Manifesto Kiai Yahya Staquf dalam Menyongsong Api Peradaban

Kiai Yahya Cholil Staquf terpilih menjadi ketua umum PBNU periode 2021-2026, pada muktamar ke-34. NU.or.id

Perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 di Lampung sudah usai. Para panitia sudah membereskan tempat. Sebelumnya para muktamirin dan Romli, Rombongan Liar (Lillahi Ta’ala), nahdliyin, dan hadirin muktamar yang datang bukan karena punya hak pilih.

Mereka datang karena ‘bungah’. Mereka pulang dengan menggunakan pesawat, jet, kapal laut, dan angkutan umum lainnya.

Muktamar selalu menarik bagi semua nahdliyin (warga NU), baik nahdliyin yang menjadi pengurus struktural-kultural maupun nahdliyin yang tidak menjabat sebagai pengurus struktural. Semua senang mengikuti jalannya muktamar, apalagi jika mendapati calon Ketua Tanfidziah merupakan ulama panutannya.

Kebetulan saja semua jajaran pucuk pimpinan NU adalah ulama atau sedikitnya seorang yang mumpuni untuk memimpin organisasi Islam besar yang umurnya lebih tua dari republik ini. Organisasi Islam ini lahir pada tahun 1926.

Muktamar NU ke-34 di Lampung memilih Kiai Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Tanfidz, sedangkan Kiai Miftachul Akhyar terpilih kembali sebagai Rais ‘Aam. Seperti kelaziman yang tidak dapat disangkal, setiap Ketua Tanfidz yang terpilih adalah sosok yang komplit sebagai pendakwah, pemikir, dan sekaligus penulis yang baik.

Kiai Yahya meneruskan tradisi pendahulunya sebagai Ketua Tanfidz baru seperti Kiai Said Aqil Siradj, Kiai Hasyim Muzadi, Gus Dur, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Saifuddin Zuhri, dan ketua yang lain. Mereka adalah para pemikir yang sumbangan pemikirannya tidak hanya berdampak penting dan bermanfaat bagi lingkungannya saja, melainkan untuk semua masyarakat di luar batasan organisasi.

Kiai Yahya adalah putra dari Kiai Cholil Bisri yang merupakan cucu dari Kiai Bisri Musthofa. Bapak dan kakeknya adalah penulis produktif, di tengah tugasnya sebagai pendakwah. Ia berdakwah di banyak tempat dan mengasuh pondok pesantren Roudlatut Thalibin Leteh, di Rembang.

Selain itu, Kiai Yahya adalah keponakan dari Kiai Musthofa Bisri yang merupakan tokoh penting NU. Ia pernah menjadi Rais ‘Aam NU, pengasuh pondok pesantren, budayawan, pelukis, dan juga seorang penulis produktif. Kalaupun tidak lantas disebut memengaruhi, ketenaran Kiai Yahya disangkutkan pada nama-nama besar yang saya sebutkan di atas. Di situlah Kiai Yahya tumbuh, sedikitnya di dalam lingkungan keluarga.

Pada awal tahun 2020, Kiai Yahya menerbitkan sebuah buku berjudul PBNU Perjuangan Nahdlatul Ulama, Tajdid Jam’iyyah untuk Khidmah Milenial. Buku itu jelas disiapkan untuk merangkum gagasan Kiai Yahya menjelang pencalonannya sebagai Ketua Tanfidz sehingga tidak terlalu sukar ditebak.

Buku itu sepertinya dicetak terbatas atau bisa jadi dicetak banyak, namun tidak sempat beredar. Hal ini disebabkan karena badai pandemi yang keburu datang sehingga membatasi segala hal. Namun, buku ini sempat dibedah di kantor PBNU.

Buku ini cukup gamblang memaparkan gagasan-gagasan Kiai Yahya. Tulisan Kiai Yahya yang khas sangat terasa, ditambah karakter tulisan tegas, tidak berputar-putar dan langsung pada sasaran yang dimaksudkan.

Buku ini dibuka dengan sebuah ‘manifesto’, sebuah pernyataan sikap yang cukup tegas tentang perjuangan. Isi manifesto tersebut adalah sebagai berikut,

Dalam dunia fana yang ganas ini, apakah engkau akan memperjuangkan sendiri nasibmu atau mendaulat orang yang jani berjuang untukmu?

Dalam lautan polo dan pantat, apakah kalian akan saling bergandeng tangan dan berbagi dalam susah payah demi kesetiaan pada martabat atau ramai-ramai menadahkan tangan berebut sedekah dan belas kasihan?

Di tengah kepungan rampok, apakah kalian kuat sengsara lebih lama, berkorban lebih banyak atas nama harga diri atau lebih suka selamat ala kadarnya, membiarkan rampok mengambil yang mereka suka asal masih ada untuk kalian sisanya?

Di depan cermin nanti, apakah kau berani memandang wajahmu atau melengos supaya lebih nyenyak tidurmu?

Apakah buyut-canggahmu nanti adalah budak-budak yang mengutukmu atau orang-orang gagah yang menangis mengenang penderitaan dan jasa-jasamu?

Sebuah manifesto yang cukup gamblang apa maunya. Buku PBNU Perjuangan Nahdlatul Ulama memang berbeda dari banyak buku yang ditulis oleh penulis NU sebelumnya, apalagi menyangkut perhatian kepada hal-hal di luar bahasan yang kerap menjadi kajian pembahasan dalam pertemuan-pertemuan Nahdlatul Ulama.

Dalam buku ini, Kiai Yahya hendak mengingatkan kembali bahwa ada cita-cita penting organisasi yang mesti terus diperjuangkan. Bukan sekadar suatu cita-cita remeh-temeh, melainkan cita-cita agung.

Nahdlatul Ulama dilahirkan dengan mengusung cita-cita peradaban yaitu mewujudkan keharmonisan tata dunia, adil berdasarkan akhlakul karimah, dan penghormatan terhadap kesetaraan martabat di antara sesama manusia. Bukan main, apa yang disampaikan oleh Kiai Yahya merupakan sebuah cita-cita peradaban.

Menurut Kiai Yahya, strategi menuju cita-cita itu diawali dengan konsolidasi basis, yaitu memberdayakan jemaah (komunitas) sebagai kekuatan kultural untuk merawat nilai-nilai luhur dan NKRI sebagai titik tolak suatu sosial politik untuk terlibat dalam pergulatan antarbangsa.

Selanjutnya, keseluruhan gerak NU harus koheren (padu) dalam nalar, strategi, dan pengorganisasiannya dari tingkat lokal sampai tingkat global.

Menurut Kiai Yahya, konstruksi organisasi NU yang ada saat ini belum cukup mengalami penyesuaian sehingga formatnya relatif tidak berubah sejak 1952. Hal ini mengakibatkan NU cenderung semakin kedodoran dalam menanggapi masalah-masalah yang datang semakin deras dan terancam irrelevant.

Oleh sebab itu, diperlukan transformasi konstruksi organisasi agar lebih cocok dengan konteks realitas kekinian dan masa depan.

Kontruksi yang dimaksud Kiai Yahya meliputi pola konfigurasi agenda-agenda yang ditetapkan, pola hubungan antara jam’iyyah dengan jemaah, mekanisme-mekanisme rekrutmen kepemimpinan dan kualifikasi personalia, kepemimpinan dan pelaksana program.

Sebagai pengurus tingkat kecamatan, saya mencermati paparan Kiai Yahya tentang konstruksi organisasi di atas seperti dibuai dengan cita-cita indah dan luhur.

Apalagi dalam pengalaman yang saya jajaki, memang ada persoalan cukup laten dalam konstruksi organisasi yang kurang segar seperti beku, mandeg, ajeg, dan kurang-kurang lainnya. Butuh dorongan kuat untuk menjalankan roda organisasi yang sekian lama ngaso dan berkarat.

Dalam penjelasan selanjutnya, Kiai Yahya menjelaskan bahwa format ideal bagi konstruksi organisasi NU adalah format pemerintahan. Format pemerintahan dengan fungsi-fungsi utama yaitu menyediakan pelayanan bagi warga, menetapkan dan menerapkan regulasi agar pelayanan dapat diakses secara adil dan transparan, dan mobilisasi sumber daya-sumber daya. Serta redistribusi bagi instrumen-instrumen organisasi dan warga.

Seperti masih kurang puas, Kiai Yahya juga menambahkan bahwa untuk mencapai format ideal itu diperlukan bukan hanya transformasi struktur dan format manajemen, tetapi juga transformasi pola pikir (mindset) dan mentalitas.

Kiai Yahya seperti hendak menegaskan bahwa cita-cita agung dan cita-cita peradaban mesti diusung oleh sumber daya yang mumpuni, bangunan yang kokoh, atau alat angkut yang kuat lagi luwes.

Ini mengingatkan saya pada sanepan lama tentang NU yang kerap diibaratkan dengan lokomotif, dengan gerbong keretanya yang berisi warga NU. Kereta api merupakan alat angkut yang kuat, kencang jalannya, membawa penumpang sesuai tujuan, dan istiqomah berjalan di atas rel yang sama dari ujung keberangkatan sampai tujuan.

Kiai Yahya juga mengingatkan bahwa tanggung jawab dan tantangan NU di masa depan semakin luas dan beragam. Hal ini menuntut inkusifikasi khidmah dan kebangkitan dalam tiga jalur pergulatan, yaitu kebangkitan intelektualisme, kebangkitan teknokrasi, dan kebangkitan kewirausahaan.

Gagasan Kiai Yahya yang terakhir ini, saya yakin sepenuhnya menjiplak atau setidaknya meneruskan apa yang sudah pernah digagas dan diperjuangkan Gus Dur pada pertemuan alim ulama yang dihadiri kiai-kiai sepuh di Pondok Pesantren Arjawinangun tahun 80-an silam.

Semoga angen-angen baik AS laksana tidak luput, menjuduli bukunya yang bersampul wajah Kiai Yahya itu dengan judul Menghidupkan Gus Dur. Amin.