Menelusuri Potensi Kota Surakarta Sebagai Kota Budaya

Kampung Batik Kauman sebagai salah satu potensi wisata kebudayaan di Kota Solo. DOKUMEN PRIBADI

Pariwisata telah lama diakui sebagai sektor andalan perolehan devisa nonmigas dalam pembangunan nasional. Dengan visi pembangunan Kota Surakarta adalah kota budaya yang berorientasi pada nilai masa lalu sebagai konsep yang mengarah pada ‘budaya’.

Konsep ini perlu mendapat perhatian karena ‘budaya’ tak melulu menyangkut masa lalu, namun yang utama adalah menyangkut ‘masa depan’. Jika visi ke depan pembangunan Kota Surakarta adalah masa lalu, yang jadi pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana menggabungkan visi ‘masa depan’ budaya dengan kondisi ‘masa lalu’ Kota Surakarta.

Citra sebagai kota budaya sudah melekat cukup lama pada Kota Surakarta. Citra ini tidak terlepas dari keberadaan dua lembaga adat budaya Jawa yang hingga kini masih bertahan, yakni Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

Perkembangan pelestarian kebudayaan di Kota Surakarta semakin meningkat. Hal ini juga tidak lain merupakan nilai tambah bagi pemerintah kota dalam menerapkan realisasi dari visi dan misi Kota Surakarta, dengan menerapkan berbagai slogan sebagai ajang citra wilayah Kota Surakarta antara lain Solo Tempo Dulu, Solo Kotaku, Jawa Budayaku, Solo The Spirit of Java sehingga nama Kota Surakarta semakin terkenal.

Daya Tarik Wisata Budaya Kota Surakarta

Kota Surakarta menyuguhkan beragam wisata budaya yang dapat ditemui wisatawan. Pertama, wayang orang. Wayang yang muncul di abad XVIII merupakan bagian dari drama yang telah dikembangkan di Eropa, diciptakan KGPAA Mangkunegoro I di Solo.

Pada saat Paku Buwono X membangun Taman Sriwedari sebagai taman hiburan untuk umum dan meresmikannya di tahun 1899, diadakan pertunjukan wayang orang yang kemudian tetap hidup hingga saat ini. Wayang orang Sriwedari telah berjasa besar dalam melestarikan kebudayaan bangsa, yaitu seni wayang orang, seni tari, seni busana, seni suara, serta seni karawitan.

Kedua, wayang kulit. Tokoh-tokoh wayang kulit berasal dari kisah klasik Ramayana dan Mahabarata yang mencerminkan kehidupan manusia. Kemampuan dalang yang paling berperan, terutama ketika memainkan penokohan wayang dibalik tabir yang memunculkan bayang-bayang wayang, kemudian diiringi dengan musik gamelan Jawa.

Balutan suara sinden semakin menyempurnakan pertunjukan. Pengaturan seperti ini menghasilkan sebuah pertunjukan mahakarya seni.

Ketiga, wayang bocah. Meningkatnya berbagai macam pertunjukan kesenian di Surakarta belum lengkap bila belum melihat pertunjukan wayang bocah. Tidak seperti pemain wayang biasanya yang sudah dewasa, wayang ini dimainkan oleh anak-anak atau dalam bahasa Jawa disebut bocah.

Meski demikian kepiawaian mereka tak kalah dengan penari dewasa. Bahkan selain melihat pertunjukannya, juga dapat melihat latihannya dengan mengunjungi Sanggar Tari Wayang Bocah Soeryo Sumirat di Pura Mangkunegaran atau Meta Budaya di Kampung Baluwarti.

Keempat, Ketoprak Balekambang. Ketoprak Balekambang sudah ada sejak tahun 1950. Namun gedungnya baru dibangun di tahun 1977. Dulu pertunjukan ini dinamakan “Tobong” atau panggung darurat karena tempatnya selalu berpindah-pindah.

Pada tahun 1989 diputuskan untuk mengadakan pertunjukan tetap di sebuah gedung yang tak terpakai. Hingga kini jumlah anggota komunitas Ketoprak Tobong kurang lebih 70 orang. Kelompok ketoprak humor srimulat juga lahir di sini, termasuk pelawak-pelawak terkenal seperti Gepeng, Timbul, Basuki, dan masih banyak lagi.

Dulu hampir setiap malam ketoprak ini mengadakan pertunjukan dan pada tahun 2021 dilaksanakan setiap seminggu sekali. Harus diakui kepiawaian mereka bermain, bernyanyi dan menguasai peran memang luar biasa.

Kelima, berdirinya Grup Tari Soeryo Sumirat berawal dari pemikiran Gusti Pangeran Harya Herwasta Kusumo, adik kandung Sri Paduka Mangkunegaran IX. Beliau bersama rekan-rekan yang tertarik akan seni tari membentuk sebuah grup tari, tepatnya pada Jumat 2 Oktober 1982 dengan condro sengkolo Astaning Taksaka Gapuraning Radityo (2891 1982) di Pura Mangkunegaran.

Grup imo berdiri atas restu almarhum KGPAA Mangkunegoro VIII. Grup tari ini masih eksis sampai sekarang dan telah menghasilkan banyak para penari yang handal.

Kampung Kauman Menjadi Ikon Potensi Budaya

Berbicara tentang potensi budaya, tidak dapat terlepas dari potensi kampung yang menjadi bagian dari Kota Surakarta. Terdapat dua kampung yang menjadi ikon potensi budaya yaitu Kampung Batik Kauman dan Kampung Wisata Baluwarti.

Potensi budaya terlihat pada Kampung Batik Laweyan di mana batik masuk ke dalam bagian dari warisan budaya Indonesia. Di Pulau Jawa, terdapat beberapa kawasan Kampung Kauman, diantaranya berada di kota Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta.

Setting Kampung Kauman di Jawa mempunyai bentuk yang hampir sama, seperti bentuk alun-alun dengan dikelilingi masjid atau keraton. Selain itu Kampung Kauman yang ada di Indonesia memiliki ciri khas sebagai kampung santri dan kampung dekat sejarah keagamaan yang kuat (Darban, 1984).

Kauman di Surakarta memiliki keterkaitan dengan Keraton Kasunan Surakarta. Kampung Kauman berdiri bersamaan dengan Masjid Agung Surakarta pada tahun 1757 oleh Pakubuwono II.

Kampung Kauman awalnya juga diperuntukkan sebagai tempat tinggal abdi dalem. Selain ras Jawa, terdapat berbagai etnis lain yang mendiami wilayah tersebut, seperti etnis Tionghoa, etnis Arab, serta etnik Madura (Wijaya & Isawati, 2016).

Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto, dan kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama Kauman.

Masyarakat kaum (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk membuat batik baik berupa jarik atau selendang dan sebagainya.

Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari dalam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga keraton.

Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap, dan model kombinasi antara tulis dan cap. Batik tulis bermotif pakem yang paling banyak dipengaruhi oleh seni batik Keraton Kasunanan yang merupakan produk unggulan kampung batik kauman.

Disamping produk batik, kampung Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial, dan perpaduan arsitektur Jawa dan Kolonial.

Kampung Kauman adalah kampung yang berada pada kompleks Keraton Kasunanan Hadiningrat, di mana dahulu merupakan kawasan para santri di mana kawasan tersebut terdapat Masjid Agung sebagai Landmark (ciri khas) di mana daerah sekitar keraton merupakan area kegiatan wisata, sehingga mengarah pada kampung kauman yang juga sebagai kegiatan wisata dan cendera mata.

Kebijakan Keraton Surakarta menjadikan area keraton sebagai daerah non vehicle atau zero position dengan tujuan mengembalikan kawasan keraton sebagai fungsi utamanya yaitu sebagai area sakral dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Sementara untuk fungsi pendukung sebagai area wisata budaya, sebatas tidak mengganggu fungsi utamanya.

Kampung Baluwarti Potensi Wisata Budaya Baru

Selain Kampung Batik Kauman, terdapat Kampung Baluwarti yang kini sedang ramai dibicarakan sebagai potensi wisata budaya. Awal pembentukan Kampung Baluwarti bersamaan dengan berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta.

Setelah menjadi bagian dari kawasan keraton, lingkungan Baluwarti merupakan pemukiman yang sengaja dibuat untuk mendukung keberadaan keraton, sekaligus menjadi area pertahanan. Oleh karena itu, keberadaan pemukiman di Baluwarti merupakan bagian dari satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan Keraton Kasunanan Surakarta (Soeratman, 1989).

Kampung Baluwarti menjadi unik karena lingkungan rumah penduduknya berada di dalam tembok keraton dengan ukuran ketebalan 2 meter dan tinggi 6 meter, serta hampir semua bentuk bangunannya bercirikan arsitektur tradisional khas Baluwarti yang dipengaruhi arsitektur Jawa, Cina dan Eropa dengan pola ruang yang khas.

Selain arsitekturnya, kampung Baluwarti juga masih memegang teguh dalam hal adat-istiadat, kebiasaan, tata cara dan budaya masyarakatnya. Lingkungan perumahan Kampung Baluwarti terdapat regol yang khas dengan tembok pembatas pekarangan. Dengan adanya tembok ini seolah-olah menyembunyikan rumah-rumah di dalamnya, menghalangi pandangan keluar bagi penghuninya.

Kekhasan ini yang menjadikan lingkungan perumahan yang berada di Baluwarti masuk dalam kawasan cagar budaya yang ada di Kota Surakarta, dan sekaligus merupakan peninggalan yang bernilai sejarah.

Kampung Wisata Baluwarti Surakarta telah dikenal oleh wisatawan karena letaknya yang berada di area Keraton Kasunanan Surakarta. Kampung Wisata Baluwarti menawarkan pengalaman baru, hidup menyatu dengan budaya keraton, belajar dan berproses, merasakan dan terlibat dalam aktivitas masyarakat setempat, dalam artian bahwa wisatawan tidak hanya melihat begitu saja atraksi budaya, tetapi dapat hidup di dalamnya.

Wisatawan dapat merasakan dan menikmati secara utuh sosial budaya di Kampung Wisata Baluwarti tersebut. Atraksi yang ditawarkan berupa perjalanan melihat suasana keseharian, belajar menari, menikmati keagungan heritage serta pembuatan cendera mata (kerajinan penduduk setempat yang unik dengan menggunakan bahan-bahan setempat).

Banyak hal yang dapat dieksplorasi di Kampung Wisata Baluwarti, di antaranya suasana kampung Tamtaman dan Carangan dulunya barak prajurit. Wirengan kampung penari, Gambuhan kampung pengrawit, Hadernasan tempat transit warga Belanda, Ndalem Sasono Mulyo rumah raja dan keluarganya, Langensari lokasi transit tamu kerajaan, Gondorasan dapur keraton, dan masih banyak lagi.

Berbicara tentang potensi budaya tidak dapat terlepas pada pengembangan wellnes tourism yang sedang digaungkan di Kota Surakarta dan sebenarnya masih banyak lagi potensi budaya yang dimiliki Kota Surakarta, hanya saja pembahasan kali ini hanya merujuk pada ikon potensi budaya yang sedang diminati.

 

Bahan Bacaan

Agfianto, Tomi, dkk. 2020. Strategi Pemasaran Berbasis Website Di Kampung Wisata Baluwarti Surakarta. Jurnal Inovasi Penelitian. Vol. 1(6) : 1043-1048.

Arsandrie, Yayi & Retno Widyanti Praiswari. 2021. Akulturasi Budaya di Kawasan Kauman Surakarta. Jurnal Arsir Edisi Khusus : 35-45.

Darban, A. A. 1984. Kampung Kauman: Sebuah Tipologi Kampung Santri di Perkotaan Jawa (Studi Perbandingan Sejarah Pertumbuhan Kampung Kauman Kudus Dan Yogyakarta). Laporan Penelitian : Universitas Gadjah Mada.

Muslikh. 2016. Pengembangan Potensi Kampung Wisata Budaya Di Baluwarti Kota Surakarta Indonesia. Jurnal Ilmiah Pendidikan, Sejarah, dan Sosial Budaya. Vol.18 (1) : 1-10

Suci, Sari Dewi P. 2010. Promosi Kota Solo Sebagai Kota Budaya (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Kegiatan Komunikasi Pemasaran Dalam Promosi Kota Solo Sebagai Kota Budaya Oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata). Skripsi : Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Add Comment