Cipta Karya 2022, Pemkot Solo Rencanakan Berbagai Pembangunan

SPAM Regional Wosusokas memiliki alokasi debit untuk Kabupaten Wonogiri sebesar 200 lt/dt, Kabupaten Sukoharjo sebesar 500 lt/dt, Kota Solo sebesar 700 lt/dt dan Kabupaten Karanganyar sebesar 50 lt/dt dengan total keseluruhan 1.450 lt/dt. SDA.PU.GO.ID

Solo, Surakartadaily – Pemerintah Kota Surakarta intensif melakukan pembangunan demi pembangunan. Pemkot telah memuatnya dalam agenda tahunan yang rutin dilakukan, tentunya agar menciptakan sarana dan prasarana yang memadai bagi masyarakat.

Oleh karena itu, Dinas Pekerjaan dan Penataan Ruang Kota Surakarta melalui Bidang Cipta Karya, menyelenggarakan kebijakan daerah yang mencakup air minum dan air limbah domestik dan penyelenggaraan bangunan gedung serta pengembangan jasa konstruksi, menyusun daftar rencana paket kegiatan.

Rencana kegiatan Cipta Karya tahun anggaran 2022 meliputi, penyusunan master plan air minum, penambahan jaringan air minum Wosusokas, penyusunan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM), menyusun master plan air limbah, pendataan septic tank program L2T2, merehab bangunan pagongan (beranda) Masjid Agung Surakarta (lanjutan), penyusunan master plan Masjid Agung Surakarta, penyusunan amdal Taman Balekambang, amdal dan andalalin Benteng Vastenburg, penyusunan Detail Engineering Design (DED) pelestarian situs Astana Oetara, pemeliharaan bangunan cagar budaya, penyusunan harga satuan pokok kegiatan, pelatihan tenaga terampil konstruksi, serta penyusunan data dan informasi kecelakaan kerja proyek konstruksi.

Dengan rencana kegiatan di atas, wilayah di Kota Surakarta akan diawasi air minumnya dengan penyusunan master plan air minum. Sehingga, warga tidak perlu khawatir karena semua akan kebagian saluran air bersih dan layak minum.

Selanjutnya, direncanakan juga menambahkan jaringan air minum Wosusokas melalui peningkatan layanan air bersih perpipaan Sistem Penyedia Air Minum (SPAM). SPAM Regional Wosusokas menjadi sumber air baku yang didapatkan dari Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, dan disalurkan ke pipa transmisi air bersih dengan 12 titik reservoir.

Pengolahan air limbah tidak kalah penting dari air minum. Dengan pengolahan yang baik dan benar akan menyelamatkan lingkungan dari zat-zat berbahaya yang disebabkan air limbah. Dengan itu, akan membuat siklus air akan tetap terjaga kebersihannya. Pengolahan air limbah ini dilaksanakan di lima kecamatan Kota Surakarta, mencakup Banjarsari, Jebres, Laweyan, Serengan, dan Pasar Kliwon.

Dengan adanya Rencana Cipta Kerja tentu akan mengatur penyusunan mengenai pelestarian beberapa situs budaya beserta cagar budaya di Kota Surakarta. Hal ini bertujuan supaya tetap menjaga keutuhan dan keasrian bangunan, agar dapat terus dimanfaatkan di masa mendatang. Sasaran utama kegiatan ini menyasar pada situs Benteng Vastenburg, Taman Balekambang, Masjid Agung Surakarta, serta Astana Oetara.

Rencana Kegiatan Cipta Kerja akan memperhatikan unsur bangunan beserta kepentingan para pekerja kontraktornya. Soal ini diperkuat dengan dilakukannya pelatihan tenaga terampil konstruksi, serta penyusunan data dan informasi kecelakaan kerja proyek konstruksi. Kegiatan ini menjadi hal penting dibahas, agar tercipta para pekerja yang berkualitas dan profesional.

Pengembangan dan Pembangunan Kota

Kota Surakarta merupakan salah satu kota yang penting dalam kajian pengembangan visi budaya dalam pembangunan kota. Strategi merangkul semua kalangan telah berjalan, berakar dari level yang paling bawah di tingkat RT, desa, kecamatan sampai kota.

Inklusi juga berjalan melalui intensifnya public hearing antara pemerintah kota dan komunitas. Berjalannya proses ini di Kota Surakarta ini tidak lepas dari kemampuan pemerintah kota dalam melakukan networking dengan semua kelompok dalam masyarakat.

Karakter sosial politik warga Surakarta yang sangat aktif dalam organisasi paguyuban, membuat pendekatan kelembagaan pemerintah dapat dilaksanakan dengan efektif.

Di Surakarta, paguyuban tidak hanya menjalankan fungsi sosial, seperti pemersatu antar profesi, misal pedagang pasar, tukang becak, pedagang kaki lima, dan bisnis, maupun fungsi ekonomi, seperti dana bergulir dan arisan, akan tetapi juga berfungsi secara politik sebagai wadah kepentingan warga. Di sisi lain, terdapat tradisi NGO yang kuat dan kritis yang intens mengawasi berjalannya pemerintahan.

Citra mempengaruhi prioritas pembangunan kota dari dua sisi. Dari perspektif supply-side (jenis kebijakan ekonomi di mana fokus utama adalah penawaran agregat), pemerintah kota menetapkan visi yang berorientasi budaya (Solo di masa depan adalah di masa lalu) menuju eco-cultural city yang diejawantahkan melalui dua aktivitas utama, yaitu pengembangan infrastruktur pendukung (revitalisasi pasar tradisional, terminal dan taman) dan pengembangan event budaya secara kolosal seperti SBC, SIEM dan SIPA.

Sedangkan dari perspektif demand-side (sisi permintaan), tampak perkembangan masyarakat sipil merupakan bagian dari proses demokratis pengambilan keputusan di Surakarta. Keterbukaan Pemerintah Kota Surakarta terhadap keberadaan lembaga-lembaga kemasyarakatan membuat proses perumusan program dan pelaksanaannya dapat berjalan dengan lancar dan lebih tepat sasaran.

Di samping itu, pemerintah kota bersama komunitas-komunitas yang ada mengambil inisiatif bersama-sama berupaya untuk mengetahui kebutuhan dan harapan masyarakat, yang pada gilirannya dimanfaatkan untuk merancang kegiatan-kegiatan. Governance yang mendasarkan diri pada mutual trust ini merespon tuntutan masyarakat dengan strategi inklusi yang pada gilirannya meningkatkan kepercayaan masyarakat pada kepemimpinan yang ada (identification-based trust).

Citra yang dibangun Pemerintah Kota juga digunakan untuk memobilisasi gerakan pelembagaan kegiatan budaya yang bergerak dalam kerangka visi Solo past is Solo future. Komunitas-komunitas yang telah ada dalam masyarakat berkembang mengikuti fasilitasi yang diberikan pemerintah kota. Tumbuhnya industri pariwisata dan perhotelan bisa terjadi dalam kerangka politik inklusi pemerintah Kota Surakarta.

Dalam Kerangka berpikir yang seperti ini, visi Solo past is Solo future mampu merangkum kebajikan pro-investasi dan pro-poor dalam satu kerangka kebijakan yang saling terkait dan saling menguatkan.

Bahan Bacaan

Harsasto, Priyatno. (2015). ‘Citra dalam Politik Kota: Kajian Kota Surakarta 2005-2013’. Jurnal Ilmu Sosial Vol.14/No.2