Sejarah Banjarsari Klaten, Terukir dalam Relief Candi Sojiwan

Desa Banjarsari bersebelahan dengan Candi Sojiwan. DOKUMEN PRIBADI

Tegalsari, sebuah desa yang tenang dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Bersebelahan langsung dengan Candi Sojiwan, sebuah candi Buddha yang dikelilingi persawahan. Dahulu kala, tidak semua daerah layak dibangun candi atau bangunan suci.

Daerah tersebut harus melewati 3 tahap uji yaitu kelembaban tanah, kekencangan angin, dan kesuburan. Daerah ini terpilih menjadi daerah yang cocok untuk Candi Sojiwan.Suasananya yang tenang dan teduh menjadikan area sekitarnya dijadikan tempat menggembala hewan ternak yang biasa disebut angon oleh masyarakat sekitar sampai sekarang.

Pada tahun 1962, rumah penduduk di Desa Tegalsari masih terbuat dari anyaman bambu, berlantai tanah, dan lampu minyak dengan sumbu kain sebagai penerangan. Semua rumah belum memiliki sumber air karena saat itu hanya ada tiga sumur.

Setiap hari warga yang belum memiliki sumur akan mengambil air atau ngangsu. Mereka akan saling menyapa dan bercerita pada saat mengambil air di sumur. Alhasil, desa ini menjadi guyub satu sama lain karena interaksi yang terbangun setiap hari .

Malam bulan purnama adalah hal yang paling ditunggu. Warga bisa di luar rumah hingga larut malam, sembari menemani anak–anak bermain. Cahaya rembulan adalah salah satu sumber penerangan desa ini. Rumah penduduk masih jarang sehingga para lelaki desa ini melakukan ronda setiap malam. Selain untuk tujuan keamanan, kegiatan ini memiliki tujuan yang lain yaitu berjaga apabila ada warga yang membutuhkan bantuan.

Menjelang tengah malam petugas ronda berkeliling desa seperti biasa. Mereka berjalan sambil bercengkrama dan menghangatkan suasana dengan obrolan maupun candaan. Mereka memakai sarung yang di selempang sebagai penghangat badan sewaktu ronda walau penerangan jalan yang masih minim dan keadaan malam yang dingin.

Pada saat mereka berjalan, sebuah bola api melintasi mereka dalam kegelapan malam. Mereka berteriak dan mengikuti bola api itu yang langsung membuat kaget dan takut. Bola api tersebut dinamakan Teluh Bronjo. Teluh Bronjo merupakan sebuah pertanda buruk yang sering kali diyakini masyarakat membawa malapetaka.

Teluh Bronjo terbang melintasi halaman rumah Pak Hardi Puspito yang terdapat Pohon Bendo. Pohon yang dimaksud adalah pohon yang semarga dengan nangka. Pohon itu memiliki buah lebih kecil, manis, dan harum. Saat melintas, Teluh Bronjo meneteskan apinya ke Pohon Bendo.

Para peronda sudah tidak menemukan lagi ke mana Teluh Bronjo itu pergi pada saat mereka menghampirinya. Teriakan peronda ketika mengikuti Teluh Bronjo sempat membangunkan beberapa warga, kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing.

Keluarga Pak Hardi Puspito beraktivitas seperti biasanya pada keesokan harinya. Hardi Puspito adalah seorang pegawai pemerintah di Kecamatan Prambanan. Beliau memiliki dua putri yang bernama Ninik dan Nining yang sering bermain di bawah Pohon Bendo. Mbah Harjo dan Mbak Warsini mendekat dan mengoda mereka pada saat melihatnya bermain.

Rumah Pak Hardi memang selalu ramai di pagi hari, karena mereka salah satu yang memiliki sumur di desa ini. Setiap pagi warga terdekat mengambil air di sini. Obrolan tentang Teluh Bronjo pun masih hangat dibicarakan.

Ninik dan Nining segera bergegas mandi dan sarapan setelah mendengar panggilan ibunya dari dalam rumah, lalu dilanjutkan bermain kembali. Kondisi rumah yang masih berjauhan saat itu, memaksa mereka bermain hanya di area rumah saja. Bu Hardi menjerit secara tiba-tiba saat Nining masih asyik bermain.

Dia merasa janggal saat membangunkan Ninik yang tubuhnya lemas dan tidak bergerak sama sekali saat tertidur di lantai. Warga yang berdatangan segera mengecek keadaan Ninik yang ternyata sudah meninggal. Dengan segera, warga membantu prosesi pemakaman Ninik. Bu Hardi memangku Nining diteras dalam duka yang masih mendalam.

Dia memperhatikan Nining keadaannya semakin lemas. Dia langsung menyuruh orang membeli obat di warung yang paling dekat dengan cepat karena pada saat itu rumah sakit masih terlalu jauh untuk dijangkau. Nining kecil yang malang akhirnya meninggal sebelum meminum obatnya. Takdir telah sampai kepadanya, duka mendalam kembali menyelimuti keluarga Hardi Puspito. Dua putri balita mereka meninggal pada hari yang sama.

Malam terasa begitu panjang pada kali ini. Para peronda tetap harus menjalankan tugas mereka walaupun dalam sedikit enggan berkeliling. Obrolan tentang Teluh Bronjo membuat keberanian peronda semakin ciut. Kali ini obrolan mereka sedikit saja, berharap waktu terlewati lebih cepat.

Pada pagi hari, suasana Desa Tegalsari kian mencekam. Teriakan putri Mbah Harjo meminta tolong mengawali suasana mencekam pagi itu. Warga mendapati Mbah Harjo yang sudah terbujur kaku diiringi isak tangis keluarganya.

Ketika pengurusan jenazah Mbah Harjo belum selesai, teriakan terdengar kembali dari sebelah rumah Mbah Harjo. Pagi itu, Mbak Warsini ditemukan meninggal dalam waktu yang sama. Warga segera menyelesaikan pemakaman keduanya dalam kekalutan hati yang dalam.

Desa Tegalsari yang sebelumnya damai dan tenteram bisa berubah mencekam pada kali ini. Malam itu, para sesepuh dan Pak Tarno yang dipercayai sebagai orang pintar berkumpul. Bahkan, sesepuh dari Desa Pudaksari dan Desa Bendo ikut serta untuk berkumpul.

Desa Pudaksari dan Bendo adalah dua daerah yang bersebelahan dengan Desa Tegalsari. Orang Jawa adalah orang yang penuh perhitungan. Titen sudah menjadi ilmu dasar hidup sejak dahulu. Ilmu titen yaitu mengingat apa yang terjadi, dikarenakan apa dan bagaimana tindakan yang seharusnya. Apapun yang terjadi di Desa Tegalsari akan selalu berkaitan.

Kemunculan Teluh Bronjo bukan kebetulan yang terjadi saat ini. Hal itu adalah petaka bagi warga. Tindakan yang harus dilakukan yaitu melakukan tirakat supaya petaka segera usai. Pada malam itu, para sesepuh melakukan musyawarah sehingga menghasilkan kesepakatan yaitu warga wanita dan anak–anak di Desa Tegalsari mulai malam ini akan mengungsi. Pada malam hari, para lelaki akan tirakat dengan berkeliling desa tanpa busana.

Semua warga sudah bersiap dengan riuh yang terdengar dari berbagai sudut. Wanita dan anak–anak langsung mengemasi dan berpindah sementara ke rumah saudara. Meski ada beberapa yang enggan berpindah, suasana Desa Tegalsari malam itu semakin sunyi. Para lelaki di Desa Tegalsari memulai tirakat sebagai bentuk upaya laku agar hidup berlanjut dalam kedamaian dan ketenteraman.

Sepekan berlalu semenjak tirakat dimulai, warga berangsur tenang. Para sesepuh kembali melakukan musyawarah bersama Pak Tarno. Malam itu, mereka sudah merasa cukup dalam ber-tirakat. Pak Tarno menyarankan untuk mengganti nama Desa Tegalsari. Dari situ, Desa Pudaksari dan Bendo memutuskan untuk bergabung dengan Desa Tegalsari.

Mereka berharap akan mengawali kehidupan baru yang lebih baik dan jauh dari petaka dengan penggantian nama. Dahulu, setiap ada sesuatu yang ‘buruk’ terjadi sering kali mengganti nama dipercaya menjadi jalan keluar yang baik. Bahkan, bayi yang sering sakit tak kunjung sembuh akan segera diganti namanya agar segera membaik.

Berangkat dari adanya petaka Teluh Bronjo, para sesepuh sepakat melakukan pergantian nama. Nama yang baru berasal dari kata ‘Bronjo’ menjadi Banjar dan Sari. Akhirnya, Desa Tegalsari, Pudaksari, dan Bendo kini menjadi Banjarsari. Sebuah iktikad dan tirakat dari pemimpin desa. Membawa desa dalam ketenteraman dan kedamaian.

Desa ini merupakan bagian dari wilayah Kebondalem Kidul, kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Desa Banjarsari melahirkan banyak pemimpin desa yang membawa perubahan lebih baik.

Kisah Banjarsari merupakan sebuah cerita tentang cara pemimpin dalam mengupayakan hal-hal yang baik bagi warga yang di dalamnya terdapat pemikiran, itikad, dan tirakat. Kisah ini dapat kita jumpai dalam relief yang terpahat indah di Candi Sojiwan. Sebuah candi pendidikan, yang mengajarkan moral kehidupan yang terdapat pada relief nomor 4. Relief ini terpahat pada kaki Candi Sojiwan.

Adapun kisah tentang Garuda dan Kura-kura. Kisah yang berawal dari keprihatinan kura-kura karena selalu dimangsa garuda. Tetua kura-kura berembuk dan sepakat untuk menantang garuda dalam ajang lomba lari. Dengan kesepakatan, Dia boleh memangsa kura-kura hingga habis apabila garuda menang. Begitu sebaliknya, tetua kura-kura sudah menyiapkan strategi supaya menang dengan cara menanam kura-kura di sepanjang arena lomba.

Hasilnya, kura-kura menang dengan gemilang melawan garuda. Sering kali kemenangan tidak harus diupayakan dengan kekuatan. Akal pikiran menjadi modal penggerak. Padmamula dan kisah Garuda dan Kura-kura menjadi pembelajaran hidup. Bagaimana peran seorang pemimpin membawa perubahan lebih baik.

Add Comment