Menelusuri Jejak Dakwah Kiai Bhatara Katong

Hewan kesayangan (Kebo Bule) Paku Buwono II. PERPUSTAKAAN NASIONAL RI

Pada masa kekuasaan Paku Buwono II (PB II) yang lahir pada 8 Desember 1711, yang bertakhta mulai tahun 1726-1742 M perluasan dakwah ke berbagai wilayah kekuasaannya bisa dibilang cukup masif. PB II sendiri merupakan Raja Mataram ke-9 dan merupakan Raja Keraton Kasunanan Surakarta yang pertama, dengan nama asli Raden Mas Prabu Suyasa.

Berbagai wilayah lainnya, perjalanan sebuah kekuasaan tidak bisa lepas dari intrik-intrik politik baik yang datang dari internal maupun dari luar kerajaan. Seperti halnya yang dialami pada masa kekuasaan PB II ini, pemerintahannya pun pernah mengalami pergolakan yang datang dari berbagai pihak yang di antaranya dilakukan oleh Amangkurat V (Sunan Kuning). Dikisahkan bahwa dalam rangka menyelamatkan diri dan mempertahankan kewibawaan kerajaan, PB II sempat meminta bantuan kepada Kiai Ageng Muhammad Besari di Ponorogo, Jawa Timur.

Selama beberapa waktu di Ponorogo, PB II kemudian tidak hanya sekadar meminta bantuan, tetapi sekaligus berguru (nyantri) kepada Kiai Ageng Muhammad Besari. Dalam proses nyantri inilah, PB II kemudian mendapatkan tempaan kanuragan, serta bimbingan yang bersifat rohani dan spiritual sebagai tambahan kekuatan dalam mengampu Surakarta.

Dalam proses ini juga, PB II mengalami kematangan batin yang sangat cepat. Hal ini tercermin dari berbagai laku peribadatan maupun laku spiritual lainnya yang intens dilakukan oleh PB II. Bahkan selama beberapa waktu di Ponorogo, PB II sempat membangun sebuah pesanggrahan di Desa Sawoo, Ponorogo.

Kehebatan Kiai Ageng Muhammad Besari dalam menanggapi permintaan bantuan dari PB II ini tidak dengan memberikan atau mengirimkan bantuan dalam bentuk apa pun ke Surakarta, akan tetapi dengan cara menguatkan olah rasa, olah batin serta olah kanuragan kepada PB II.

Dengan semakin bertambahnya kekuatan yang ada pada diri PB II, diharapkan akan dapat mengatasi berbagai pergolakan politik yang dihadapi. Karena kecerdasan Kiai Ageng Muhammad Besari ini juga, PB II merasa mendapatkan anugerah berupa ketenteraman hati, sekaligus memiliki semangat membara dalam menjaga wilayah Surakarta. Alasan ini juga yang kemudian selama nyantri di Ponorogo, PB II juga dijuluki sebagai Sunan Kumpul Api.

Dalam waktu yang cukup singkat inilah, PB II kemudian sering melakukan semedi, memohon petunjuk pada Allah agar diberi jalan terbaik dalam mengatasi pemberontakan yang sedang terjadi. Pada akhirnya, PB II pun berhasil menumpas pemberontakan dan kembali menyelamatkan takhtanya.

Selama masa kepemimpinan PB II di Keraton Kasunanan Surakarta, selain Kiak Ageng Muhammad Besari, juga tidak bisa dilepaskan dari nama seorang Ulama besar yaitu Raden Lembu Kanigoro alias Bhatara Katong yang memiliki nama kecil Joko Piturun alias Raden Harak Kali.

Bhatara Katong sendiri merupakan putra Prabu Brawijaya alias Bhre Kertabhumi dari selir garwa pragambe (selir yang tinggi kedudukanya). Kiai Bhatara Katong dan kakaknya –Lembu Kenongo (yang kemudian lebih dikenal sebagai Raden Fatah) merupakan di antara tokoh kunci berdirinya Kesultanan Demak Bintoro di bawah bimbingan para Walisongo.

Asal Usul Troketon, Pedan

Ketika kemudian Raden Fatah bertakhta di Demak Bintoro, dalam rangka ekspansi kekuasaan sekaligus menyebarkan dakwah Islam, Demak mengirimkan Bhatara Katong beserta seorang santrinya bernama Selo Aji serta 40 santri untuk berdakwah ke berbagai wilayah terutama di Jawa, termasuk Klaten, yang ketika itu masih menjadi wilayah Mataram. Tahun 1487 M, Kiai Bhatara Katong memasuki wilayah Klaten dan membuka hutan (babat alas) di wilayah Pedan, tepatnya saat ini bernama Troketon.

Pedan sendiri merupakan wilayah perdikan dari Keraton Surakarta. Gayung bersambut, ketika Bhatara Katong dan para santrinya babad alas di Troketon, Pedan, Kiai Ageng Muhammad Besari juga pernah berpesan kepada PB II agar ikut menyebarkan Islam di wilayah kekuasaannya.

Sebagai rasa patuh pada gurunya, PB II pun kemudian mengutus beberapa prajuritnya untuk membantu dakwah Islam di wilayah Klaten dengan diprakarsai dua prajurit sekaligus santri andalan dari Surakarta, yaitu Raden Pawiro Sugal yang oleh masyarakat lebih dikenal sebagai Mbah Kedungkelan dan Kiai Ageng Barat Ketigo.

Atas jasa Kiai Bhatara Katong serta PB II melalui dua prajurit andalannya inilah, persebaran dakwah Islam khususnya di wilayah Troketon, Pedan mulai marak. Bahkan makam Raden Pawiro sampai saat ini masih bisa ditemui di Dukuh Keron, Troketon, Pedan. Sebagai penghormatan atas jasa Kiai Bhatara Katong dalam menyebarkan Islam di wilayah ini, namanya pun kemudian diabadikan menjadi nama daerah tersebut, yang saat ini dikenal dengan nama Troketon, yang merupakan proses desimilasi bahasa dari Bhatara Katong. Kini Troketon berkembang menjadi sebuah daerah subur makmur dan masyarakatnya bercorak agamis, dengan ditandai banyaknya kegiatan keagamaan di daerah tersebut. Selain masyarakat agamis, sebagian besar masyarakat Troketon juga bermata pencaharian sebagai petani ladang dan penggarap sawah.

Bahkan dari cerita tutur yang beredar, atas kecerdasan Bhatara Katong dan PB II dalam berdakwah adalah dengan diadakannya Grebeg Muharam (grebeg sura) dalam rangka memperkenalkan penanggalan Islam kepada masyarakat Jawa dengan mengarak kerbau bule di sepanjang jalan besar sekitar Keraton.

Konon awalnya kerbau bule yang mau diarak, diistirahatkan di alas Troketon sebelum kemudian diarak menuju Keraton Surakarta. Artinya, hubungan antara Troketon dan sekitarnya dengan Keraton Surakarta ini sangat erat. Hal ini diperkuat pula dengan adanya sebuah tanah atau wilayah di Dukuh Badaran yang sampai ini masih berstatus tanah milik Keraton Kasunanan Surakarta (Sunan Ground).

Makam Raden Pawiro sendiri, sampai saat ini masih di uri-uri dan diziarahi oleh masyarakat sekitar, juga diziarahi oleh masyarakat lain dari berbagai wilayah. Bahkan oleh beberapa orang, makam Raden Pawiro ini kemudian dianggap makam sakral yang bisa menjadi jembatan dalam mengabulkan berbagai hajat. Sehingga, menurut kesaksian beberapa warga, tidak jarang orang-orang penting dan beberapa pejabat juga sering berziarah ke makam ini, salah satunya adalah Bupati Klaten periode 1966 – 1970, Sutiyoso.

Adapun dengan adanya beberapa cerita dari masyarakat bahwa nama Troketon berasal dari kata Setrokecu, dari penelusuran yang dilakukan didapat penjelasan dari beberapa tokoh bahwa Ki Setro merupakan sosok yang sering membuat resah masyarakat Troketon dengan berbagai ulahnya dan berasal dari luar wilayah setempat. Maka, oleh masyarakat juga sering dijuluki dengan ‘kecu (perampok atau begal). Sehingga Ki Setro kemudian juga dikenal sebagai Setrokecu. Ki Setro ini juga dikisahkan pernah dikalahkan oleh Ki Ageng Barat Ketigo ketika lawan tanding di alas Troketon.

Troketon dalam Perkembangannya

Selain pernah menjadi sebuah wilayah pardikan (wilayah bebas pajak) dari Kasunanan Surakarta, Troketon dulunya juga merupakan sebuah wilayah Kademangan. Pusat pemerintahan atau kantor Demang sendiri berada di Dukuh Sidokerso, dengan Demang I bernama Raden Demang Kertomenggolo, yang kemudian secara berturut-turut digantikan oleh Raden Demang Kerto Inangun, Raden Demang Harjo Sudiro dan Raden Demang Pawiro Sudarmo (wafat 1972).

Setelah Raden Demang Pawiro Sudarmo wafat, Troketon mengalami proses politik yaitu adanya pergantian kewilayahan dari Kademangan menjadi Kelurahan. Pada 1974 Kelurahan Troketon pertama kali diampu oleh Paiman Widyo Purnomo sebagai Lurah pertama, yang masih keponakannya Raden Demang Pawiro Sudarmo.

Setelah berganti dengan sistem kelurahan dan Paiman Widyo Purnomo sebagai Lurah pertama dan terlama yang memimpin Troketon kurang lebih 25 tahun (1974-1999), setelah itu secara berurutan Paiman digantikan oleh Widodo B.Sc. (1999-2004), Ahmadi Tri Atmaja (2004-2012), Sunaryo (2012-2018, 2018-2023)

Narasumber:

  1. Muhammad Ansori (Pemerhati Sejarah dan Budaya Klaten);
  2. H Wahyudi Nasution (Satrawan, Pengurus Forum BPD Klaten);
  3. Paiman Widyo Purnomo (Mantan Lurah Troketon );
  4. Sriyono Kusuma Atmojo (Kadus 2 Troketon);
  5. Wiryo Atmojo (Tokoh sekaligus keturunan Demang Prawiro Sudarmo);
  6. Basuki (Anggota BPD Troketon);
  7. Muhammad Syamsuddin (Sekretaris BPD ).

Penulis: Rumini Zulfikar

Penasihat LPQ Baiturrahman Keron. Tinggal di Pedan.