Adab Menghormati Guru dan Tingkah Laku

Bagi santri, penghormatan kepada kiai guru sudah serupa nafas, yang melekat dikandung badan. JATMAN.OR.ID

Pada saat jumpa seorang kawan, saya sering menyisipkan obrolan bahwa seseorang dengan nama fulan adalah guru saya. Sehingga mereka akan tahu, seberapa ‘ganjil’ saya pada saat berjumpa dengan guru saya itu. Ada banyak perilaku yang saya sebut ganjil, sebab tidak lumrah berlaku dalam tata pergaulan masyarakat pada umumnya, pada saat berjumpa dengan seorang guru.

Misalnya, saya menyaksikan sendiri bagaimana Kiai Imam Yahya Machrus dan putra-putranya pada saat bersimpuh di hadapan Mbah Maemon Zubair. Tidak hanya cukup mencium tangan Mbah Moen, namun juga mencium tangan bolak-balik, dan mencium lutut beliau.

Pemandangan yang belakangan dibagikan dalam bentuk video oleh Yik Rumail Abbas, pertemuan antara Kiai Yahya dan Kiai Uban Maemon, di mana keduanya saling berebut mencium tangan, bukanlah pemandangan yang asing di pesantren, yang kemudian itu tidak hanya ditiru, namun sudah mbalung sungsum melekat di benak santri.

Bukti bagaimana santri meniru adab terbaik dari gurunya, untuk menghormati orang lain, terlebih yang lebih sepuh atau gurunya. Pemandangan serupa itu juga pernah kita saksikan, selepas pengumuman keputusan Kiai Yahya terpilih sebagai ketua PBNU. Dalam sebuah video, Kiai Yahya langsung berdiri untuk mencucup tangan Kiai Said Aqil Siradj.

Di Lirboyo, seorang santri yang sedang berjalan atau bersepeda, tiba-tiba bisa berhenti mendadak, turun dari sepeda, berdiri mematung agak membungkuk, sebab berpapasan dengan kiai dan kerabatnya, atau mobil kiainya. Ini pemandangan umum di lingkungan pesantren, yang mungkin tidak umum di luar pesantren.

Bagi santri, penghormatan kepada kiai guru sudah serupa nafas, yang melekat dikandung badan. Bahkan ada aturan tidak tertulis, bahwa baju kebesaran santri yang sudah menjadi kiai, seperti peci putih, songkok haji, serban, atau jubah, akan disimpan rapat jika kebetulan kiainya datang mengunjungi. Digantikan songkok hitam menjadi pakaian baku yang digunakan sebagai penutup kepala seorang santri untuk berhadapan dengan Kiainya.

Soal aturan songkok hitam ini, memang tidak berlaku di semua lingkungan pesantren, tapi berlaku di lingkungan pesantren tertentu, seperti Lirboyo, Tegalrejo, dll. Kalau tidak salah ingat, saya pernah mendengar Gus Baha’ menjelaskan tentang ini, tentang songkok hitam dan baju putih yang menjadi identitasnya selama ini. Bahwa ia hanya melanjutkan tradisi busana santri di pesantren.

Menjaga adab juga menjadi laku yang melekat di kalangan santri yang didik langsung oleh seorang kiai, maupun yang hidup di lingkungan santri. Cara duduk, cara berbicara, dan cara bersikap akan tampak sekali bahwa seseorang adalah santri, atau yang akrab dengan dunia pesantren.

Seperti lingkungan di mana saya tinggal hari ini, di mana para pemuda dan pemudi yang aktif ikut di dalam kegiatan Nahdlatul Ulama, tampak sekali menjalankan tradisi santri yang sangat menjunjung adab sopan santun. Santri pesantren besar Nahdlatul Ulama, yang mengabdi pada organisasi dalam lingkup struktural, menjadi pengurus NU atau Badan otonom di dalamnya.

Bahkan tidak hanya kepada guru, atau kepada yang lebih tua usianya, bahkan kepada yang lebih muda saja, santri-santri NU ini sangat menjunjung adab. Jauh dari tindak tanduk petantang-petenteng, mentheng kelek di hadapan orang lain. Tidak pamer gagah kepada kawanannya sendiri, apalagi kepada orang lain.

Ada satu kisah, yang diceritakan oleh Kiai Yahya Ketua PBNU, tentang almarhumah almaghfurlah Kiai Sahal Mahfudz, saat itu menjabat sebagai Rais Am PBNU. Jabatan paling tinggi dalam struktur NU, kira-kira dapat dipahami sebagai Kiainya Kiai di NU.

Begini ringkasan ceritanya; satu waktu, Kiai Sahal diundang untuk menjadi pembicara di sebuah pesantren yang menyelenggarakan hajatan besar. Pada saat tiba giliran waktu untuk Kiai Sahal ngendika, ketua panitia terlihat panik sebab Kiai Sahal belum tampak kehadirannya. Salah satu bangku di barisan paling depan yang disediakan untuk beliau juga masih kosong.

Ketua panitia langsung memanggil komandan Banser yang kebetulan bertugas memimpin pengamanan acara itu. Ketua panitia memerintahkan untuk mencari Kiai Sahal, dengan ciri-ciri badan dan pakaian yang biasa dikenakan oleh Kiai Sahal. Seorang sepuh, badan kurus, dengan pakaian koko atau batik, peci hitam. Waktu itu belum ada ponsel pintar untuk mempersingkat penjelasan.

Mendengar penjelasan ciri-ciri fisik itu, komandan Banser seperti keselomot rokok. Sebab sudah agak lama ia mengarahkan seseorang dengan ciri yang sama, untuk duduk di barisan paling belakang. Giliran ketua panitia yang seperti keselomot rokok, langsung berlari menuju tempat duduk paling belakang. Dan benar saja, ia melihat Kiai Sahal duduk tenang di kursi belakang. Cerita lengkapnya bisa Anda baca di web Terong Gosong.

Betapa Kiai Sahal sangat menghormati penyelenggara, dan tuan rumah acara. Beliau manut saja ditempatkan di kursi paling belakang. Tanpa protes, tanpa perlu klarifikasi berlebihan. Penjelasan singkat yang dirasa perlu sudah disampaikan, bahwa beliau datang diundang Kiai tuan rumah acara, namun Banser menganggap bahwa semua orang yang hadir memang diundang, dan berpikir sebaiknya hadirin dengan pakaian biasa, duduk saja di belakang.

Teladan tentang adab ini penting, terutama adab kepada guru. Saking pentingnya, seringkali warga NU dianggap menyembah kuburan, sebab munduk-munduk waktu masuk di dalam komplek makam gurunya. Tujuan lainnya, kenapa saya perlu mengenalkan guru saya kepada kawan-kawan di rumah, supaya mereka tau itu guru saya, dan saya akan menjalankan kebiasaan sebagai seorang murid pada saat berjumpa dengan guru dalam setiap kondisi dan tempat.

Tentu saja saya tidak berhak memaksakan adab yang sama kepada kawan saya, pada saat berjumpa dengan guru saya. Sebagaimana kelaziman yang sama, kawan-kawan saya tidak memaksakan saya untuk bertekuk lutut pada saat berjumpa dengan guru mereka. Masing-masing dari kita tentu punya guru masing-masing, yang wajib kita hormati, namun tidak wajib bagi orang lain.

Tapi meski tidak memaksa sekalipun, seorang yang berakal sehat akan menaruh hormat kepada siapapun, apalagi kepada orang yang beradab dan tidak sombong. Lain kalo ketemu orang yang sombong, yang selalu pasang muka serem, yang selalu merasa penting dan merasa besar, menganggap orang lain kecil, lalu setiap kesempatan kepengin dikasih panggung, kepinginnya didengarkan, tidak mau mendengarkan, ya itu nanti dulu.

Add Comment