cyberbullying harus ditangani secara optimal dengan melibatkan tiga pihak sekaligus.

Ketiga pihak tersebut adalah masyarakat, pihak swasta (selaku provider atau pemilik jaringan maupun pengembang aplikasi), dan pemerintah. Kolaborasi ketiga pihak tersebut, merupakan implementasi dari berkembangnya paradigma good governance dalam beberapa waktu terakhir. Good governance sendiri merupakan suatu metode atau pendekatan yang menekankan kolaborasi dalam kesetaraan dan keseimbangan antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat madani (civil society).

Selain merupakan implementasi dari paradigma good governance, keterlibatan masyarakat, pihak swasta, dan pemerintah dalam rangka menangani cyberbullying merupakan salah satu bentuk implementasi dari poin ke 16 SDGs. Poin ke 16 SDGs sendiri, merupakan poin yang berisikan tentang penciptaan masyarakat yang damai dan inklusif dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan dan menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua, serta membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di semua level.

Adapun kebijakan-kebijakan yang dapat dilakukan, antara lain: 1). Membentuk peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan aktivitas digital, dengan melibatkan masyarakat dan pihak swasta sebagai penyusun didalamnya. 2). Menanamkan pemahaman tentang kewajiban dan larangan dalam beraktivitas di dunia digital sejak dini, melalui sosialisasi terhadap orang tua dan atau memasukkannya kedalam kurikulum pendidikan nasional. 3). Menciptakan atau membentuk badan keamanan digital yang terintegrasi dengan pihak swasta, untuk meminimalisir potensi terjadinya kejahatan digital (yang terutama dalam hal ini adalah cyberbullying).

Bahan Bacaan

Asshiddiqie, Jimly. 2006. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta: Sekretaris Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Ginting, Desmon. 2015. Komunikasi Cerdas: Panduan Berkomunikasi di Dunia Kerja. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Hefni, Harjani. 2015. Komunikasi Islam. Jakarta: Kencana.

Islamy, Muh. Irfan. 2018. Materi Pokok Kebijakan Publik. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Oktarina, Yetty, dan Yudi Abdullah. 2017. Komunikasi Dalam Perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: Penerbit Deepublish.

Dini Rizki Fitriani, “Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik Dalam Era Otonomi Daerah”, Wedana – Jurnal Pemerintahan, Politik, dan Birokrasi Vol. III No. 1 (2017).

Lianty Nathania Paat, “Kajian Hukum Terhadap Cyber Bullying Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016”, Lex Crimen Vol. IX No. 1 (2019).

Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia, “Sekilas SDGs”, sdgs.bappenas.go.id, https://sdgs.bappenas.go.id/sekilas-sdgs/ (diakses pada 3 Juni 2022).

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset. Dan Teknologi Republik Indonesia, “Komunikasi”, KBBI Daring, https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Komunikasi (diakses pada 3 Juni 2022).

 

Penulis: Nur Rohma Pujiastuti

*) Mahasiswa Jurusan llmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Add Comment