Manjungan, Langkah Menuju Desa Mandiri

Wisata Umbul Susuhan di Desa Manjungan. PEMKAB KLATEN

Desa mandiri tidak lepas dari potensi sumber daya yang dimiliki. Mulai dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Banyak desa saat ini berlomba-lomba menjadi desa mandiri. Salah satunya, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten yang bernama Desa Manjungan.

Desa ini terletak sekitar 5 km dari pusat Kota Klaten. Letak geografisnya sangat strategis karena tidak jauh dari pusat kota. Desa Manjungan merupakan sebuah desa dengan potensi alam yang bagus. Sehingga banyak sekali persawahan di wilayah Desa Manjungan yang subur. Inilah poin penting Desa Manjungan sebagai desa pertanian.

Manjungan memiliki sumber daya air yang bisa dikatakan melimpah. Sumber mata air ini terletak di Dukuh Susuhan, Desa Manjungan. Sumber mata air ini disebut dengan Umbul Susuhan. Umbul Susuhan ini merupakan sumber mata air yang sangat dimanfaatkan petani untuk mengairi persawahan. Selain itu, pengairan di Desa Manjungan juga berasal dari limpahan air dari Umbul Gedaren. Pertanian di wilayah ini didominasi tanaman padi karena harga pasarnya masih bagus bagi para petani.

Manjungan juga merupakan desa yang mengembangkan perikanan. Air limpahan dari Umbul Susuhan digunakan untuk pembesaran ikan dan budidaya lumut. Pembudidaya melihat potensi air ini sebagai peluang yang bagus untuk budidaya ikan. Pak Dunung adalah inisiator budidaya ikan yang ada di Desa Manjungan. Selain inisiator budidaya ikan di desa, Beliau merupakan Lurah di Desa Manjungan.

Beliau memang sangat tertarik mengenai budidaya ikan. Beliau sangat pandai dalam melihat peluang. Melihat potensi air yang melimpah, langsung terpikirkan untuk membuat kolam budidaya ikan. Beliau membuat 4 kolam budidaya yang diisi dengan ikan tombro (mas), gurame, dan koi. Kapasitas setiap kolam ikannya berkisar 5-7 kuintal. Nantinya, beliau ingin mengubah paradigma para petani menuju ke arah budidaya ikan.

Budidaya lumut di Desa manjungan dilakukan oleh Pak Iip. Pak Iip melihat peluang budidaya lumut yang sangat prospektif. Budidaya lumut sendiri memang tidak membutuhkan modal yang banyak seperti budidaya ikan. Tetapi hasilnya bisa dikatakan cukup. Lumut yang dibudidayakan yaitu lumut untuk memancing. Tidak sembarang lumut bisa dijual, karena lumut untuk memancing itu tidak boleh kaku atau sudah menjadi berbentuk seperti karpet. Bayangkan saja, harga satu karung lumut basah bisa mencapai 250 ribu rupiah. Lumut tersebut dijual ke pengepul lalu didistribusikan ke toko peralatan ikan.

Potensi air yang melimpah di desa manjungan, menarik perhatian pihak pemerintah desa tepatnya pada tahun 2014. Pemerintah desa mempunyai inisiatif untuk membuat semacam kolam pemandian (waterpark) di Umbul Susuhan. Pemerintah desa terinspirasi dengan suksesnya Umbul Ponggok yang citranya sangat dikenal di seluruh Indonesia. Dari kesuksesan Desa Ponggok itu lah, akhirnya Umbul Susuhan dibangun kolam pemandian. Pihak pemerintah desa memang menjamin bahwa pembangunan Umbul Susuhan tidak akan mengganggu irigasi sungai untuk petani dan budidaya.

Setelah 2 tahun pembangunan, akhirnya waterpark Umbul Susuhan pun jadi. Tempat ini pada perencanaannya memang memberikan nilai lebih yang membedakan dengan waterpark lain. Salah satunya terdapat kolam pemandian syar’i. Umbul Susuhan bisa dikatakan sebagai pelopor waterpark dengan kolam pemandian syar’i yang ada di Klaten.

Kolam pemandian ini dirancang agar perempuan yang akidah agamanya kuat tetap nyaman kalau ingin berenang di umbul susuhan. Selain itu, pada kolam sumber tetap terjaga keasriannya dan diberi ikan koi sebagai penghias untuk memanjakan mata para pengunjungnya. Selain itu, dasar kolam tersebut dihiasi dengan dekorasi-dekorasi unik sehingga bisa untuk fotografi bawah air.

Kolam sumber mata air terus dijaga keasriannya supaya debit airnya tidak berkurang. Umbul Susuhan juga mempunyai cafe dan tempat makan sehingga para pengunjung tidak bingung saat beristirahat atau makan selepas renang. Tempat ini juga dilengkapi pintu masuk untuk pengunjung yang memakai kursi roda sehingga bisa dikatakan ramah untuk semua kalangan.

Sebelum pandemi, obyek wisata air Umbul Susuhan mencatatkan penghasilan sampai 1 milyar per tahun. Ini adalah salah satu modal yang cukup untuk menuju desa mandiri. Hal tersebut bisa dikatakan keberhasilan sistem manajemen yang baik.

Tempat wisata ini seluruh manajemennya dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sehingga menyerap tenaga kerja di lingkungan Desa Manjungan. Hal ini menggeser anak muda manjungan yang sebelumnya bekerja di luar desa atau bertani menjadi pengelola sebuah tempat wisata.

Desa Manjungan juga memiliki wisata agro yang masih dalam tahap proses rehabilitasi. Sebelumnya, ada praktisi wisata agro yang berkunjung ke Desa Manjungan. Beliau bekerja sama dengan Pemerintah Desa Manjungan untuk membangun sebuah tempat wisata agro.

Terletak diseberang Umbul Susuhan, desa wisata agro yang bernama Hanafisa ini sangat menarik untuk dikunjungi. Wisata agro ini berisi tanaman-tanaman buah tropika, rumah makan dan tempat pemancingan. Berjalannya waktu, manajemen yang kurang baik ditambah pengunjungnya sepi membuat wisata agro kurang peminat.

Akhirnya, wisata agro ini dikembalikan ke pemerintah desa. Pihak pemerintah desa ingin mengembangkan dan merehabilitasi wisata agro tersebut supaya dapat menarik para pengunjung. Karena konsep wisata agro bisa menjadi wisata baru di Manjungan setelah obyek wisata air Umbul Susuhan.

Kelak, jika wisata agro ini berhasil maka bisa disejajarkan dengan wisata agro yang ada di Yogyakarta. Kedepannya, wisata agro yang sebelumnya bernama Hanafisa bisa menjadi modal Desa Manjungan menjadi sebuah desa yang mandiri.

Desa Manjungan kelak akan menjadi desa yang akan mandiri sehingga perlu adanya sinergi antara pemerintah desa dengan masyarakat sekitar. Dukungan dari semua pihak akan membuat desa ini semakin dikenal dan dapat disejajarkan dengan Desa Ponggok.

Sehingga, Desa Manjungan kelak juga akan bisa menjadi sebuah desa percontohan. Saya berharap desa ini akan semakin maju, semakin membuka lapangan kerja, dan semakin bisa mandiri seperti desa percontohan yang lain.

Add Comment