Kisah Sukses Pengusaha Rambak di Blanceran

Proses Produksi Rambak di Blanceran. DOKUMEN PRIBADI

Abu Bakar merupakan julukan dari seorang pemilik usaha rambak yang berada di Desa Blanceran. Terlahir dari Kota Kediri, mendiang pengusaha dengan nama lengkap Abu Bakar tersebut termasuk salah satu pengusaha sukses yang sempat mengalami jatuh bangun sebelum akhirnya menorehkan kesuksesan sebagai pengusaha rambak di Desa Blanceran.

Setelah beberapa tahun menjadi karyawan di pabrik jamu merek Orang Tua, Abu Bakar memutuskan untuk berhenti dan mulai merintis usaha di tahun 1990an. Sebelum memulai kiprahnya di dunia bisnis, latar belakang Abu Bakar memutuskan untuk berhenti sebagai karyawan di pabrik tersebut tidak hanya sebatas ingin berkiprah di dunia bisnis untuk mengimplementasikan jiwa pebisnisnya.

Akan tetapi, karena latar belakang keluarga yang sangat kuat dengan spiritualnya dan kejawennya sehingga menguatkan Abu Bakar untuk segera meninggalkan dunia di pabrik jamu tersebut. Kemudian ia memulai bisnisnya dari nol bersama istrinya.

Usaha pertama yang dirintisnya adalah bisnis peternakan ayam. Kala itu dengan modal yang cukup besar bersama istri tercintanya membuat kandang ayam dan mengembangkan ayamnya hingga ribuan.

Bahkan tidak hanya dikembangkan sebagai ayam potong, melainkan juga beternak ayam petelur. Namun pada masa kejayaannya seharusnya sudah bisa memiliki ayam lebih dari 5000 ekor terbatasi oleh birokrasi.

Hal itu disebabkan masa kejayaan beternaknya pada zaman orde baru dimana kala itu diceritakan oleh Abu Bakar bahwa siapapun yang memiliki usaha peternakan tidak diperbolehkan beternak lebih dari 5000 ekor ayam. Maka dari itu perkembangan usaha tersebut mulai menurun dikarenakan terbatasi oleh birokrasi dan mobilitas pasar yang hanya di dalam kota.

Oleh karena itu, bisnis yang sudah dimulai tersebut berhenti secara perlahan. Tidak putus semangat, ia kemudian beralih profesi sebagai pedagang rambak.

Saat istri memulai berdagang rambak, Abu Bakar melihat adanya peluang bisnis. Hal itu tidak dipungkiri bahwa yang ada dalam pikiran Abu Bakar adalah bisnis, bisnis, dan bisnis sebab sudah terbentuklah mental pebisnis dalam dirinya.

Kala itu istri yang berdagang rambak masih ambil dari tengkulak, sehingga tidak besar laba yang didapat dari berdagang tersebut. Namun diyakini oleh Abu Bakar dan keluarga bahwa dari situlah jaringan pasar mulai terbangun, dan semangat untuk membuka peluang pembuatan rambaknya bangkit. Seiring berjalannya waktu, Abu Bakar mulai mencobanya.

Untuk memulai peluang yang kedua ini Abu Bakar memberanikan untuk meminjam uang kepada saudaranya. Mulailah mencoba membuat produk rambak sendiri dengan hasil belajarnya. Percobaan pertama ini masih menggunakan proses yang manual.

Akan tetapi kembali kepada fitrah pebisnis yakni kegagalan. Tidak disangka percobaan pertama yang dilakukan oleh Abu Bakar belum bisa sukses dan terbilang gagal. Kegagalan produk dan belum sesuai dengan pasar rambak yang disasar. Kemudian Abu Bakar terus mengoreksi apa yang menjadi kegagalan tersebut.

Karena jiwanya sudah terbentuk mental pebisnis melihat keadaan yang seperti itulah bukan menjadi hambatan Abu Bakar untuk terus merintis usahanya. Setelah dikoreksi ternyata ada beberapa yang haru ia benahi dalam membangun usaha di Desa Blanceran yakni merubah metode dan resep yang ia gunakan.

Setelah berbagai upaya yang ia lakukan untuk merintis usaha rambak tersebut sekarang sudah membuahkan hasil. Bisnis usaha rambak akhirnya berbuah manis dan ia mengembangkan sayap dengan menjualnya di pasar yang sudah ia bangun sejak menjadi penjual rambak milik tengkulak.

Keberhasilan produk yang ia buat tersebut sejak adanya tes dari Dinas Kesehatan yang mengakui bahwa rambaknya menggunakan bahan rempah-rempah bukan bahan kimia. Sebelum memiliki alat pengukus raksasa per harinya mampu memproduksi satu setengah kuintal.

Akan tetapi semenjak membuat tempat kukus raksasa dan mencoba beberapa metode penjemuran maka perhari sudah mencapai kurang lebih empat sampai lima kuintal rambak. Pemasaran yang ia sasar ialah menggunakan jaringan pasar yang sudah ia bangun sejak berdagang rambak kala itu, dan juga menyasar ke pasar-pasar dan warung lokal.

Di tengah kesibukan untuk tetap produktif berbisnis rambak, Abu Bakar tetap memperhatikan dan mengarahkan anaknya untuk bisa sekolah di jenjang pendidikan yang tinggi. Akan tetapi jiwa dan mental pebisnis yang dimiliki Abu Bakar menurun kepada anak-anaknya. Hal itu terbukti dengan pilihan bisnis dari anaknya dibandingkan melanjutkan pendidikan yang jauh lebih tinggi.

Anak pertama juga sudah berkiprah didunia bisnis yang ia miliki, kemudian pewaris usaha rambak jatuh kepada anaknya yang sejak sekolah membantu orang tuanya untuk produksi dan pemasaran usaha dari ayahnya yakni Bahar umur 24 tahun, tergolong masih muda. Hingga saat inipun Bahar juga terus menggeluti bidang usaha keluarganya ini, bahkan mulai dari penggorengan dan setor produk ke pasar Bahar juga turut terlibat.

Kisah inspiratif yang diceritakan oleh Abu Bakar ini seharusnya mampu memantik dan membakar semangat anak muda yang ada di Desa Blanceran maupun anak-anak muda di berbagai daerah lainnya. Hal yang dapat diambil adalah tentang proses dan perjalanan.

Segala hal yang berkaitan dengan keberhasilan tentu harus siap dengan kegagalan di awal, sebab jika tidak ada kegagalan maka tidak ada pengalaman eksekusi untuk mengatasi suatu masalah yang memicu kegagalan dalam dunia bisnis tersebut.

Selain makna kisah yang dapat diambil untuk membakar semangat anak muda juga ada hal baik yang dimunculkan dari usaha ini di Desa Blanceran adalah membuka peluang lapangan pekerjaan di Desa Blanceran. Pasalnya Abu Bakar mengambil karyawan dan karyawati dari warga lokal.

Usaha ini sebenarnya menjadi potensi tersendiri bagi pihak keluarga Abu Bakar dan Pemerintah Desa Blanceran. Sebab, usaha rumahan yang besar ini menjadi salah satu UMKM yang maju di Desa Blanceran.

Dari pihak pemerintah Desa juga sempat turun tangan untuk memantau kebutuhan minyak goreng untuk produksi rambak tersebut. Bahkan warung Desa Blanceran itupun juga berlangganan rambak dari Abu Bakar.

Add Comment