Redesain Masjid Besar Jatinom

Ilustrasi desain pembangunan masjid.

Jatinom adalah nama satu kecamatan di Kabupaten Klaten yang yang kondisi geografisnya terletak di jalur utama yang menghubungkan antara Klaten dengan Boyolali.

Jatinom juga mempunyai ciri khas utama yaitu tradisi Sebaran Apem atau biasa disebut Yaqowiyu yang dilaksanakan pada setiap pertengahan bulan Sapar. Tradisi ini dilaksanakan pada Jumat di bulan Sapar yang bertempat di lapangan Klampeyan dekat Masjid Besar Jatinom. Masyarakat Jatinom biasa menjadikan tradisi ini sebagai momen silaturahmi ke sanak saudara.

Defenisi dari masjid itu sendiri adalah rumah tempat ibadah umat Islam atau Muslim. Masjid artinya tempat sujud, dan sebutan lain bagi masjid di Indonesia adalah mushola, langgar atau surau. Istilah tersebut diperuntukkan bagi masjid yang tidak digunakan untuk Sholat Jum’at, dan umumnya berukuran kecil.

Selain digunakan sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al-Qur’an sering dilaksanakan di Masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Masjid Besar Jatinom tidaklah asing bagi masyarakat Klaten maupun masyarakat dari luar kota. Karena dengan adanya acara Sebaran Apem atau sering dikenal Yaqowiyu yang selalu diadakan setiap tahun maka banyak pengunjung yang datang ke Masjid Besar Jatinom.

Selain itu, di kawasan Masjid Besar Jatinom juga terdapat makam salah satu tokoh penyebaran agama Islam di pulau jawa yaitu Ki Ageng Gribig. Sehingga banyak peziarah yang datang dari dalam kota maupun luar kota yang datang jauh-jauh ke Masjid Besar Jatinom untuk berziarah.

Dalam sejarahnya Masjid Besar Jatinom dibangun oleh Ki Ageng Gribig atas bantuan dari Sultan Agung. Pada zaman dulu Sultan Agung melaksanakan sholat jumat di masjid alit (masjid pertama yang dibangun oleh Ki Ageng Gribig sebelum Masjid Besar). Pada saat sedang melakukan sholat Jumat, Sultan Agung mengetahui bahwa masjidnya terlalu kecil dan tidak kuat untuk menampung para jamaah.

Akhirnya Sultan Agung memerintahkan Ki Ageng Gibrig untuk membuat masjid yang lebih besar supaya bisa menampung jamaah yang lebih banyak dan dibangunlah Masjid Besar. Jadi, masjid alit adalah masjid yang dibangun oleh Ki Ageng Gribig sendiri sedangkan masjid besar adalah masjid yang dibangun Ki Ageng Gribig dengan bantuan kerajaan mataram.

Saat ini Masjid Besar Jatinom memiliki beberapa fungsi utama diantaranya adalah sebagai tempat beribadah, belajar mengajar, tempat melakukan kegiatan sosial dan budaya, sebagai tempat tujuan wisata, serta sebagai tempat upacara tradisional Yaquwiyyu (Upacara tradisi sebaran apem yang diselenggarakan setiap hari jumat pertengahan bulan Sapar).

Akan tetapi, dari banyaknya fungsi tersebut Masjid agung Besar Jatinom hanya bisa memfasilitasi secara maksimal kegiatan beribadah sedangkan untuk kegiatan lain belum terfasilitasi secara maksimal kegiatan beribadah sedangkan untuk kegiatan lain belum dapat terfasilitasi secara maksimal. Maka perlu untuk pengembangan kawasan Masjid Besar Jatinom supaya dapat menunjang kegiatan masyarakat sekitar masjid.

Bangunan masjid saat ini kurang menggambarkan dan menceritakan sejarah masjid. Sehingga perlu dilakukan tindakan redesain pada bangunan Masjid Besar Jatinom supaya jati diri asli bangunan yang menggambarkan sejarah masjid muncul kembali. Sedangkan untuk penambahan fasilitas kawasan Masjid Besar Jatinom perlu dipertimbangkan tentang bangunan masjid yang memiliki sejarahnya sendiri.

Selain itu, perubahan yang sudah terjadi pada bangunan Masjid Besar Jatinom membuat eksisting masjid saat ini tidak menggambarkan sejarah Masjid Besar Jatinom yang merupakan salah satu masjid yang berperan menyebarkan agama Islam di pulau jawa.

Dengan sejarah masjid yang pembangunannya merupakan bantuan dari Sultan Agung, Masjid Besar Jatinom saat ini tidak bisa menggambarkan sejarah tersebut. Karena eksisting Masjid Besar Jatinom sudah mengalami perubahan dan renovasi maka hilanglah cerita sejarah yang berada di balik pembangunan Masjid Besar Jatinom.

Penambahan bangunan baru di kawasan masjid harus mempertimbangkan hubungan serta memiliki dampak korelasi dengan bangunan lama. Penambahan bangunan baru diharapkan memiliki dampak serta menjadi satu kesatuan terhadap kawasan sekitar bukan hanya sebagai pelengkap atau penghias dalam kawasan tersebut.

Masjid Besar Jatinom memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya. Selain sebagai fungsi utamanya untuk tempat ibadah umat muslim, Masjid Besar Jatinom juga memiliki beberapa fungsi lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitarnya. Akan tetapi, dengan kurangnya fasilitas banyak fungsi masjid yang belum bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

Konsep Redesain Masjid Besar Jatinom

Redesain masjid berdasarkan foto dan sejarahnya, untuk bagian denah masjid terdiri dari dua bagian yaitu ruang sholat utama dan serambi, pada bagian depan ruang sholat terdapat mihrab sebagai tempat imam memimpin sholat berjamaah.

Struktur masjid ditopang oleh kolom-kolom yang biasanya disebut tiang utama, pada bagian tengah terdapat empat buah tiang utama yang memiliki ukuran lebih besar dari yang lain, perbedaan ukuran tersebut dikarenakan empat buah tiang utama tersebut adalah kolom utama.

Denah dari redesain Masjid Besar Jatinom juga didasari oleh bentuk denah masjid-masjid pada zaman awal Islam di pulau Jawa, seperti Masjid Demak dan Masjid Keraton Yogyakarta.

Konsep atap Masjid Besar Jatinom adalah tiga tingkat berbentuk limas yang memiliki arti tingkat pertama adalah Iman, tingkat kedua adalah Islam, tingkat paling atas adalah Ihsan. Setiap tingkatan atap memiliki arti tersendiri yang masing-masing adalah sebagai dasar penuntutan kehidupan manusia. Bentuk atap seperti ini juga bisa ditemui di Masjid Demak dan masjid-masjid yang memiliki sejarah penyebaran Islam di pulau Jawa.

Di setiap tingkatan atap ada sebuah celah atau jarak antara satu atap dengan atap yang lain. Hal ini berfungsi sebagai jalur sirkulasi untuk udara dan cahaya sinar matahari yang menuju bagian dalam masjid.

Bahan Bacaan

Pungky, Marhendra Putra Perwira. (2018). ‘Redesain Komplek Masjid Besar Jatinom Dengan Pendekatan Infill Desain Untuk Fasilitas Pendukung Masjid’. Universitas Islam Indonesia.

Add Comment