Kiai Yahya Staquf, Mengokohkan Ukhuwah sebagai Tonggak Perubahan NU

Muktamar ke-34 NU dalam melaksanakan sidang pleno I dan II NU. or .id

Pada Bab I buku PBNU Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama, Kiai Yahya menulis tentang ‘perubahan’ atau dunia yang berubah. Kiai Yahya menyinggung kalimat yang kerap kita dengar dan baca yang menurutnya sekarang menjadi klise, yang abadi adalah perubahan.

Tetapi perubahan ke arah mana, dan bagaimana kita harus bersikap di dalam dunia yang berubah? Sebuah pertanyaan yang ia ajukan, kemudian ia jawab sendiri.

Kiai Yahya mencatat setidaknya ada empat jenis perubahan dalam peradaban manusia, yang semuanya membutuhkan kecermatan dalam membaca fenomena dan kemampuan untuk memahami karakteristiknya masing-masing.

Pertama adalah perubahan tata politik dunia. Perubahan tata politik ini berurusan dengan dua hal, yaitu peta politik dan identitas agama. Kedua, perubahan dalam demografi yaitu perubahan komposisi kependudukan. Ketiga, perubahan dalam standar norma. Dan yang terakhir adalah perubahan karena globalisasi.

Sebelum menjelaskan panjang lebar tentang itu, sebelumnya Kiai Yahya menyinggung tentang pernyataan Kiai Achmad Shiddiq di Situbondo pada 1984 silam.

Kiai Achmad Shiddiq yang saat itu baru terpilih sebagai Rais ‘Aam PBNU, menyampaikan dari atas mimbar sebuah pernyataan yang akan melekat selamanya di dalam ingatan para nahdliyin. “Kita harus menegakkan tidak hanya ukhuwah islamiyah, tetapi juga ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah”.

Tiga bentuk ukhuwah yang sering disampaikan pengurus NU dan Banom dari lintas tingkatan struktural, mulai dari Ketua IPNU sampai Ketua MWC, dan dihapal di luar kepala oleh sebagian besar nahdliyin itu, menurut Kiai Yahya adalah sebuah isyarat.

Isyarat dari Kiai Achmad Shiddiq, sebuah rumusan yang mungkin tidak kentara urgensinya pada saat itu, namun baru sekarang, setelah berjarak 36 tahun kita bisa dengan jernih menyadari betapa pentingnya pernyataan tersebut.

Pesan itu seperti sebuah peringatan dini tentang sesuatu, sebuah alarm yang meminta kita waspada, yang dibunyikan bahkan sebelum kebanyakan dari kita mampu menyadari gejala-gejalanya.

Dari dua pesan di atas, keduanya dapat dipahami. Seperti nahdliyin paham betul bahwa setiap seorang muslim harus mengamalkan ukhuwah islamiyah, menegakkan persaudaraan dengan sesama muslim atau yang berdasarkan nilai-nilai Islam.

Nahdliyin juga tahu bahwa sebagai warga negara, tiap-tiap orang harus menegakkan ukhuwah wathoniyah yakni rasa persaudaraan satu sama lain, seduluran sebagai warga satu bangsa. Tetapi, apakah ukhuwah basyariyah?

Rumusan ukhuwah basyariyah inilah yang disebut oleh Kiai Yahya sebagai isyarat paling penting untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut di awal tadi.

Ini sejalan dengan rumusannya, menurut Kiai Achmad Shiddiq, yang paling mendasar dari ketiga ukhuwah itu adalah ukhuwah basyariyah atau rasa persaudaraan dan solidaritas sebagai sesama manusia.

Menurut Kiai Yahya, pernyataan Kiai Achmad Shiddiq di atas tidak hanya benar, tetapi ia juga memberi kita pandangan dunia yang akurat untuk dijadikan pegangan dalam menempatkan diri di tengah berbagai perubahan dewasa ini.

Benar bahwa kita harus menegakkan ukhuwah islamiyah tetapi tidak mungkin ditegakkan jika tidak dilandasi ukhuwah wathoniyah. Selanjutnya, ukhuwah wathoniyah tidak mungkin terwujud jika tidak ada ukhuwah basyariyah.

Tidak mungkin adanya ukhuwah wathoniyah antara orang Jawa dengan orang dari suku lain, misalnya jika tidak saling menghargai dan saling terkait sebagai saudara sesama manusia.

Dalam kerangka ukhuwah basyariyah inilah, mestinya kita akan membicarakan lebih jauh mengenai peran apa yang bisa dijalankan oleh NU.

Tidak hanya pada skala nasional tetapi juga pada skala global. Inilah rumusan penting yang mestinya melekat kuat dalam ingatan setiap manusia, tanpa perlu risau dengan atau dari mana rumusan itu lahir.

Siasat dalam Menghadapi Era Globalisasi

Perubahan tata politik berurusan dengan dua hal, yaitu peta politik dan identitas agama. Pada perubahan demografi, yaitu perubahan komposisi penduduk pada suatu wilayah, yang pada masa lalu seragam, sekarang menjadi beragam.

Seperti fenomena di Eropa yang awal mulanya hampir tidak bisa ditemukan warga negara beragama Islam, namun sekarang penduduk muslim sudah mencapai sekitar lima sampai enam persen dari tujuh ratus juta orang.

Kemudian perubahan dalam standar norma, seperti praktik-praktik yang dianggap wajar dan baik-baik saja pada masa lalu, menjadi keliru pada masa sekarang.

Perbudakan misalnya pada praktik yang lazim di masa lalu, dan merupakan norma yang umum di banyak masyarakat di berbagai belahan dunia, sebagai bagian dari tatanan ekonomi, gaya hidup, seperti halnya kita punya kambing, sekarang ini sudah tidak berlaku.

Kiai Yahya mendapati gambaran ini pada kisah Spartacus, sebuah kisah tentang perlawanan para budak zaman kuno sebelum masehi.

Perbudakan adalah contoh paling gamblang tentang bagaimana peradaban manusia mengembangkan standar norma baru yang menyingkirkan standar norma lama. Namun sebaliknya, juga ada perilaku yang dulu dianggap kejahatan atau menyimpang dari norma, tetapi sekarang menjadi sesuatu yang wajar.

Perubahan keempat, perubahan karena globalisasi. Kiai Yahya menyebut, globalisasi membuat batas-batas, baik fisik maupun non-fisik, menjadi tidak relevan dan tidak bisa menghalangi interaksi antarmanusia. Globalisasi adalah fenomena besar dalam perubahan peradaban yang tidak bisa dibendung sama sekali.

Benar bahwa globalisasi tidak dapat lagi dibendung seperti arus air di sungai, namun sebagian justru malah keasyikan hanyut di dalamnya atau bisa mengakalinya, sebagian yang lain mengeluh, kebanyakan pasrah.

Seperti sahabat baik saya, Syamsul, kemarin sore di tengah obrolan kami tentang anak-anak, ia cerita kalau dua anak laki-lakinya, Abid dan Afka yang diberi nama oleh Kiai Musthofa Bisri. Kok bisa begitu? Tanya saya.

Saya tidak sedang meragukan bahwa ia bisa saja sowan ke Leteh, apalagi Kiai Musthofa Bisri sebelum pandemi dikenal sebagai sedikit Kiai sepuh yang mudah di-sowani.

Rupanya untuk soal ini, ia meminta permohonan nama anak. ia punya trik umum yang juga disarankan untuk saya bahwa Kiai Musthofa Bisri sangat interaktif di sosial. Kiai Musthofa adalah kiai yang mula-mula mengakrabi teknologi global, seperti Twitter, Facebook, dan Instagram pada saat Kiai lainnya belum terbiasa.

Syamsul menjelaskan pada lingkup persinggungan di Twitter, Kiai Musthofa sangat longgar sehingga mudah membalas mention dari siapa pun yang memohonkan nama untuk anaknya.

Menyampaikan permohonan langsung kepada Kiai adalah sesuatu yang agaknya kurang mampu dilakukan setiap santri kecil seperti Syamsul, apalagi kepada Kiai sepuh. Sebagian santri akan dengan otomatis mengkeret, sebagian tidak bisa berucap jika berhadapan langsung dengan kiainya.

Nah, pada posisi-posisi seperti inilah Syamsul dan banyak orang sedang ‘ngakali’ arus globalisasi. Sekat jarak ruang dan waktu sudah tidak mampu membatasi relasi Kiai dan umatnya. Jarak Bekasi dan Leteh sudah tidak berarti.

Di tengah arus perubahan memang kita dituntut untuk lincah, lompat sana-lompat sini, asal tahu tujuan. Tetapi jangan sampai saking asyiknya melompat, tidak tahu arah, malah nyemplung di comberan. Akhirnya tubuh jadi kotor, napas jadi bau.