Meneladani Karakteristik KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy’ari. NU. or. id

Sosok KH. Hasyim Asy’ari adalah sosok yang tidak bisa kita tinggalkan ketika kita berbicara tentang salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama atau biasa kita kenal dengan singkatan NU.

KH. Hasyim Asy’ari lahir pada tanggal 14 Februari 1871 M di Gedang, tepatnya Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara. Nama lengkap dari Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim.

Dirinya dikenal sebagai sosok kiai pembaru yang lahir sebagai keturunan darah biru dan darah putih, sebab asal-usul dan keturunannya yang tidak dapat dipisahkan dari riwayat Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam Demak.

Menerapkan Sikap Kepemimpinan Sejak Kecil

Masa bermain dan bersenang-senang di usia anak-anak merupakan hal yang sudah wajar, sehingga pendidikan yang diberikan kepada anak-anak sering kali dilakukan sekadarnya.

Artinya, sangat penting memberikan pola atau sistem pendidikan sesuai dengan keinginan anak-anak tersebut, karena ketika dipaksakan mereka akan mudah marah atau menangis bahkan meninggalkan pendidikan tersebut.

Para tokoh pendidikan modern menyatakan bahwa pendidikan masa anak-anak sangat penting dilakukan dengan slogannya ‘bermain sambil belajar’. Slogan ini digunakan untuk lebih mencerdaskan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Asumsinya, pendidikan modern tidak lagi berpedoman pada bakat alami atau tidak, akan tetapi menciptakan atau memunculkan bakat yang tersembunyi atau terpendam pada diri sang anak.

Hal berbeda terjadi pada diri KH. Hasyim Asy’ari. Sejak usia anak-anak, bakat dari KH. Hasyim Asy’ari memang sudah nampak terutama bakat kecerdasan dan kepemimpinannya. Misalnya saja dalam permainan, ketika beliau melihat teman-temannya bermain kasar atau bermain curang dari peraturan-peraturan yang berlaku atau yang telah ditentukan.

Ia tidak segan-segan akan menegur dan memperingatkan mereka yang melanggar peraturan tersebut. Ia menyatakan bahwa tindakan bermain curang tidak boleh karena ketika pelaku curang suatu saat dicurangi, tentu juga tidak akan mau.

Sikap seperti ini sangat patut untuk kita contoh dan kita terapkan di kehidupan sekarang ini. Di samping kita menerapkan suatu kebaikan kita juga akan disenangi oleh banyak orang dan memiliki banyak teman. Mengapa demikian? Hal ini karena kita melindungi teman sepermainan kita yang teraniaya dan mungkin tidak memiliki keberanian untuk melawan.

Bahkan yang lebih menarik lagi dari KH. Hasyim Asy’ari saat ia kecil, teguran dan peringatan yang ia lakukan kepada teman sepermainannya adalah dengan lemah lembut, kata-kata yang manis, dan perilaku yang tidak menyakiti hati teman-temannya. Hal ini menjadikan orang yang melakukan kesalahan tidak merasa tersudutkan dan sakit hati, melainkan akan timbul kesadaran dalam dirinya sendiri untuk memperbaikinya.

Hadis Rasulullah sebagai Landasan

Di kehidupan KH. Hasyim Asy’ari saat anak-anak memang sudah sangat patut untuk kita contoh. Mulai dari hal yang kecil, seperti cara ia menegur teman-temannya yang melakukan sebuah kesalahan. Cara yang dilakukan tersebut, tidak terlepas dari cara yang diajarkan Rasulullah saw. sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, قال: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَأِ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَا نِهِ, فَأِنْلَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْ‘َفُ الأِيْمَانِ .رواه مسلم

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman’’ (HR. Muslim).

Dalam hadis ini sudah jelas diterangkan cara yang harus kita lakukan ketika melihat kemungkaran yang terjadi. Dapat disimpulkan tahapan-tahapan tersebut, yaitu memperbaiki dengan tangan, memperbaiki dengan lisan, dan jika belum memungkinkan memperbaiki dengan hati.

Ketiga cara tersebut, di dalam kehidupan KH. Hasyim Asy’ari sewaktu kecil, menerapkan sekaligus mencontohkan cara yang kedua, yaitu dengan lisan. Ia senantiasa menegur teman-temannya yang melakukan kemungkaran, kejahatan, atau kecurangan dalam permainan. Ia menegur dengan teguran yang lemah lembut. Cara seperti ini memang sangat cocok untuk kita lakukan atau kita terapkan.

Belajar dari kehidupan berdakwah Rasulullah saw., di mana awal mula dakwah Rasulullah sangat di benci bahkan oleh pamannya sendiri ( Abu Lahab), namun beliau tetap sabar dalam melaksanakan dakwahnya dan senantiasa bersikap lemah lembut dalam menyampaikan dakwahnya.

Hasyim Asy’ari sejak kecil dalam kehidupannya memang senantiasa menjadikan Rasulullah sebagai uswah (teladan). Maka dari itu sudah sepatutnya di zaman sekarang ini, salah satu kehidupan yang harus kita contoh adalah sosok kehidupan dari KH. Hasyim Asy’ari yang senantiasa selalu menjadikan Rasulullah sebagai landasan kepribadian dalam kehidupan bermasyarakat.