Mengarahkan Daya Pikir dalam Mencari Kebenaran

Sering kali manusia tidak mengerahkan dan mengoptimalkan daya pikirnya dalam mengungkap kebenaran diri. PIXABAY/Tumisu

Kebanyakan orang tidak pernah menggunakan daya pikirnya, sekalipun untuk merenungkan dan mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri. Siapa aku sebenarnya? Sebenarnya kenapa aku hidup? Apa tujuan hidup sebenarnya?

Dan bagaimana aku hidup yang benar? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup ‘sederhana’. Karena ‘sederhananya’ orang menjadi lupa dan sering kelihatan tolol dan lucu tatkala membicarakannya.

Terkadang kita merasa malu untuk menjawabnya. Sebab, ternyata persoalan yang muncul dari pertanyaan ‘sederhana’ itu lebih dalam dan rumit daripada jawaban yang diharapkan.

Jawaban rumit tersebut berlaku juga untuk pertanyaan, Sudahkah aku memeluk agama yang benar? Sebenarnya agama mana yang benar itu? Apakah semua agama itu sama?

Bingung, tentu itu pikiran yang terlintas di dalam otak dan hati kita. Sebab, kita tidak terbiasa dengan pertanyaan dan persoalan yang demikian. Padahal jawaban atas pertanyaan itu adalah hakikat hidup kita.

Maaf, kebanyakan manusia perjalanan hidupnya seperti layaknya seekor binatang, yaitu mereka hidup sepertinya hanya untuk lahir, bekerja mencari makan, menikah, memiliki anak, dan mati. Sepertinya, mereka tidak pernah memikirkan arti hidup. Artinya, mereka belum mengarahkan daya pikirnya untuk mencari kebenaran.

Tentu kita semua tidak ingin seperti demikian. Kita sesungguhnya telah diciptakan menjadi manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (sempurna) oleh Tuhan dan kita kemudian tidak ingin dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) sebagaimana merujuk dalam QS. At-Tin, ayat 4-5.

Selain itu, Allah juga berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam itu), kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih rendah lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raaf, ayat 179).

Kembali kepada perumpamaan binatang. Contohnya ayam, ia hidup hanya sekadar untuk lahir, makan, kawin, beranak, dan mati. Apakah kita manusia sama halnya dengan itu? Lalu apa gunanya kita diberi daya pikir (akal) dan hati.

Seekor binatang wajar jika ia hidup seperti itu sebab ia tidak berakal dan berhati. Tetapi manusia, ia akan lebih rendah dari binatang tatkala ia tidak mempergunakan daya pikir (akal) dan hatinya untuk mengenal, memahami dan melaksanakan hakikat hidupnya.

Selanjutnya, di manakah kebenaran hakikat hidup itu? Melalui jalan apa? Melalui agama apa? Apakah semua agama itu sama dan benar

Mencari Kebenaran dalam berbagai Agama

Hans Kung seorang teolog Katolik, dalam Theology for the Third Millennium, 230-237. Bdk. Hans Kung, Towards an Ecumenical Theology of Religions: Some These for Clarifcation dalam Concilium 183 (1986), dalam Dialog: Cara Baru Beragama, Sunardi, mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan melontarkan empat kemungkinan kebenarannya. Kung menunjuk empat kemungkinan pendirian itu terhadap keanekaragaman agama-agama dunia.

Pertama, tak ada satu agama pun yang benar (atau semua agama sama-sama tidak benar); kedua, hanya ada satu agama yang benar (atau semua agama lainnya tidak benar); ketiga, hanya ada satu agama yang benar dalam arti semua agama lainnya mengambil bagian dalam kebenaran agama yang satu itu, dan keempat, setiap agama adalah benar (atau semua agama ‘sama-sama’ benar).

Pendirian pertama (Tak ada satu agama pun yang benar), yang bercorak ateistik (tidak percaya adanya Tuhan), tentu saja tidak pernah terjadi di antara orang-orang yang beragama. Pendirian ini dianut oleh mereka yang memandang agama sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

Feuerbach menunjuk esensi agama terletak pada manusia, agama merupakan proyeksi manusia yang sama sekali bersifat jasmani (ateisme antropologis). Marx menyebutnya sebagai ideologi kaum borjuis (pengusaha), agama itu candu bagi masyarakat (ateisme sosio-politis). Freud menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak riil, fungsinya bertentangan dengan cara hidup yang wajar dan manusiawi.

Jikalau manuasia mau hidup secara benar-benar manusiawi, maka manusia harus menyingkirkan agama dari setiap cara mereka berpikir, berperilaku, dan bertindak. Posisi yang paling radikal diajukan oleh F. Nietzsche yang mengaku telah ‘membunuh Tuhan’. Demikianlah dia menyatakan ‘Tuhan sudah mati’ (nihilisme) dan mengusulkan kembali untuk mengevaluasi seluruh nilai.

Dalam teologinya, Kung selalu memperhitungkan posisi ini sebagai fungsi kritis yang tak bisa diabaikan begitu saja oleh agama. Gema kritik mereka akan selalu relevan sepanjang sejarah, walaupun perspektifnya berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zamannya.

Kedua adalah pendirian absolutis yang menyatakan bahwa hanya ada satu agama yang benar, sedangkan agama-agama lainnya tidak benar atau palsu. Ini berarti bahwa agama-agama lainnya tidak menjamin keselamatan para pemeluknya.

Oleh karena itu, semua pemeluk agama lain harus ‘dibaiat atau ditobatkan’ ke satu-satunya agama yang benar itu. Dalam sejarah gereja pendirian semacam itu pernah dianut seperti tampak dalam ungkapan: Extra ecclesiam nulla salus (di luar gereja tidak ada keselamatan). Berhadapan dengan Islam, misalnya, gereja tidak mengakuinya sebagai agama. Muhammad, rasulullah tidak hanya tidak diakui sebagai utusan Allah, tetapi bahkan dicap sebagai utusan setan.

Giulio Basetti-Sani, Koran in the Light of Christianity, 1977, hal. 11) Sikap seperti ini telah memberikan corak suram dalam sejarah hubungan antar agama Kristen dan Islam yang pada dasarnya bersumber pada satu tradisi iman Ibrahim.

Pendapat ketiga yang berpendirian bahwa hanya ada satu agama yang benar, dalam arti semua agama lainnya mengambil bagian dalam kebenaran agama yang satu, sering disebut pendirian inklusifisme. Pendirian ini lebih toleran.

Toleransi ini didukung oleh suatu pandangan teologis bahwa keselamatan tidak hanya menjadi monopoli satu agama, Islam misalnya, sebagai satu-satunya agama yang benar. Tetapi keselamatan juga dapat terjadi di dalam agama lain. Keselamatan tidak butuh pernyataan eksplisit ungkapan iman kepada agama tertentu.

Namun, keselamatan dapat terjadi tanpa adanya hubungan yang eksplisit dan hubungan yang didasari dengan agama tertentu. Iman yang seperti ini sering disebut Iman anonim.

Jelasnya, orang yang beragama di luar Kristen berhak memperoleh keselamatan sejauh mereka berbuat baik dan hidup dalam ketulusan hati terhadap Tuhan, sebab karya Tuhan pun ada pada mereka, walaupun mereka belum mendapat kabar baik agama Kristen misalnya.

Hans Kung menganggap bahwa pendirian inklusif ini masih mengandung kesombongan yang tersembunyi atau sikap merasa diri super atas agama-agama lain.

Kung menawarkan pendirian lain yang bisa menjadi dasar. di satu pihak, tidak meremehkan agama lain dan di lain pihak, tidak mengkhianati agamanya sendiri? Pendiriannya itu ia sebut kritis-ekumenis. Menurutnya kita harus memandang kedudukan agama-agama dari dua arah; dari dalam dan dari luar.

Benarkah hanya ada satu agama yang benar dalam arti agama-agama lainnya mengambil bagian dalam kebenaran agama yang satu itu (inklusifisme)? Dari luar, diakui adanya bermacam-macam agama yang benar. Inilah dimensi relatif dari suatu agama.

Agama-agama ini mempunyai satu tujuan, yaitu keselamatan (dengan konsep keselamatan yang berbeda-beda. Lewat perbedaannya ini, agama-agama bisa memperkaya satu sama lain. Dari dalam, diakui adanya satu agama yang benar. Inilah dimensi mutlak dari suatu agama.

Bagi Kung, seorang pemeluk agama Kristen, satu agama ini adalah Kristianisme. Kebenaran ini ada ‘sejauh Kristianisme mengakui akan satu Allah yang benar sebagaimana diwahyukan-Nya dalam diri Yesus Kristus’.

Pendirian ini tidak harus menolak kebenaran agama-agama lain, walaupun benar sampai tingkat tertentu. Sejauh tidak bertentangan dengan pesan agama Kristen, agama-agama lain dapat ‘melengkapi, mengoreksi dan memperdalam agama Kristen’.

Apapun pandangan Hans Kung tersebut intinya dia masih bisa disebut mempunyai pendirian inklusifisme atau lebih tepatnya neo-inklusifisme. Pandangan Kung ini sebenarnya hendak menuju pendirian pluralisme, namun masih ragu-ragu.

Pendirian Pluralisme adalah pendirian yang keempat, pendirian ini berpendapat dan percaya bahwa setiap agama atau semua agama mempunyai jalan keselamatannya sendiri-sendiri. Dia menolak inklusifisme. Namun, bagi sebagian besar agama-agama berpendapat bahwa pluralisme adalah tidak relevan dan absurd (tidak mungkin).

Paham pluralisme ini percaya bahwa semua agama adalah sama, tetapi bukan seperti paham deisme yang sudah tidak mementingkan lagi agama-agama formal walaupun ia berpendirian bahwa agama-agama semuanya sama. Pluralisme menganggap semua agama adalah penting dan sah.

Orang-orang (sering disebut aliran deisme) melihat agama sebagai sesuatu yang kurang penting karena mereka beranggapan bahwa agama-agama formal (organized religions) semisal Yahudi, Nasrani, dan Islam sebagai tidak memiliki masa depan.

Yang bertahan bagi mereka adalah pesan-pesannya yang universal semisal kemaha-Esa-an Tuhan (Unitarianisme) dan kebenaran Universal (Universalisme), namun ritus-ritus formal dan label yang membungkusnya diremehkan dan ditinggalkan, sehingga mereka tidak merasa perlu mengikatkan diri kepada salah satu agama dan mempermasalahkan kesalahan dan kebenarannya masing-masing.

Jalan Lurus dengan Kalimatun Sawa’ (titik temu agama-agama)

Setelah melihat uraian di atas, bagaimana pandangan Islam? Pandangan Islam sepertinya lebih ‘mendekati’ pendirian inklusifisme, kritis-ekumenis dan sekaligus Pluralis.

Budi Munawar Rachman dalam artikelnya yang berjudul Filsafat Perennial dan Masalah Klaim Kebenaran berpendapat, salah satu kesadaran yang sangat berakar dalam pandangan seorang Muslim adalah agama Islam adalah sebuah agama universal untuk sekalian umat manusia.

Landasan prinsip-prinsip tersebut adalah ‘tunggal’, meskipun ada berbagai manifestasi lahiriahnya yang beraneka ragam. Ini juga yang telah menghasilkan pandangan antropologis bahwa pada mulanya umat manusia adalah ‘tunggal’, karena berpegang kepada kebenaran tunggal (Tuhan).

Tetapi kemudian manusia berselisih paham, justru setelah penjelasan tentang kebenaran itu datang, dan mereka berusaha memahami kebenaran itu, setara dengan kemampuan atau sesuai dengan keterbatasan mereka. Sehingga di sinilah mulai terjadi perbedaan penafsiran terhadap kebenaran Yang Tunggal itu.

Perbedaan itu kemudian dipertajam oleh kepentingan pribadi dan kelompok (vested interest). Kesatuan asal umat manusia itu dilukiskan Al-Qur’an, “…adalah manusia itu melainkan semuanya merupakan umat yang tunggal, kemudian mereka berselisih.” (QS.Yunus, ayat 19)

Pokok pangkal kebenaran universal yang tunggal itu ialah paham Ketuhanan Yang Maha Esa, atau tauhid. Tugas para rasul adalah menyampaikan ajaran tentang tauhid ini, serta ajaran tentang keharusan manusia tunduk patuh hanya kepada-Nya saja (Islam). Dan, justru berdasarkan paham ketauhidan inilah, Al-Qur’an mengajarkan paham kemajemukan keagamaan (religious plurality).

“Tidak ada paksaan untuk beragama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa ingkar kepada thaghut (setan dan apa saja yang disembah selain Allah), dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah, ayat 256)

Dalam pandangan teologi Islam, sikap ini dapat ditafsirkan sebagai suatu harapan kepada semua agama yang ada bahwa semua agama itu pada mulanya menganut prinsip yang sama. Karena alasan inilah Al-Qur’an mengajak kepada ‘titik pertemuan’ atau dalam istilah Al-Qur’annya adalah kalimatun sawa’.

“Katakanlah olehmu (Muhammad): wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimah sawa’) antara kami dan kamu, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak memperserikatkan-Nya kepada apapun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai ‘tuhan-tuhan’ selain Allah.” (QS. Ali-Imran, ayat 64)

Implikasi dari kalimah sawa’ ini adalah siapa pun dapat memperoleh ‘keselamatan’ asalkan dia beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat baik. Pandangan ini akan mendorong umat Islam secara normatif untuk menghargai kemajemukan keagamaan lewat sikap-sikap toleransi, dan keterbukaan seperti dicerminkan dalam konsep tentang siapa yang digolongkan sebagai Ahli Kitab.

Demikianlah, Islam berpandangan mengenai kebenaran haluan hidup, yaitu manusia hendaknya menuju jalan yang lurus itu dengan (minimal) beriman kepada Allah dan berbuat baik, sebagai titik pertemuan adanya keberagaman jalan hidup (agama). Berkenaan dengan hal tersebut daya pikir kita pasti membenarkan logika itu.

Selebihnya dalam mencenderungkan hati kita kepada kebenaran, daya pikir memberitahukan bahwa Rasulullah Muhammad saw. adalah contoh tauladan kita. Dalam mengarungi hidupnya sehari-hari rasulullah mempunyai pedoman dan prinsip-prinsip pribadi yang patut ditiru.

Pedoman dan prinsip-prinsip haluan hidup rasulullah adalah seperti apa yang ada di dalam hadits ini,

Ma’rifat (pengetahuan) adalah modalku, akal pikiran adalah sumber agamaku, cinta adalah dasar hidupku, rindu adalah kendaraanku, berzikir adalah kawan dekatku, keteguhan adalah perbendaharaanku, duka adalah kawanku, limn adalah senjataku, ketabahan adalah pakaianku, kerelaan adalah sasaranku, faqr (kesederhanaan) adalah kebanggaanku, menahan diri adalah pekerjaanku, keyakinan adalah makananku, kejujuran adalah perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad adalah perangaiku, dan hiburanku adalah salat.” (Al- Hadis).

Add Comment