GP Ansor Kartasura dalam Ingatan

Halalbihalal PAC GP Ansor Kartasura. Foto: Bagus Sigit

Semalam saya diminta oleh Ketua PAC GP Ansor untuk menjadi moderator sarasehan, dalam rangkaian acara halalbihalal PAC GP Ansor Kartasura. Selain acara halalbihalal pada umumnya, yaitu menyampaikan permohonan maaf dan memaafkan antar anggota, semalam juga ada acara reuni.

Istilah reuni ini sudah mirip acara anak sekolahan yang isinya mengumpulkan para alumni dalam satu waktu dan tempat. Mungkin spiritnya sama, silaturahmi, yakni untuk mengumpulkan para sesepuh pimpinan Ansor di Kartasura ditambah pertemuan dengan anggota kader GP Ansor yang baru, yang hari ini aktif di jajaran struktural.

Persis yang sebelumnya dibayangkan, semalam tumplak bleg, para sesepuh GP Ansor berkumpul di aula gedung NU Kartasura. Mulai dari angkatan paling sepuh, sampai dengan yang paling muda. Angkatan paling sepuh tahun ini, berbeda dengan angkatan paling sepuh yang hadir pada halalbihalal dua tahun lalu.

Dua tahun lalu, masih bisa hadir, angkatan tahun 60an, meski diantara sesepuh kondisinya sudah sangat lemah. Yang waktu itu perkiraan rata-rata sudah berumur 70 tahunan lebih. Tahun ini, sebagian diantaranya sudah wafat membawa amal kebaikan yang melimpah. Saya catat, sesepuh yang hadir pada halalbihalal semalam yang paling sepuh adalah Kiai Muh Hajir, dan Kiai Yasir.

Kiai Muh Hajir dan Kiai Yasir sudah aktif ber-Ansor pada masa GP Ansor dipimpin oleh Kiai Cholid Mawardi, kemudian berlanjut pada masa Kiai Slamet Efendi Yusuf kemudian Bang Iqbal, sebagai pucuk pimpinan GP Ansor. Pada masa kepemimpinan Kiai Slamet, Kiai Muh Hajir menjabat sebagai Sekretaris PC GP Ansor Sukoharjo, dan Kiai Ismail Thoyib sebagai ketuanya. Sedangkan Kiai Yasir menjabat sebagai Ketua PAC GP Ansor Kec. Kartasura.

Kiai Muh Hajir semalam juga bercerita, pada tahun 1985, Banser Kartasura diminta untuk mengawal Gus Dur yang pada waktu itu berbicara di gedung Bathari. Dari Kartasura hanya berenam. Saat itu suasana mencekam, sebab NU menjadi incaran rezim Orba. Bahkan GP Ansor dianggap oleh rezim Harto sebagai kelompok ekstrem kanan yang mesti diawasi pergerakannya. Tidak banyak orang berani mengaku sebagai Warga NU pada saat itu.

Pada saat saya tanya, Pimpinan GP Ansor PC lain, atau banser dari PC Kota atau Kabupaten, apakah ada? beliau Kiai Muh Hajir menjelaskan bahwa saat itu PC Ansor di tempat lain belum terbentuk. Belum aktif. Bahkan Kartasura saat itu menjadi semacam punjer, sampai acara penting di beberapa tempat, mesti meminta bantuan dari banser Kartasura. Seperti Haul Buntet Pesantren di Cirebon, Haul Kajen zaman Kiai Abdullah Salam, dan banyak tempat lainnya.

Selain Kiai Yasir dan Kiai Muh Hajir, malam itu di atas panggung kami juga meminta sahabat sepuh lain untuk berbicara menceritakan perjuangannya mengabdi di organisasi yang lahir sebelum republik ini berdiri, tahun 1934. Di antaranya adalah Sahabat Muhib, putra dari Pak Lurah Kaji Saebani. Kaji Saebani ini disebut-sebut sebagai salah seorang murid ideologi Kiai Subhan ZE.

Mas Muhib pada saat itu menjadi pengurus PC GP Ansor Sukoharjo dalam bidang seni dan budaya. Kebetulan Mas Muhib ini pandai bermain musik dan jenis kesenian lainnya. Dalam keterangannya, Mas Muhib menyampaikannya bahwa ia pada saat itu dibaiat langsung oleh Ketua Umum Pusat, yakni Kiai Slamet Efendi Yusuf.

Senior lain yang hadir semalam, adalah Mas Budi, Mas Hary. Mas Budi dan Mas Hary masuk aktif sebagai Banser pada tahun 90an, menjumpai masa sulit di mana pengadaan seragam tidak semudah hari ini. Dulu anggota banser musti mencari sendiri seragamnya, biasanya bekas tentara. Kebetulan di wilayah Kartasura terdapat markas Kopassus Grup Dua. Dari sanalah seragam dan sepatu itu berasal.

Mas Ari dan Mas Ipul, juga menjelaskan, bahwa satu paket seragam doreng, baret dan sepatu, pada saat itu dihargai sangat murah, hanya tujuh ribu lima ratus rupiah. Meski murah, tetap saja tidak semua anggota mampu membelinya. Saat itu satu bungkus rokok di kisaran harga 500 sampai 1.000 rupiah perbungkus.

Paket seragam bekas yang dibeli dari tentara itu lalu kemudian mereka warnai, di naptol sesuai dengan warna doreng yang lazim pada saat itu. Saat itu seragam banser belum serapih hari ini, belum bisa seragam, masih semaunya. Misalnya kejadian yang dialami oleh Mas Budi, baret merah yang dibelinya dari anggota kopassus, ia Wenter, atau di naptol dengan warna hitam. Hasilnya sangat memuaskan, sampai kemudian ia pakai, lalu ditengah acara ngepam hujan turun. Walhasil, baret warna hitam yang asalnya berwarna merah itu luntur, menghasilkan warna baret dan wajah mereka berwarna tidak jelas.

Sebab kondisi seperti itu, kesulitan dalam masalah finansial, beberapa anggota yang kebetulan keluarganya yang lain menjadi anggota Banser, maka di antara saudara itu bergantian untuk mengenakan seragam yang hanya satu buah. Seperti Mas Ari yang mesti bergantian seragam dengan dua kakaknya untuk ikut giat GP Ansor.

Mas Budi menjelaskan, selain menjaga keamanan kiai dan pengajian di masa sulit pada zaman rezim Harto, anggota banser juga ditugaskan untuk penjagaan lainnya. Seperti menjaga aset warga pada masa amuk massa tahun 98. Pada keterangan lain, Mas Muhib juga menerangkan, bahwa GP Ansor pada saat itu juga membangun lingkungan intelektual selain pengamanan. Seperti rutin mengadakan kegiatan diskusi ilmiah, bakti sosial dengan isu pentingnya menjaga pelestarian alam, dan bedah buku dan pemikiran.

Sebenarnya semalam ada banyak cerita yang saya catat dalam ingatan, namun saya belum ada waktu untuk menuliskannya kembali. Seperti tentang keseruan pada kongres di Donohudan, saat Cak Ipul terpilih sebagai Ketum, lalu apel di Senayan dan surabaya, muktamar Cipasung, Lirboyo, Donohudan dan banyak lagi.

Acara semalam ditutup dengan arahan dari Kiai Muh Hajir, bahwa pengabdian di NU itu mesti didasari dengan rasa ikhlas, sabar dan visioner. Kemudian, ditutup dengan doa oleh Kiai Yaser. Semoga acara serupa ini terus ada, dan langgeng.

Semalam bapak saya tidak bisa hadir, dan saya mewakilinya dengan mengenakan seragam banser pada zaman itu, seragam yang berasal dari bekas lungsuran tentara dengan bordiran ala kadarnya. Bapak waktu itu sebagai anggota banser biasa, yang sempat mengejar orang yang melempar mercon ke arah Kiai Fuad Hasyim Buntet pada waktu mau ceramah di Al Manshur Popongan.

Add Comment