Potensi Bisnis Benih Ikan Nila di Era New Normal

Panen Benih Nila di Prambanan. DOKUMEN PRIBADI

Masyarakat di Indonesia sudah tidak asing dengan ikan nila yang menjadi salah satu lauk pauk favorit. Ikan nila memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga menjadi alternatif pilihan lauk pauk. Ikan nila memiliki kandungan protein tinggi, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin sehingga sangat bermanfaat bagi tubuh.

Menurut Departemen Perikanan dan Akuakultur FAO (Food and Agriculture Organization) menempatkan ikan nila di urutan ketiga setelah udang dan salmon sebagai model kesuksesan perikanan budi daya dunia.

Awalnya, penyebaran ikan nila di Asia berpusat di beberapa negara, seperti Filipina dan Cina. Pada perkembangan selanjutnya, pembudidayaan ikan nila meluas di berbagai negara antara lain Taiwan, Thailand, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia.

Pengembangan ikan nila air tawar di Indonesia dimulai pada tahun 1969. Pertama kali didatangkan ke Indonesia adalah Nila Hitam Taiwan. Pada tahun 1981, pemerintah mendatangkan ikan nila merah hibrida. Kedua ikan tersebut telah dibudidayakan secara meluas di seluruh wilayah Indonesia (Rukmana, 1997:18).

Ikan nila menjadi salah satu komoditas unggulan untuk budi daya air tawar di Indonesia. Menurut Dirjen Perikanan dan Budidaya dalam rancangan strategis tahun 2020-2024 bahwa produksi budi daya dari tahun 2015-2019 mengalami peningkatan signifikan dengan persentase sebesar 67%.

Tersedianya pasokan benih yang memadai dari segi kualitas dan kuantitas penting untuk dilakukan. Semua stakeholder mulai dari pemerintah, swasta hingga unit pembenihan rakyat (UPR) mulai melakukan langkah guna memenuhi pasokan benih nila dalam negeri.

Benih nila tergolong mudah untuk di budi daya sehingga jadi benih ikan favorit yang dipilih banyak petani. Pada benih nila ukuran larva (2-3 cm) biasanya memakan zooplankton, seperti Rotifera sp., Daphnia sp., serta alga yang menempel pada benda di habitat hidupnya. Pada taraf budidaya, ikan nila ukuran larva sudah bisa diberi pakan buatan seperti pakan udang berbutir halus. Para petani memilih benih nila sebagai budidaya favorit karena memiliki kelebihan. Proses pemeliharaan larva menjadi benih dengan ukuran yang ditentukan disebut pendederan.

Pertama, modal pakan yang sedikit. Pakan atau pelet merupakan biaya modal paling besar dalam budi daya ikan tidak hanya nila tetapi meliputi lele, bawal, karper (ikan mas), dan lain sebagainya dengan persentase hampir 80%. Sebenarnya dalam menekan biaya pakan ada beberapa alternatif dengan menggunakan pakan alami, namun pertumbuhannya tidak secepat dengan pelet. Hal ini disebabkan karena pelet memiliki kandungan protein yang dibutuhkan untuk perkembangan ikan secara optimal. Proses pendederan membutuhkan pakan yang sedikit karena dibantu dengan pakan alami seperti plankton dan algae.

Kedua, pembudidayaan benih ikan nila memiliki keuntungan yang bagus. Benih ikan nila memiliki harga ekonomis yang tinggi. Para pembudi daya benih ikan nila menjual ikan nila dengan harga yang berbeda tergantung ukuran seperti 2-3 cm atau disebut larva (Rp15,-/ekor), 3-5 cm (Rp55,-), 4-6 cm (Rp65,-) dan seterusnya. Benih ikan nila ukuran 9-12 cm atau biasa disebut ukuran gelondong bisa mencapai harga Rp30.000,-/kg dengan isi per kilo sekitar 100 ekor.

Dari harga tersebut, bisa dihitung margin keuntungan yang bisa didapatkan semisal tebar larva sekitar 100.000 ekor. Hal tersebut harus dengan melihat kondisi dan kapasitas kolam karena jika padat tebarnya tinggi maka akan terjadi kematian yang disebabkan kurangnya ruang gerak dan pasokan oksigen. Maka dari itu, perencanaan dalam budi daya ini sangat penting sehingga mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Ketiga, pendederan memiliki periode panen yang pendek antara 2 minggu sampai 4 minggu. Pendederan memiliki 4 tahapan, yakni Pendederan 1 (P1), Pendederan 2 (P2), Pendederan 3 (P3), dan Pendederan 4 (P4). Pada masing-masing tahapan tersebut menghasilkan panen benih dengan ukuran berikut P1 menghasilkan benih ukuran 3-5 cm, P2 menghasilkan benih ukuran 4-6 cm, P3 menghasilkan benih ukuran 5-7 cm, dan P4 menghasilkan benih ukuran 9-12 cm.

Pembud idaya tinggal memilih tahapan mana yang sesuai dengan keinginan. Pembudi daya juga bisa langsung menerapkan proses P1 sampai P4. Jika kita bandingkan dengan benih ikan jenis lain maka ikan nila adalah salah satu benih ikan dengan periode panen yang singkat.

Keempat, benih nila relatif tahan penyakit. Benih nila memiliki keunggulan lebih resistant terhadap penyakit sehingga mortalitas menjadi kecil dengan menerapkan SPO dalam persiapan kolam. Biasanya benih nila rawan dimangsa predator seperti berudu atau katak. Untuk itu, sebelum penebaran, perlu adanya cek kondisi kolam. Bila ada telur katak segera dibersihkan. Pemerintah juga turut andil dalam pengembangan benih nila unggul yang tahan terhadap penyakit agar kualitas benih nila di Indonesia tetap terjaga dengan baik.

Produksi benih ikan pada saat pandemi sampai sekarang tidak ada kendala yang berarti. Dari data UPR karya sembada yang terletak di Desa Leses, Prambanan, Klaten menunjukkan peningkatan produksi dari tahun 2019 sebesar 200.000 ekor menjadi 300.000 ekor pada tahun 2021 dengan luasan kolam sekitar 1,5 hektar. UPR karya sembada dikelola oleh pembudi daya warga Desa Leses yang dibina oleh Gilang Aditya.

Menurut ia, untuk mendapatkan profit yang optimal diperlukan kerja sama dalam menerapkan SPO yang benar. Selain itu, guna memperbanyak produksi larva, ia memiliki treatment khusus dalam pemberian pakan yang dicampurkan dengan mineral yang diperlukan induk nila. Produk benih nila dari UPR ini masih dipasarkan sekitar wilayah Jogja, Solo, dan Salatiga.

Prospek usaha benih nila di era new normal sangat bagus untuk kedepannya. Semisal jika kita lihat dari kebutuhan benih di Kabupaten Pati saja mencapai lebih dari 200 juta ekor benih per tahun sehingga peluang bisnisnya masih sangat terbuka lebar.

 

Bahan Bacaan

Rukmana, Rahmat. 1997. Ikan Budi daya dan Prospek Agribisnis. Yogyakarta: Kanisius.

Direktorat Jenderal Perikanan dan Budidaya. 2020. Keputusan Dirjen Perikanan dan Budidaya No.272/KEP-DJPB/2020 tentang Rencana Strategis Tahun 2020-2024. Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan.