Tanaman Herbal Lokal, Potensi Penunjang ‘Wellness Tourism’

Ilustrasi Tanaman Herbal Lokal, Potensi Penunjang Wellness Tourism. PIXABAY

Perkembangan dunia kesehatan modern saat ini tak serta merta menggusur minuman kesehatan tradisional, khususnya olahan jamu tradisional. Guna membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mendorong pengembangan wisata kesehatan yaitu Wellness Tourism.

Wisata kesehatan merupakan kegiatan wisata yang mengedepankan peningkatan kesehatan, kebugaran fisik, sekaligus pemulihan kesehatan spiritual dan mental wisatawan.

Mengingat, Indonesia dikenal memiliki sekitar 7.000 tanaman herbal dan rempah yang kerap digunakan untuk menjaga kesehatan, kebugaran, dan penyembuhan. Tradisi mengolah tanaman herbal menjadi ramuan jamu yang berkhasiat untuk kebugaran dan pengobatan yang ada dari zaman dahulu hingga sekarang.

Asal Usul Jamu

Jamu merupakan istilah yang berasal dari bahasa Jawa, tepatnya pada 16 Masehi. Kata jamu berasal dari dua kata yaitu, ‘Djampi’ dan ‘Oesodo’ yang memiliki makna obat, doa, dan juga berarti formula yang berbau magis. Jamu pertama kali muncul pada zaman kerajaan Mataram atau sekitar 1300 tahun yang lalu.

Keberadaan jamu sejak zaman dulu dapat dilihat dari beberapa bukti sejarah seperti relief pada Candi Borobudur. Relief Candi Borobudur yang dibuat oleh kerajaan Hindu-Buddha pada tahun 772 Masehi menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu untuk memelihara kesehatan. Bukti sejarah lainnya yaitu penemuan prasasti Madhawapura dari peninggalan kerajaan Hindu-Majapahit yang menyebut adanya profesi ‘peracik jamu’ yang disebut Acaraki.

Ditemukannya Lontar Usada di Bali yang ditulis menggunakan bahasa Jawa kuno menceritakan penggunaan jamu juga menjadi bukti keberadaan jamu sejak zaman dahulu. Menyebarnya konsumsi jamu di masyarakat dipengaruhi banyaknya ahli botani yang mempublikasikan tulisan-tulisan mengenai ragam dan manfaat tanaman untuk pengobatan.

Jamu Sebagai Alternatif Pengobatan

Di Indonesia, sebagian orang lebih percaya jamu sebagai alternatif pengobatan dengan menggunakan obat-obat herbal karena dianggap bersifat alami, sehingga bebas dari efek samping yang tidak diinginkan. Kebanyakan orang mengonsumsi jamu untuk menjaga kesehatannya, memelihara kecantikan tubuh, suplemen penambah tenaga dan gairah hidup.

Jamu yang berasal dari tanaman herbal memang memberikan efek yang terlihat lambat tetapi bersifat memperbaiki, dibanding obat-obatan kimia yang memberikan efek instan namun menimbulkan efek samping yang berbahaya. Oleh karena itu, jamu sering digunakan sebagai kombinasi pengobatan untuk mengobati penyakit kronis. Pengobatan dengan menggunakan tanaman herbal memiliki beberapa keuntungan, yaitu relatif aman untuk dikonsumsi, memiliki toksisitas yang rendah serta tidak meninggalkan residu.

Contoh tanaman obat yang banyak digunakan untuk mengobati penyakit, dan telah lulus uji klinis menurut saintifikasi adalah, jenis tanaman temulawak dan kunyit. Informasi yang dihimpun dari Pusat Studi Biofarmaka IPB menyebutkan bahwa Curcuma Xanthorrhiza Roxb atau yang lebih dikenal temulawak, dan Curcuma Domestica Val atau yang lebih dikenal dengan kunyit merupakan tanaman obat dari family zingiberaceae yang banyak ditemukan di Indonesia.

Penelitian menunjukan temulawak dapat berfungsi sebagai antimikroba, antimetastatik, antikanker, anticandida, antioksidan dan antihipolipidemik. Sedangkan penelitian farmakologi menyebutkan bahwa kunyit dapat berfungsi sebagai antiinflamasi, antioksidan, antiprotozoa, nematicidal, antibakteri, antivenom, anti-HIV, dan antitumor. Warna kuning pada kedua rimpang merupakan cerminan dari senyawa bioaktif kurkuminoid yang dapat berfungsi sebagai penangkap radikal bebas, penghambat nitrit oksida, antiinflamasi, antitumor, antialergi, dan antidementia.

Seiring berkembangnya ilmu dan teknologi, jamu tradisional yang dulunya harus dipanen terlebih dahulu untuk dikonsumsi, sekarang sudah diolah dan dikemas secara modern. Saat ini banyak perusahaan yang mengembangkan jamu menjadi lebih praktis dan higienis. Jamu dikemas menjadi berbagai bentuk seperti bubuk, kapsul, tablet dengan kemasan yang lebih menarik sehingga konsumen mudah mendapatkan dan mengonsumsinya.

Jenis-Jenis Jamu

  • Beras Kencur

Jamu ini terdiri ekstrak kencur, beras, ekstrak jahe, dan ekstrak asam. Jamu beras kencur memiliki aktivitas antioksidan tinggi yang dipercaya memiliki banyak khasiat untuk menjaga kesehatan tubuh di antaranya yaitu untuk mengontrol berat badan, menambah nafsu makan, menghilangkan pegal linu, meningkatkan stamina, sebagai antidiabetes, dan pengontrol berat badan.

  • Kunyit Asam

Jamu kunyit asam merupakan jamu yang biasanya paling banyak dicari. Jamu kunyit asam ini bahan utamanya adalah kunyit dan asam jawa. Namun, diberi beberapa tambahan bahan, seperti gula merah, temulawak, dan rempah lain. Warna kuning pada kunyit disebabkan oleh adanya pigmen dari senyawa kurkumin. Kurkumin diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, antiinflamasi, dan antikanker.

  • Sinom

Jamu sinom ini hampir mirip dengan kunyit asam, hanya saja bahan utamanya adalah sinom atau daun asam yang masih muda. Biasanya diolah dengan tambahan temulawak, kunyit, kapulaga, kayu manis, pala, gula merah, serta gula pasir.

Jamu sinom bermanfaat untuk menambah nafsu makan, mengatasi peradangan lambung atau mag, dan mengatasi masalah keputihan pada wanita. Selain itu, jamu sinom dapat dipercaya bisa meremajakan kulit, mencerahkan kulit, dan meredakan nyeri haid.

  • Cabe Puyang

Jamu cabe puyang atau jamu pegal linu ini khasiat utamanya adalah menghilangkan pegal-pegal karena kecapekan, maupun sakit pinggang. Selain itu, jamu cabe puyang juga bermanfaat untuk menghilangkan kesemutan.

  • Kudu Laos

Bahan baku jamu kudu laos ini adalah laos yang ditumbuk dengan aneka bahan lain kemudian direbus. Seperti namanya, jamu kudu laos diracik dari mengkudu dan laos atau lengkuas. Mengkudu telah banyak diteliti dan memiliki segudang manfaat bagi kesehatan, di antaranya meningkatkan kekebalan tubuh, sebagai antidiabetes, mencegah kanker, pemulihan sel, dan menjaga kesehatan kulit.

Kudu laos ini bisa mengatasi kembung dan meredakan demam, baik bagi anak-anak maupun orang tua. Sedangkan, manfaat lengkuasnya yaitu mendukung kesehatan otak, mencegah kanker, merawat kulit, meredakan batuk serta tenggorokan, dan meningkatkan kesuburan pria.

  • Temulawak

Bahan dasar untuk pembuatan jamu temulawak, yaitu menggunakan temulawak yang kemudian ditambahkan tambahan seperti asam jawa, gula aren, daun pandan, dan jinten. Jamu temulawak ini bisa dikonsumsi oleh anak-anak dan orang tua, karena bisa menyembuhkan keluhan pusing, mual, sakit perut, dan menghilangkan gejala masuk angin.

Temulawak sendiri mempunyai kandungan antioksidan yang dapat mencegah terjadinya kerusakan sel pada mukosa lambung akibat radikal bebas. Komponen senyawa yang bertindak sebagai antioksidan dari rimpang temulawak adalah flavonoid, fenol, dan kurkumin.

Olahan Jamu Keraton Surakarta

Sebagai destinasi pariwisata, Surakarta atau yang biasa dikenal dengan nama Kota Solo sangat kental dengan kebudayaan yang dimiliki. Potensi kebudayaan yang dimiliki kota Surakarta tidak lepas dari keberadaan Keraton Surakarta Hadiningrat yang kini menjadi salah satu objek wisata budaya, sekaligus sejarah diresmikannya Kota Surakarta. Keraton Surakarta Hadiningrat merupakan istana dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dibangun pada tahun 1744 sebagai salah satu pusat perkembangan kesenian dan kebudayaan.

Salah satu budaya yang dilestarikan oleh Keraton Surakarta yaitu budaya pengobatan tradisional. Pengetahuan tentang tradisi tersebut tersimpan dalam naskah kuno Serat Kawruh yang di dalamnya dijumpai 1.734 formula obat yang terbuat dari berbagai komponen yang berasal dari alam (natural ingredients) termasuk informasi kegunaannya.

Dilansir pada Gatra.com, tingginya permintaan minuman herbal di masa pandemi Covid-19 mengakibatkan penjualan racikan tradisional warisan Keraton Kasunanan Surakarta habis terjual. Racikan jamu tradisional yang dijual yaitu gula asam dan beras kencur yang diyakini berkhasiat menjaga kebugaran tubuh. Di dalam ramuan beras kencur, terdapat jahe yang berkhasiat untuk menangkal masuk angin dan mampu menghangatkan badan.

Sebab di masa pandemi Covid-19, masyarakat makin mengutamakan pencegahan terjangkit penyakit dengan mengonsumsi obat alami, utamanya jamu. Jamu diracik menggunakan bahan-bahan dari tumbuhan, seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan, kulit batang, dan buah. Ada juga yang menggunakan bahan dari tubuh hewan seperti empedu kambing, empedu ular, atau tangkur ular. Seringkali kuning telur ayam kampung juga dipergunakan untuk tambahan campuran pada jamu gendong.

Olahan Jamu Nguter

Desa Nguter berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Nguter menjadi desa sekaligus kecamatan khas karena mempunyai slogan ‘Nguter Kota Jamu’. Jamu sudah ada sejak lama di Desa Nguter bahkan sampai sekarang jamu masih terjaga.

Hampir keseluruhan penduduk Desa Nguter mayoritas pekerjaannya berhubungan dengan jamu, mulai dari produksi, berdagang sampai menjadi penyetor jamu-jamu kemasan seluruh Indonesia. Hasil dari jamu-jamu Nguter merupakan jamu olahan rumah siap minum maupun jamu industrial kemasan. Pasar jamu satu-satunya di Indonesia, Kafe Jamu, hingga produksi olahan rumahan dan industrial menjadi penanda atas predikat Kota Jamu.

Banyaknya khasiat dari jamu membuat jamu diusulkan untuk masuk nominasi WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) di level internasional melalui UNESCO tahun ini. Produk jamu dinilai memiliki keunikan sebagai warisan nenek moyang yang berkhasiat menjaga kebugaran dan menjaga sistem imun tubuh di tengah pandemi Covid-19.

Jamu yang dihasilkan terdiri dari beras kencur, kunir asem, temulawak, jamu pahitan, jamu pegel linu, dan lainnya. Jamu-jamu ini dikemas dalam botol atau gendul dengan dimasukkan dalam bakul dan digendong di belakang punggung. Cara menjual jamu seperti itu akhirnya dikenal dengan sebutan jamu gendong.

Namun seiring berkembangnya zaman, kini tak banyak lagi penjual jamu gendong. Mereka mulai menggunakan sepeda onthel hingga motor untuk menjual jamu-jamu tersebut. Bahkan kini racikan jamu telah diproduksi dan dikemas secara pabrikan hingga dijual ke luar pulau Jawa.

Guna menyokong destinasi wisata jamu Nguter, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo bersama perusahaan swasta, pelaku UMKM jamu membuka Kafe Jamu. Kafe Jamu yang terletak di Pasar Jamu Nguter ini kemudian menjadi kafe jamu pertama di Indonesia. Kafe tersebut mengangkat konsep produk unggulan jamu agar bisa bersaing di pasaran lokal maupun luar negeri. Selain untuk melestarikan jamu, dengan kafe jamu bisa membudayakan minum jamu kepada anak muda atau kalangan milenial.

 

 

Bahan Bacaan :

Feby. 2022. ‘Jenis dan Manfaat Jamu Serta Penjelasannya’. https://www.gramedia.com/literasi/jenis-dan-manfaat-jamu-serta-penjelasannya/. Diakses pada tanggal 10 Maret 2022.

Abdul, Muhammad. 2020. ‘Mengenal Jampi, Herbal Anti Covid Warisan Keraton Surakarta’. https://www.gatra.com/news-481777-gaya-hidup-mengenal-jampi-herbal-anti-covid-warisan-keraton-surakarta.html. Diakses pada tanggal 10 Maret 2022.

Wardani, Indah. 2021. ‘Perjalanan Industri Jamu Nguter Sukoharjo, Dari Jamu Gendong Hingga Kafe. https://www.solopos.com/perjalanan-industri-jamu-nguter-sukoharjo-dari-jamu-gendong-hingga-kafe-1140377. Diakses pada tanggal 14 Maret 2022.