Inferiority Complex dan Pengaruhnya terhadap Psikis Mahasiswa

Percaya diri dan bangga atas kemampuan yang dimiliki, menghindarkan kita dari perasaan inferiority complex. Istock/Chokja

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, yang mana persentase penduduk terbesar terdapat pada rentang usia produktif dibandingkan golongan usia lainnya.

Usia produktif penduduk dalam kehidupan manusia berada pada masa dewasa awal. Peralihan masa remaja menuju dewasa awal, salah satunya ditandai munculnya sifat ambisius, misal dalam menggapai impian dan mewujudkan keinginannya. Fase transisi ini sering kali tercermin pada diri mahasiswa.

Dalam fase ini, mahasiswa identik dengan merancang ataupun melakukan eksperimen dan eksplorasi terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Seperti halnya, mencari bidang perkuliahan yang diminati, terjun dalam kegiatan organisasi, memikirkan peluang dan pekerjaan setelah lulus.

Saat menginjak fase dewasa awal, seseorang lebih rentan mengalami suatu permasalahan. Ekspektasi akan impian dan harapan yang ingin diwujudkan nyatanya tak selalu berjalan mulus. Adanya hambatan dalam menyelesaikan suatu permasalahan menjadikan individu tidak dapat menemukan jalur penyelesaian.

Pada proses penyelesaian masalah tersebut terkadang membuat individu mengalami tekanan, stress, bahkan depresi, sehingga merasa terjebak dan hilang arah dalam proses menuju kedewasaan.

Dalam kehidupan, kegagalan selalu hadir dalam proses pendewasaan diri. Saat seseorang mengalami kegagalan, terkadang justru ditanggapi secara maladaptif sehingga memunculkan perasaan rendah diri, perasaan tertinggal, perasaan tidak diakui, dan ketidakmampuan, serta adanya penolakan, yang menimbulkan gangguan psikis inferiority complex.

Inferiority complex dimaknai sebagai keadaan atau kondisi seseorang yang merasakan kekurangan dan ketidakmampuan berlebih terhadap diri–menciptakan pandangan negatif pada diri sendiri, serta merasa tidak mampu mengatasi suatu permasalahan.

Seseorang yang mengalami inferiority complex cenderung menunjukkan gejala kecemasan berlebihan, sering merasa tidak aman, hingga menimbulkan individu berperilaku abnormal.

Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki rasa inferior, yakni pada sikap/pola asuh orang tua, memiliki cacat fisik, keterbatasan mental, merasa hidup penuh dalam penyesalan, atau selalu membandingkan diri terhadap pencapaian orang lain.

Beragam faktor yang dapat menyebabkan individu memiliki rasa inferior, di antaranya pola asuh orang tua, karakter fisik individu, dan kondisi ekonomi dan sosial.

Pada pola asuh orang tua, inferioritas timbul manakala orang tua memberikan tuntutan berlebih pada anak atau memberikan perlakuan berbeda terhadap masing-masing anak yang dimiliki. Hal inilah yang dapat memupuk perasaan inferior seorang anak sehingga mentalitas ketika ia mengalami masa transisi menjadi sulit terbuka dan sulit menyelesaikan berbagai persoalan karena adanya inferioritas.

Karakter fisik yang dimiliki individu menjadi penyebab seseorang dapat mengalami inferiority complex. Biasanya seseorang yang memiliki keterbatasan fisik yang tidak sempurna, menjadikan individu ini merasa rendah diri atas tampilan fisik yang dimiliki tidak serupa dengan orang pada umumnya.

Selain itu, kondisi ekonomi dan sosial juga dapat menyebabkan munculnya rasa inferior pada diri. Adanya kondisi ekonomi dan sosial yang rendah menjadikan pribadi seseorang yang mudah menyerah dan memandang negatif diri, serta terkadang merasa malu atas kondisinya.

Sedangkan pada mahasiswa, sebab utama munculnya inferiority complex adalah dalam lingkungan pendidikannya.

Sekilas inferiority complex yang dialami mahasiswa dianggap biasa saja, bahkan tidak terlalu dipedulikan. Padahal gangguan psikis ini, memiliki dampak yang signifikan pada aktivitas sosial.

Dalam pengaruhnya terhadap prestasi akademik mahasiswa, kebanyakan mahasiswa yang mengidap inferiority complex akan mengalami frustrasi dan kecemasan berlebihan, yang pada akhirnya menyebabkan prestasi akademiknya turun.

Padahal sebenarnya mahasiswa tersebut memiliki kemampuan untuk mempelajari ketertinggalannya dan memperbaiki prestasi akademiknya. Namun, inferiority complex yang telah terpatri dalam pikirannya, menyebabkan ia merasa benar-benar tidak mampu melakukan hal tersebut.

Mengatasi Gangguan Inferiority Complex

Menangani gangguan psikis berupa inferiority complex, sebenarnya dapat diatasi dengan berbagai macam hal, salah satunya dengan fokus pada keunikan, menciptakan hal-hal positif dalam pikiran kita, dan meyakini diri kita dapat mengurangi perasaan inferior dalam diri.

Misalnya, pada diri mahasiswa yang mengalami inferiority complex, bisa memfokuskan pikiran pada sisi positif yang unik dalam dirinya sehingga meskipun ia memiliki kekurangan, dengan kelebihan atau sisi positif yang dimiliki, maka akan bisa mengatasi masalahnya tanpa harus berfokus pada kekurangan dan sisi negatif dirinya.

Lain halnya dengan Hauck (1999), yang menjelaskan bahwa inferiority complex dapat diatasi dengan menggunakan tiga cara, developing performance confidence, making people respect, never rating yourself.

Pertama, developing performance-confidence. Salah satu cara paling sederhana untuk mengatasi inferiority complex adalah dengan mengembangkan sebanyak mungkin keterampilan yang dapat dilakukan. Dengan mengembngkan sebanyak mungkin keterampilan yang dimiliki dapat menjadikan kita lebih percaya diri dan berani.

Kedua, make people respect you. Respek memiliki tiga makna singkat yaitu apresiasi, kekaguman, dan rasa segan. Mengurangi inferiority complex pada mahasiswa dapat dilakukan dengan cara berperilaku yang baik, agar tidak mudah direndahkan orang lain. Misal, jika seseorang berlaku baik kepada kita maka kita pun harus berlaku baik kepadanya.

Ketiga, never Rate Yourself. Teknik ini tidak pernah menilai atau memberi judgement tentang perilaku, karena akan cenderung mengarah pada penilaian yang negatif terhadap diri sendiri.

Selain ketiga cara yang diungkapkan Hauck, bahwa hal mendasar untuk menangani perasaan inferior sendiri adalah adanya kepercayaan diri.

Adanya rasa percaya diri sebagai suatu keyakinan dalam segala aspek kelebihan yang dimiliki, di mana keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu mencapai berbagai tujuan dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Selain itu, bersyukur atas apa yang kita miliki dan mencintai apa yang ada dalam diri kita dapat pula mengurangi inferiority complex pada diri

Bahan Bacaan

Cahyaningtyas, Kania dkk. 2020. ‘Inferiority Complex pada Mahasiswa’. Journal of Education and Counseling (JECO), Volume 1(1). h. 1-7.

Hauck, P. A. (1997). ‘Three Ways to Overcome Inferiority Feelings’. Journal of Rational-Emotive & Cognitive-Behavior Therapy, 15(1), 57-69.

Add Comment