Melihat Pengelolaan Sampah di Pasar Induk Sayuran Jatinom

Pembagian Sembako di Beberapa Pasar di Kabupaten Klaten. klatenkab.go.id.

Tempat berkumpulnya para pedagang dan pembeli atau pengunjung yaitu pasar. Pasar memiliki karakteristik sendiri-sendiri tergantung model ekonomi di daerahnya masing-masing. Setiap daerah tentunya mempunyai induk pasar. Di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dikenal dengan Pasar Gabus.

Di Pasar Gabus terkenal dengan pusatnya berbagai jenis sayuran. Disebut pusat induk sayuran, karena Pasar Gabus ini rutin melaksanakan aktivitas perdagangan dengan lebih memfokuskan pada sektor sayuran. Berbagai jenis sayuran tersedia di pasar ini, oleh karenanya aktivitas di pasar ini selalu ramai pengunjung.

Bahkan termasuk pasar dengan kegiatan transaksi dengan perputaran uang paling besar se-Kabupaten Klaten. Itu dapat terjadi karena setiap pagi mulai dini hari, mereka sudah bersiap memulai kegiatan. Mobil pick up membawa aneka jenis sayuran sudah mulai berdatangan sedikit demi sedikit. Mereka berjajar sembari menawarkan dagangannya ke tengkulak-tengkulak (pedagang perantara). Terkadang dari mereka harus datang lebih awal, supaya dagangannya cepat habis.

Para pedagang yang pandai menawarkan barang dagangannya mulai beraksi, dengan menawarkan sayurannya yang masih segar-segar dengan harga murah, tentunya untuk menarik minat pembeli. Para pembeli saling berganti sambil melihat ke lokasi-lokasi yang berdekatan, berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain, dengan tujuan mencari harga yang lebih murah.

Para pembeli sudah bersemangat walau udara pagi yang dingin terasa di badannya, tidak ada sedikitpun dari mereka yang bermalas-malasan. Yang ada mereka harus bergerak cepat agar pekerjaannya cepat selesai. Istimewanya harga barang-barang dagangan dapat berubah dalam hitungan menit saja.

Kadang-kadang ada juga pembeli yang senang berlama-lama di pasar tersebut. Ada yang sekedar hobi jalan-jalan, ada juga yang memang sengaja untuk membeli banyak kemudian dijual lagi dan ada yang hobi belanja. Mungkin bagi mereka menikmati pemandangan hijau segar yang memanjakan mata, sampai bingung ataupun lupa yang mau dibelinya. Di Pasar Gabus ini pun tidak hanya tersedia sayuran, tetapi tersedia juga bahan pokok lainnya.

Pengelolaan Sampah

Menurut Menteri Perdagangan (2008), pasar adalah suatu area tempat jual beli barang dengan jumlah lebih dari satu yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, supermarket, pertokoan, mall, plaza, pusat perdagangan ataupun sebutan lainnya. Dalam pengertian sederhana, pasar adalah tempat terjadinya transaksi jual beli yang dilakukan oleh penjual dan pembeli pada waktu dan tempat tertentu.

Pasar dibagi menjadi dua yaitu pasar modern dan pasar tradisional. Salah satu permasalahan yang cukup rumit adalah sampah pasar. Menurut Naatonis (2010) sampah yang dihasilkan jumlahnya relatif banyak, aktivitas yang ada baik itu jual beli antara pedagang dengan pengunjung atau pembeli secara tidak langsung yang menyebabkan adanya timbulan sampah pada pasar setiap harinya.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan proses alam yang berbentuk padat. Sampah padat yang bertumpuk sering kita jumpai di pasar.

Menurut Triastantra (2016) sampah pasar yang berupa sisa sayur, buah, dan bahan makanan lainnya, dapat membusuk dan menimbulkan bau yang tidak sedap, dapat mengotori pasar dan mengurangi nilai estetika pasar. Selain itu, sampah juga dapat menyebabkan pencemaran air dan perusakan tanah. Pencemaran air disebabkan oleh bahan buangan organik yang pada umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme.

Menurut Yones (2007) Sampah dapat berpengaruh pada kesehatan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Srinaita (2006) Dampak langsung diakibatkan karena kontak langsung dengan sampah. Pengaruh tidak langsung diakibatkan karena proses pembusukan, pembuangan, pembakaran.

Pembuangan sampah yang dilakukan pada tempat sampah yang terbuka dapat berakibat meningkatnya intensitas pencemaran, tingginya kepadatan vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, kecoa, pencemaran terhadap tanah, udara, air, estetika.

Menurut Widodo (2013) untuk menciptakan kenyamanan, kebersihan dan keindahan di pasar dibutuhkan suatu sistem pengelolaan sampah yang efektif dan efisien agar mampu mencapai hasil yang maksimal seperti yang diharapkan. Menurut Rachman (2011) tahap pengelolaan sampah yang baik diantaranya tahap pengumpulan dan penyimpanan di sumber dan tahap pengangkutan dan pemusnahan.

Pengelolaan sampah yang dilakukan pada tempat-tempat umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 pasal 13 disebutkan bahwa pengelolaan kawasan komersial, kawasan permukiman, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial dan fasilitas lainya wajib menyediakan pemilahan sampah.

Pasar Gabus merupakan salah satu pasar yang terletak di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, yang terdiri atas 109 pedagang kios, ±7 los pedagang dengan jumlah (±108 pedagang) yang terdiri atas los pisang, los kembang, los daging, los soto, los pakaian, los sembako, los penggilingan daging dan (± 228 pedagang adegan atau dasaran terbuka).

Di Pasar Gabus pedagang menggunakan sarana tempat sampah seperti keranjang bambu, kondisinya tidak kedap air dan tanpa penutup. Serta masih ditemukan sampah dalam keadaan berserakan atau berceceran di sekitar tempat sampah, seperti plastik, potongan sayur, buah, hal ini dapat memungkinkan mengundang vektor penyakit salah satunya lalat.

Letak Pasar Gabus Jatinom berdekatan dengan pemukiman. Pasar ini beroperasi setiap hari dari mulai pukul tiga pagi sampai empat sore. Hasil wawancara dengan lurah pasar, petugas kebersihan pasar sebanyak satu orang. Dalam kegiatan pengumpulan dan pembersihan sampah dari timbulan pedagang setiap harinya dilakukan secara tidak pasti.

Letak Penyimpanan Sampah Sementara berada di dekat bangunan pasar dan kondisi sampah yang berada di tempat penyimpanan menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap, serta berdekatan dengan pedagang seperti pedagang ayam, buah, kerupuk. Di Pasar Gabus Jatinom dalam pengelolaan sampah belum dilakukan usaha untuk mereduksi atau mengurangi jumlah sampah sebelum diangkut ke TPA.

Sampah dapat menjadi tempat bersarang vektor, dapat mengganggu kesehatan manusia, menyebabkan penyakit seperti penyakit tipus, kolera diare, disentri, leptospirosis, myasis, penyakit kulit serta kecelakaan kerja. Pasar Gabus Jatinom telah menerapkan kegiatan pengelolaan sampah pasar, akan tetapi kondisinya belum maksimal karena masih banyak ditemukan sampah berserakan atau berceceran.

Kondisi Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) berdekatan dengan pedagang, serta sampah belum dilakukan pemilahan, sehingga kondisinya menjadi satu antara basah dan kering. Serta dalam pengumpulan dan pengangkutan sampah yang dilakukan secara tidak pasti, sehingga perlu dilakukan kajian lebih mendalam.

Bahan Bacaan

Erlita Lindasari, (2020). Gambaran Pengelolaan Sampah di Pasar Gabus Jatinom Kabupaten Klaten Tahun 2020. Diploma Thesis, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.