Mengulik Histori Rambut Kuncung

Model rambut kuncung kembali menjadi tren, setelah pemain timnas Brazil, Ronaldo Nazário menampilkannya pada ajang Piala Dunia 2002. PINTEREST/Eduardo Nuñez Sanchez

Di Kartasura, saya lahir dan tumbuh dengan asupan ragam genre musik. Bapak kerap memutar musik pop 70-an seperti D’Lloyd. Hidup di bui lagu yang hari ini masih saya ingat. Sesekali dangdut milik Bang Haji Rhoma Irama. Saya tidak suka musik Soneta, terdengar seperti gedombrengan rongsokan panci.

Mood saya selalu berubah jika bapak memutar Bang Haji. Dan playlist bapak yang selalu membuat hanyut, masuk dalam pusara lirik-liriknya yaitu lagu milik Ebiet G. Ade. Semua lagunya saya suka. Selain genre pop dan dangdut bapak, tetangga saya hampir setiap sore memutar Didi Kempot.

Lagu yang masih terngiang sampai hari ini salah satunya berjudul ‘Kuncung’. Lagu tersebut diambil dari jenis gaya rambut anak laki-laki. Dipangkas habis di sisi kiri, kanan, dan belakang, meninggalkan sedikit rambut di ubun-ubun.

Sebagai seorang anak kecil, mendengar lagu ‘Kuncung’ seperti mendengar candaan. Orang-orang juga menggunakan lagu tersebut untuk menggoda anak kecil. Mereka bernyanyi sambil mengusap kepala saya.

Lucu, membayangkan jika rambut saya dipotong kuncung. Tetapi terkadang juga kesal kalau ditakut-takuti akan dipangkas kuncung. Malu. Gaya rambut kuncung selain lucu, tapi juga menjadi momok yang menakutkan.

Kuncung bukan hanya lagu, melainkan juga album foto lawas. Orang-orang yang lahir di dekade 80-an ke bawah barangkali akan terkenang mendengar cerita potongan rambut kuncung.

Di tahun-tahun itu, potongan rambut kuncung menjadi tren orang tua memodelkan potongan rambut anaknya. Kepopuleran gaya rambut kuncung juga dibarengi majalah anak yang memuat cerita-cerita pendek.

Pernah terbit majalah dengan nama Si Kuncung, majalah anak yang terbit pertama kali tahun 1956, dan populer tahun 1950 sampai 1970-an. Majalah tersebut memuat cerita-cerita dari pelosok Indonesia, membuat Si Kuncung kental dengan nuansa pedesaan.

Meski kondisi ekonomi saat itu sedang di masa krisis, tidak menyurutkan minat untuk membeli Si Kuncung. Tercatat sejak pertama kali terbit, Si Kuncung mampu menjangkau 800.000 ribu pembaca.

Kuncung bukan hanya soal rambut dan majalah, melainkan gambaran kemiskinan yang digambarkan begitu apik oleh Didi Kempot. Lirik-liriknya seperti kita membuka arsip Indonesia di zaman orde baru.

Kemiskinan yang merajalela, nerimo dan prihatin. Jika kita menyandingkan lagu ‘Kuncung’ dengan keadaan hari ini, seakan lirik ‘Kuncung’ tidak lebih hanya sebatas guyonan.

Cilikanku rambutku dicukur kuncung

Katokku seko karung gandum

Klambiku warisane mbah kakung

Sarapanku sambel korek sego jagung

Kosokan watu nek kali nyemplung neng kedung.

Zaman disek durung usum sabun (pabrik’e rung dibangun)

Andukku mung cukup anduk sarung

Dolananku motor cilik soko lempung

Selain gaya rambut digunakan sebagai nama majalah dan judul lagu, kuncung juga diadopsi sebagai tayangan TVRI Yogyakarta, serial cerita anak dengan nama acara Kuncung Bawuk.

Diperankan dua tokoh utama berwujud boneka yang memiliki karakter berlawanan. Kuncung sebagai kakak laki-laki selalu merasa pintar—memiliki gaya rambut kuncung, sedangkan Bawuk tokoh adik perempuan yang suka adul-adul (mengadu) ke orang tuanya.

Pada tahun 80-an, menyaksikan sandiwara televisi Kuncung Bawuk adalah kemewahan disela-sela tayangan program pemerintah seperti Keluarga Berencana, Pertanian, hingga Kamtibmas. Kondisi zaman yang—tidak semua orang punya televisi—menjadikan menonton tv beramai-ramai kegiatan yang masuk jadwal mingguan.

Berbeda hari ini yang hampir setiap rumah memiliki televisi, tetapi fungsinya sudah tidak utuh. Televisi tidak lagi ditonton, melainkan hanya menjadi radio, bahkan menganggur, menjadi pajangan dan teman tidur. Kebanyakan lebih doyan bermain ponsel.

Meski zaman berubah, menonton tv beramai-ramai (tahun 80-an) tetap menjadi kenangan yang indah meski kerap dirusuhi orang-orang yang mencari muka.

Saya sendiri lahir tahun 90-an dan belum pernah merasakan memiliki gaya rambut kuncung. Menonton tv beramai-ramai pernah merasakan, itu pun bukan kegiatan yang luar biasa, hanya sebatas mengisi waktu luang bersama saudara.

Menuruti perintah ibu berharap saya lekas tertidur. Tayangan televisi pun tidak begitu membekas. Saya ingat adegan dalam film Mandarin ketika Boboho menaruh makanan ke dalam balon, dan Power Ranger cantik berwarna merah muda yang menjadi rebutan antara saya dan saudara.

Cerita pengalaman nonton televisi tidak begitu seru, masih jauh menarik cerita kawan-kawan yang lagi asik menonton televisi acara kesukaan tiba-tiba muncul laporan khusus, tiba-tiba muncul seperti demit. Selain itu, selera musik saya kacau, selalu berubah-ubah mengikuti tren.

Di tahun 2008 hingga 2009 tayang di televisi sinetron Ronaldowati. Diperankan oleh Nona Berlian Sakinah dikenal juga Nona Than Sakinah sebagai pemeran utama bernama Wati. Sinetron yang berkisah seorang perempuan yang mempunyai keinginan bermain bola tetapi mendapat penolakan dari tim sepak bola di kampungnya.

Wati merubah penampilan dengan cara mencukur kuncung, mirip pemain bola idolanya Ronaldo Nazario dari Brazil yang menggunakan model rambut kuncung ketika bermain di Piala Dunia 2002. Berkat usahanya, ia berhasil membentuk tim yang diisi kawan-kawannya seperti Ceking dan Mat Gondrong.

Cerita terus berlanjut dengan banyak lika-liku dan konflik, hingga akhirnya membuat Wati dan rekan-rekannya menjadi tim yang cukup diperhitungkan di kampungnya.

Agaknya potongan rambut kuncung tidak melulu untuk anak laki-laki. Di dalam sinetron Ronaldowati diceritakan ketika Wati (perempuan-red) merubah model rambutnya dari panjang menjadi kuncung mendapat amarah dari ibunya.

Respon yang wajar sebab potongan rambut kuncung di latar tahun 2008 memang terlihat aneh. Tetapi bagaimana di tahun-tahun 1980-an ke bawah potongan kuncung khususnya untuk anak perempuan? Sebuah foto tahun 1938, nampak seorang perempuan di Bali berambut kuncung.

Rambut kuncung barangkali hanya akan menjadi kenangan manis mereka yang pernah memiliki rambut kuncung dan yang hidup di zamannya. Saya tidak pernah melihat orang-orang bergaya rambut kuncung selain dari arsip foto lawas. Mungkin akan menjadi tren lagi di masa mendatang. Entah.

Add Comment