Mina Gatak Makmur, Upaya Mewujudkan Desa Tanpa Kemiskinan

Salah satu desa binaan perikanan di Klaten. DOKUMEN PRIBADI

Salah satu arah 18 SDGs desa adalah desa tanpa kemiskinan. Arah ini merupakan penjabaran dari tujuan pembangunan berkelanjutan. Salah satu tujuan pembangunan yang ingin dicapai oleh SGDs adalah mengurangi tingkat kemiskinan.

Sebagaimana telah diketahui bahwa kemiskinan telah menjadi permasalahan sosial bagi semua negara selama bertahun-tahun, termasuk negara Indonesia. Meskipun berbagai pendekatan pembangunan telah dilakukan oleh pemerintah, wajah kemiskinan masih dijumpai di masyarakat Indonesia, terutama di pelosok pedesaan.

Sebagai seorang pendamping lokal desa, saya selalu berusaha melaksanakan apa yang menjadi tugas seorang pendamping lokal desa. Tugas pendamping lokal desa bukan hanya sekadar mengawal penggunaan dana desa secara tata kelola keuangan, tetapi juga memberikan masukan-masukan kepada pemerintah desa dan warga desa tentang memanfaatkan dana desa secara lebih optimal untuk mencapai tujuan dana desa itu sendiri.

Di satu sisi, pendampingan administrasi keuangan yang berkaitan dengan penggunaan tetap penting dijalankan sebagai perwujudan good governance, yaitu transparansi dan akuntabilitas. Tapi di sisi lain, keberadaan pendamping desa juga menjadi semacam kader pembangunan demi kesejahteraan desa.

Untuk mengentaskan kemiskinan warga desa, mau tidak mau, saya mencoba mendorong pemerintah desa dan tokoh masyarakat untuk membangun kelompok pemberdayaan. Prinsipnya sederhana jika warga desa mau sejahtera, warga desa harus diberdayakan dulu.

Warga desa yang belum sejahtera bisa disebabkan oleh banyak hal, antara lain ekonomi, sosial budaya,dan struktural, dll. Untuk membangun kelompok pemberdayaan, perlu adanya peran serta yang aktif dari warga desa itu sendiri dan tidak kalah pentingnya dukungan pemerintahan desa.

Membongkar Paradigma Lama

Terus terang, membangun kelompok pemberdayaan masyarakat tidak mudah dilaksanakan atau diwujudkan. Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa begitu sulit membangun kelompok pemberdayaan masyarakat.

Sejauh pengalaman yang dirasakan oleh penulis di lapangan adalah pertama adanya paradigma lama yang melekat di kepala warga desa. Paradigma ini menjadi seperti mimpi buruk bagi sebagian warga desa. Akibatnya, para warga desa mempunyai rasa optimistis terhadap sebuah kelompok pemberdayaan. Secara psikologis, mereka sudah menyerah sebelum bertanding.

Gambaran negatif di atas merupakan akibat kelompok pemberdayaan masyarakat di zaman orde baru. Pada zaman orde baru, desa-desa sering memperoleh bantuan berupa ternak seperti bebek, kambing, dan sapi. Ada juga berupa bantuan alat produksi, misalkan mesin jahit. Juga, ada bantuan permodalan bagi warga desa. Hampir semua bantuan di atas hilang tak ada bekasnya. Kelompok pemberdayaan pun mati pelan-pelan.

Kedua, tiadanya pendampingan kelompok oleh pemerintah desa secara manajemen dari hulu ke hilir. Pemerintah desa merasa sudah menjadi pahlawan dengan menyalurkan berbagai bantuan kepada warga desanya.

Padahal, para anggota kelompok pemberdayaan masih perlu didampingi secara manajemen bagaimana membangun kebersamaan antar anggota, bagaimana membangun tata kelola uang secara terbuka, bagaimana membangun dan menjaga motivasi anggota dan bagaimana membangun pemasaran untuk produk yang mereka hasilkan. Dengan dibiarkan begitu saja, bisa diperkirakan tidak butuh waktu lama mereka akan berhenti dalam kegiatan kelompok pemberdayaan.

Ketiga, permodalan untuk membiayai kelompok pemberdayaan juga ikut berperan bagi keberhasilan. Mesti disadari bahwa kegiatan kelompok pemberdayaan belum tentu berhasil seketika. Bahkan sering kali, kelompok pemberdayaan mesti jatuh berulang kali, baru kemudian mengalami keberhasilan.

Biasanya saat jatuh atau gagal, kelompok pemberdayaan susah bangkit karena terkendala soal pendanaan. Dari mana mereka mempunyai biaya untuk mendanai kegiatannya lagi? bahkan kegagalannya menyebabkan rasa putus asa untuk bangkit.

Terakhir, tiadanya pendampingan teknis dari pihak-pihak yang memang mempunyai kompetensi di bidang pemberdayaan. Contoh nyata dari pengalaman lapangan dari penulis di desa, yaitu pemberian bantuan mesin jahit kepada warga desa. Kriteria penerima mesin jahit tidak dibuat secara jelas oleh pemerintah desa. 15 KPM penerima mesin jahit hanya disebarkan secara merata pada warga dusun seolah-olah menggambarkan keadilan.

Saat pergantian kepala desa yang baru, calon penerima mesin jahit berubah lagi-lagi karena daftar penerima yang dulu pernah didata dan dimintakan foto kopi KTP hilang. Pemerintah desa mencari calon penerima mesin jahit yang baru. Selanjutnya, mesin jahit diserahkan kepada warga desa sebagai penerima.

Apakah warga desa yang menerima mesin jahit kemudian menggunakan peralatan itu untuk kegiatan produktif? Sebagian besar mesin jahit itu mangkrak di rumah karena sebagian besar mereka tidak mempunyai keterampilan menjahit dan kapasitas listrik rumah mereka tidak mendukung untuk mengoperasionalkan mesin jahit listrik.

Sebuah Proses Perjuangan

Gatak merupakan salah satu dukuh yang ada di Desa Sribit, Kecamatan Delanggu. Letak Dukuh Gatak berada di sisi utara dan timur yang berbatasan dengan Desa Krecek dan Desa Karang. Gatak sendiri merupakan sebuah RT dari RW 01 Gatak Desa Sribit. RT satunya lagi adalah RT Bekuning yang dibatasi dengan areal persawahan.

Dukuh Gatak yang berjumlah sekitar 70 Kepala keluarga ini diwarnai dengan pertanian yang mana sebagian besar warga desa bekerja di sawah. Mereka bekerja lebih bersifat sebagai buruh tani, bukan pemilik sawah. Anak-anak muda lebih dominan di Dukuh Gatak. Secara umum, mereka bekerja sebagai buruh harian lepas atau bekerja sebagai buruh pabrik yang ada di sekitar daerah Delanggu.

Melihat kondisi ekonomi di atas membuat saya berpikir bagaimana memecahkan persoalan ekonomi warga desa. Sebetulnya, ada harapan pemecahan kondisi ekonomi warga desa ini melalui keberpihakan dari pemerintah Desa Sribit. Karena Desa Sribit mempunyai wilayah yang luas, pemerintah desa Sribit masih fokus pada pembangunan fisik yang mendukung produktivitas pertanian, misalkan talud irigasi.

Oleh karena, keberpihakan pemerintah desa Sribit untuk mendukung kelompok pemberdayaan masyarakat masih belum tampak, mau tidak mau saya mencoba membangun kelompok pemberdayaan secara mandiri. Artinya seluruh pembiayaan kegiatan pemberdayaan ini tidak mengandalkan uluran bantuan dari pemerintah desa Sribit.

Salah satu faktor keberhasilan dari kelompok pemberdayaan adalah mendasarkan pada potensi yang ada pada masyarakat tersebut. Potensi ini bisa berupa potensi alam dan SDM yang ada. Sebuah potensi alam yang saya lihat dan bisa dikembangkan oleh warga Dukuh Gatak adalah adanya sebuah aliran sungai. Sungai ini berada persis di sisi utara Dukuh Gatak.

Selain air sungai cenderung jernih, arus sungai ini juga mengalir terus sepanjang tahun. Arus sungainya tidak pernah berhenti meskipun berada di musim kemarau. Lagi pula, di bagian atas sungai ini ada sebuah pintu air yang bisa mengontrol debit volume air sungai ketika hujan deras. Melihat kondisi sungai di atas, budidaya keramba ikan nila menjadi kegiatan yang sekiranya cocok untuk dilakukan oleh warga desa setempat.

Untuk menyampaikan gagasan budidaya ikan nila dalam keramba belum berani saya wacanakan ke warga desa Dukuh Gatak. Saya mesti mencari dana terlebih dulu untuk pembiayaan kegiatan pemberdayaan tersebut. Saya pun selanjutnya membuat rencana anggaran biaya (RAB) budidaya ikan nila dalam keramba.

Rencana anggaran ini dibuat atas dasar belajar dari Wahyudi, yang bekerja di Balai Benih Perikanan di daerah Janti Kecamatan Polanharjo. Dia sendiri juga merupakan seorang praktisi budidaya ikan nila sehingga Wahyudi adalah sumber belajar yang tepat bagi saya. Selain dibantu dalam menyusun rencana anggaran, saya pun bisa belajar budidaya ikan nila secara langsung dari Wahyudi. Pengetahuan budidaya ikan nila ini memberikan kepercayaan diri saat menjelaskan tentang budidaya ikan nila kepada warga Dukuh Gatak.

Langkah selanjutnya adalah membuat proposal budidaya ikan nila yang sesuai dengan rencana anggaran biaya di atas. Proposal budidaya ikan nila ini saya kirim melalui WhatsApp ke berbagai teman sekolah SMA kolese de Britto Yogyakarta dan murid-murid saya di SMP / SMA Pangudi Luhur Jakarta Selatan.

Dengan mendasarkan pada niat baik dan tulus, saya yakin teman-teman alumni dan murid-murid saya yang sudah bekerja akan membantu terwujudnya kegiatan ini. Puji Tuhan bahwa banyak teman alumni dan murid yang mau mengulurkan tangan untuk membantu kegiatan pemberdayaan ini. Dana sekitar 10 juta pun terkumpul dalam waktu cepat.

Setelah dana berada di tangan, baru saya menemui dan mengajak dialog dengan Joko, Ketua RW Dukuh Gatak. Saya utarakan gagasan budidaya ikan nila dalam keramba kepada Ketua RW. Gayung pun bersambut dan Ketua RW sangat senang dan mendukung kegiatan pemberdayaan yang memanfaatkan potensi sungai di Dukuh Gatak. Lalu, saya minta Joko untuk mencari anak-anak muda sebagai anggota kelompok pemberdayaan.

Jika sudah menemukan warga desa muda yang mau, saya minta diagendakan untuk pertemuan perdana dan akan saya jelas tentang mengapa perlunya kegiatan pemberdayaan dan juga saya jelaskan bagaimana memulai langkah kegiatan pemberdayaan.

Dalam pertemuan perdana, kepada para anggota yang masih anak-anak muda, saya jelaskan dan tekankan bahwa pertama-tama, kita semua baru taraf belajar budidaya ikan nila. Kita jangan bermimpi terlalu tinggi bahwa budidaya ikan ini akan memberikan keuntungan yang besar bagi kita. Selain memperoleh pengetahuan budidaya ikan nila, kita juga membangun nilai-nilai kearifan lokal yaitu semangat gotong royong.

Tanpa semangat bergotong royong, jalannya kelompok pemberdayaan akan terganggu di tengah jalan. Kita mesti berani memulai dan melangkah meskipun kita belum tahu persis hasilnya di depan. Tanpa melangkah dan melakukan apa-apa, kita tidak akan memiliki harapan di masa depan.

Kegiatan budidaya nila pun segera dimulai dengan penuh semangat. Semua ikut terjun membangun keramba bambu sederhana. Ukurannya 2 x 5 meter. Ada 5 keramba bambu yang diletakkan di sungai di samping masjid. Bagian dalam keramba diperdalam lagi dan tanahnya dimasukkan kedalam karung yang dipakai dan diletakkan di sepanjang tepi dinding keramba.

Karung pasir atau tanah ini berfungsi untuk mencegah bibit nilai keluar dari keramba meskipun dinding keramba sudah dipasang kawat strimin. Bagian paling depan keramba dipasangi semacam penahan sampah yang ada di sungai. Tiap pagi dan sore anggota kelompok pemberdayaan selalu membersihkan sampah yang tersangkut sambil juga memberikan pakan ikan.

Untuk mendampingi teknis budidaya ikan, saya mengajak Triwik, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Perikanan di Kecamatan Polanharjo. Orangnya sangat baik dan mau meluangkan waktu untuk membimbing para anggota budidaya ikan nila. Di sela-sela waktu, dia datang dan mengunjungi keramba ikan. Semua anggota kelompok akan datang dan mendengarkan masukan-masukan tentang budidaya ikan nila.

Bahkan, sering juga Triwik ini direpotkan karena para anggota bermain ke rumahnya untuk melihat secara langsung kolam ikan nila milik Triwik. Kebetulan, Triwik bersama suaminya juga melakukan budidaya ikan nila di rumahnya. Mereka memiliki banyak kolam ikan. Ada sekitar 5 kolam ikan yang mereka kelola. Setiap kolam bisa menghasilkan 3 ton ikan nila saat panen.

Berjuang Untuk Mandiri

Tanpa terasa, periode pertama budidaya ikan nila telah selesai. Hasil panennya sebagai kelompok pemula tidak mengecewakan. Masih ada keuntungan sekitar 1 juta rupiah. Di periode pertama, para anggota kelompok dan saya hanya bermodalkan nekat.

Baru disadari bahwa memelihara bibit ikan nila dengan berbagai ukuran justru membawa kesulitan sendiri. Banyak pengalaman yang bisa dipetik dari budidaya ikan nila di periode pertama ini, misalkan mengatasi penyakit atau jamur yang menyerang ikan nila.

Hasil panen pertama ini tetap dilanjutkan untuk periode kedua. Semua anggota sepakat bahwa untuk meningkatkan keuntungan dari budidaya ikan nila harus menebarkan jumlah bibit yang lebih banyak lagi.

Pengalaman di periode pertama dievaluasi kembali dan diperbaiki pada periode kedua. Untuk menebarkan jumlah bibit ikan nila yang lebih banyak lagi, kelompok budidaya nila ini menawarkan kerjasama usaha kepada pihak ketiga dengan sistem bagi hasil. 70% dan 30% dari keuntungan usaha. 70% keuntungan untuk kelompok pemberdayaan dan 30% untuk pihak ketiga. Tawaran ini berupa satu paket senilai 17,5 juta rupiah dengan menebarkan bibit sebanyak 1 kuintal.

Cara kerja pada periode kedua pun mengalami perbaikan tidak seperti di periode pertama. Joko selaku ketua kelompok pemberdayaan membuat jadwal pemberian makan setiap hari. Setiap anggota kelompok memperoleh tugas hanya sehari dalam satu minggu. Pagi sebelum bekerja dan sore setelah pulang bekerja, anggota memberikan pakan sesuai jadwal.

Bukan hanya sekadar memberikan makan dan membersihkan sampah, para anggota juga mencatat jumlah ikan yang mati setiap hari, mencatat adanya serangan penyakit, mencatat kondisi air sungai, mencatat berapa kilogram pakan yang ditebarkan. Setiap dua minggu sekali, akan dilakukan penimbangan ikan nila secara acak. Penimbangan ini dilakukan untuk mengetahui apakah perkembangan bobot ikan sesuai dengan usia pemeliharaan, untuk menentukan berapa pakan ikan yang harus ditambah.

Ada rumus tersendiri untuk menghitung berapa jumlah pakan yang ditebar setiap hari. Pengelolaan yang lebih rapi ini bisa menekankan tingkat kematian nila karena anggota kelompok budidaya nila bisa segera mengantisipasi saat ada serangan penyakit, juga pemberian makan bisa efektif sesuai dengan perkembangan usia ikan nila sehingga panen ikan nila bisa dilakukan secara tepat waktu.

Dengan mengelola secara lebih rapi, hasil panen kedua termasuk menggembirakan. Artinya hasil panen termasuk bagus karena para anggota masih dianggap sebagai pemula. Tingkat kematian bisa dikurangi dan hasil panen periode kedua mencapai sekitar 1,4 ton.

Namun, hasil yang menggembirakan ini tidak diikuti dengan harga jual yang baik. Pada saat panen ikan nila, harga ikan nila mengalami turun drastis karena ada serbuan ikan nila dalam jumlah besar dari peternak ikan nila dari Waduk Kedung Ombo. Harga ikan nila per kg hanya dihargai Rp23.000 dari Rp26.000 harga biasanya. Karena panen dalam jumlah besar, hasil panen ikan nila dibeli oleh tengkulak. Sedangkan, sisanya 4 kuintal dijual secara eceran ke pasar.

Berjalan Terus Dengan Semangat

Sebagai pendamping lokal desa, saya meyakini bahwa membangun kelompok pemberdayaan masyarakat merupakan langkah nyata untuk turut mewujudkan pedoman SDGs Desa, yaitu: Desa Tanpa Kemiskinan. Seringkali, apa yang saya lakukan ini dipandang nyleneh oleh berbagai pihak entah itu dari pemerintah desa sendiri dan juga rekan-rekan pendamping desa lainnya karena hanya kegiatan ini tidak didanai oleh dana desa.

Dengan adanya SDGs Desa, saya makin meyakini apa yang saya lakukan berada di jalur yang benar. Meskipun kelompok budidaya nila Mina Gatak Makmur belum didukung oleh dana desa, kelompok Mina Gatak Makmur ini telah memberikan penghasilan tambahan bagi para anggotanya.

Bersama mereka, potensi sungai yang sebelumnya dibiarkan begitu saja bisa disulap untuk tempat kegiatan budidaya produktif dan untuk menciptakan ketahanan pangan hewani. Selain itu, semangat kebersamaan dan nilai gotong royong tetap bisa dilestarikan melalui kegiatan budidaya ikan nila.

Saya merasa bahagia jika apa yang saya lakukan sebagai pendamping lokal desa bisa dirasakan manfaatnya bagi para anggota dalam upaya membangun kesejahteraan secara gotong royong. Bukankah ini yang seharusnya menjadi tugas mulia dan pengabdian dari seorang pendamping desa profesional? Salam membangun desa.

Penulis: Thomas Sutana

Pemerhati Desa. Tinggal di Delanggu