Peninggalan Sejarah dalam Membentuk Perkembangan Kota Surakarta

Museum Radya Pustaka menjadi salah satu bangunan peninggalan sejarah. SURAKARTA

Kota Surakarta merupakan kota yang menyimpan banyak sejarah serta memiliki keragaman budaya yang menarik di dalamnya, baik dari segi seni, budaya, hingga peninggalan sejarah dari zaman penjajahan Belanda. Kota Surakarta yang lebih terkenal dengan nama Kota Solo merupakan kota yang masih erat hubungannya dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran.

Kedua pusat kebudayaan Jawa tersebut, memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan tradisi dan adat istiadat dari masyarakat Kota Surakarta dan sekitarnya. Peninggalan sejarah berupa situs bangunan tua bersejarah banyak tersebar di Kota Surakarta. Keberadaan bangunan-bangunan bersejarah menjadi ciri khas yang membedakan Kota Surakarta dengan daerah lain sehingga dijuluki Kota Budaya.

Sebagai Kota Budaya, seharusnya keberadaan bangunan tersebut mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat Surakarta sebagai salah satu upaya dalam mengembangkan pariwisata wilayah. Hal tersebut dikarenakan keberadaan bangunan bersejarah menjadi sumber yang sangat penting untuk mengetahui sejarah Kota Surakarta bagi generasi yang akan datang.

Kota Surakarta memiliki potensi pariwisata melalui kekayaan budaya yang sangat kental dan merupakan pusat kebudayaan Jawa. Dengan adanya potensi tersebut pihak pemerintah daerah dan masyarakat Surakarta harus melakukan pengelolaan potensi budaya agar dapat menggerakkan roda perekonomian Kota Surakarta (Laksana, et al., 2015:73).

Pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah pascapandemi Covid-19. Hal ini disebabkan pariwisata mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan Indonesia khususnya sebagai penghasil devisa negara.

Berbicara mengenai potensi budaya, tidak terlepas dari peninggalan bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari pengembangan pariwisata bagi kota yang dijuluki sebagai Kota Budaya. Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci mengenai beberapa peninggalan bangunan bersejarah yang menjadi ikon Kota Surakarta melalui berbagai sumber tertulis.

Pertama, Keraton Kasunanan Surakarta. Pada tahun 1963, Keraton Kasunanan Surakarta dibuka pertama kalinya untuk menerima Tourist PATA 1 sebagai Museum Suaka Budaya Kasunanan Surakarta. Nama tersebut diberikan oleh Presiden Soekarno dengan maksud agar museum tersebut menjadi tempat perlindungan benda-benda budaya yang bernilai tinggi. Museum ini menempati bekas kantor kadipaten sehingga bentuknya memanjang karena kantor kadipaten sesuai fungsinya, pada waktu itu menjadi tempat pengelolaan administrasi keraton.

Museum ini memiliki beragam koleksi milik Keraton Kasunanan Surakarta berupa benda-benda bernilai arkeologis (arca, batu, perunggu dari masa Hindu Budha), sejarah (kursi dan lemari yang pernah dipakai Paku Buwana X, senjata-senjata, dandang berukuran super besar untuk menanak nasi pada waktu perang), etnografi, dan seni tradisional. Selain itu, terdapat juga foto raja-raja serta kereta-kereta raja yang kebanyakan buatan dari Belanda.

Kedua, Museum Radya Pustaka. Kota Surakarta merupakan wilayah yang sangat kental dengan kebudayaan Jawa, karena saksi perjalanan kisah Keraton Kasunanan sehingga banyak masyarakat yang memiliki keinginan datang ke Surakarta, khususnya Museum Radya Pustaka untuk mengenal ataupun mempelajari budaya Jawa.

Museum Radya Pustaka merupakan lembaga yang berwawasan kebangsaan sebagai ajang pengembangan pengetahuan dan kebudayaan bangsa. Secara administratif berada satu kompleks dengan Taman Budaya Sriwedari yang menjadi daya tarik bagi seseorang yang ingin memperoleh informasi mengenai kebudayaan Jawa.

Radya Pustaka didirikan pada tahun 1890. Pada awalnya merupakan sebuah perpustakaan tempat penyimpanan buku ataupun naskah penting milik Keraton Kasunanan Surakarta sehingga masyarakat sekitar yang datang ke Radya Pustaka hanya untuk mempelajari budaya Jawa dengan membaca buku ataupun naskah kuno milik keraton.

Akan tetapi dalam perkembangannya museum juga menyimpan benda peninggalan sejarah dari keraton. Tujuan utamanya adalah untuk melestarikan seni budaya Jawa dan mendidik bangsa yang memiliki pengetahuan dan berjiwa kebangsaan (Bratasiswara, 2000).

Pada masa berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta di zaman Paku Buwana IX banyak sekali naskah kuno Jawa yang tersimpan di keraton.

Naskah-naskah tersebut hanya tersimpan begitu saja tanpa dirawat, kemudian hal ini menarik perhatian patih dalem keraton yaitu KRA Sosrodiningrat IV, ketika melihat salah satu benda peninggalan kebudayaan masyarakat Jawa yang tidak terawat, di mana naskah kuno tersebut harus tetap dilestarikan agar nilai kebudayaan Jawa yang ada di dalamnya tidak hilang begitu saja dan bermanfaat bagi generasi mendatang.

Oleh karena itulah, akhirnya KRA Sosrodiningrat IV mendirikan Museum Radya Pustaka sebagai perpustakaan untuk melestarikan naskah-naskah tersebut.

Ketiga, Pura Mangkunegaran adalah tempat kediaman Sri Mangkunegoro (untuk saat sekarang adalah Sri Mangkunegoro IX). Pura Mangkunegaran merupakan model rumah bangsawan yang berbentuk tradisional dan biasa disebut dengan joglo serta dibangun oleh Sri Paduka Mangkunegoro II pada tahun 1804.

Puro atau Pura Mangkunegaran ini terdiri dari beberapa bangunan, antara lain Pendopo Ageng, Dalem Ageng, Paringgitan, Balepeni, Balewarni, Pracimayoso, dan yang menjadi bangunan utama yaitu Pendopo Ageng, Paringgitan, dan Dalem Ageng. Pendopo Ageng merupakan ruangan yang dipakai untuk mengadakan resepsi dan juga dipakai untuk pentas tari-tarian Jawa.

Paringgitan merupakan suatu tempat untuk ringgitan atau untuk pertunjukan wayang kulit. Di samping sebagai tempat pertunjukan wayang kulit, juga untuk menerima tamu-tamu resmi Sri Mangkunegoro. Dalem Ageng merupakan ruangan atau tempat diadakannya upacara-upacara tradisional seperti perkawinan atau peringatan-peringatan penting bagi Sri Mangkunegoro (S. Ilmi Albiladiyah, 1999: 4-7).

Keempat, Masjid Agung Surakarta. Tidak lama setelah pusat kerajaan Kartasura dipindahkan ke Surakarta pada 17 Februari 1745 M atau 14 Suro tahun 1670 Saka, maka 12 tahun kemudian sebuah masjid resmi yang didirikan oleh kerajaan mulai dibangun. Letaknya tidak begitu jauh dari istana, yaitu di sebelah barat alun-alun utara, menghadap ke timur.

Menurut Adnan Basit, bangunan Masjid Agung Surakarta itu berbentuk ‘tajuk’ yakni bangunan klasik dengan atap bersusun tiga. Oleh para wali, ditafsirkan sebagai pokok-pokok tuntunan Islam, yaitu iman dilambangkan pada yang paling atas dengan maksud jika seseorang masuk agama Islam harus percaya kepada tatanan enam keimanan, yaitu percaya kepada Allah Swt., malaikat, Al-Qur’an, Rasulullah, hari kiamat, dan takdir-Nya.

Islam dilambangkan pada atap yang kedua, yang mengandung maksud bahwa syariat Islam yang wajib dijalani ialah mengucapkan dua kalimat syahadat, melakukan salat, puasa, zakat, dan ibadah haji. Ihsan dilambangkan pada atap yang ketiga, maksudnya ialah setiap orang Islam wajib berbuat baik kepada Allah Swt. dan kepada semua umat manusia di mana, kapan, dan oleh siapa saja.

Kota Surakarta telah menghasilkan banyak catatan sejarah perjuangan yang berupa fisik maupun nonfisik. Salah satu dari peristiwa yang tidak terlupakan yaitu menjadi kota kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Kelima, Monumen Pers Nasional, peristiwa itu dimulai ketika beralihnya Ibu kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta.

Sebelum PWI terbentuk, sudah ada organisasi yang mewadahi para wartawan, yaitu Persatuan Djurnalistik Indonesia (PERDI) yang menghentikan kegiatannya ketika Jepang masuk Indonesia. Pada awal berdiri Gedung Monumen Pers Nasional Surakarta bernama Societeit Sasono Suko. Pada masa pemerintahan Mangkunegaran VII, Gedung Societeit Sasono Suko dibangun dan digunakan sebagai balai pertemuan kerabat Mangkunegaran.

Bangunan Monumen Pers Nasional Surakarta terdiri dari tiga unit gedung dengan tambahan lantai atas pada bangunan induk. Sebagai monumen yang sekaligus berfungsi sebagai museum, gedung ini banyak menyimpan dan mengoleksi benda-benda bersejarah peninggalan wartawan pejuang tempo dulu.

Monumen Pers Nasional Surakarta menyimpan naskah dan dokumen yang merupakan bukti-bukti sejarah perjalanan pers nasional dan perjuangan bangsa Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, kemerdekaan, hingga zaman pemerintahan saat ini.

Monumen Pers Nasional Surakarta juga menyimpan mesin ketik kuno, foto tustel kuno, pemancar radio saat perang kemerdekaan, koleksi-koleksi foto, koran, majalah, pengabdian wartawan, dan lain-lain.

Keenam, Pasar Gede Hardjonagoro. Pasar Gede Hardjonagoro dirancang oleh arsitektur Belanda bernama Thomas Karsten, yang mulai dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada tahun 1930. Pasar ini pun menjadi pasar tertua di Surakarta.

Nama Hardjonagoro diambil dari nama seorang keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari Keraton Surakarta. Oleh sebab itu, Pasar Gede dianggap sebagai simbol harmoni kehidupan sosial budaya yang telah berkembang di Surakarta pada waktu itu.

Bahkan sepuluh meter di samping Pasar Gede terdapat sebuah klenteng bernama Vihara Avalokitesvara Tien Kok Sie yang masih berdiri hingga saat ini. Pada awalnya, klenteng ini digunakan sebagai tempat persinggahan bagi para saudagar Cina, kemudian setelah Keraton Kasunanan Surakarta berdiri pada tahun 1745, Sunan Pakubuwana II meresmikannya sebagai tempat ibadah.

Kemudian di dekat klenteng tersebut terdapat perkampungan keturunan Tionghoa (pecinan) yang bernama Balong, terletak di Kelurahan Sudiroprajan. Sementara itu, nama ‘gede’ diberikan karena arsitektur pasar menyerupai benteng dengan pintu masuk utama berbentuk singgasana berukuran besar dan atap yang lebar (TATV, 2015).

Sampai saat ini, keenam peninggalan bersejarah tersebut masih beroperasi, menunjukkan bahwa Kota Surakarta semakin eksis dan menjaga keutuhan sejarahnya melalui pemanfaatan dan pengelolaan tempat-tempat bersejarah.

Sedikit mengulas mengenai beberapa peninggalan bersejarah dimulai dari Keraton Kasunanan Surakarta memberikan ruang bagi pengunjung untuk dapat menikmati sudut pandang Kota Solo sebagai kota kerajaan.

Kedua, Museum Radya Pustaka memberikan kesan untuk dapat menikmati naskah-naskah Jawa kuno yang tertulis. Ketiga, Pura Mangkunegaran yang menjadi tempat berkembangnya budaya di Kota Surakarta, seperti dilakukannya pertunjukkan wayang kulit, resepsi, dan upacara-upacara tradisional.

Keempat, toleransi antarumat beragama sudah muncul pada zaman dibangunnya Masjid Agung setelah selesai membangun Keraton Kasunanan. Kelima, lahirnya Monumen Pers Indonesia memperlihatkan bagaimana kepemimpinan raja saat itu sangat terbuka. Keenam, terbentuknya Pasar Gede Hardjonagoro bertujuan sebagai mata pencaharian masyarakat sesuai kepentingannya.

Selain itu, memberikan arti bahwa hidup berdampingan antarsuku bukan menjadi permasalahan yang besar dan kenyataannya masyarakat pribumi dan masyarakat Tionghoa dapat berhubungan baik melalui jual beli di Pasar Gede Hardjonagoro. Hingga saat ini, peninggalan bersejarah mampu menjadikan kota Surakarta sebagai salah satu kota yang lekat dengan budaya dan menjadikan budaya sebagai daya tarik pengembangan pariwisata domestik maupun mancanegara.

Bahan bacaan

Junaedi, Elvian Yudhistira. 2019. Museum Suaka Budaya Kasunanan Surakarta. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Gunawan, Arip. 2018. Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai Destinasi Wisata Utama di Kota Solo. Domestic Case Study. h. 1-11.

Herlambang, Rudy W., dkk. 2017. ‘Pengenalan Cagar Budaya Pasar Gede Hardjonagoro Surakarta bagi Generasi Muda Melalui Video Time Lapse’. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya, Volume 2(2). h. 130-141.

Kusuma, Vista Anindya, dkk. 2020. ‘Radya Pustaka Museum as The Preservation of Surakarta Cultural Heritage from 2008-2018’. Jurnal Historica, Volume 4(1). h. 97-108.

Purnomo, Heru. 2011. Peranan Pura Mangkunegaran terhadap Pelestarian Benda-Benda Sejarah (Studi tentang Museum Pura Mangkunegaran). Skripsi: Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Santoso, Lilik Budi. 2008. Karakteristik Bentuk Masjid Kerajaan di Kota Surakarta. Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sholeh, Restu Muhammad dan Sri Wahyuni. 2015. ‘Revitalisasi Monumen Pers Sebagai Salah Satu Cagar Budaya di Surakarta’. Jurnal Candi, Volume 12(2). h. 1-16.