Nasib Keraton Kartasura

Reruntuhan tembok baluwarti sisi barat bagian luar Keraton Kartasura. Dokumen Pribadi

Pagi tadi saya diajak kawan, menonton keserakahan anak manusia atas peninggalan leluhurnya. Dengan dalih sudah memiliki sertifikat hak milik tanah yang di atasnya berdiri bangunan Tembok Baluwarti Keraton Kartasura, seorang anak manusia mengerahkan kemampuannya bertindak bodoh, dengan menggempur, melumat bangunan bersejarah ini.

Sebenarnya jalan untuk masuk ke lokasi tanah bersertifikat hak milik ini sudah ada, lebar juga, tepat di muka kuburan Gedong Obat. Tapi ya itu tadi, manusia serakah tidak cukup punya satu jalan, punya satu pintu, mereka butuh lebih banyak lagi. Kalau dirasa perlu, ya gempur tembok keraton. Bongkarannya juga bisa untuk pondasi. Pikir mereka.

Ini buntut dari persoalan panjang tentang pengelolaan situs Keraton Kartasura. Pihak terkait sepertinya abai, dalam tugasnya menjaga, terlebih melestarikan situs ini, situs yang menjadi garis sejarah dua keraton besar, dan dua kadipaten besar, yaitu Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman.

Tiap kali menonton kemeriahan acara Kasunanan, atau Mangkunegaran, dan melawat ke Yogyakarta, melihat bangunan keraton yang tertata rapi dan terawat, selain memikirkan berapa biaya penyelenggaraan dan pemeliharaannya, juga saya kepikiran nasib situs Keraton Kartasura yang terbengkalai tidak terurus. Bukankah keraton itu muasalnya, selain Plered dan Kota Gede?

Beberapa tahun ini, warga Kartasura, perorangan maupun yang tergabung dalam komunitas, dengan semangat untuk menjaga sisa peninggalan Keraton Kartasura, mencoba untuk membangun lingkungan yang kondusif untuk pelestarian. Berkala mereka mengadakan aksi bersih-bersih keraton, menyelenggarakan acara di dalamnya, guna menumbuhkan, atau merangsang kepekaan terhadap pelestarian situs penting peninggalan Mataram ini.

Pagi tadi pihak dari kepolisian, kecamatan, kelurahan, dan dinas pendidikan dan kebudayaan datang, menengok tembok keraton yang rubuh itu. Ada yang berpendapat selama belum terdaftar sebagai cagar budaya, maka boleh sembarangan menggarap situ tersebut. Ini pendapat yang menyedihkan, akan lebih menyedihkan lagi jika diamini oleh pihak yang mestinya bertanggungjawab.

Beruntung tadi wakil dari dinas pendidikan dan kebudayaan, menyampaikan bahwa situs ini sedang diajukan sebagai cagar budaya. Ya, ketimbang tidak, saya pikir. Ketimbang tidak sama sekali didaftarkan, ya lebih baik sudah didaftarkan, meski itu juga menjadi indikator bobroknya cara pengelolaan cagar budaya di negeri ini. Masak situs abad ke-18, berdiri tegak dan kokoh, dapat dikenali dengan mudah, lah kok baru didaftarkan. Selama ini ke mana?

Ini juga mestinya menjadi momentum, pentingnya kita mulai mengurus perkara-perkara substantif, memikirkan isi, ketimbang seremoni yang sifatnya di permukaan, kulit, tidak menjadi kebutuhan mendasar dari usaha pelestarian cagar budaya.

Seremoni kulit seperti pawai, karnaval, sosialisasi di kantor instansi, dan yang serupa itu mesti diimbangi dengan pendidikan dan pelatihan yang tepat sasaran. Jika itu semua sudah dilakukan? Ya, berarti tidak tepat sasaran atau mentah, tidak terukur matang. Buktinya masih ada kejadian serupa itu, kemarin.

Kotornya tembok keraton, lalu banyaknya tumbuhan yang tumbuh di atasnya, menunjukkan ketidakseriusan dinas terkait dalam pengelolaan. Beberapa warga mendapat peringatan pada saat hendak bermaksud membersihkan, sebab katanya ada tata aturan khusus yang mesti dipatuhi, dan yang tahu hanya dinas terkait.

Menunggu penanganan yang sempurna dan baik tidak kunjung datang, sepertinya ada kendala personil yang ditugaskan, yaitu kurang banyak. Setahu kami hanya ada dua, itu pun sepertinya pekerja honorer, yang dihonor ringan untuk membersihkan bentangan panjang tembok keraton tersebut. Mana mampu?

Saya tadi titip pesan ke orang dinas, bahwa situs bersejarah itu entah sudah terdaftar atau belum, mestinya ada mekanisme untuk melindungi sampai perkara teknis pendaftaran cagar budaya itu beres. Saya juga titip pesan, supaya ditambah lagi personil petugas dari dinas, juga saya ingatkan, bahwa negara itu kaya, tinggal becus tidak perencana instansi menganggarkan anggaran penting untuk pemeliharaan situs semacam ini!

Jika setelah kejadian ini pengelolan masih sama, ya sial sekali nasibmu Keraton Kartasura. Sialan!

Add Comment