Lokananta dengan Ceritanya

Studio Lokananta di Jl. A. Yani No.379 A, Kerten, Kec. Laweyan, Kota Surakarta. SURAKARTA.GO.ID

Hari Selasa lalu saya jumpa kawan, Mas Fajar di Lokananta. Oleh Mas Fajar saya diajak keliling memasuki ruangan penting di gedung rekaman paling tua di Indonesia itu. Saya tanya kepada petugas, gedung dan alat-alat ini dipelihara (baca: dirawat) oleh siapa? Katanya, Lokananta ini masuk Badan Usaha Milik Negara.

Mendengar kata BUMN, saya langsung ingat kata lain, yaitu ‘komisaris’. Menjelang dan setelah akhir tahun 2019, kata itu sering mampir di telinga saya. Sebab konon, orang paling dekat dalam hidup saya, ditawari untuk menjadi komisaris, tapi memilih tidak mengambil kesempatan itu. Dari sini saya maklum, dulu ramai orang datang untuk menemuinya.

Kata petugas penjaga salah satu ruangan yang di dalamnya ada speaker merek JBL kuno, yang diproduksi terbatas itu, Lokananta merupakan bagian dari BUMN kelas alit, kecil, yaitu PNRI yang nasibnya kembang kempis. Meski tidak terlalu paham, ya saya setuju saja penjelasan itu. Apalagi melihat beberapa sudut bangunan yang sepertinya kurang terawat.

Gedung ini kembali menjadi perhatian pada saat, mendiang Glen, dan grup musik pop Indonesia asal Jakarta, White Shoes Couples Company, sering menyinggung dan lalu menggelar konser musik untuk merangsang perhatian publik atas gedung bersejarah ini. Saya ingat, seruan untuk melirik Lokananta ini kemudian disambut oleh salah satu stasiun TV nasional. TV Nasional itu mengundang banyak pemusik untuk menggalang dana dalam konser amal peduli Lokananta.

Gedung ini juga mulai disinggung banyak orang, pada saat ramai kabar bahwa Malaysia mengklaim, mengaku lagu ‘Rasa Sayange’ sebagai lagu asli Malaysia. Sialnya, pengakuan itu hanya berdasarkan satu keping piringan hitam yang ada logo Lokananta. Jelas akhirnya mentah apa yang sedang diupayakan rumpun Melayu itu, sebab Lokananta hanya ada di Surakarta, di Solo.

Lalu orang mulai menyampaikan, bahwa piringan hitam lawas tersebut, merupakan bingkisan yang diberikan oleh Soekarno untuk negara-negara sahabat, kalau tidak keliru pasca-konferensi Asia-Afrika. Selasa siang saya mencoba mendengar suara yang dihasilkan mixer tua unik yang langka merek JBL seri Paragon di ruangan tempat penjaga itu berjaga. Saya memilih lagu-lagu Isyana dari album Il Sogno.

Saya merinding siang itu, selain karena ingat istilah ‘komisaris’, ‘BUMN kelas kecil’, lalu mencium aroma kayu dari gedung studio tua yang kurang terawat, sampai dengan mendengar suara Isyana yang melengking menghujam kalbu.

Belum tuntas rampung mendengar seluruh album Il Sogno, saya sudah terkapar, ketiduran. Dalam tidur saya tidak bermimpi apa-apa. Saya rasa juga tidak perlu bermimpi, bisa tidur siang saja sudah lumayan. Saya jadi ingat pesan seorang kawan, yang kurang lebih dia ngomong, bahwa berharap bertemu dengan hasil itu bentuk egoisme kita dalam sebuah laku, atau usaha mewujudkan kebaikan.

Add Comment