Memayu Hayuning Bawana, Hubungan antara Makhluk dengan Alam

Foto: jateng.kemenag.go.id

Masyarakat Jawa memiliki berbagai ajaran luhur tentang bagaimana menjaga hubungan dengan diri sendiri, hubungan sesama manusia, hubungan sesama makhluk dengan alam, maupun hubungan dengan Tuhannya. Dalam kaitan dengan menjaga hubungan dengan alam, masyarakat Jawa memiliki satu konsep adiluhung penuh falsafi yang dirangkum dalam kalimat memayu hayuning bawana. Kalimat ini secara falsafi bermakna sebuah harapan akan terjaganya harmoni kehidupan yang dapat memberikan kedamaian kepada seluruh alam.

Secara etimologi, kata memayu dan hayuning berakar dari kata hayu atau ayu yang berarti cantik atau indah. Sedang bawana berarti sebuah tempat di dunia. Jadi secara etimologi, memayu hayuning bawana dapat diartikan sebagai lelaku atau upaya untuk mempercantik atau memperindah alam semesta.

Pada konsep ruang atau alam, masyarakat Jawa memiliki paling tidak dua pandangan, bawana dan buwana. Bawana memiliki makna ruang bawah atau dunia dalam yang melingkupi batin, jiwa atau rohani. Sedangkan buwana memiliki ruang lingkup ragawi atau jasmani.

Buwana dalam aksioma masyarakat Jawa memiliki tiga makna. Pertama, buwono alit (jagad kecil) yang bermakna pribadi dan keluarga. Kedua, buwono agung (jagad besar) yang berarti masyarakat, bangsa, negara dan global. Ketiga, buwono langgeng (jagad atau alam keabadian) yang bermakna alam keabadian atau alam akhirat. Dalam kalimat lebih lengkap nasihat (sesanti) Jawa ini adalah “memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara”. Artinya, memperindah alam, menumpas segala malapetaka dan keburukan.

Dalam mengikhtiari memayu hayuning bawana, masyarakat Jawa memiliki berbagai rumus prilaku atau ajaran. Di antaranya jangan merubah siklus yang sudah menjadi ketetapan Tuhan (aja ngowah-ngowahi pakem) serta jangan menciptakan atau menjadi bagian dari konflik (aja gawe ukara kang gawe angkara).

Untuk dapat memayu hayuning bawana, manusia harus mau berupaya agar memiliki keindahan diri (memayu hayuning diri) serta harus sudah mengerti akan kebaikan yang terdapat pada dirinya. Setelah memperbaiki keindahan diri (akhlaq) maka kemudian manusia harus memiliki rasa keindahan, menjaga dan memperindah nilai-nilai sosial (memayu hayuning keluarga bangsa), barulah manusia akan memahami keindahan alam semesta dan bisa memperindah alam semesta.

Hal ini dikarenakan, hanya manusia yang memiliki potensi merubah siklus alam atau ‘tatanan Tuhan’ melalui kekuatan hati dan pikirannya (akalnya). Adapun tujuan (telos) dari ajaran yang ada pada masyarakat Jawa dalam menciptakan ajaran yang makna bersosial ini adalah untuk memberikan keselarasan bagi seluruh kehidupan alam semesta.

Berbagai falsafah masyarakat Jawa senantiasa terus menerus diajarkan, ditularkan dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Baik secara lugas melalui lisan (tutur), perbuatan (lelaku) maupun melalui berbagai simbol-simbol atau isyarat-isyarat (pasemon). Hal ini merupakan upaya masyarakat Jawa dalam menjaga ajaran luhur, nilai sosial, nilai hubungan sesama manusia, dengan sesama makhluk, dengan alam semesta dan terutama hubungan dengan Tuhan (Sang Hyang).

Budaya tutur, lelaku dan pasemon ini sampai sekarang masih bisa kita temui di berbagai daerah, terutama masyarakat Jawa yang hidup di desa-desa yang masih menjaga erat ajaran-ajaran luhur nenek moyang. Bahkan sampai bisa kita lihat bahwa bagi komunitas atau masyarakat yang masih memegang erat konsep ajaran memayu hayuning bawana ini, alam dan makhluk di sekitarnya masih terjaga secara asri dan indah.

Dengan demikian falsafah tersebut memiliki keyakinan bahwa sebagai wakil Tuhan (khalifah) di Bumi, manusia mampu mengilhamkan keselarasan kepada seluruh alam semesta beserta isinya, sekaligus bisa menjadi sebaliknya.

Seperti teori yang dikemukakan oleh Suwardi Endraswara dalam buku Memayu Hayuning Bawana: Laku Menuju Keselamatan dan Kebahagiaan Hidup Orang Jawa. Suwardi menguraikan arti dan konsep falsafah memayu hayuning bawana sebagai upaya untuk memperindah dunia yang secara turun temurun diwarisi oleh masyarakat Jawa.

Dalam buku yang sama, Suwardi juga mengupas jalan untuk mencapainya serta konteks ritual, kebatinan, dan sosial yang melingkupinya. Ungkapan memayu hayuning bawana ini merupakan sesanti daerah istimewa dalam membangun daerahnya.

Falsafah ini kemudian dikembangkan menjadi:

  1. Rahayuning Bawono Kapurbo Waskithaning Manungso (selaras, menjaga kelestarian dan keselarasan hubungan dengan Tuhan, alam, dan manusia tercermin pada perilaku manusia).
  2. Dharmaning Satrio Mahanani Rahayuning Nagoro (ahli profesional, pelayanan prima, teladan/keteladanan menjadi syarat mencapai Negara yang makmur).
  3. Rahayuning Manungso Dumadi Karono Manungsane (akal budi luhur, jati diri manusia terjadi karena manusianya itu sendiri).

Karakter masyarakat Jawa semacam ini bisa terlihat jelas. Mereka menggunakan sistem pikiran sebagai fungsi ideologi. Seperti teori yang disampaikan oleh Baudrillard, suatu ideologi dipahami sebagai representasi pikiran. Orang bisa memiliki keyakinan sosial yang kuat berkat agama, mitos, prinsip moral, atau kebiasaan (Baudrillard, 1970: 135).

Masyarakat Jawa memposisikan alam sebagai posisi yang mulia. Dapat dilihat dari pengibaratan alam sebagai bagian manusia, atau mengambil nama-nama unsur alam menjadi nama-nama sebagai sebuah wilayah, benda, bahkan nama atau julukan manusia.

Di masyarakat Jawa, terutama Jawa kuno, kita sering mendengar atau membaca istilah Ibu Bumi, Bapak Angkasa, Kakang Kawah, dan Adi Ari-Ari. Dalam konsep ini, masyarakat Jawa saat itu memposisikan alam seperti saudara atau keluarga bahkan orang tua.

Contoh lain adalah kebiasaan masyarakat Jawa menyematkan nama-nama alam atau makhluk pada nama lingkungan mereka, nama desa, bahkan menyematkan pada nama atau julukan orang tertentu. Kita mengenal nama tokoh seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Kebo Kenanga dan sebagainya. Kita juga sering menemukan nama-nama daerah yang menggunakan nama-nama dari unsur alam seperti Desa manggis, Pule, Kedung, Jurang Jero, Puluh Watu, Kedung Kulon, Girimulyo, Kalikebo, Kaliurang dan sebagainya.

Maka, hal selanjutnya yang bisa atau bahkan perlu dilakukan, adalah generasi saat ini harus melakukan reproduksi makna sekaligus tatanan sosial. Bahkan mungkin dilakukan ‘resakralisasi’ berbagai hal yang terkait upaya menjaga, melestarikan dan memperindah hubungan manusia dengan sesama makhluk maupun dengan alam semesta melalui pendekatan dan penjelasan berdasar pengetahuan dan teknologi, dengan tujuan menjaga keseimbangan alam semesta.

Ajaran nenek moyang masyarakat Jawa tentang memayu hayuning bawana memuat ajaran dan perilaku terhadap alam semesta. Selain adanya resakralisasi dengan penguatan dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, juga harus kembali diajarkan secara bijak melalui berbagai kurikulum kehidupan dan komunikasi atau sistem sosial yang saat ini berlaku. Sehingga tidak merubah atau merusak akal sehat atau bahkan merusak keimanan dan keyakinan terhadap Tuhan, kaitan manusia sebagai makhluk beragama.

Bentuk lain dari laku memayu hayuning bawana dapat kita lihat dari laku masyarakat Jawa dalam memuliakan alam seperti dalam budaya mangku kali, magku kebun, mangku alas dan sebagainya. Terjemahan dari prinsip mangku di atas yang paling mudah kita lihat adalah menghadapkan rumah tempat tinggal mereka ke arah sungai, hutan, atau kebun.

Perilaku ini diharapkan agar ketika rumah menghadap ke sebuah objek, maka objek yang ada di depan rumah akan senantiasa terjaga kerapiannya, kebersihannya dan keindahannya. Hal ini mungkin agak berbeda dengan yang banyak kita temui saat ini, terutama di kota-kota besar. Di mana sungai, halaman, alam sering kali ditempatkan sebagai halaman belakang rumah sehingga tidak jarang hanya menjadi tempat buangan sampah atau tempat yang jarang dijamah sehingga kotor, kumuh dan tidak indah dilihat.

Belum lagi berbagai penghormatan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa dalam berbagai ritual dan upacara. Disayangkan juga, karena berbagai upacara dan penghormatan ini tidak memiliki cukup penjelasan, sehingga tidak jarang justru menjadi hal yang kontra tafsir. Dari tujuan awalnya sebagai penghormatan alam dan benda-benda yang memiliki pengaruh dalam kehidupannya, menjadi semacam bentuk pemujaan pada makhluk atau roh yang dipercayai menjadi penunggu sebuah benda. Dalam kasus ini, selanjutnya justru menjadi sesuatu yang kontra produktif karena bertentangan dengan keyakinan yang sudah terlanjur diyakini sebagian besar masyarakat Nusantara.

Maka sekali lagi, bahwa penggalian makna sampai dengan pelestarian (uri-uri) berbagai laku memayu hayuning bawana yang banyak diajarkan nenek moyang ini perlu dilakukan sebuah reproduksi makna. Bisa dengan pendekatan pengetahuan dan teknologi agar tujuannya tercapai tanpa banyak menimbulkan berbagai tafsir dan perdebatan, serta juga tidak hanya laku fisik saja yang tetap lestari tetapi nirmakna.

Bahan bacaan:

Suwardi Endraswara, Memayu hayuning bawana: Laku menuju keselamatan dan kebahagiaan hidup orang Jawa, Narasi: Yogyakarta, 2013.

Jean Baudrillard, The Costumer Society, 1970.