Pentingnya Membangun Keberanian Berpendapat pada Anak

Foto: pixels.com/ Mart Production

Setiap masa perkembangan, manusia mempunyai tugas-tugas yang harus dilalui. Hal itu pun terjadi pada anak. Dalam masa perkembangannya anak memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dialaminya, dengan itu pula seorang anak mempunyai tugas-tugas pada setiap fase perkembangan dirinya.

Cara anak dalam mengatasi permasalahan yang dialami, juga akan berpengaruh dengan tumbuh kembang dalam dirinya. Seorang anak akan merasa senang apabila ia berhasil menyelesaikan tugas-tugas dalam setiap masa perkembangannya. Begitu pun sebaliknya, ia akan merasa gagal jika tidak berhasil menyelesaikan permasalahannya dan kegagalan ini akan berpengaruh pada proses perkembangan dirinya selanjutnya.

Tugas-tugas anak dalam masa perkembangannya menurut akademisi psikologi, Dra. Juliani Prasetyaningrum diantaranya yaitu; mempelajari keterampilan fisik, belajar beradaptasi, mengembangkan keterampilan dasar seperti Calistung, memahami pengertian-pengertian yang sering digunakan dalam keseharian (pengertian moral, nilai, dan nurani), bersosialisasi, serta anak juga memiliki tugas untuk mencapai kebebasan pribadinya.

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya, seorang anak memerlukan bimbingan dari orang tua sebagai tolak ukur ia bertindak. Peran orang tua dalam hal ini juga sama pentingnya dengan perkembangan anak dalam dirinya. Untuk mencapai kebebasan pribadi, anak memerlukan wadah sebagai aktualisasi potensi yang ia miliki serta melatih kecerdasan emosional dan akademik dalam dirinya.

Menurut teori Howard Gardner kecerdasan seseorang merupakan bahasa-bahasa yang dibicarakan dan sebagian dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Dalam diri individu terdapat sembilan kecerdasan yang bisa dikembangakan. Diantaranya adalah kecerdasan intrapersonal dan interpersonal. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan manusia memahami diri sendiri dan interaksi dengan orang lain.

Pola asuh yang diberikan orang tua juga sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Menurut Syaiful dalam bukunya Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi dalam Keluarga menerangkan bahwa dari berbagai pola asuh yang diterapkan orang tua, pola asuh yang paling baik di antara lainnya yaitu pola demokrasi. Cara ini dinilai sebagai salah satu upaya efektif dalam melatih tumbuh kembang anak. Dapat disimpulkan bahwa metode ini dapat membuat anak merasa bebas namun tetap tidak melewati batasan yang telah ditentukan oleh orang tuanya.

Dengan kata lain, perkembangan anak yang diasuh dengan pola demokrasi akan lebih efektif karena lebih memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orang tua dan anak. Dalam hal ini nantinya akan terjalin kepercayaan antara orang tua dan anak. Kepercayaan itulah yang akan membuat anak merasa bebas dalam menyampaikan pendapatnya dan tidak merasa keberatan untuk mematuhi aturan-aturan yang telah disepakati bersama

Anak dapat menyampaikan atau bertukar pendapat dengan orang tua secara leluasa namun tetap memperhatikan norma yang ada. Mengajarkan anak untuk menyampaikan pendapatnya merupakan salah satu metode yang perlu diterapkan oleh orang tua.

Orang tua bisa melakukan pendekatan dengan berbagai cara. Pertama, buatlah anak merasa nyaman saat bercerita. Menjadi pendengar yang baik saat anak mulai bercerita akan membuatnya merasa dihargai. Tanggapilah ceritanya dengan berbagai pertimbangan serta tanpa penghakiman.

Kedua, beri waktu anak untuk menyampaikan pendapatnya. Sering kali orang tua merasa dirinya lebih benar karena pengalaman memakan asam garam kehidupan. Premis ini yang tidak seharusnya diterapkan orang tua dalam mendidik anaknya. Hal ini juga sudah diatur dalam Pasal 10 UU No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

“Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan”.

Kebanyakan orang tua memperhatikan pendidikan anaknya hanya dalam skala nilai saja. Padahal nilai hanya merepresentasikan sebagian kecil dari kemampuan seseorang. Para orang tua juga seharusnya bisa melihat sisi lain dari kecerdasan anak seperti softskill yang dimiliki.

Ketiga,untuk melatih anak dalam berpendapat, orang tua bisa mengupayakan sejak kecil dengan cara sering mengajak anak untuk berdiskusi. Diskusi merupakan salah satu cara untuk melatih perkembangan kognitif dan motorik pada anak. Mengajaknya berpendapat atau memberi pandangan terhadap berbagai hal di sekelilingnya

Sebagai contoh, orang tua bisa saja mendorong anaknya untuk berpendapat tentang kisah dongeng yang baru saja dibacakan. Cara ini bisa melatih anak dalam perkembangan pola pikir dan juga kemampuan berkomunikasinya. Atau dalam hal-hal kecil lainnya seperti memilih sendiri baju yang ingin dikenakannya. Hal ini melatih kemandirian anak dalam menyelesaikan suatu masalah dan menentukan pilihan untuk kehidupannya.

Melatih anak berdiskusi juga dapat meningkatkan kecerdasan spasial sang anak. Tidak menutup kemungkinan nantinya anak akan tumbuh dengan kreativitas lebih baik dibandingkan anak-anak seusianya.

 

Bahan bacaan

Abdurrohmah, Latifah. (2012). Pengaruh Metode Diskusi Kelompok Fungsional Terhadap Pengetahuan Ibu tentang Tumbuh Kembang Balita (Studi Kasus di Posyandu Margirahayu IV Desa Pekalongan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga). Unnes Journal of Public Health, 1(2).

https://publikasiilmiah.ums.ac.id

https://www.popmama.com/kid/4-5-years-old/jemima/cara-mendidik-anak-agar-berani-berpendapat-dan-berkreasi