Menjaga dan Mengasihi, Kesempatan untuk Berbuat Lebih Baik

Kehidupan duniawi adalah ladang usaha untuk berusaha meningkatkan mutu, untuk semakin baik dalam perjalanan menuju mati. PIXABAY/MabelAmber

Mengencingi mata air suci menjadi cara biadab yang dulu dipercaya sebagai cara manjur supaya cepat terkenal. Hari ini bisa lain cara, lebih bercabang, beragam. Cara ini bisa natural atau dibuat-buat, seperti petinggi partai yang memusuhi kader partai terbaiknya, atau petinggi partai yang memancing amarah basis suaranya, untuk mengerucutkan satu nama sebagai pusat perhatian. Lalu dalam contoh lain orang yang nekat memasuki satu wilayah yang terang wilayah itu akan menolaknya.

Kasus pengeroyokan seorang dosen di tengah kerumunan demonstran tempo hari, juga kasus deportasi warga negara asing yang bikin onar atau diduga akan membuat keributan di negara orang, juga menjadi cara yang cepat bikin terkenal. Terkenal ini tentu saja yang dimaksud adalah dibicarakan banyak orang, baik keburukan atau kebaikannya.

Namun sepertinya ukuran baik-buruk ini semakin kabur belakangan ini. Misalnya kita bisa menonton sebuah acara dengan judul yang sama, yang satu hanya tayang di YouTube, dan yang selain bisa ditonton di YouTube, juga tayang di televisi nasional. Yang tayang di televisi nasional akan terbatas pembicaraannya, menjauhi hal yang tabu dan vulgar, omongan kasar, berkebalikan dengan yang hanya tayang di YouTube.

Dari contoh sederhana itu kita melihat bagaimana penilaian baik-buruk itu sangat kabur dalam kehidupan kita hari ini. Sangat tergantung dengan waktu dan tempat. Ini agak merepotkan.

Made Supriatna menulis menceritakan kawannya yang disebut religius, yang ia dapati sedang membolak-balik sebuah majalah dewasa dengan semangat, lalu menurut Made itu hal yang kurang pas untuk dilakukan seorang agamis.

Apalagi kawannya itu menganggap bahwa model yang ada dalam majalah tersebut bukan berasal dari kalangannya. Maka siapapun dia, tidak jadi soal berbuat keliru, asal bukan kita atau bagian dari kita. Pemahaman yang kacau.

Pengalaman Made ini sama dengan pengalaman saya dulu sekali, waktu kuliah. Kawan kuliah saya yang sangat religius akan dengan sangat baik menilai bahwa perempuan baik-baik itu yang begini dan begitu. Yang buruk adalah perempuan yang tidak menutup aurat dengan batasan yang diyakininya.

Namun, dalam banyak kesempatan ia sangat menikmati suara biduan dangdut perempuan. Dia punya anggapan sama dengan kawan Made, yang sudah kadung jatuh sebagai manusia buruk laku, ya sudah kita nikmati saja.

Pandangan seperti di atas itulah yang kemudian meramaikan jagat maya dan warta kita selama ini. Kita akan lebih antusias mencermati jika ada berita pemuka agama yang buruk laku, atau ada penegak hukum yang melanggar hukum. Padahal hukum tidak tebang pilih, pilih yang gemuk atau yang kurus.

Sebenarnya pada saat yang sama, ukuran yang dipakai Made dan banyak orang juga sama, dengan ukuran yang dipakai oleh kawan penikmat majalah dewasa tersebut. Asal ia agamis dan banyak ngomong soal moral etis, maka jika ia terjatuh, maka dipastikan wajib lebih remuk ketimbang yang bukan agamis. Apalagi jika kalangan agamis itu paling sering ngomong soal moralitas yang ditabraknya sendiri.

Saya tahu, dalam sebuah hadis diceritakan kelak ada satu orang yang mesti dihukum di neraka, dengan kondisi yang menarik perhatian, sebab ia mengitari sumbu seperti keledai penggilingan gandum, yang muter-muter pada satu poros, dengan kondisi perut terburai.

Tetangga nerakanya agak kaget, sebab sampai di neraka saja mereka masih berpikir mustahil orang itu masuk di dalam bagian dari penghuni tempat hina ini. Sebab dulu waktu di dunia, ia bertempat dengan kedudukan yang tinggi dan mulia.

Salah satu dari tetangga nerakanya lalu memberanikan bertanya, kok bisa sampeyan masuk? Lalu dijawablah pertanyaan itu, “ya sebab saya dulu banyak ngasih arahan tapi tidak pernah saya lakoni sendiri.”

Benar-benar kejam balasan Tuhan untuk model manusia seperti itu, yang dalam istilah guyon Jawa disebut; ‘Jarkoni’ yaitu singkatan dari ‘Isa ngujari ora bisa nglakoni’, dapat memberi arahan pelajaran namun dirinya sendiri jauh dari laku yang diajarkannya itu. Ini gawat.

Dalam kehidupan sebagian orang dalam sebuah komunitas, nilai kesucian lisan dan pikiran benar-benar diuji, jika lolos maka terus dipertahankan, jika tidak maka akan ditendang keluar.

Beberapa waktu lalu saya mendapat cerita tentang seseorang yang dipancal keluar dari komunitas sebab ia disebut sudah melakukan tindakan kekerasan di dalam rumah tangga, dan kekerasan lainnya. Langkah mekanisme komunitas yang saya pahami dalam rangka membersihkan dirinya dari laku sial dan biadab lainnya. Sudah mirip cara ordo kebatinan, rahib, sufi, dan pelaku asketisme lainnya.

Mirip namun ada sedikit beda metode jika dibandingkan dengan cara kelompok tasawuf, tentang usaha desakan menegakkan keadilan dan moral seperti di atas. Kalangan sufi tidak mudah atau buru-buru menarik hukuman menghinakan, yang mungkin kelak ditimpakan Tuhan di neraka seperti di atas, ke dalam kehidupan duniawi.

Kehidupan duniawi adalah ladang usaha untuk berusaha meningkatkan mutu, untuk semakin baik dalam perjalanan menuju mati. Hukuman memang mesti ditegakkan, namun jika sudah cukup menjalankan hukuman, maka ia menjadi ‘yang bersih’ lagi.

Paling jelas adalah, saya hendak meyakinkan bahwa masih banyak kesempatan untuk lebih baik. Dengan prinsip saling menjaga dan mengasihi ini, sekalipun seseorang pernah mengencingi mata air suci, jika ia mengaku kapok, berjanji untuk tidak mengulanginya, dan siap menerima hukuman, maka ia kembali bersih. Baiknya.