Menyelisik Bisnis Wedding di Era New Normal

 

Penerapan Protokol Kesehatan Pramusaji Enggar Catering. DOKUMEN PRIBADI

Pernikahan tidak lepas dari acara sakral dari mulai akad sampai dengan resepsi. Pernikahan harus disertai dengan rasa suka cita baik pengantin, orang tua, saudara, tetangga, maupun tamu.

Acara pernikahan dapat berjalan lancar, sukses dan bahagia dengan koordinasi yang baik dari para vendor yang dipakai. Yang dimaksud para vendor pada umumnya yaitu penata rias, sound system, MC, dekorasi, wedding organizer (WO), katering, fotografi, dan lain sebagainya.

Jika koordinasi antara vendor tersebut kurang baik, maka acara dapat berjalan tidak mulus. Adapun miss yang terjadi seperti MC yang kurang profesional dalam memahami acara dan para tamu sehingga acara berjalan kurang meriah atau menjadi molor. Maka dari itu, MC harus berkompeten dan bisa koordinasi dengan pihak wedding organizer supaya acara berjalan lancar, meriah dan tepat waktu.

Sebelum pandemi Covid-19, bisnis wedding ini mengalami perkembangan yang baik. Hal ini dilihat semakin banyaknya para vendor baru. Seperti undangan, WO, MC, dekorasi, katering maupun fotografi semakin banyak dengan kelebihan dan persaingan harga yang kompetitif. Sebenarnya banyak vendor lama yang memiliki jam terbang tinggi sebagai pilihan, tetapi biasanya mematok harga yang lebih mahal.

Sebagai solusi atas tingginya harga vendor tersebut maka muncul vendor-vendor baru dengan harga yang lebih murah. Vendor baru bukan berarti murahan tetapi juga kempetitif dari segi pelayanan dan kualitas. WO, penata rias, fotografi, dan katering bisa mendapatkan lebih dari 10 project wedding tiap bulannya. Apalagi jika katering, pesanan yang diterima sekali project antara 500-3000 porsi dan bisa lebih.

Katering memiliki sinonim yaitu jasa boga. Menurut KBBI, jasa boga berarti usaha yang melayani pesanan hidangan untuk pesta, pertemuan dan sebagainya. Katering memang ada yang hanya menerima pesanan untuk pernikahan. Ada pula yang menerima pesanan apa saja misalnya makan siang, snack, rapat, dan lain sebagainya.

Usaha katering pernikahan memang tergolong tidak mudah, mulai dari persiapan bahan sampai penyajian. Pengelolaan katering yang baik mulai dari finansial, kebersihan dan pelayanan akan membuat usaha maju sehingga banyak pelanggan yang percaya akan kualitasnya.

Penyajian makanan pernikahan memiliki beberapa model yakni prasmanan, semi prasmanan atau piring terbang. Menurut KBBI, prasmanan merupakan cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil atau memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja.

Prasmanan model sekarang biasanya ditambahkan dekorasi yang menarik seperti lampu hias, ukiran akrilik, ataupun kain berwarna elegan. Hal itu dimaksudkan agar penampilan prasmanan terlihat mewah atau elegan seperti yang konsumen harapkan.

Semi prasmanan merupakan gabungan dari model prasmanan dan piring terbang. Hidangan ditata di piring atau mangkok sesuai porsi pada umumnya, kemudian diletakkan di atas meja atau gubuk yang sudah didekorasi menarik dan elegan.

Piring terbang merupakan metode atau tata cara menjamu makanan dengan menggunakan pramusaji kepada tamu undangan. Model ini memang memiliki kelebihan yaitu praktis, cepat dan tidak merepotkan tamu. Jika model prasmanan memang terkesan tidak praktis untuk tamu karena mengambil makanan sendiri. Hal ini akan lebih merepotkan apabila tamu yang usia sudah renta atau memakai kursi roda.

Model piring terbang membuat para tamu terasa dimanja. Pramusaji akan menghidangkan makan dan minuman dalam ukuran per porsi, jadi para tamu hanya duduk dibangku. Hal ini adalah kelebihan karena para tamu dengan usia renta tidak perlu mengantre dalam mengambil makanan jika dibanding model prasmanan.

Kelebihan lain yakni harga lebih murah dibanding prasmanan, cocok untuk konsumen dengan finansial yang terbatas. Piring terbang memiliki urutan penyajian mulai dari minuman, camilan, snack, sop, nasi plus lauk pauk, dan terakhir minuman manis atau es.

Pada masa kini, konsep piring terbang sudah banyak dimodifikasi dari kostum pramusaji maupun konsep parade. Dulu kostum pramusaji pada piring terbang memakai baju putih dan celana hitam yang terkesan kelihatan formal tapi terkesan kuno.

Sekarang, kostum pramusaji sangat bervariasi seperti ada yang memakai baju koko yang dimodifikasi dengan kain batik, ada yang memakai jas dengan hiasan berwarna elegan. Sehingga, variasi kostum pramusaji menimbulkan ciri tersendiri bagi setiap katering.

Ada hal menarik dari konsep parade saat mengeluarkan makanan. Pada konsep sekarang, banyak katering yang memiliki konsep parade mengeluarkan makanan yang menarik seperti diiringi penari maupun dengan iringan pemain saksofon. Alhasil, katering akan memberikan kesan tersendiri kepada para tamu dan konsumen.

Pada masa pandemi Covid-19, para wirausaha katering pernikahan mengalami penurunan project yang menimbulkan penurunan omzet lebih parah lagi kebangkrutan. Keganasan Covid-19 menyebabkan banyak sekali korban jiwa sehingga pemerintah membuat peraturan dari mulai PSBB hingga PPKM level 4.

Dalam peraturan tersebut memuat mengenai pelarangan penyelenggaraan resepsi. Apabila pihak penyelenggara nekat melakukan acara resepsi tanpa menerapkan protokol kesehatan dan jaga jarak, maka akan dibubarkan oleh tim gugus Covid-19 yang terdiri dari polisi, tentara, dinas perhubungan, dinas kesehatan, polisi pamong praja, dan kecamatan.

Hal ini untuk menurunkan rantai penularan virus Covid-19 akibat kerumunan sehingga jumlah tamu juga dibatasi maksimal 50-100 orang tergantung kondisi tempat. Pada konsumsi juga tidak boleh menerapkan model prasmanan, semi prasmanan maupun piring terbang karena dapat terjadi penularan virus sehingga model drive thru nasi box adalah solusi.

Penerapan aturan tersebut membuat para calon penyelenggara acara pernikahan mulai takut membuat acara resepsi yang berakibat konsumen katering mengalami penurunan sangat drastis. Pada sektor usaha penyedia gedung pernikahan juga mengalami nasib yang sama, di mana pada saat PSBB kapasitas gedung hanya boleh digunakan 25% dari kapasitas maksimal untuk menghindari kerumunan.

Hal serupa juga dirasakan oleh vendor pernikahan yang lain seperti WO, sound system, percetakan undangan, penata rias, dan lain-lain. Namun, beberapa katering pernikahan masih melanjutkan usahanya dengan beralih membuat kue, roti dan snack.

Pada masa new normal, akhirnya peraturan mengenai diadakannya pesta pernikahan atau resepsi mulai dilonggarkan karena korban Covid-19 sudah mulai turun. Para pelaku usaha pernikahan mulai bangkit kembali dari keterpurukan setelah Covid-19. Walaupun belum sepenuhnya pulih, tetapi setidaknya memberikan angin segar untuk mereka.

Dukungan dari pemerintah mengenai usaha pernikahan sangat penting setelah diterpa badai Covid-19 yang melanda hampir satu tahun yang mengakibatkan kebangkrutan. Usaha dalam pesta pernikahan seperti vendor-vendor tersebut disebut juga UMKM yang harus didukung dan dilindungi oleh pemerintah.