Tirtoyoso, Tempat Arjuna Mencari Air untuk Resi Bhisma

Jalan menuju Desa Tirtoyoso. DOKUMEN PRIBADI

Tirtoyoso, sebuah desa kecil yang berada di pesisir selatan Kabupaten Klaten yang berbatasan langsung dengan Gedangsari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Desa yang berada di wilayah Kelurahan Gesikan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten ini sekilas memang tidak ada yang istimewa dan hanya terlihat seperti desa kecil yang berada di pelosok dan menjadi perbatasan antar Provinsi Jawa Tengah dengan DIY.

Namun, menurut beberapa sumber yang didapat oleh penulis desa ini menyimpan sejarah yang menarik untuk dipublikasikan. Beberapa narasumber secara tidak sengaja memberikan informasi kepada penulis. Ternyata informasi tersebut berasal dari orang yang sama sekali berbeda, saling terkait, dan terhubung.

Sejarah Desa Tirtoyoso

Pertama adalah sejarah yang diceritakan oleh Ki Bambang Suwarno, salah satu Dosen Seni Pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, warga kelahiran asli Klaten.

Pada saat menjadi penasihat dalam acara pernikahan saya di tahun 2015, ia menyebutkan bahwa mempelai pria berasal dari Banyudono, Kabupaten Boyolali. Banyudono artinya memberi air, sedangkan mempelai perempuan berasal dari Kabupaten Klaten, Desa Tirtoyoso yang memiliki arti mencari air.

Di sanalah kemudian ia menjabarkan kisah sejarah antara kedua nama tempat itu. Banyudono memang menjadi tempat yang memiliki air bersih yang berlimpah. Banyak tempat wisata umbul atau pemandian yang berasal dari sumber mata air asli yang bersih dan bening.

Dulu, para raja membuat tempat tersebut untuk singgah dan melakukan ritual hingga sekarang, bahkan kenyataan tersebut termaktub dalam sejarah yang sangat populer yakni Bandung Bondowoso dari Kerajaan Pengging. Ki Ageng Pengging dan Ki Kebo Kenanga yang memilih mencari sebuah tempat pedesaan di Pengging hingga kisah Joko Tingkir atau Sultan Hadi Wijaya yang juga keturunan dari Pengging.

Banyudono juga memiliki situs peninggalan kerajaan berupa bangunan seperti masjid, candi, umbul, dan kapujanggan. Ada banyak makam para bangsawan dari masa silam yaitu Ki Ageng Pengging Handayaningrat, Ki Ageng Kebo Kenanga, Empu Supa, Pujangga Yosodipuro, dan masih banyak lagi.

Menurut sejarah yang disampaikan oleh Ki Bambang Suwarno pada tahun 2015, ia menyebutkan bahwa saat Bupati Semarang, sekarang dikenal dengan Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat yang makamnya berada di Desa Bayat, Kabupaten Klaten.

Saat itu, ia sedang melakukan perjalanan dari Semarang menuju Bayat. Sesampainya di sebuah desa yang tersebut, Sunan Pandanaran disambut baik oleh para warga setempat. Tak hanya sambutan, namun Sunan Pandanaran yang telah melakukan perjalanan jauh dari Semarang tentunya merasa haus dan capek.

Para warga di sana menyajikan air segar untuk menghilangkan dahaga dan membasahi tenggorokannya. Semenjak saat itu, tempat di mana Sunan Pandanaran diberikan air segar yang membuat kekuatannya pulih setelah perjalanan jauh itu memberi sabda bahwa “sesuk nek ana rejaning jaman, papan iki bakal di arani Banyudono.

Sabda tersebut memiliki arti bahwa besok jika ada zaman yang sudah ramai atau banyak penduduk yang tinggal di tempat tersebut, maka tempat itu akan dikenal dengan Banyudono, yang artinya memberi air.

Kemudian setelah menjelaskan sejarah tentang Banyudono yang berada di wilayah Boyolali, Ki Bambang Suwarno menjelaskan sejarah tentang Desa Tirtoyoso, di mana kata Tirtoyoso memiliki arti mencari air, menurut Ki Bambang dalam sejarah pewayangan saat terjadi perang besar Bharatayudha di mana perang yang dilakukan oleh para Pandawa dan Kurawa.

Perang tersebut membuat kakek dari mereka ikut menjadi senopati perang, ialah Resi Bhisma, kakek dari kedua trah tersebut, namun sayangnya Resi Bhisma menjadi senopati dari Kurawa. Resi Bhisma sangatlah kuat dan sakti, ia tidak bisa mati kecuali atas kehendaknya sendiri. Akan tetapi, pihak Pandawa mengangkat Dewi Srikandi menjadi senopati perang yang akhirnya membuat Begawan Bhisma tumbang.

Walaupun Resi Bhisma tubuhnya terkena banyak panah dan senjata, ia tidak mati begitu saja. Ia ingin tetap hidup dan melihat hingga perang besar itu berakhir. Pada saat malam datang, kedua pihak yang melakukan perang harus istirahat karena sama-sama masih keluarga. Mereka berkumpul untuk menjenguk kakeknya, Resi Bhisma. Setelah para cucunya menjenguk, Resi Bhisma meminta kepada cucunya untuk memberikan bantal dan air minum yang cocok untuk seorang senopati perang.

Resi Bhisma dibawakan bantal yang empuk, susu, dan minuman enak untuk kalangan bangsawan oleh pihak Kurawa. Namun Begawan Bhisma tidak mau menerima, kemudian dari pihak Pandawa Arjuna memberikan bantal berupa panah yang ditancapkan di bumi. Resi Bhisma akhirnya menerima pemberian Arjuna tersebut. Setelah memberi bantal maka Arjuna pergi ke suatu tempat untuk mencari air minum untuk Resi Bhisma. Tempat itulah yang sampai sekarang dikenal dengan Desa Tirtoyoso.

Jauh Setelah itu, saya bertemu salah satu narasumber yang sudah banyak makan asam garam bernama Hendro, warga asli Klaten. Ia merupakan pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sekaligus budayawan yang sudah melanglang buana. Dirinya sudah menjelajah setiap tempat bersejarah untuk mendapatkan informasi dari sumber tertulis berupa kitab-kitab kuno. Ia mengambil sumber dari kitab kuno yang didapatnya dengan aksara Jawa Kuno.

Sejarah tentang perang Bharatayudha adalah kisah asli dari Jawa. Perang tersebut berlangsung di Pandan Simping Kabupaten Klaten. Pandan Simping adalah daerah yang berada di daerah Klaten dikaitkan dengan kisah Arjuna yang berusaha mencari air untuk Resi Bhisma di Desa Tirtoyoso.

Kisah tersebut memiliki benang merah yang saling terhubung menjadi sebuah kisah sejarah dengan sumber yang jelas. Hal ini mungkin tidak masuk akal jika dipikir dengan nalar, karena ada sumber yang mengatakan kisah Mahabharata itu berasal dari India. Ada juga yang mengatakan kisah Mahabharata adalah kisah tentang keluarga Kerajaan Kediri.

Namun pada kenyataannya, selain tempat yang disebutkan di atas ada beberapa tempat yang berada di sekitar Klaten yang juga disebutkan dalam kisah Pewayangan. Khususnya cerita pewayangan yang berkembang di Jawa yaitu Gunung Mintaraga yang terletak tak jauh dari Pandan Simping dan Tirtoyoso. Gunung itu berada di sebelah Sendang Sriningsih.

Menurut kisah pewayangan Jawa Arjuna pernah bertapa di atas gunung dengan sebutan Begawan Mintaraga atau Begawan Cipta Wening. Selain itu, dalam kisah pewayangan juga pernah disebutkan adanya Gunung Candramuka. Suatu tempat di mana Bima mencari Kayu Gung Susuhing Angin. Gunung itu dipercayai sebagai Gunung Merbabu.

Pada kisah pewayangan juga disebutkan adanya Gunung Candrageni yang dipercayai adalah Gunung Merapi. Selain itu ada kisah pewayangan yang menceritakan Sumur Jalatunda, tempat Bima dibuang setelah diberi racun oleh para Kurawa. Sumur Jalatunda berada di daerah Jatinom Kabupaten Klaten. Ada juga daerah Awangga, di mana dalam kisah pewayangan adalah tempat kekuasaan Prabu Karno. Daerah Awangga juga berada di daerah Klaten yang berdekatan dengan Ceper.

Jauh di timur Kota Klaten tepatnya di Gunung Lawu atau Tawangmangu ada tempat bernama Pringgandani. Dalam cerita pewayangan, tempat ini adalah Kerajaan Raden Gatotkaca. Ia adalah putra Bima dengan Dewi Arimbi. Hal ini menguatkan cerita-cerita pewayangan yang berhubungan dengan Kabupaten Klaten. Menurut para dalang senior, bentuk wayang kulit yang ideal atau proporsional adalah wayang kulit gaya klatenan.

Namun meski demikian, tak banyak yang mengetahui tentang cerita sejarah seperti ini. Saya sengaja ingin membagikan informasi ini karena kedua narasumber yang memberikan informasi adalah orang-orang yang sudah memiliki banyak pengalaman. Tentu saja, mereka bukan orang-orang yang sembarangan dalam membagi informasi.

Selain dari segi pendidikan jelas dan berintelektual, keduanya juga kelahiran asli Klaten yang sudah menggeluti bidang sejarah dan budaya. Mereka sudah pernah terhubung dengan orang-orang zaman dulu yang paham akan sejarah di masa lalu.

Menurut saya, cerita tentang Desa Tirtoyoso dapat memiliki arti, nilai sejarah, serta tempat yang istimewa. Desa Tirtoyoso tidak sekadar desa terpencil yang menjadi pembatas antara wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah sehingga dengan publikasi sejarah dari orang-orang yang sudah banyak pengalaman seperti ini, membuat Desa Tirtoyoso memiliki ikon tersendiri.

Potensi Desa

Jika dilihat dari segi potensi, Desa Tirtoyoso ini juga memiliki keistimewaan tersendiri. Desa yang terletak di perbatasan Klaten dan Gunung Kidul, memiliki view atau pemandangan yang bagus untuk berfoto.

Desa ini memiliki ladang tebu yang letaknya di sebelah utara desa Tirtoyoso. Sebuah tanah khas Desa Gesikan Kecamatan Gantiwarno yang dipisahkan oleh jalan utama Wedi-Wonosari yang mana, jalan lurus ke arah selatan yang diapit oleh ladang tebu di sebelah kanan dan kiri.

Hal ini menarik untuk dijadikan dokumentasi foto atau video dengan background bukit barisan atau Gunung Kidul yang berjajar dan bersaf-saf sehingga dengan berkembangnya media sosial membuat para generasi milenial sering membuat konten YouTube atau Tiktok. Tempat ini menjadi sangat cocok untuk dikunjungi.

Pada tahun 2021, ada informasi dari pihak Kelurahan Gesikan bahwa ladang tebu yang berada di kaki Bukit Clongop ini nantinya akan dibangun menjadi embung. Hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri oleh para pengunjung.

Selain dapat difungsikan sebagai destinasi wisata, dengan pemandangan embung yang berada di bawah bukit. Di mana pemandangan hanya bisa ditemui di Danau Batur Bali dan di Telaga Sarangan Tawangmangu, Jawa Tengah. Dilihat dari segi manfaat, embung itu memiliki fungsi untuk pengairan petani di Desa Tirtoyoso.