Psikologi Remaja, Pandangan terhadap Keseluruhan Diri

Media sosial sebagai sumber informasi bisa menjadi pengaruh dominan bagi remaja. UNAIR

Dalam fase peralihan dari anak-anak menuju masa dewasa, kita dapat menemukan karakteristik yang dapat dilihat, yaitu menyangkut adanya banyak perubahan fisik maupun psikis yang terjadi.

Pada perubahan mental yang mengalami perkembangan, pencapaian identitas diri sangat menonjol, pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis. Kebutuhan lain dari masa remaja itu ialah keberadaan teman sebaya, yang sangat penting bagi mereka untuk mengenal dunia di luar keluarga.

Tetapi, ketika berinteraksi, remaja kerap mengalami tekanan untuk mengikuti teman sebaya atau yang disebut konformitas yang sangat kuat. Konformitas atau kesesuaian sikap, ada yang positif dan negatif. Konformitas muncul ketika individu meniru sikap, atau tingkah laku orang lain dikarenakan ada tekanan nyata maupun yang tidak nyata.

Perilaku remaja yang menyimpang seperti berbuat gaduh, onar dan lain-lain perlu mendapat perhatian khusus bagi orang tua, guru dan pemerhati pendidikan. Pertentangan dan pemberontakan adalah bagian alamiah dari kebutuhan para remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri dan peka secara emosional.

Pada masa transisi menuju dewasa, remaja memiliki rasa ingin tahu yang kuat mengenai kehidupan manusia di sekitar mereka. Remaja selalu ingin tahu hal-hal yang dialami kawan-kawan mereka.

Ketika menjalin relasi, remaja juga gemar bercerita mengenai kenikmatan yang diperoleh dari keakraban dan kegembiraan. Bahkan termasuk kemungkinan mereka terluka akibat dari relasi itu.

Remaja akan apabila diterima dan sebaliknya akan merasa tertekan dan cemas apabila dikeluarkan atau diremehkan oleh teman sebayanya, sebab mereka memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima teman sekelompok.

Bagi remaja, pandangan kawan-kawan tentang dirinya merupakan hal penting. Kadang, bahkan lebih penting daripada pandangan orang tuanya sendiri. Mereka lebih mengutamakan kawan-kawannya agar bisa diterima di komunitas teman sebaya. Hal itu didasari oleh kesadaran bahwa mereka sudah besar serta mandiri.

Setiap tahap usia remaja memiliki tugas perkembangan yang harus dilalui. Apabila seseorang gagal melaksanakan tugas perkembangan pada usia sebenarnya, perkembangan pada tahap berikutnya akan mengalami gangguan, lalu memunculkan masalah pada diri remaja. Pada usia ini, dia mulai memperhatikan pendapat orang lain, selain menginginkan kebebasan dan keyakinan diri.

Secara psikologi, kenakalan remaja wujud dari konflik yang tidak diselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanan, sehingga fase remaja gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya. Bisa juga terjadi masa kanak- kanak dan remaja berlangsung begitu singkat berbanding perkembangan fisik, psikologi, dan emosi yang begitu cepat.

Pengalaman pada masa anak-anak atau pada masa lampaunya yang menimbulkan traumatis, seperti dikasari atau yang lainnya dapat menimbulkan gangguan pada fase pertumbuhannya. Begitu juga, mereka ada tekanan dengan lingkungan atau status sosial ekonomi lemah yang dapat menimbulkan perasaan rendah diri.

Hal itu dikarenakan remaja belum stabil dalam mengelola emosinya. Dalam masa peralihan, remaja dihadapkan pada masalah-masalah penguasaan diri atau kontrol diri.

Lantas, pertentangan dan pemberontakan adalah bagian alamiah dari kebutuhan para remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri dan peka secara emosional.

Remaja suka memberontak dan idealis, kadang-kadang ketegangan-ketegangan sering terjadi dengan menantang orang tua, guru dan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Dengan gagasan-gagasannya yang kadang berbahaya dan kaku.

Pendidikan Karakter

Penguatan pendidikan karakter dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang terjadi di negara kita. Diakui atau tidak, saat ini terjadi krisis nyata dan mengkhawatirkan dalam masyarakat dengan melibatkan anak-anak, milik kita yang paling berharga.

Menurut tinjauan Emotional Spiritual Question (ESQ) tujuh krisis moral yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia antara lain krisis kejujuran, krisis tanggung jawab, tidak berpikir jauh ke depan, krisis disiplin, krisis kebersamaan, dan krisis keadilan.

Pendidikanlah yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap situasi ini. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, bisa jadi salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual atau kognitif semata, sedangkan aspek soft skills, atau nonakademik secara optimal, bahkan cenderung diabaikan.

Saat ini, ada kecenderungan bahwa target-target akademik masih menjadi tujuan utama dari hasil pendidikan, sehingga proses pendidikan karakter masih sulit dilakukan.

Faktor lain yang juga ikut mempengaruhi perilaku kenakalan pada remaja adalah konsep diri yang merupakan pandangan atau keyakinan diri terhadap keseluruhan diri, baik yang menyangkut kelebihan maupun kekurangan diri, sehingga mempunyai pengaruh yang besar terhadap keseluruhan perilaku yang ditampilkan.

Konsep diri terbentuk dan berkembang berdasarkan pengalaman dan interpretasi dari lingkungan, penilaian orang lain, atribut, dan tingkah laku dirinya. Masa remaja merupakan saat individu mengalami kesadaran akan dirinya tentang bagaimana pendapat orang lain tentang dirinya.

Pada masa tersebut kemampuan kognitif remaja sudah mulai berkembang, sehingga remaja tidak hanya mampu membentuk pengertian mengenai apa yang ada dalam pikirannya, tetapi remaja akan berusaha pula untuk mengetahui pikiran orang lain tentang tentang dirinya.

Dalam perkembangan remaja yang penuh gejolak, peranan keluarga, sekolah, masyarakat dan juga kebijakan pemerintah dalam dunia pendidikan ikut andil besar.

Peranan media massa seperti televisi, internet, tabloid, koran dan majalah juga mempunyai kekuatan besar bagi kepentingan yang dominan dalam masyarakat. Sosial media juga memberikan pengaruh besar dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan media lainnya. Ia memerankan peran utama dalam kehidupan, ia juga merupakan sumber informasi yang utama.

Pendidikan karakter tetap harus ditingkatkan penerapan kualitasnya baik itu di lingkungan keluarga maupun di sekolah. Pendidikan karakter menjadi sebuah program kurikuler.

Studi J Mark dan Monica J. Taylor tentang Belajar dan Mengajar tentang Nilai: Tinjauan Penelitian Terbaru, menunjukkan bagaimana pembelajaran dan pengajaran nilai sebagai cara membentuk karakter terpuji telah dikembangkan.

Peran sekolah yang menonjol terhadap pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai, yaitu membangun dan melengkapi nilai-nilai yang telah mulai dikembangkan anak-anak dengan menawarkan paparan lebih lanjut terhadap berbagai nilai yang ada di masyarakat. Sebagai contoh, anak mendapat kesempatan yang sama dan penghargaan terhadap keragaman.

Serta berperan membantu anak-anak untuk merefleksikan, memahami dan menerapkan nilai-nilai mereka yang sedang berkembang.

Bahan Bacaan

Diananda, Amita. 2018.’Psikologi Remaja dan Permasalahannya’. Jurnal Istighna Volume 1(1). STIT Islamic Village Tangerang

Mark Halstead dan Monica J. Taylor, 2000. ‘Learning and Teaching about Values: A Review of Recent Research’, Cambridge: Journal of Education. Vol. 30 No.2