Ki Ageng Perwito Di Desa Ngreden: Keberadaan dan Sejarah

Gapura Desa Ngreden Klaten. DOKUMEN PRIBADI

Desa Ngreden kini ramai dengan aktivitas penduduknya yang berawal dari daerah menyerupai bukit, sepi penduduk, dan masih didominasi oleh persawahan. Pada masa-masa tersebut orang lebih mengenal daerah ini sebagai daerah timur Delanggung.

Suatu ketika datanglah seorang Pujangga dan Panglima Perang Kerajaan Pajang yang bernama Ki Ageng Perwito beserta prajuritnya dan menetap di daerah ini untuk menjadi juru kasepuhan hingga akhir hayatnya. Kedatangan Ki Ageng Perwito memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Desa Ngreden dari masa ke masa. Keberadaannya di desa ini menjadikan daerah yang awalnya sepi menjadi ramai dan semakin banyak yang mendudukinya.

Dalam bahasa jawa ramai disebut ‘ngerda’, maka seiring berjalanya waktu daerah ini disebut sebagai Desa Ngreden. Desa ini awalnya terpisah menjadi dua sebelum tahun 1980an, dan setelah itu bergabung menjadi satu dan diadakan pemilihan kepala desa di tahun tersebut.

Sejarah Singkat Ki Ageng Perwito

Ki Ageng Perwito merupakan putra keempat dari Sultan Trenggono yang mengabdi Pujangga dan Panglima Perang Kerajaan Pajang pada masa Sultan Hadiwijaya yang merupakan adik iparnya. Sebelum mengabdikan dirinya ke Kerajaan Pajang, Ki Ageng Perwito mendapatkan wasiat dari Sultan Syeh Alam Akbar III, agar apabila sudah sampai waktunya agar Ki Ageng Perwito mengabdikan dirinya kepada orang yang menerima wahyu bukan orang yang kepulungan.

Suatu hari Ki Ageng Perwito mendapatkan amanah dari Sultan Hadiwijaya untuk menyelesaikan permasalahan Danang Sutawijaya di alas mentaok. Singkat cerita penyelesaian masalah tersebut yang tidak mendapatkan titik temu akhirnya terjadi perang tanding.

Perang tersebut juga tidak ada yang menang dan kalah hingga beberapa hari. Ketika Ki Ageng Perwito bertapa di Alas mentaok, ditemui oleh Sunan Kalijaga untuk mengalah dan membela pulung bukan membela kekuasaann. Akhirnya Ki Ageng Perwito meninggalkan alas mentaok dan melakukan perjalanan sesuai dawuh Sunan Kalijaga yakni bertempat tinggal di daerah yang menyerupai bukit timur Delanggung yang sekarang dikenal sebagai Desa Ngreden.

Selama tinggal di Desa Ngreden, Ki Ageng Perwito menjadi juru kasepuhan. Selain itu bentuk pengabdian beliau selama menjalani kehidupan sehari-harinya adalah membantu masyarakat yang sedang membutuhkan dan mengobati orang sakit. Wujud pengabdian yang dilakukan oleh Ki Ageng Perwito di masa tuanya adalah beliau memutuskan untuk tapa ngluweng didalam kediamannya atau padepokanya dengan tujuan untuk membantu setiap kesulitan umat.

Tapa tersebut dilakukan selama 40 tahun 41 hari didalam lubang yang menyerupai kuburan atau liang lahat. Sebagai alat bantu komunikasi beliau ialah tali yang diikatkan pada jarinya dan dihubungkan ke atas liang lahat tersebut, ketika petang tali akan dicek oleh cantriknya. Apabila mendapatkan jawaban 2 kali tarikan dari Ki Ageng Perwito tandanya beliau masih hidup, kalau tidak ada jawaban maka penutup luweng dibuka.

Hingga pada suatu hari cantrik kepercayaanya lupa menarik tali dan pada waktu ditari talinya lepas. Sehingga menimbulkan masalah pada waktu itu mau dibuka atau tidak. Melalui musyawarah yang begitu alot hingga tengah malam akhirnya ada suara dari dalam luweng tersebut yang mengatakan “Sapa wae anak cucuku sing nandang kasusahan maraa mrene bakal dakwenehi pepadang tak suwunake Pangeran lantaran sliraku'”, yang artinya siapa saja anak cucuku yang dapat kesusahan kemarilah, akan aku beri petunjuk dan kupintakan kepada Allah melalui aku.

Riwayat Nasab Ki Ageng Perwito

Makam Ki Ageng Perwito. DOKUMEN PRIBADI

Kerajaan Islam pertama di tanah jawa dengan raja pertama Raden Patah yang merupakan anak dari Prabu Brawijaya V dengan gelar Syeh Alam Akbar I. Sepeninggal Syeh Alam Akbar I, kemudian digantikan oleh putra mahkota kerajaan yaitu Pangeran Sabrang Lor dengan gelar Syeh Alam Akbar II. Kemudian setelah Syeh Alam Akbar II lengser, kepemimpinan kerajaan dipimpin oleh putra mahkota Syeh Alam Akbar II yaitu Raden Trenggono yang bergelar Syeh Alam Akbar III.

Raden Trenggono merupakan raja terakhir Kerajaan Demak Bintoro, hal ini dikarenakan situasi politik dan adanya balas dendam Joko Tingkir terhadap kerajaan Demak Bintaro yang telah membunuh ayahnya yaitu Ki Kebo Kenanga yang merupakan raja dari Kerajaan Pengging. Kejadian ini muncul pada saat ajaran Syeh Siti Jenar yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Sehingga, dengan politik Wali Songo agar ajaran dari Syeh Siti Jenar tidak berkembang di Jawa.

Sebelum mengarah pada pengabdian yang dilakukan oleh Ki Ageng Perwito, akan dijelaskan terlebih dahulu asal-usul dari Ki Ageng Perwito yang erat hubungannya dengan Kerajaan Demak Bintaro. Pada kalimat diatas telah dijelaskan mengenai pembalasan dendam yang dilakukan oleh Joko Tingkir atas ayahnya Ki Kebo Kenanga, kepada Kerajaan Demak.

Diceritakan dalam legenda ini, Ki Kebo Kenanga merupakan anak turun Prabu Handayaningrat dari Kerajaan Pengging yang menjadi murid dari Syeh Siti Jenar. Kemudian Jaka Tingkir yang mempunyai julukan Mas Karebet dapat menjadi menantu Sultan Trenggono yang bernama Ratu Mas Cempaka karena dapat memenangkan sayembara mengalahkan kerbau yang mengamuk yang dibuat sendiri olehnya. Ki Ageng Perwito sendiri merupakan anak ke-IV dari Sultan Trenggono yang ikut serta adik iparnya pindah ke Kerajaan Pajang dan menjadi Panglima Kerajaan Pajang. Sebelumnya, Kerajaan Demak dipindah oleh Joko Tingkir Ke Pajang dan Joko Tingkir sendiri bergelar Sultan Hadiwijoyo I.

Tradisi Intip dan Leghondo Desa Ngreden

Tradisi ini merupakan peninggalan dari para sesepuh Desa Ngreden yang konon katanya masih ada kaitanya dengan keberadaan Ki Ageng Perwito. Keberjalanan tradisi yang sudah turun temurun tersebut masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Desa Ngreden hingga saat ini. Tradisi yang berupa berdagang intip dan ‘leghondo’ setiap malam jumat di pinggir jalan Ki Ageng Perwito. Mereka yang masih berjualan hingga saat ini berjumlah sekitar 5 sampai 6 orang.

Menurut Sucipto, dahulu tahun 1980-1990an masih banyak pedagang bahkan mencapai puluhan pedagang pada saat masih banyak peziarah ke makam Ki Ageng Perwito. Pedagang yang hingga saat ini masih melakukan tradisi tersebut mempercayai bahwa adanya keberkahan dari tradisi berdagang tersebut. Menurut Paniyem, walaupun berdagang hanya seminggu sekali mampu menguliahkan putra putrinya. Mereka biasanya berdagang mulai dari pukul 14.00 hingga larut malam, menggunakan tenggok dan sentir (lampu teplok), dan mengenakan jarik duduk bersila di pinggir jalan Ki Ageng Perwito.

Konon katanya intip dan ‘leghondo’ merupakan makanan kesukaan dari Ki Ageng Perwito. Masyarakat Desa Ngreden menganggap bahwa intip dan ‘leghondo’ tersebut memiliki filosofi yang dapat diambil pelajarannya. Misalnya Intip yakni ‘intine qholbu’ dan ‘leghondo’ adalah ‘lego ing dhodo’. Dahulu para peziarah setiap berziarah ke makam Ki Ageng Perwito selalu membawa oleh oleh jajanan tersebut. Menurut Sucipto, konon dahulu kalau berziarah tidak membeli makanan tersebut belum berasa kalo ziarah. Secara logisnya, sebetulnya tradisi tersebut masih relevan untuk selalu dilestarikan karena mampu untuk menopang UMKM Desa Ngreden yang dapat dikaitkan dengan Wisata Religi.

Bahan Bacaan

Danandjaja, James. 2005. Cerita Rakyat Dari Jawa Tengah. Jakarta: Grasindo.

Prayogo, W.B. 2019. Kajian Tema Dan Amanat Legenda-Legenda dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. https://www.laduni.id/post/read/65299/wisata-ziarah-dan-berdoa-di-makam-kyai-ageng-perwito-klaten. Diakses pada tanggal 20 April 2022.

Narasumber

Sucipto (Mantan Sekretaris Desa)

Add Comment