Tradisi Malam Selikuran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Keraton Surakarta menyelenggarakan malam selikuran untuk menyambut malam lailatul qadar. SOFYAN MOHAMMAD

Dalam Serat Jayabaya disebutkan ada empat zaman, yaitu zaman Kartoyugo, Partoyugo, Kaliyugo, dan Kalisengoro. Dari keempat zaman tersebut, Kalisengoro-lah yang dinilai mencerminkan kondisi saat ini yang ditandai dengan adanya pendemi virus Covid-19. Virus tersebut telah memberi dampak yang luar biasa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pada zaman Kalisengoro ditandai dengan ontran-ontran multidimensi seperti kondisi sekarang, yaitu membanjirnya arus informasi dan komunikasi yang nampaknya telah menciptakan fenomena baru di mana sekarang banyak sekali berita hoaks yang mengarah pada kondisi saling fitnah. Fenomena tersebut telah nyata terjadi di media sosial. Hal ini relevan dengan indikasi dalam nisbat zaman Kalisengoro.

Menapaki kondisi zaman seperti ini maka dalam Serat Kalatidha, R. Ng. Ronggowarsito berpesan melalui tulisan yang dikemas dalam bentuk tembang macapat jenis Sinom yang menyebutkan, “Jamane jaman edan, yen ora ngedan ora keduman, urip ing jaman edan iki kudu tansah eling lan waspada.”

Nasihat itu menyampaikan supaya manusia senantiasa ingat akan eksistensinya hidup di dunia, sebab kebahagiaan sejati manusia dapat dirasakan ketika manusia senantiasa mampu mengingat akan eksistensinya. Nasihat ‘eling lan waspada’ tersebut adalah salah satu kekayaan bangsa Indonesia, khususnya bagi orang Jawa, yang menjadi kata hikmat dan berlaku sebagai local wisdom yang patut untuk dipegang teguh di dalam menjalani hidup ini.

Eling lan waspada akan lebih tepat dijalani dalam kehidupan sehari hari secara way of life. Manifestasi perilaku ‘tansah eling lan waspada’ adalah makna religius, sebab bisa pula dilakukan dalam bentuk ritual tertentu.

Bagi orang Jawa, ada banyak ritual atau upacara untuk menandai suatu hajat dan peristiwa tertentu. Niels Mulder (1984) berpendapat bahwa bangsa Indonesia khususnya suku bangsa Jawa mempunyai sifat seremonial. Hampir pada tiap peristiwa yang dianggap penting, salah satunya yang menyangkut segi kehidupan seseorang, baik yang bersifat keagamaan (kepercayaan) maupun yang mengenai usaha seseorang dalam mencari penghidupan, pelaksanaannya selalu disertai upacara.

Dalam antropologi upacara atau ritual semacam itu lazim disebut ritus peralihan. Dalam bulan-bulan tertentu diadakan upacara yang bersifat keagamaan, misalnya ruwahan, selikuran, lebaran, syawalan, besaran, suran, saparan, muludan, dan sebagainya.

Upacara selikuran adalah salah satu ritus religius yang rutin digelar oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Malam selikuran adalah tradisi untuk menyambut malam lailatul qadar yang menurut ajaran agama Islam terjadi pada tanggal ganjil di mulai pada malam ke-21 (selikur).

Selikuran diyakini telah ada sejak awal penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Menurut R. Soerojo, budayawan Soloraya, menyebutkan bahwa tradisi ini diperkenalkan oleh Wali Songo sebagai metode dakwah Islam yang disesuaikan dengan budaya Jawa.

Selikur juga diartikan sebagai ‘sing linuwih ing tafakur’. Tafakur berarti usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Artinya, sebagai ajakan untuk lebih giat mendekatkan diri kepada Allah dan diharapkan menjadi sarana pengingat untuk memperbanyak sedekah, merenung dan introspeksi diri, juga menggiatkan ibadah.

Arak-arakan malam selikuran. SOFYAN MOHAMMAD

Dilansir dari laman resmi Lembaga Fatwa Mesir, Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad Thayyib, malam lailatul qadar berarti malam ampunan, diterimanya amal, dan dijauhkan dari api neraka. Pada malam itu segala aktivitas ibadah lebih baik dari ibadah pada seribu bulan. Karena begitu besar keutamaannya, waktu turunnya malam lailatul qadar bahkan dirahasiakan oleh Allah di sepuluh malam terakhir agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam mencarinya.

Malam lailatul qadar bahkan satu-satunya malam yang secara khusus dijelaskan dalam satu keseluruhan surah dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Qadr yang menyebutkan bahwa malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr: 4–5)

Pada puncak acara malam selikuran Ramadan 1443 H ini, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar ritus selikuran bertepatan dengan hari Jumat, tanggal 22 April 2022, atau malam Sabtu.

Acara dimulai dari dalam Pendopo Ageng Pagelaran, diikuti oleh ribuan peserta mulai dari para priyagung pengageng ndalem, para sentana, para abdi dalem, para prajurit, para pengurus Paguyuban Kawulo Kraton (Pakasa) dari berbagai cabang dan anak pang, serta masyarakat umum.

Ribuan orang berkumpul dengan suasana khidmat ikut mengarak tumpeng sesaji berupa tumpeng sewu yang masing-masing dipikul oleh empat abdi dalem. Iring-iringan berjalan mengular mulai dari Pendopo hingga Masjid Agung samping Alun-alun Utara.

Dalam arak arakan tersebut, selain tumpeng sewu juga diarak lampion lampu pelita yang menyala dan ribuan oncor api di bagian kanan dan kiri peserta iring-iringan. Sementara itu, di bagian depan, para abdi dalem perempuan melantunkan kidung-kidung dalam doa keselamatan, sehingga prosesi ini sangat menimbulkan suasana yang sakral dan khidmat.

Menurut R. Soerojo, selikuran (21 Ramadan) memiliki nilai atau arti yang spesial. Tradisi malam selikuran (21 Ramadan) adalah tradisi budaya sekaligus religi (agama) yang syarat dengan makna. Tentunya hal itu sangat istimewa, karena kita dapat melihat banyak nilai-nilai positif yang ada dalam peringatan selikuran tersebut.

Prosesi semacam ini dalam penghayatan masyarakat Jawa terhadap Islam, barangkali banyak sisi menarik yang dapat disimak. Sebagaimana disampaikan oleh R. Soerojo bahwa sesaji hanya sebagai simbolisasi ucap syukur atas segala berkah yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita. Di samping itu, sebagai permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena akan melakukan sesuatu, agar kelak berhasil dan selamat.

Melalui Serat Wulangreh, Sunan Pakubuwono IV menyampaikan dalam tulisanya,

Jroning Quran nggoning rasa jati,
nanging pilih wong kang uninga,
anjaba lawan tuduhe,
nora kena binawar,
ing satemah nora pinanggih,
mundhak katalanjukan,
temah sasar susur,
yen sirdayun waskitha,
kasampurnaning badanira puniki,
sira anggegurua.

Terjemahan bebas petuah yang ditulis dalam tembang Dhandhanggula tersebut, kurang lebih, “Al-Qur’an adalah tempat rasa sejati. Tetapi tidak setiap orang mengetahuinya, kecuali (mereka) yang tekun dan patuh. Karena jika demikian (dia) tidak akan menemui sejatinya ajaran. Jangan pula sembarangan yang bisa mengakibatkan kesasar. Jika engkau waspada, akan mendapatkan kesempurnaan dan karenanya engkau harus berguru.”

Sunan Pakubuwono IV (1788–1820) dalam ajaran Wulangreh yang arti harfiahnya ‘pengajaran dan perintah’ secara tersirat ingin menunjukkan kedalaman makna wahyu Al-Qur’an.

Pada dua baris pertama tembang Dhandhanggula itu, Sri Sunan yang dikenal sebagai seorang pujangga menuturkan tentang pentingnya penghayatan Al-Qur’an dan orang-orang terpilih yang memahaminya. Ungkapan itulah yang mengilhami masyarakat Jawa dalam menghayati Al-Qur’an, serta keyakinan adanya misteri anugerah Allah Swt yang turun di malam lailatul qadar.

Semoga dengan tetap dilestarikannya tradisi malam selikuran ini, kita semua yang hidup di zaman yang penuh dengan ontran-ontran yang dinisbatkan relevan dengan zaman Kalisengoro, dapat menjalani laku hidup dengan ‘tansah eling lan waspada’ sehingga kita semua memperoleh berkah keselamatan dunia maupun akhirat.

Dengan terselenggaranya tradisi selikuran oleh segenap otoritas Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, semoga kita semua akan mendapatkan nikmat fadhilah lailatul qadar sehingga negara Indonesia senantiasa mendapatkan berkah tata titi tentrem kerto raharjo.

Bahan Bacaan

Soeharto. 1993. Diorama Keraton Surakarta Hadiningrat. Solo: Tiga Serangkai.
GPH Poeger. 1999. Kalawarti Budaya Sitarodya. Surakarta: Sitarodya.

Add Comment